Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 2/4]

Pertanyaan kedua: Apakah dunia kapitalis mengatasi masalah ini dengan solusi yang sahih/tepat? Dan apa solusi syar’i dalam kondisi semisal ini?

Jawaban oleh Syekh ‘Atha’ Abu Rasytah

MuslimahNews.com, TANYA-JAWAB – (Penjelasan) kesalahan solusi kapitalis dan orang-orang semacam mereka untuk masalah ini dan bahwa solusi yang sahih adalah solusi syar’i. Para kapitalis dan orang-orang semacam mereka menyelesaikan masalah ini berdasarkan tiga tahap:

Tahap pertama, menyembunyikan kasus.

1- Sebuah laporan di Cina mengungkap bahwa otoritas (pihak berwenang) Cina menyembunyikan dari masyarakat Cina dan dunia tentang hakikat penyakit mematikan ini, di mana penyebarannya telah diketahui otoritas Cina sebelum pertengahan Desember 2019. Namun, mereka merahasiakan kasus ini dan tidak mengakuinya bahkan hingga akhir tahun setelah jumlah kasusnya meningkat.

Jurnalis Cina-Amerika Shang Wei Wang menyebut bahwa otoritas Cina tidak menutup pasar seafood di kota Wuhan, asal tersebarnya penyakit tersebut, kecuali pada bulan Januari. Laporan mengungkap terdapat delapan warga ditangkap karena menyebarkan informasi seputar penyakit di awal krisis karena dianggap melanggar hukum dengan menyebarkan informasi yang tidak terkonfirmasi.

Wang melanjutkan, otoritas lokal di Wuhan masih mengklaim bahwa kasus ini adalah kasus yang normal dan mengizinkan diadakannya ritual salah satu kepercayaan lokal pada 18 Januari 2020 lalu, yang dihadiri sekitar 40 ribu keluarga. (Sabaq, 01/02/2020).

2- Demikianlah, para pejabat di Cina tidak memperingatkan rakyat tentang bahaya krisis ini di awal-awal Desember, hingga akhir 31 Desember 2019 di saat Beijing menyampaikannya pada WHO. Kala itu, otoritas Cina mengatakan, “Penyakit ini bisa dicegah dan dikendalikan.” Hingga pada 23 Januari 2020 lalu, otoritas menutup kota Wuhan-Cina dan mengeluarkan keputusan larangan perjalanan secara total. (Mishraway, 23/3/2020)

Tahap kedua, karantina dan isolasi parsial.

1- Para pejabat sektor kesehatan di Amerika Serikat pada Sabtu mengonfirmasi adanya 8 (delapan) kasus virus corona baru. Kementerian Pertahanan AS mengatakan bahwa AS akan menyediakan tempat berlindung bagi mereka yang datang dari luar negeri, yang mengharuskan mereka untuk dikarantina. Kota Wuhan dan provinsi Hubei di Cina, tempat virus itu muncul, dikenai karantina secara riil. (Sky News Arabic, 12/2/2020).

Baca juga:  Rezim Tergagap Corona, Fungsi Negara ke Mana?

2- Di Amerika Serikat, Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan, “Kami berada dalam masa karantina.” Dia menegaskan, “Itu langkah paling ketat yang bisa kita ambil”. Dengan diterapkannya karantina di New York, California, New Jersey, dan Illinois, lebih dari 85 juta orang berdiam di rumah, kecuali untuk berbelanja dan jalan-jalan sejenak. (Deutch Welle, 21/3/2020)

Tahap ketiga, isolasi semitotal di dalam rumah.

Ratusan juta orang di dunia terisolasi di rumah mereka, dengan harapan bisa memutus rantai penyebaran virus corona yang menyebabkan lebih dari 11 ribu orang meninggal dunia. Tindakan ketat ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, yang diterapkan dengan skala yang berbeda-beda berdasar masing-masing negara.

Lebih dari 800 juta orang di lebih dari 30 negara diimbau untuk tetap tinggal di rumah mereka. Baik karena keputusan karantina umum, rekomendasi, atau larangan berkeliaran di luar, menurut sensus yang dilakukan oleh AFP.

Di Jerman, pihak berwenang berupaya mengetatkan langkah-langkah untuk membatasi kehidupan sosial (social distancing) dan mengharuskan sebagian besar penduduk tetap tinggal di dalam rumah mereka.

Italia, negara paling terdampak di Eropa oleh virus corona, di mana 4.000-an orang meninggal karenanya, dan merupakan negara pertama di benua Eropa yang memerintahkan penduduknya untuk dikarantina, tengah bersiap untuk memperkuat langkah-langkahnya dalam menghadapi penyebaran wabah penyakit ini.

Italia akan menutup semua taman dan area umum pada akhir pekan ini. Pembatasan lainnya akan diberlakukan untuk mendorong warga Italia agar tetap tinggal di dalam rumah mereka, setelah pihak berwenang mengumumkan bahwa dalam waktu 24 jam terdapat 627 orang meninggal (akibat virus Covid-19) di negara itu, sebagai puncak sejak awal krisis terjadi. (Deutch Welle, 21/3/2020)

Dengan perenungan mendalam terhadap tiga solusi tersebut, menjadi jelas bahwa semua itu tidaklah mengatasi persoalan.

Sebaliknya, justru akan meningkatkan kegagalan ekonomi dan kegagalan lainnya, melipatgandakan wabah penyakit ini dan juga kejemuan yang menimpa masyarakat, sebagaimana yang kita dengar tentang berbagai kondisi di masyarakat kapitalistik.

Karena itu, solusi yang sahih untuk penyakit ini adalah seperti yang ditetapkan dalam syariat Allah SWT, bahwasanya negara menelusuri penyakit tersebut sejak awalnya untuk membatasi penyakit di tempat kemunculannya, dan orang-orang yang sehat di wilayah lainnya tetap bekerja dan berproduksi.

Baca juga:  Kasus Covid-19 di Indonesia Naik ke Posisi 7 di Asia

Imam al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda,

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.

Dan di dalam hadis yang lain riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dan lafaz Muslim dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Rasul saw bersabda,

«الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ»

“Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah terhadap Bani Israel atau orang sebelum kalian. Maka jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri, maka jangan kalian mendatanginya dan jika Tha’un itu terjadi di negeri dan kalian ada di situ, maka janganlah kalian keluar lari darinya.

Dan di dalam riwayat lainnya oleh Imam al-Bukhari dari Aisyah ra. istri Nabi Saw, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang Tha’un lalu beliau memberitahuku,

«أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»

“Tha’un itu merupakan azab yang Allau turunkan terhadap siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin. Maka tidak ada seorang hamba pun yang tha’un menimpa, lalu dia berdiam di negerinya seraya bersabar mengharap rida Allah, dia tahu bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali untuknya semisal pahala syahid.”

Tipe karantina di dalam Daulah ini melampaui semua negara lainnya, berlangsung di Negara yang paling beradab, di mana pemimpinnya adalah Nabiyullah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah SWT mewahyukan kepada beliau dan beliau menerapkan Islam agar menjadi suri teladan yang baik dalam penerapannya.

Baca juga:  Memakai “Hand Sanitizer” yang Mengandung Alkohol, Apa Hukumnya?

Ibnu Hajar menyebutkan di dalam Fathu al-Bârî bahwa ‘Umar ra. pergi ke Syam. Ketika tiba di Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin ‘Auf memberitahunya bahwa Rasulullah saw bersabda,

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah maka jangan kamu mendatanginya dan jika wabah terjadi di satu wilayah dan kamu di situ, maka janganlah kalian keluar lari darinya.”

Maka Umar bin al-Khaththab pun kembali bersama kaum muslimin, yakni ketika sampai berita bahwa tha’un telah menyebar.

Oleh karena itu, negara di dalam Islam akan membatasi penyakit di tempat kemunculannya, penduduk tempat itu akan tetap tinggal di situ dan penduduk lainnya tidak masuk ke tempat itu. Dan negara melakukan kewajiban syar’i-nya karena dia merupakan negara yang melayani dan amanah.

Sebagaimana negara melakukan langkah-langkah ini ketika wabah menyebar, negara juga menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan dan penyediaan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan, dan menjamin hal lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat daulah seperti halnya pendidikan dan keamanan.

Dengan demikian, langkah-langkah yang sahih adalah dengan mengisolasi penyakit menular di tempatnya, mengarantina orang yang sakit secara medis, dan melanjutkannya dengan perawatan dan pengobatan secara gratis.

Sementara, orang-orang yang sehat tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Kehidupan sosial dan ekonomi tetap berlanjut sebagaimanamestinya seperti sebelum penyakit menular ada, tidak menghentikan kehidupan masyarakat secara umum juga tidak mengisolasi mereka di rumah, yang justru akan atau hampir melumpuhkan kehidupan ekonomi sehingga krisis makin menjadi dan memunculkan problem baru. [MNews]

Bersambung ke Bagian 3 dan 4

Baca Pertanyaan Pertama di https://www.muslimahnews.com/2020/03/28/tanya-jawab-dampak-virus-corona-covid-19-bagian-1-4/ tentang “Munculnya penyakit ini dan siapa di belakangnya”.

 

Bagaimana menurut Anda?

14 tanggapan untuk “Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 2/4]

  • 31 Maret 2020 pada 16:18
    Permalink

    Islam selalu punya solusi👍

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 15:05
    Permalink

    Masyaa Allah… islam sudah mencontohkan cara untuk memutuskan rantai wabah, dan memang benar cara tersebut dapat menghentikannya..

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 14:52
    Permalink

    Jazakumullah utk penjelasannya

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 14:50
    Permalink

    Masyaa Allah, Islam selalu punya solusi untuk permasalahan umat

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 14:50
    Permalink

    Mencerahkan. Sukron

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 14:23
    Permalink

    Subhanallah solusi islam luar biasa indah.

    Berbeda 180 derajat dg solusi kapitalis

    #RinduKhilafah

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 13:50
    Permalink

    MasyaAllah, analisis syekh begitu dalam..
    kita harus berpikir cemerlang dalam menghadapi wabah saat ini, terlebih dengan tuntunan syara’..

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 12:34
    Permalink

    Bismillah… & seandainya pemerintah Skrang Mau mngambil Solusi yg Tawarkan Oleh Islam..pasti.. Tidak akn Terjadi Guncangan Dimna2..#& semoga Pemerintah_Bnr2 Mau berpikir_merenungi_& bangkit..!!

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 12:22
    Permalink

    Masyaallah Islam punya solusi untuk semua masalah

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 12:15
    Permalink

    Hanya islam yg tepat memberikan solusi saat wabah penyakt menyerang daulah khilafah sebagamn rasulullah contohkn

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 12:06
    Permalink

    Solusi Islam selalu tepat dan cepat..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *