[Editorial] Home Learning, kok Bikin Pusing?!

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Mewabahnya virus Corona (Covid-19) seakan menjadi mimpi buruk, tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Selain berdampak besar dan jangka panjang bagi kondisi perekonomian dan interaksi sosial di tengah masyarakat, juga sangat berpengaruh untuk dunia pendidikan.

Kemestian program social atau physical distancing yang diambil sebagai ikhtiar memutus rantai penyebaran virus ternyata membuat pola penyelenggaraan pendidikan mau tidak mau juga berubah.

Salah satunya, sekolah harus dipindah ke rumah (home learning). Dan para orang tua pun “dipaksa” berperan menjadi gurunya: dengan jadwal, mata ajar, dan target materi harian yang diberikan guru secara online.

Maka, tak sedikit para siswa, guru, bahkan orang tua yang gagap menghadapi perubahan situasi yang sangat drastis ini. Hingga aura ‘kepanikan’ dan stres massal pun terasa di mana-mana.

Masalahnya, banyak orang tua terutama para ibu yang tidak siap. Baik secara teknis, keilmuan dan pemahaman, skill, maupun mental sebagai pengajar. Sehingga mereka pun dipaksa melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Para orang tua mengeluh karena di tengah kerempongan tugas sebagai istri dan ibu, mereka harus mengajari anak dengan mata ajar yang belum tentu dipahaminya.

Dan di saat sama, mereka pun harus terlibat dalam aspek administrasi berupa tes harian, tes mingguan, dan pelaporan. Padahal, tak sedikit di antara mereka yang gaptek dan yang fasilitasnya kurang.

Siswa pun demikian. Mereka stres, mengeluh karena bosan, juga merasa tertekan, karena dikejar tugas harian yang menumpuk dalam batas waktu bersamaan. Akhirnya belajar di rumah bagi mereka, makin terasa tak menyenangkan. Yang penting tunai kewajiban.

Para guru pun tak kalah stres. Karena faktanya, tak semua guru memiliki kompetensi memadai dalam sistem kerja dalam jaringan (daring). Apalagi selama ini kesempatan meng-upgrade kemampuan serta fasilitasi dari negara sangatlah kurang.

Namun yang menyedihkan, terkait pola baru ini, mereka selalu menjadi pihak yang paling banyak dikritisi dan dipersalahkan. Padahal mereka hanya menjalankan aturan sistem yang juga ‘geje’ dan tak siap menghadapi situasi kritis seperti sekarang.

Ndilalahnya selama ini, semua pihak, baik para siswa, guru (sekolah) dan pihak orang tua (keluarga dan masyarakat) memang berhadapan dengan sistem pendidikan yang tak jelas arah tujuan.

Asas yang sekularistik, kurikulum yang berubah-ubah, sistem administrasi dan standarisasi keberhasilan pendidikan yang juga berubah-ubah, termasuk program sertifikasi dan standarisasi kompetensi, serta standarisasi ketuntasan materi pelajaran dan sistem ujian nasional telah membuat mereka pusing tujuh keliling.

Bahkan bisa dikatakan sistem pendidikan yang dijalankan adalah sistem yang asal jalan. Negara sungguh nampak tak peduli sistem pendidikan ini mau dibawa ke mana.

Alih-alih berpikir keras untuk mengurus negara dan menyejahterakan rakyatnya, para pejabat negara malah sibuk mempertahankan kursi kekuasaan, membela kepentingan kelompok dan golongan, serta sibuk berebut proyek demi menumpuk kekayaan.

Seolah-olah tak ada masalah dengan dunia pendidikan kita. Dan seolah-olah cukuplah berjalan apa adanya. Padahal, ada hal besar yang sedang dipertaruhkan: masa depan pendidikan dan wajah generasi penerus bangsa.

Baca juga:  [Editorial] Pendidikan Sekuler Sukses Menjadi Mesin Perusak Generasi

Realitas inilah yang memunculkan pertanyaan, seberapa besar sesungguhya arti pendidikan bagi mereka?

Tak bisa dipungkiri, bila selama ini kita terbiasa fokus dan disibukkan oleh hal-hal yang bersifat artifisial, seremonial, dan kebiasaan basa-basi lainnya, termasuk di dunia pendidikan.

Semua yang terlibat dalam proses pembelajaran cenderung fokus pada hasil, bukan pada proses belajar itu sendiri, yang sesungguhnya dalam Islam sangat mulia dan memuliakan.

Sayangnya, inilah wajah dunia pendidikan kita saat ini. Ketidakjelasan tujuan dan strategi pendidikan serta kesemrawutan pelaksanaannya pun menjadi persoalan paradigmatis yang menghambat pencapaian target ‘sukses hakiki’ di bidang pendidikan.

Padahal, sejatinya aspek pendidikan merupakan salah satu pilar utama pengokoh bangsa dan umat. Karena melalui pendidikanlah generasi mumpuni penerus bangsa dan umat ini bisa dipersiapkan.

Betul bahwa secara tekstual visi pendidikan nasional sudah ideal. Bahkan dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Hanya saja, realitasnya jauh panggang dari api. Paradigma sekularisme yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan kenyataannya begitu kental mewarnai dunia pendidikan di negeri ini.

Selain berakibat menjauhkan pendidikan dari arah dan tujuan membangun kepribadian mulia sebagaimana yang diharapkan, dominasi paradigma sekularisme juga telah melemahkan fungsi-fungsi unsur pelaksana pendidikan, mulai dari unsur instrumen pendidikan, keluarga, hingga masyarakat.

Lemahnya instrumen pendidikan tercermin dari kacaunya kurikulum serta disfungsi guru dan sekolah. Kacaunya kurikulum tampak dari tidak proporsionalnya bobot materi pelajaran yang tidak nyambung dengan arah dan tujuan pendidikan.

Minimnya jam pelajaran agama dan dikotomi sekolah agama versus sekolah umum adalah buktinya. Alih-alih mampu menghasilkan manusia cerdas-pandai-bertakwa kepada Sang Pencipta, output dari sistem rusak ini hanya mampu menghasilkan orang-orang pandai tapi minus akhlak dan spiritualitas, serta orang-orang cerdas yang cenderung materialistik dan individualistik.

Makin parahnya dekadensi moral di kalangan generasi, baik pelajar dan mahasiswa, bahkan para orang tua, termasuk kejahatan kerah putih dan lain-lain hanyalah secuil fakta betapa buruk produk yang dihasilkan dari pendidikan sekularistik ini.

Di samping soal proporsi, beratnya bobot materi pelajaran dan padatnya jadwal kegiatan sekolah berikut tugas-tugas harian pun menjadi catatan tersendiri atas lemahnya aspek kurikulum yang ditetapkan pemerintah.

Selain membuat para siswa kewalahan mencerap materi pelajaran secara maksimal untuk bisa membangun kepribadian dan keahlian, kondisi ini juga membuat tradisi ‘bersekolah’ menjadi sekadar rutinitas yang dijalani tanpa target, bahkan menjadi beban yang sangat melelahkan.

Baca juga:  Sekolah Rusak dan Kebutuhan terhadap Khilafah

Untuk beroleh nilai bagus, menyontek dan menjiplak pun menjadi hal yang diwajarkan. Sementara bagi pihak sekolah dan pemerintah, strategi penilaian melalui ulangan dan ujian pun –termasuk penetapan Kriteria Ketuntasan Materi dan penyelenggaraan UN pun- akhirnya tak lebih dari ‘survei angka-angka’ yang tak lagi mampu memaknai keberhasilan proses pendidikan yang sesungguhnya diinginkan.

Selain kurikulum, lemahnya instrumen pendidikan juga nampak dari rendahnya kualifikasi guru. Kini jarang ditemui cerita, ada sosok guru ideal yang bukan sekadar menjadi ‘pengajar’, melainkan sebagai ‘pendidik’ layaknya ‘Bu Muslimah’ dalam cerita Laskar Pelangi yang sempat viral itu.

Bagi sebagian guru, aktivitas mengajar tak lebih dari sebuah pekerjaan mentransfer ilmu, bukan mentransfer pemahaman, apalagi mentransfer nilai dan kepribadian. Rupanya, idealisme para guru kadung tergadai oleh sulitnya persoalan dan persaingan hidup yang harus dihadapi.

Sampai-sampai upaya pemerintah meng-upgrade mutu pendidikan melalui program sertifikasi guru pun, dibaca oleh kebanyakan dari mereka sebagai ‘jalan pintas’ beroleh gaji lebih pantas.

Tak heran jika ada saat di mana para guru lebih sibuk mengikuti seminar demi selembar sertifikat daripada memilih sibuk mengajar. Dan ketika saat ujian akhir tiba, tak ayal mereka pun ikut ketar-ketir akan buah pekerjaannya. Dan saat situasi kritis seperti sekarang terjadi, mereka tergagap-gagap.

Begitu pun dengan sekolah, mayoritas tak mampu menampilkan diri sebagai instrumen pendidikan yang ideal. Minimnya fasilitas di kebanyakan sekolah akibat kurangnya perhatian pemerintah sebagai penyelenggara utama pendidikan yang salah satunya tercermin dari kebijakan anggaran untuk pendidikan, membuat budaya belajar sangat sulit ditumbuhkan.

Di sisi lain, orientasi bisnis yang dilegalkan oleh undang-undang dan kian meracuni sebagian sekolah berkategori unggul, sedikit demi sedikit telah mengikis idealisme tentang kemuliaan tujuan pendidikan.

Hingga lagi-lagi, prestasi pendidikan pun hanya dinilai dengan angka-angka. Dan ruh kapitalisme, tanpa sadar terinternalisasi ke dalam jiwa anak didik, yang dibiasakan berasyik masyuk dengan kebanggaan diri yang menumpulkan rasa empati.

Semua kondisi ini lantas diperparah dengan lemahnya fungsi keluarga dan masyarakat sebagai dampak penerapan sistem sekuler. Tengok saja, tak sedikit orang tua yang dengan sadar mengabaikan kewajiban mendidik anak-anak mereka.

Mereka melepas tanggung jawab pendidikan secara penuh kepada sekolah. Jikapun tersisa rasa tanggung jawab, paradigma sekuler dan materialistik telah membuat kebanyakan dari mereka kadung memandang anak sebagai ‘investasi ekonomi’ yang mereka didik semata untuk tujuan-tujuan ekonomi.

Bisa jadi inilah salah satu yang membuat mereka begitu gagap saat situasi wabah. Yakni, saat anak-anak terpaksa harus sekolah di rumah. Mereka yang gagap bisa jadi dikarenakan tak sepenuhnya paham, bahwa madrasah pertama hakikatnya ada di rumah. Dan merekalah sejatinya penanggung jawab pendidikan di hadapan Allah.

Parahnya, unsur masyarakat sekuler pun menjadi pengukuh bagi semua kekacauan ini. Selama ini, masyarakat sekuler justru intens membentuk pola kepribadian yang jauh dari nilai-nilai kebaikan.

Baca juga:  Kredit Pendidikan, Bukti Pemerintah Kian Abai

Masyarakat, justru banyak mengajari anak tentang tak pentingnya mencari ilmu dan rendahnya kelas para pemilik ilmu. Sehingga budaya belajar, kalah oleh lifestyle kebebasan, hedonisme, dan materialisme. Dan dampaknya, hari ini lahirlah generasi rebahan yang abai terhadap hidup dan masa depan.

Atas semua hal ini, kiranya perlu ada perenungan kembali soal paradigma pendidikan yang diadopsi bangsa ini. Pihak pemerintah seharusnya berpikir, bahwa sekularisme jelas tak layak dipertahankan sebagai asas, kecuali kita berharap kondisi bangsa terus terperosok dalam kehancuran.

Begitu pun, berbagai kebijakan yang menjadi derivasi asas sekularisme harus segera dicampakkan karena terbukti telah melahirkan berbagai kekacauan dan menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulia pendidikan.

Sungguh satu-satunya sistem yang layak diadopsi hanyalah sistem pendidikan Islam yang diterapkan dalam bingkai sistem Khilafah Islam. Karena sistem ini tegak di atas asas akidah yang sahih, sesuai dengan fitrah, dan dijamin akan mewujudkan ketentraman.

Yakin, hanya dengan paradigma Ilahiah sebagai asasnya, dan dengan sistem pengaturan yang terpancar dari asas itulah, kebijakan pendidikan dipastikan akan mengarah pada tujuan ideal yang diharapkan.

Yakni bukan saja membentuk output pendidikan yang sekedar pintar baca hitung atau mumpuni di bidang sains, tetapi juga paham tentang apa tujuan mereka sebagai manusia, alam dan kehidupan diciptakan. Sekaligus paham posisi mereka sebagai pengelola alam semesta dan kehidupan.

Dalam sistem ini, semua unsur penyelenggara pendidikan, mulai dari keluarga, sekolah (termasuk para guru), masyarakat bahkan negara, akan menempatkan dirinya sebagai pemilik tanggung jawab. Yang satu sama lain akan saling mengukuhkan karena dorongan keimanan.

Negara bahkan menjadi pilar utama pengukuh suksesnya pendidikan, yang dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan primer yang wajib dijamin oleh negara. Sekaligus dipandang sebagai salah satu pilar peradaban.

Yakni dengan memberi perhatian penuh agar semua unsur pendidikan, mulai keluarga, sekolah dan masyarakat bisa benar-benar menjalankan fungsinya, dengan penerapan seluruh aturan Islam secara kafah.

Mulai dari sistem politik yang kukuh dan mandiri, sistem ekonomi dan baitulmal yang menyejahterakan, sistem sosial yang menjaga fitrah kebaikan, sistem hukum yang mencegah dan mengeliminasi kerusakan, dan sebagainya.

Sehingga dengan sistem pendidikan yang di-support dengan sistem-sistem lain seperti ini, penyelenggaraan pendidikan akan berjalan ideal dalam situasi apa pun, tak bertumpu pada keadaan, dan semua pihak siap menjalankan tupoksinya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Maka dipastikan dari sistem seperti ini akan lahir generasi yang memiliki kepribadian khas dan kuat. Yang akan mampu mengubah karakter ’bangsa budak dan pengekor’ ini menjadi bangsa yang mandiri dan siap menjadi negara pemimpin peradaban cemerlang di masa depan.

Dan ini, sama sekali tak mustahil. Karena bukankah selama belasan abad, sejarah peradaban Islam telah gamblang membuktikan? Yakni dengan tampilnya umat Islam sebagai generasi emas, menjadi umat terbaik, penebar rahmat ke seluruh alam. [MNews-SNA]

Bagaimana menurut Anda?

78 tanggapan untuk “[Editorial] Home Learning, kok Bikin Pusing?!

  • 19 April 2020 pada 20:33
    Permalink

    Hanya Khilafah Yang Mampu Mencetak Generasi Bertinta Emas

    Balas
  • 5 April 2020 pada 11:23
    Permalink

    YaAllah,, semoga pertolongan-Mu segera datang 🤲🤲🤲

    Balas
    • 17 April 2020 pada 16:55
      Permalink

      Intanshurullaha yanshurkum.

      Balas
  • 5 April 2020 pada 07:01
    Permalink

    Sangat memprihatinkan

    Balas
  • 5 April 2020 pada 06:24
    Permalink

    Sangat prihatin dgn kondisi umat skrg ini

    Balas
  • 3 April 2020 pada 20:29
    Permalink

    Rindu tegaknya sistem islam

    Balas
    • 5 April 2020 pada 16:58
      Permalink

      Rindu sistem pendidikan yg sesuai aturan pencipta….Sistem pendidikan dalam Khilafah

      Balas
  • 3 April 2020 pada 15:31
    Permalink

    Sistem pendidikan sekuler telah gagal mencetak generasi yg cerdas dan mulia,hanya dg sistem islam hal itu akan terwujud…

    Balas
  • 3 April 2020 pada 10:17
    Permalink

    Rindu syariah…dan khilafah adalah solusi bagi ummat

    Balas
  • 2 April 2020 pada 19:28
    Permalink

    Bacaan yang sangat bermanfaat memang makin miris sistem pendidikan sekarang

    Balas
  • 2 April 2020 pada 08:00
    Permalink

    Setuju.. Semoga daulah khilafah segera tegak kembali.. Aamiin..

    Balas
    • 9 April 2020 pada 22:43
      Permalink

      artikel” seperti ini sangat bermanfaat tuk membuka wawasan serta mengetahui bagaimana solusi jitu dalam islam utk mengatasi segala macam persoalan

      Balas
  • 2 April 2020 pada 07:46
    Permalink

    opini nya bagus utk di share ke pr praktisi pendidikan khususnya..,jg ke pr ortu murid umumnya..utk membuka pemahaman mrk ttg kndisi pendidikan saat ini..,dan menginginkan praktek pendidikan dlm Islam..

    Balas
    • 3 April 2020 pada 06:43
      Permalink

      Masyaa Allah … panjang, jelas, mengena

      Balas
  • 2 April 2020 pada 06:09
    Permalink

    ReturnPendidikanDalamIslam

    Balas
  • 2 April 2020 pada 05:53
    Permalink

    solusi selain islam selalu mempunyai sifat…. gali lobang tutup lobang, kemudian siapa yang rugi dalam segala hal… tentu saja rakyat

    Balas
    • 8 April 2020 pada 19:45
      Permalink

      Maa Syaa Allah. Bgs sekali utk di share dan sbgi bhn utk mengntk ke Tokoh2 guru atau lembaga pndidikn yg ada. Syukron katsiiron buat penulis opini ini.

      Balas
  • 2 April 2020 pada 05:37
    Permalink

    Bagaimana para ibu tdk pusing, selain kita tdik paham dalam mapel tertentu untuk di jelaskan ke anak,home learning ini mengharuskan kita membeli paketan untuk belajar online. Jangankan untuk membeli pulsa, untuk belanja sembako aja, bnyak yg tdk mampu, apalah skrng harga sembako naik drastis..

    Balas
  • 1 April 2020 pada 23:33
    Permalink

    Kita harus kembali ke sistem pendidikan islam

    Balas
  • 1 April 2020 pada 23:29
    Permalink

    Pecutan banget buat Pendidikan kita hari ini.

    Balas
  • 1 April 2020 pada 23:24
    Permalink

    Islam benar2 terbukti mampu mengurusi segala aspek kehidupan.

    Balas
  • 1 April 2020 pada 23:05
    Permalink

    Syukron infonya..
    Pendidikan dalam Islam diatur sangat detail. MasyAllah

    Balas
  • 1 April 2020 pada 21:11
    Permalink

    Sistem kapitalisme memang tak Mencerdaskan manusia,,

    Balas
  • 1 April 2020 pada 19:31
    Permalink

    Ya Allah.. lengkap.. komplit.. mulai problem pendidikan dr brbagai sudut pandang, hingga solusi tuntasnya.

    Balas
  • 1 April 2020 pada 19:12
    Permalink

    Emak2 pada stress krn anak2 belajar di rumah, terlena dan lupa tugas utamanya sbgi pendidik anak2nya

    Balas
  • 1 April 2020 pada 17:57
    Permalink

    Permasalahan sistemik hanya bs diatasi dengan sistem islam shahih yang benar

    Balas
  • 1 April 2020 pada 17:56
    Permalink

    Minimnya jam pelajaran agama dan dikotomi sekolah agama versus sekolah umum adalah buktinya. Alih-alih mampu menghasilkan manusia cerdas-pandai-bertakwa kepada Sang Pencipta, output dari sistem rusak ini hanya mampu menghasilkan orang-orang pandai tapi minus akhlak dan spiritualitas, serta orang-orang cerdas yang cenderung materialistik dan individualistik.

    Balas
    • 1 April 2020 pada 17:04
      Permalink

      Masya Allah, Islam sistem dan solusi yang paripurna

      Balas
  • 1 April 2020 pada 13:48
    Permalink

    Bagaimana ya membuat umat ini segera sadar utk mengambil Islam..?

    Balas
    • 1 April 2020 pada 17:33
      Permalink

      Sungguh, hanya kembali kepada islam lah.. Sistem pendidikan dengan segala penyokongnya mampu mengembalikan peradaban gemilang.. Bukan peradaban rebahan.
      Allahu, dg apalagi umat berharap jika tidak kepada islam?

      Balas
    • 2 April 2020 pada 09:16
      Permalink

      Sistem pendidikan saat ini menjadikan para generasi bobrok dan tak tau arah tujuan mereka

      Balas
  • 1 April 2020 pada 13:38
    Permalink

    MasyaAllah Allahu Akbar

    Balas
  • 1 April 2020 pada 13:30
    Permalink

    ngeri pendidikan ala kapitalisme

    Balas
  • 1 April 2020 pada 11:58
    Permalink

    Masyaa Allah. Syukron penjelasannya.. makin cinta deh sama Islam. Proud to be Moslemah ♥️

    Balas
  • 1 April 2020 pada 11:46
    Permalink

    Hanya Islam solusi bagi pendidikan kita

    Balas
  • 1 April 2020 pada 11:23
    Permalink

    ingin sistem pendidikan Islam,smga khilafah segera tegak,aamiin

    Balas
  • 1 April 2020 pada 10:36
    Permalink

    Sudah saatnya para ibu memahami kembali oerannya sebagai pendidik generasi..

    Balas
  • 1 April 2020 pada 08:32
    Permalink

    Assalamu’alaikum wr wb… Terima kasih atas tuliasannya yang Sangat mencerahkan, semoga terus mengalir pahala di sisi Allah..

    Saya ingin menanyakan cara MMN bisa menulis artikel yang sangat berbobot dan bagus ini, saya juga ingin sebagai mahasiswa bisa menulis dan berbagi kepada orang lain tlisan yang bermanfaat seperti artikel ini….

    Balas
  • 1 April 2020 pada 08:12
    Permalink

    Semoga apa yg Allah janjikan segera terealisasi. Aamiin

    Balas
  • 1 April 2020 pada 07:25
    Permalink

    Sepakat. Kondisi pendidikan saat ini jauh berbeda dengan masa Islam. Dimana seluruh sistem kehidupan bersatu dan saling mendukung untuk mensukseskan sistem pendidikan.

    Balas
    • 1 April 2020 pada 12:32
      Permalink

      Pendidikan sekuler memang bikin puyeng, ga bikin pinter. Udah pake sistem pendidikan islam di bawah institusi khilafah aja

      Balas
  • 1 April 2020 pada 06:43
    Permalink

    Subhanallah jazakillah Khoir informasi nya..semoga emak2 sabar membina generasi Islam dan mengajak emak2 lainnya supaya mendukung sistem Islam Kaffah aamiin

    Balas
    • 1 April 2020 pada 15:37
      Permalink

      Hanya Sistem pendidikan islam yg lebih mengutamakan transfer of karakter bukan pada gedung dan kurikulum. Makanya pendidikan Islam melahirkan generasi-generasi Al Fatih yg cerdas serta berakhlak mulia

      Balas
    • 2 April 2020 pada 13:18
      Permalink

      Aamiin yaa Rabbal’alamiin

      Balas
  • 1 April 2020 pada 05:59
    Permalink

    Perlu ada pengkajian kembali soal paradigma pendidikan yang diadopsi bangsa ini. Paradigma atas dasar sekularisme jelas tak layak dipertahankan sebagai asas, kecuali kita berharap kondisi bangsa terus terperosok dalam kehancuran. Sekularisme harus segera dicampakkan karena terbukti telah melahirkan berbagai kekacauan dan menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulia pendidikan.

    Sungguh satu-satunya sistem yang layak diterapkan hanyalah sistem pendidikan berasas Islam yang diterapkan dalam bingkai sistem Khilafah Islam. Karena sistem ini tegak di atas asas akidah yang sahih, sesuai dengan fitrah, dan dijamin akan mewujudkan ketentraman. Subhanallah….

    Balas
    • 2 April 2020 pada 12:40
      Permalink

      Wanita sungguh mulia ketika islam di terapakan

      Balas
  • 1 April 2020 pada 04:22
    Permalink

    Subchanalloh, ,jika aturan Alloh syariah Islam belum diterapkan..keruwetan makin menjadi jadi, ,semoga umat makin sadar insyaf

    Balas
  • 1 April 2020 pada 03:40
    Permalink

    Masya Allah analisanya keren

    Balas
  • 1 April 2020 pada 03:28
    Permalink

    Hanua Islamlah sistem yg sempurna.. AllahuAkbar!

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 23:25
    Permalink

    Pendidikan saat ini hanya menghasilkan generasi yang mementingkan materi ,bukan apa yang dihasilkan dari pendidikan mereka untuk kemaslahatan umat. Sistem Pendidikan saat ini juga membingungkan dan tidak jelas arahnya. Berbeda dalam Islam,Pendidikan menjadi hal utama untuk menghasilkan umat yang tidak hanya cerdas secara akademik,tapi juga cerdas secara agama dan akhlak.Inilah yang nantinya akan menghasilkan generasi gemilang untuk untuk Islam dan umat.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:48
    Permalink

    Masya Allah.. Tabarakallah.., semoga kita segera kembali ke sistem khilafah..
    Aamiin

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:46
    Permalink

    sistem asal jalan, konten yang akhirnya diberikan eadanya dan semampunya, membuka peluang menjdi generasi yng asal jadi.
    Semga cobaan kondisi wabah ini menjadi wadah umat Islam sadar akan Islam yang utuh yang diterapkan di sluruh lini kehidupan, termasuk pendidikan.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:43
    Permalink

    Rindu sistem pendidikan seperti di masa khilafah

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:37
    Permalink

    Ketika solusi yg diberikan tdk shohih maka ujung2nya akan membuat masalah baru.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:35
    Permalink

    Hanya islam lah satu-satunya solusi dalam seluruh problematika umat

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 22:11
    Permalink

    Kebijakan yg tdk solutif ini menimbulkan banyak masalah baru, terutama bagi Ibu yg minim pemahaman dan skill dalam mengajar. Semoga wabah ini cepat berlalu…………amiin

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 21:33
    Permalink

    Alhamdulillah. Makasih artikelnya

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 20:35
    Permalink

    membayangkan kehidupan Islam, tenang penuh keberkahan

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 20:28
    Permalink

    Lelah melihat output pendidikan sekuler saat ini..benar-benar dibutuhkan sistem pendidikan yang paripurna..

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 20:21
    Permalink

    Sungguh satu-satunya sistem yang layak diadopsi hanyalah sistem pendidikan Islam yang diterapkan dalam bingkai sistem Khilafah Islam

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 19:59
    Permalink

    Dalam bidang pendidikan pastilah peran negara sangat penting, karena negara memberikan kebijakan akan keberhasilan para peserta didik. Juga tidak lepas peran orangtua sebagai madrasatul ula. Dan perarutan yang seperti ini hanya islam yang menerapkannya. Hanya islam satu satunya solusi bagi ummat manusia

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 19:30
    Permalink

    Pendidikan sudah seharusnya memiliki asas yang shahih dengan akidah Islam, bukan tergiring oleh arahan pendidikan pragmatis yang jauh dari kepribadian Islam.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 19:21
    Permalink

    Banyak orangtua yang kaget,karena selama ini anak ketika sekolah artinya menyerahkan masalah pendidikan total kepada sekolah,padahal seharusnya orangtua juga berperan dalam pemdidikan anak-anaknya. Bukan hanya sekedar penopang ekonomi keluarga tapi juga sebagai ummu madrasatul ula.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 19:20
    Permalink

    Rindu diterapkannya aturan Allah

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 19:02
    Permalink

    Online stress, offline juga stress, begitulah jika konsep pendidikan gaje di sistem sekuler

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 18:44
    Permalink

    Hanya sistem Islam yang akan mampu menghasilkan cita-cita pendidikan bukan sekedar cerdas tapi mulia berkepribadian Islam yang tangguh

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 18:41
    Permalink

    Sistem Pendidikan Islam adalah jwaban dri problem pendidikan saat ini. Biar emak2 tdk puyeng lg dgn berbgai mekanisme saat ini.

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 18:36
    Permalink

    Sistem sekarang emang bikin pusing..
    Saatnya back to Islam

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 18:27
    Permalink

    Hanya sistem pendidikan Islam yang mampu membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam dan menguasai sains dan memiliki skill dalam mengarungi kehidupan..

    Balas
  • 31 Maret 2020 pada 18:11
    Permalink

    Pendidikan kurikulum liberal akan melahirkan siswa2 yang liberal… Sungguh miris sekali.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *