Menyelesaikan Persoalan Anak Perempuan Dunia, Tidak Cukup dengan “Girls Empowerment”

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS – Girls Empowerment atau pemberdayaan anak perempuan, menjadi salah satu dari 12 bidang kritis yang disepakati dalam Beijing Platform for Action (BPfA) tahun 1995 lalu. Dalam BPfA tersebut dinyatakan yang menjadi persoalan bagi anak perempuan dunia adalah “Specific forms of violence and harmful practices, including female genital mutilation (FGM) and cutting, breast ironing and child marriage, affect girls in particular, including child sexual abuse” (https://www.unwomen.org/en/news/in-focus/csw59/feature-stories), bentuk-bentuk kekerasan dan praktik-praktik berbahaya tertentu, termasuk mutilasi alat kelamin wanita (FGM) dan pemotongan, penyetrikaan payudara dan pernikahan dini yang berpengaruh khususnya terhadap anak perempuan, termasuk pelecehan seksual anak.

Kini, 25 tahun berlalu, persoalan-persoalan yang terjadi pada anak perempuan di seluruh dunia tidak bisa dituntaskan, bahkan semakin membesar masalahnya terutama kekerasan seksual dan menghasilkan berbagai persoalan baru.

Mengapa bisa demikian? Karena apa yang disebut masalah oleh UN-Women dan apa yang ditawarkan sebagai solusi jauh panggang dari api. Analisis persoalan yang salah, lahir dari sudut pandang yang juga salah.

Analisis dari Kacamata Kapitalis

Bahwa anak perempuan di berbagai belahan dunia menghadapi masalah, pada faktanya memang benar. Namun harus dilihat skala dari apa yang disebut UN-Women sebagai masalah ini. Persoalan FGM dan breast ironing, adalah persoalan adat dan tradisi suku-suku tertentu di tempat tertentu, bukan persoalan yang mendunia.

Adalah suatu kecerobohan besar bila lantas menggeneralisasi kasus dan menyamakan antara FGM dengan sunat perempuan dalam Islam. Apalagi kemudian menuduh syariat Islam sebagai pangkal dari persoalan yang dihadapi anak perempuan.

Sunat perempuan dalam syariat Islam jelas berbeda dengan FGM. Dalam praktiknya, FGM memotong keseluruhan bagian klitoris dari kelamin perempuan, atau memotong bagian labia baik labia minora atau majora, bahkan ada juga praktik infibulasi, yakni menjahit dua belahan labia dan menyisakan lubang kecil untuk kencing dan haid.

Yang seperti ini jelas akan menyisakan penderitaan bagi perempuan. Sementara sunat perempuan dalam Islam, hanya mengambil sedikit dari klitoris perempuan dan tidak menghilangkannya.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha,

إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج

Baca juga:  Feminisme Gagal Menyelamatkan Perempuan, Islam Jangan Dikambinghitamkan

Apabila engkau mengkhitan wanita, sisakanlah sedikit dan jangan potong (bagian kulit klitoris) semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR Al Khatib dalam Tarikh 5/327, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

UN-Women juga membidik Islam sebagai sumber kesalahan ketika membahas pernikahan dini dan kekerasan seksual yang menimpa anak perempuan. Mereka menuduh Islam menempatkan perempuan di bawah laki-laki sehingga perempuan dipandang sebagai objek pelampiasan nafsu saja dari para lelaki.

Berbagai tuduhan terhadap Islam, sebenarnya hanya merupakan legitimasi bagi mereka untuk bisa masuk dalam pembahasan hukum Islam sehingga bisa leluasa mengubahnya seperti apa yang menjadi tujuan mereka.

Apa yang mereka anggap sebagai masalah, adalah karena bertentangan dengan agenda mereka. Agenda yang mereka bungkus rapi dalam kemasan cantik bernama girls empowerment (pemberdayaan anak perempuan).

Agenda tersebut adalah sekularisasi anak perempuan. Membuat mereka benci pada agama mereka. Membuat mereka berusaha melepaskan diri dari agama yang digambarkan telah melakukan kekerasan dan pengekangan kebebasan mereka.

Bila telah lepas dari agama, akan mudah sekali menggiring anak-anak perempuan ini pada program girls empowerment, yang hakikatnya adalah kapitalisasi perempuan sebagai aset ekonomi.

Dengan program pemberdayaan anak perempuan, anak-anak perempuan dibebaskan dari hal-hal yang bisa menghambat mereka untuk menjadi aset ekonomi yang penting. Mereka di-support untuk bersekolah tinggi, meninggalkan pernikahan di usia muda sehingga kelak ketika dewasa mereka menjadi pekerja-pekerja mumpuni yang dibutuhkan kapitalisme.

Persoalan-persoalan anak perempuan lain seperti FGM dan kekerasan seksual, juga berusaha mereka selesaikan dalam rangka membangun sumber daya perempuan yang tangguh, yang tidak terganggu dengan kesakitan, tekanan jiwa, atau hal-hal yang tidak produktif dalam kacamata mereka seperti mengurus anak.

Dalam sistem kapitalisme, perempuan dipandang memiliki posisi strategis. Sebagai sumber daya manusia, perempuan bisa dibayar lebih murah daripada laki-laki untuk posisi kerja yang sama. Begitu pula perempuan, adalah pasar terbesar bagi produk-produk negara kapitalis. Menjadikan mereka berdaya, artinya menjadikan mereka bisa bekerja menghasilkan uang yang akan digunakan untuk berbelanja.

Berbeda halnya jika perempuan menikah muda lantas tidak bekerja. Ini adalah kerugian besar bagi kapitalis karena membuat perempuan tidak bisa mengambil keputusan sendiri dalam belanja rumah tangga.

Baca juga:  Pemberdayaan Perempuan sebagai Agen Perdamaian?

Besarnya potensi ekonomi perempuan ini tampak dari data bahwa 63 persen dari 5 juta pelaku ekonomi di Indonesia didominasi oleh kaum perempuan (https://www.republika.co.id/berita/telko-highlight/berita-telkom/18/09/13/pezmz5368-perempuan-didorong-melek-digital-ini-sebabnya).

Dengan analisis dari kacamata kapitalis inilah, UN-Women lantas merumuskan berbagai persoalan yang dihadapi anak perempuan di seluruh dunia. Mereka mencoba untuk memberikan solusi, yang alih-alih menyejahterakan anak perempuan, malah menjerumuskan mereka dalam persoalan yang lebih rumit.

Lihatlah implikasi dari larangan menikah muda, padahal di sisi lain remaja digempur dengan ide liberalisasi termasuk liberalisasi seksual berupa pornografi dan pornoaksi di berbagai lini media. Pergaulan bebas meningkat, aborsi makin marak, dan angka kekerasan seksual terhadap anak terus bertambah dari tahun ke tahun.

LPSK mencatat ada peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia yang terjadi sejak 2016 sejumlah 25 kasus, lalu meningkat pada 2017 menjadi 81 kasus, dan puncaknya pada 2018 menjadi 206 kasus.

Angka tersebut, kata Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi Pasaribu, terus bertambah setiap tahun. Bahkan ia mengatakan ini adalah fenomena gunung es, yang berarti angka sebenarnya bisa jauh lebih besar (https://news.detik.com/berita/d-4637744/lpsk-kasus-kekerasan-seksual-pada-anak-meningkat-tiap-tahun).

Dengan demikian, maka analisis masalah dan solusi yang diberikan melalui BPfA, sangat dangkal dan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya dari persoalan anak perempuan.

Islam sebagai Solusi

Budaya dan tradisi yang menzalimi anak perempuan, adalah budaya kejahiliahan, yang terjadi sebelum Islam muncul sebagai solusi. Maka untuk menyelesaikannya, belajarlah dari sejarah Islam, yang mampu mengubur tradisi jahiliah dan menggantikannya dengan kemuliaan.

Tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi mengawini berapa pun perempuan yang diinginkan tanpa mahar, tidak memberikan warisan dan justru menjadikan perempuan sebagai barang yang diwariskan, hilang musnah seketika hukum Islam datang menghapuskannya.

Bahkan Islam turun membawa kabar gembira tentang kelahiran anak-anak perempuan melalui sabda Nabi saw berikut:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka.” (HR Ahmad 24055, Bukhari 1418, Turmudzi 1915, dan yang lainnya).

Baca juga:  Perempuan dan Pendidikan dalam BPFA Beijing +25

Kunci dari mengubah tradisi ini adalah penerapan hukum yang tegas dari negara. Ketika suatu tradisi bertentangan dengan Islam, maka negara Islam akan menghapuskannya dan menetapkan sanksi berat bagi pelakunya.

Begitu pula berbagai tindak kekerasan seksual yang dihadapi anak-anak perempuan. Negara akan memberlakukan hukum yang tegas, pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah.

Penyodomi dibunuh. Pembunuh anak akan di-qishas, yakni balas bunuh, atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta yang bila dikonversi saat ini senilai kurang lebih 2 miliar rupiah. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai 1/3 dari 100 ekor unta, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan penganiayaan terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.

Islam membolehkan anak perempuan untuk menikah muda, namun melarang untuk memaksanya. Rasulullah saw pernah memberikan hak untuk membatalkan pernikahan seorang perempuan yang dinikahkan ayahnya tanpa persetujuannya (Baca HR Al-Bukhari ).

Menikah muda juga tidak berarti perempuan tidak boleh melanjutkan pendidikannya. Islam menjamin pendidikan termasuk bagi anak perempuan. Dalam sejarah Islam, kita mengenal banyak perempuan yang menjadi ulama dan tokoh terkemuka.

Asy-Syifa, perempuan yang diangkat Umar sebagai qadhi hisbah di Madinah, Sayyidah Nafisah yang merupakan ulama guru dari Imam Syafi’i, Fatima al-Fehri yang mendirikan masjid Qarawiyin di Fez, Maroko, yang menjadi universitas pertama di dunia, dan insinyur Al-‘Ijlia yang membuat astrolab di Aleppo, hanya sebagian kecil dari para perempuan yang menorehkan namanya dalam sejarah kebesaran Islam.

Di Indonesia kita mengenal Laksamana Malahayati, Hj. Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah ulama perempuan di Padang yang mendirikan Perguruan Diniyah Putri, dan sederet nama lainnya.

Berbagai persoalan yang dihadapi anak perempuan, Islamlah yang menjadi solusinya. Bukan girls empowerment, atau jargon-jargon kosong feminis lainnya. Hanya saja, itu berarti Islam harus diterapkan secara sempurna seluruh hukum-hukumnya dalam seluruh aspek kehidupan. Dan yang mampu menerapkannya secara sempurna tidak lain adalah Khilafah Islamiyah. [MNews]

61 thoughts on “Menyelesaikan Persoalan Anak Perempuan Dunia, Tidak Cukup dengan “Girls Empowerment”

Tinggalkan Balasan