Rezim Tergagap Corona, Fungsi Negara ke Mana?

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Kasus Corona di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Dari 893 pasien positif meningkat menjadi 1.046 kasus, 87 meninggal, dan 46 sembuh (data per 28/2/2020). Peningkatan yang cukup drastis dan memprihatinkan.

Meski pemerintah sudah melakukan upaya pencegahan, tapi itu belum cukup ampuh untuk meredam hantaman virus Covid-19 yang sudah kadung tersebar ke berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia tergagap Corona. Karena tidak siap dan cepat tanggap, korban corona terus berjatuhan. Bahkan fatality rate Indonesia cukup tinggi, yaitu di angka 8 persen. Melebihi Cina sebagai negara pandemi pertama.

Sebelum kasus ini naik di angka lebih dari 1.000, banyak pihak yang menuntut pemerintah melakukan lockdown atau karantina wilayah. Diantaranya datang dari Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI).

Dalam surat pada 14 Maret 2020 lalu, PA PAPDI meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan karantina wilayah di daerah yang telah terjangkit Covid-19. Desakan serupa juga muncul lewat Rekomendasi Strategi Penanganan Covid-19 yang dikeluarkan 9 organisasi tenaga kesehatan.

Selain PB PAPDI, organisasi yang mengeluarkan pernyataan serupa adalah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI), Laboratorium Eijkman, RS Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Wecare.id. (tirto.id, 20/3/2020).

Belakangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga meminta pemerintah segera melakukan kebijakan lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19. Saat wabah Covid-19 makin tak terkendali, Gubernur DKI Jakarta pun bermaksud melakukan karantina wilayah.

Hanya saja hal itu segera dianulir oleh Jokowi dengan menegaskan bahwa kebijakan lockdown adalah wewenang pemerintah pusat bukan pemerintah daerah. Jokowi pun menegaskan kembali tidak mengambil kebijakan lockdown dengan alasan karena Indonesia memiliki karakter, budaya, dan tingkat kedisiplinan yang berbeda-beda.

Selain itu, kebijakan lockdown tak diambil karena akan berdampak pada ekonomi. Ekonom dari Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, Indonesia bisa krisis ekonomi apabila Jakarta lockdown alias diisolasi. Rupiah sendiri sudah terjun bebas di angka Rp16.305 per dolar AS.

Sebenarnya ekonomi Indonesia juga sudah ambyar sebelum Corona datang. Indikasinya, utang yang makin menggunung, daya beli masyarakat yang menurun, PHK massal, pengangguran terbuka, dan sederet problem ekonomi lainnya.

Apa yang dilakukan pemerintah hari ini belum menunjukkan kemajuan berarti. Setiap hari kita hanya disuguhkan dengan laporan pasien positif Covid-19 yang semakin bertambah. Antisipasi yang buruk, kebijakan yang tidak tegas, penanganan yang tidak sigap, dan abainya negara sejak wabah ini diumumkan menjadi faktor penyebab pandemi virus ini menjalar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bisa dikatakan, upaya preventif dan kuratif tidak optimal dan maksimal.

Baca juga:  Cara Jitu Sistem Islam Mengatasi Penyebaran Penyakit Menular

Pertama, upaya preventif yang terlambat. Saat negara lain buru-buru menutup akses masuknya WNA ke negaranya, Indonesia dengan santainya membiarkan akses WNA itu terbuka lebar. Tidak ada upaya bagaimana agar Covid-19 tidak memasuki Indonesia.

Yang ada, para pejabat negeri ini melempar gimmick candaan yang terkesan meremehkan. Semisal “Orang Indonesia biasa makan nasi kucing, jadi kebal dengan virus”, “Corona tidak akan datang karena Indonesia negara tropis”, “Di Cina, kan, persentasenya kecil, jadi enjoy aja”.

Alhasil, saat kasus pertama diumumkan dengan dua orang terinfeksi Covid-19 pada 2/3/2020, pemerintah tergagap. Negara tak siap. Karena dari awal sudah menyepelekan. Saat banyak desakan dari rakyat agar menyetop masuknya warga asing ke Indonesia, Pemerintah hanya menanggapi dingin dan bergeming. Bahkan negara lain dibuat bingung dengan sikap Indonesia yang masih merasa baik-baik saja saat itu.

Upaya preventif dengan seruan social distancing (pembatasan interaksi sosial), physical distancing (jaga jarak fisik), rajin cuci tangan, tetap di dalam rumah, jangan berkerumun, dan meliburkan sekolah, tidak akan cukup menangkal penyebaran Covid-19 tanpa edukasi yang menyeluruh. Artinya, seruan dan imbauan saja tanpa kebijakan yang tegas tak akan efektif.

Tak kuasa membendung dan mengontrol masyarakat dengan kebijakan itu, polisi dan TNI pun turun tangan. Menyisir tempat-tempat kerumunan massa hingga membubarkan paksa perkumpulan yang masih dilakukan masyarakat. Artinya, edukasi terhadap bahaya virus ini belum menyentuh akar rumput.

Masih ada yang bebal dan tak mengindahkan anjuran pemerintah. Alasannya, jika tak keluar rumah mereka dapat nafkah dari mana? Keluarga bisa mati kelaparan sebelum corona menyerang. Begitulah komentar rakyat bawah. Sebab, selama ini mereka memang tak diurusi dengan benar oleh negara. Cari nafkah, cari makan atas usaha sendiri. Negara berlepas diri. Sungguh dilematis.

Kedua, upaya kuratif yang belum optimal. Sejauh ini, pemerintah lebih banyak melakukan upaya kuratif (penyembuhan). Seperti menyediakan rumah sakit darurat, membeli jutaan obat, yaitu klorokuin dan avigan. Dua obat ini disebut efektif mengobati pasien corona.

Klorokuin sendiri diketahui sebagai obat malaria, bukan Corona. Sementara avigan merupakan obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, Avigan. Obat ini juga dikenal dengan Favipiravir. Obat ini sudah diuji klinis ke 340 pasien di Wuhan dan Shenzen. Meski obat ini mampu menangani pasien dengan gejala ringan, namun belum cukup efektif menangani pasien Covid-19 dengan gejala berat.

Penggunaan obat ini juga masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan profesional. Seperti Kementerian Kesehatan Jepang yang mengatakan avigan tidak cukup efektif menyembuhkan pasien Covid-19 dengan gejala kronis.

Keampuhan klorokuin sebagai obat Corona juga dibantah oleh Kepala Perawatan Klinis dalam Program Emergency WHO, Janet Diaz. Ahmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah dalam penanganan Covid-19 juga mengatakan cara penyembuhan dengan kedua obat tersebut belum berstandar internasional.

Baca juga:  Memakai “Hand Sanitizer” yang Mengandung Alkohol, Apa Hukumnya?

Selain membeli obat, pemerintah juga memesan 105.000 Alat Pelindung Diri (APD) dari Cina. Memang sudah banyak keluhan terbatasnya APD yang tersedia di RS rujukan. Bahkan beredar viral di media sosial tenaga medis memakai jas hujan sebagai APD.

Pemerintah juga membeli alat tes kesehatan yang juga didatangkan dari Cina. Tujuannya untuk melakukan tes massal dengan rapid test. Padahal tingkat sensitivitas rapid test hanya berkisar 36%. Sebab, rapid test tidak untuk mendeteksi virus Covid-19 tapi zat antibodinya.

Meski hasil rapid test negatif, belum tentu pasien juga negatif Covid-19. Karena dibutuhkan waktu 14 hari untuk membentuk antibodi seseorang sejak ia terinfeksi virus. Risiko untuk false negative sangatlah besar bila pemerintah memaksakan memakai rapid test.

Upaya preventif yang terlambat dan upaya kuratif yang belum optimal inilah yang mengindikasikan negara memang tidak siap menghadapi pandemi Covid-19. Ketidaksiapan ini diperparah dengan keengganan melakukan lockdown atau mengunci wilayah terdampak. Alhasil, eksodus warga dari zona merah dengan melakukan mudik dini berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19.

Di satu sisi, penanganan lamban dan edukasi minim membuat sinergitas seluruh elemen masyarakat kurang terjalin. Disinformasi hingga tumbangnya puluhan tenaga kesehatan menjadi bukti bahwa negara abai melakukan antisipasi dini.

Padahal lockdown atau karantina wilayah adalah amanat konstitusi dalam UU No. 6 Tahun 2018. Menkopolhukam, Mahfud MD mengatakan pemerintah akan menyusun PP untuk wacana lockdown di ibu kota DKI Jakarta. Setelah korban berjatuhan, dokter dan tenaga medis berjatuhan, fasilitas kesehatan kewalahan, mengapa baru berpikir tentang lockdown? Sungguh kebijakan yang terlambat.

Kesigapan Islam Menangani Wabah

Cara Islam mengatasi wabah sebenarnya sudah dicontohkan di masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab. Saat wabah tha’un melanda negeri Syam, Khalifah Umar mengumpulkan sesepuh Quraisy untuk dimintai pendapat apakah Khalifah perlu meneruskan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah.

Wabah terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam. Sampai di Saragh, Umar bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al Jarrah yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahunya bahwa di Syam sedang terjadi wabah. Khalifah Umar memutuskan berhenti di Saragh. Saat itulah kegundahan beliau terjadi. Apakah harus meneruskan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah.

Terjadi perdebatan antara tokoh senior Muhajirin dengan Khalifah Umar. Hingga beliau meminta Ibnu Abbas memanggil orang-orang Anshar. Karena tak ada titik temu, pertemuan itu dibubarkan. “Sekarang tinggalkan saja aku. Tolong panggilkan aku sesepuh Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukan Makkah,” kata Umar kepada Ibnu Abbas. Kedua tokoh tersebut menyarankan Umar agar kembali ke Madinah dan Umar menyetujuinya.

Baca juga:  Wabah Covid-19, Dunia Butuh Otoritas Kredibel! (WHO dan IHR-2005 Bertanggung Jawab atas Meluasnya Wabah)

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. “Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?” kata Abu Ubaidah. “Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya,” Jawab Umar bin Khaththab. Umar meminta Abu Ubaidah meninggalkan wilayah Syam, namun Abu Ubaidah menolak hingga beliau meninggal karena wabah itu.

Wabah itu baru berhenti setelah Amr bin Ash menjabat sebagai Gubernur. Beliau mulai menganalisa penyebabnya hingga menemukan metode memutus penyebaran wabah. Beliau memisahkan antara orang sakit dengan yang sehat. Kemudian melakukan isolasi wilayah yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘lockdown’.

Metode lockdown sudah dipraktikkan di masa Islam. Sebagaimana hadis Rasulullah saw tentang lockdown, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Itulah yang akan dilakukan negara yang menerapkan Islam. Soal wabah, Islam sudah memberi teladan dan arahan yang jelas. Bukan berpikir tentang ekonomi. Saat wabah belum terjadi, Islam akan membangun fasilitas kesehatan yang memadai, menggaji para tenaga kesehatan secara layak, menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan rumah sakit.

Islam juga akan mengedukasi masyarakat hingga level terendah seperti RT/RW. Jika diberlakukan lockdown, negara siap menanggung biaya hidup rakyat selama mereka dikarantina.

Tidak seperti saat ini, negara bahkan lebih menimbang dampak lockdown terhadap ekonomi ketimbang kesehatan rakyat. Bahkan pemerintah membuka donasi untuk membantu penanganan Covid-19. Peran negara minim. Untuk sekadar menanggung hidup rakyat selama lockdown saja keberatan.

Di sisi lain, begitu tanggap mengeluarkan biaya untuk membangun Ibu Kota Baru. Bisa dikatakan, negara pelit keluar biaya untuk rakyat. Namun, loyal terhadap pembiayaan yang menguntungkan asing.

Mengelola negara bukanlah mengelola sebuah perusahaan. Negara bukan profit entity, namun supremacy state, di mana peran negara adalah pengurus dan pelayan rakyat. Melayani dan melindungi dengan segenap upaya dan sumber daya yang ada agar rakyat selamat dari wabah dan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Begitulah Islam mengajarkan bagaimana negara harus bersikap. Sejak antisipasi dini hingga upaya kuratif yang sudah pernah dicontohkan Baginda Nabi dan para sahabat. Problem apapun akan terselesaikan tatkala negara dikelola berdasar syariat Islam.

Kerugian ekonomi akibat wabah bisa dipulihkan. Namun kehilangan sumber daya manusia tak tergantikan. Sebab, nyawa satu manusia sangat berharga dalam Islam. Negaralah kunci utama penanganan wabah. Kuat bersama Islam, lemah bersama kapitalisme. Sehat dengan cara hidup Islam, sakit bila mengikuti cara hidup kapitalisme. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 tanggapan untuk “Rezim Tergagap Corona, Fungsi Negara ke Mana?

  • 30 Maret 2020 pada 07:27
    Permalink

    Beginilah efek dipimpin oleh pemimpin Ruwaibidoh. Umat butuh pemimpim yg hakiki yang lahir dari sistem yang shohih yaitu sistem Islam dibawah naungan daulah Khilafah Islamiyyah

    Balas
  • 29 Maret 2020 pada 20:54
    Permalink

    Adanya kesengsaraan ummat karena tidak adanya khilafah:(

    Balas
  • 29 Maret 2020 pada 17:40
    Permalink

    Lockdown sdh di contohkan dalam islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *