Demi Tangani Corona, Rp59 Triliun Dana Desa Disunat. Bagaimana Gaji Pejabat?

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyebut pemerintah telah mengidentifikasi dana senilai Rp56 triliun sampai Rp59 triliun dana desa akan dialihkan untuk penanganan virus corona.

Tahun ini, total transfer dana desa ke daerah mencapai Rp 850 triliun. Melalui Telekonferensi, Menteri Sri Mulyani menyampaikan bahwa ada (dana) yang bisa direalokasikan membantu masyarakat untuk penanganan Covid-19 (liputan6.com, 20/3/2020).

Desa, Tumpuan Hadapi Krisis Ekonomi

Ketika menghadapi bencana wabah seperti saat ini, tentu wajar jika negara mengatur ulang alokasi anggaran. Tapi pemilihan pos yang direalokasi harus tepat. Jika tidak, akan memunculkan masalah baru. Saat ini kemiskinan desa di Indonesia sangat tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2019 persentase kemiskinan di desa mencapai 12,60%. Jika dana desa disunat, upaya pengentasan kemiskinan desa akan makin jauh dari realisasi.

Padahal, akibat pandemi Corona, ekonomi Indonesia makin anjlok. Sektor pertanian yang berbasis di desa menjadi tumpuan untuk menyuplai bahan pangan selama menghadapi wabah ini. Pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TVone, Selasa (17/3/2020), pakar ekonomi Rizal Ramli mengatakan, sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang diakibatkan wabah corona saat ini.

Penghematan Butuh Keteladanan

Sikap Pemerintah yang hendak menyunat dana desa ini kontraproduktif dengan upaya pengentasan kemiskinan desa dan sekaligus pertahanan menghadapi krisis ekonomi. Kita memang butuh menghemat belanja negara untuk dialokasikan pada aktivitas mengatasi virus Corona. Namun seharusnya yang dihemat adalah pos yang tidak penting seperti perjalanan dinas yang tidak perlu.

Baca juga:  Dana Desa Mengukuhkan Jejaring Kapitalisme ke Pelosok Negeri

Daripada menyunat dana desa, sebaiknya para pejabat memberi teladan dalam hal penghematan. Misalnya dengan merelakan sebagian gaji dan aneka tunjangan yang biasa mereka terima direalokasikan ke penanganan Covid-19.

Jika ini dilakukan oleh pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif, dari pusat hingga daerah, tentu bermanfaat bagi rakyat. Tak perlu koar-koar mengaku peduli wong cilik, cukup buktikan dengan aksi nyata.

Tak hanya keteladanan secara personal, pemerintah juga harus menunjukkan penghematan anggaran secara sistemis. Jangan sampai anggaran untuk rakyat kecil disunat, tapi keringanan pajak untuk para konglomerat pengusaha justru diobral, koruptor dibiarkan menggerogoti uang negara, berbagai tambang dijual murah pada asing, BUMN dibiarkan boros akibat perilaku pejabat korup, dan lain-lain. Jika tentakel gurita korupsi dipotong habis, akan terkumpul dana berkali lipat dibandingkan dana desa.

Butuh Pemimpin Negarawan

Namun, di sistem demokrasi-sekular seperti saat ini, tak akan kita temukan pemimpin yang memberi keteladanan personal dan sistemis seperti itu. Sistem demokrasi yang berbiaya mahal justru menghasilkan pejabat yang korup, gemar menjual aset negara, beraninya “mencekik” wong cilik, patuh pada pengusaha kapitalis dan tak peduli pada derita rakyat.

Bukannya serius menghemat anggaran demi mengatasi pandemi, justru menghamburkan dana untuk memperbaiki citra melalui para influencer. Ini jelas bukan sosok pemimpin negarawan.

Pemimpin yang memberi teladan penghematan anggaran hanya ada dalam khilafah. Karena khilafah adalah sistem pemerintahan yang berdasarkan akidah Islam. Pejabat dalam khilafah adalah orang yang takut mengkhianati amanat, karena di akhirat mereka akan mempertanggungjawabkan semua kepemimpinannya. Para pejabat khilafah rela hidup sederhana asalkan rakyatnya sejahtera.

Baca juga:  Horor Desa 'Siluman'

Tengoklah sosok khalifah Umar bin Abdul Aziz, di masanya rakyat sangat sejahtera, hingga tak ada seorang pun yang berhak menerima zakat. Kas negara melimpah, padahal telah dialokasikan untuk semua yang membutuhkan. Namun, sang Khalifah hidup sangat sederhana. Dikisahkan, pada suatu hari ada informasi bahwa putra sang Khalifah telah membeli sebuah cincin batu giok yang sangat mahal. Harganya 1.000 dinar.

Seketika raut muka sang Khalifah berubah merah padam pertanda sangat murka. Dipanggilnya sang putra dan dinasihatinya dengan lembut, ”Hai anakku, aku dengar kamu membeli sebuah cincin dengan harga 1.000 dinar. Benarkah?” Sang putra dengan penuh hormat menjawab, ”Benar, Ayahanda.” Sang Khalifah melanjutkan, ”Juallah cincin itu. Lalu berilah makan 1.000 orang miskin. Kamu boleh memakai cincin yang terbuat dari besi. Tuliskanlah pada cincin itu kalimat ”Allah menyayangi orang yang menyadari nilai dirinya” (republika.co.id, 05/07/2019).

Dalam situasi bencana, pemimpin dalam khilafah memberi contoh kombinasi terbaik antara kesederhanaan hidup dan kegemilangan riayah syu’unil ummah (pengaturan urusan rakyat). Ini tampak ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu menangani paceklik yang menimpa jazirah Arab. Pada saat itu, orang-orang mendatangi Kota Madinah –pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah–untuk meminta bantuan pangan.

Baca juga:  Paradoks Demokrasi: Menjamin Kebebasan, Faktanya Antikritik

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu segera membentuk tim yang terdiri dari beberapa orang sahabat. Setiap hari, tim ini melaporkan seluruh kegiatan mereka kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, sekaligus merancang apa yang akan dilakukan besok harinya. Umar bin Khaththab ra menempatkan mereka di perbatasan Kota Madinah dan memerintahkan mereka untuk menghitung orang-orang yang memasuki Kota Madinah.

Jumlah pengungsi yang makan di rumah Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berjumlah 10 ribu orang, sedangkan orang yang tidak hadir di rumahnya, diperkirakan berjumlah 50 ribu orang. Pengungsi itu tinggal di Madinah selama musim paceklik. Mereka mendapatkan pelayanan yang terbaik dari Khalifah.

Setelah musim paceklik berakhir, Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu memerintahkan agar pengungsi itu diantarkan ke kampung halamannya. Setiap pengungsi dibekali bahan makanan dan akomodasi lainnya, sehingga mereka pulang dengan tenang dan penuh kegembiraan (Sumber: Manajemen Bencana Model Khilafah Islamiyyah oleh Syamsuddin Ramadhan An Nawiy).

Di balik kegemilangan pelayanan pada rakyat di masa bencana, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu hidup sangat sederhana. Demikianlah gambaran sosok pemimpin dalam khilafah. Sungguh sosok pemimpin dan sistem yang kita harapkan hadir dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kita pemimpin yang demikian. Aamiin. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

15 tanggapan untuk “Demi Tangani Corona, Rp59 Triliun Dana Desa Disunat. Bagaimana Gaji Pejabat?

  • 29 Maret 2020 pada 11:19
    Permalink

    Subhanallooh…pengen nangis bacanya….rindu khilafah….😭

    Balas
  • 27 Maret 2020 pada 13:31
    Permalink

    Rindu pemimpin yg amanah

    Balas
  • 26 Maret 2020 pada 13:10
    Permalink

    Ini lah fakta menujukan kegagalan darri system kapitalisme- sekuler.. Tak bisa dipungkiri kalu ada solusi yg ditawarkan untuk menyelesaikan suatu masalah akan menambahkan masalah baru.. Dan ppasti menimbulkan banyak hal yg bertentang..
    Pastinx solusi yg tuntas dan komprehensif adalah kembali kpda system Islam yg kaffah.. Yg berada di bawa naungan khilafah islamiyah

    Balas
    • 28 Maret 2020 pada 04:55
      Permalink

      Masya Allah tabarakallah rindunya memiliki pemimpin yang Sholeh seperti 2 Umar..
      ya Allah semogaa segera tegak khilafah’alaa minhaji an-Nubuwwah

      Balas
  • 26 Maret 2020 pada 12:11
    Permalink

    Merindukan khilafah

    Balas
  • 26 Maret 2020 pada 11:20
    Permalink

    Apa cuma itu keahliahanmu wahai pejabat..
    Korupsi wae…😏😏😏

    Balas
    • 28 Maret 2020 pada 11:14
      Permalink

      Rakyat yang seharusnya diriayah kenapa jadi dana rakyat yang harus menyokong pemerintah

      Balas
  • 26 Maret 2020 pada 08:48
    Permalink

    Allahumma sholli Alaa muhammad wa ashghili dholimi Biddholimi…

    Balas
    • 29 Maret 2020 pada 11:21
      Permalink

      Subhanallooh…ingin nanhis bacanya…rindu khilafah😭

      Balas
  • 26 Maret 2020 pada 07:05
    Permalink

    Masya allah sistem pemerintah islam

    Balas
  • 26 Maret 2020 pada 07:04
    Permalink

    semoga badai cepat berlalu dan digantikan dg indahnya kekhilafahan islam

    Balas
  • 26 Maret 2020 pada 06:58
    Permalink

    Pemimpin adalah perisai bagi umat
    Pemimpin sekarang malah berada di belakang umat, morotin duitnya aj, pelayanan nol

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *