Bahaya Ide Feminisme: Perempuan Pengontrol Total Reproduksinya

Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.

MuslimahNews.com, OPINI – Selama asas bernegara masih mengekor pada kapitalisme, jangan harap ada perubahan atas layanan kesehatan. Para perempuan dan feminis muda se-Asia Pasifik berkumpul di Bangkok pada 22-26 November 2019 mengikuti Konferensi Internasional perempuan Beijing +25 atau Beijing Platform for Action (BPfA). Penyelenggaranya ialah badan khusus PBB untuk ekonomi sosial Asia Pasifik UNESCAP. (komnasperempuan.go.id, 22/11/2019)

Dalam forum tersebut juga menegosiasikan pada delegasi negara terkait dengan hak-hak perempuan terutama hak kesehatan reproduksi yang sempat akan dihapuskan. Maka refleksi 25 tahun pelaksanaan Beijing Platform for Action di Indonesia diharapkan dapat memberikan kemajuan dalam 12 isu kritis. Salah satunya ialah isu perempuan dan kesehatan.

Gerakan Perempuan Peduli Indonesia (GPPI) mewakili masyarakat sipil Indonesia menuliskan laporan dalam Konferensi Beijing+25 sebagai laporan perbandingan dengan laporan yang ditulis pemerintah.

Ada tiga persoalan Indonesia yang ditulis dalam laporan masyarakat sipil, antara lain soal perkawinan anak dan kesehatan reproduksi, perempuan yang harus bebas dari kekerasan akibat dari kebijakan diskriminatif, dan kemiskinan perempuan yang disebabkan oleh berbagai macam faktor. (konde.co)

Dalam pertemuan Evidence Summit (Maret, 2018) dijelaskan bahwa untuk mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir, banyak ide yang strategis dalam konteks kesetaraan gender. Misalnya, usulan agar pendidikan kesetaraan gender dan hak reproduksi harus dilaksanakan sejak dini dalam keluarga, dan masuk dalam kurikulum pendidikan formal.

Usulan lainnya ialah memberdayakan perempuan melalui dukungan sosial, jaringan, pembelajaran, dan aksi partisipatif masyarakat serta meningkatkan keterlibatan suami. Kemampuan perempuan untuk dapat memutuskan hal yang berkaitan dengan hak reproduksi sangat dipengaruhi oleh sikap suami dan keluarga mereka.

Pembatasan otoritas perempuan dalam pengambilan keputusan hak reproduksinya akan menghalangi kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu. Hal ini akan berimplikasi pada tingginya risiko kematian ibu dan bayi. (theconversation.com, 22/6/2018)

Namun apakah benar bahwa pembatasan pengambilan keputusan hak reproduksi pada perempuan berdampak pada tingginya risiko kematian ibu dan bayi, hingga kaum feminis bersuara lantang meneriakkan pemberian hak penuh pada perempuan untuk mengontrol reproduksinya?

Mereka mengatakan bahwa keputusan perempuan tentang hak reproduksinya sendiri yaitu menggunakan kontrasepsi atau menentukan untuk menunda punya anak lagi, masih didominasi para suami.

Atas nama memperjuangkan hak reproduksi, kaum feminis berupaya menggaungkan ide liberal yang menjadi ancaman bagi keutuhan rumah tangga muslim. Jelas ini sangat berbahaya. Keutuhan keluarga dipertaruhkan hingga tatanan masyarakat pun akan ikut rusak karenanya.

Support Sistem Kapitalisme Perjuangkan Hak Reproduksi

Tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia dinilai berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Dari 1.000 kelahiran hidup, sekitar 30 persen mengalami kematian. Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengatakan, berdasarkan data 2018-2019, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, yakni 305 per 1.000 kelahiran hidup. (yogyakarta.kompas.com, 30/9/2019)

Maka dianggap penting bagi kepala perwakilan UNICEF Indonesia Dr Gianfranco Rotigliani untuk mengupayakan penurunan angka kematian ibu. Karena hal itu akan menunjukkan komitmen terhadap perbaikan kesetaraan gender di Indonesia. (kemenpppa.go.id, 24/2/2016)

Memperjuangkan hak reproduksi menjadi pilihan yang tepat menurut feminis guna menekan angka kematian ibu. Menurut data yang terbaru yang tersedia, 40% dari 85 juta kehamilan di dunia tidak direncanakan. Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, persentasenya bahkan lebih tinggi, yaitu 45% dari 6 juta kehamilan per tahun.

Menurut Karen Newman seorang konsultan manajemen seksual dan kesehatan di London bahwa perempuan akan merasakan kenyamanan karena tubuh mereka tidak akan tiba-tiba berubah drastis karena hamil. Hal itu disebabkan perempuan dapat memutuskan sendiri terkait reproduksinya

Peneliti Barat menganggap bahwa tanpa kehamilan yang tidak diinginkan, maka jumlah aborsi akan turun. Memberikan akses pada kontrasepsi untuk perempuan juga dapat menurunkan tingkat kehamilan yang tak diinginkan dan tingkat aborsi, dengan jumlah yang signifikan di kalangan remaja.

Sementara itu, Susannah Mayhew, Profesor kesehatan reproduksi dan sistem kesehatan di London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan jika perempuan dapat menghalangi dirinya dari kehamilan yang terus-menerus, maka dunia akan menjadi tempat yang sama sekali berbeda untuk perempuan.

Akan lebih banyak perempuan yang mampu menyelesaikan pendidikan dan turut serta menjadi bagian dari angkatan kerja. Akan muncul kesesuaian dengan perencanaan keluarga, lebih sedikit anak, dan berlanjutnya tingkat pendidikan.

Ini akan menguntungkan negara-negara berkembang karena membantu menggenjot perekonomian mereka. Maka merupakan suatu hal yang penting menurut Mayhew untuk melakukan perubahan radikal terhadap kesetaraan gender dengan mengubah pola pikir seluruh lapisan masyarakat. (bbc.com, 4/1/2020)

Ide sesat dan berbahaya ini begitu kentara menyebar di tengah masyarakat muslim. Hingga istri berani mengatakan pada suaminya untuk tidak akan hamil selama waktu tertentu tanpa alasan yang dibenarkan dalam Islam dan ‘memaksa’ suami untuk mengikuti kemauannya.

Baik karena faktor ekonomi yang sulit dalam keluarga atau pekerjaan istri (wanita karir) serta pendidikan yang menuntut perempuan harus meluangkan banyak waktu atasnya. Mereka beranggapan anak akan telantar jika mereka hamil dalam segala kondisi tersebut.

Jadi, apakah perempuan atau sistem kapitalisme yang diuntungkan dalam program gender terkait kesehatan reproduksi? Tentu jawabannya kapitalisme. Karena berhasil mengubah pemikiran perempuan untuk mencegah kehamilan yang tak direncanakan hingga berani menuntut hak atas reproduksi mereka.

Lantas, apakah berbagai alasan tersebut dibenarkan dalam Islam? Perempuan berhak mengontrol total atas kehamilannya? Hingga mengabaikan suami sebagai penanggung jawab penuh atas istrinya dalam rumah tangga.

Feminis Mencabut Fitrah Perempuan

Ide kesetaraan gender sejak awal menjadikan perempuan hidup sebebas-bebasnya tanpa aturan. Bahkan tuntutan mereka untuk setara dengan laki-laki merupakan cara mengkriminalisasikan syariat Islam terkait perempuan.

Islam mengembalikan manusia baik laki-laki dan perempuan kepada fitrah penciptaannya. Laki-laki adalah qawwam bagi perempuan, arrijaalu qawwamuuna ‘alannisaa’. Laki-laki dibebani oleh Allah SWT sebagai penanggung jawab dan pemimpin untuk melindungi dan memuliakan perempuan, anak-anak dan lansia.

Sementara negara wajib bertanggung jawab memberikan jaminan kepada laki-laki agar dapat menunaikan tugas fitrah dari Allah Swt.

Firman Allah Swt:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagai kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” ( QS An-Nisaa’: 34)

Menjadi jelas dan terang bagi kaum perempuan apalagi seorang muslimah untuk menolak ide berbahaya yang disuarakan oleh para aktivis gender. Dengan dalih kesehatan reproduksi maka perempuan berhak memutuskan sendiri atas tubuhnya. Sementara dalam Islam, kemuliaan perempuan serta penjagaan atas dirinya dijamin oleh suaminya. Suami yang berhak untuk memberikan apa yang terbaik bagi istrinya.

Tentu negara yang memiliki tanggung jawab atas rakyatnya takkan membiarkan satu pun kaum wanita telantar karena kejahatan suami-suami mereka. Ada sanksi yang tegas diberikan oleh negara.

Menyerahkan urusan perempuan pada kaum feminis berarti membiarkan perempuan terus terbelenggu dalam tipu muslihat yang membahayakan. Bukan solusi yang didapat, malah kehancuran keluarga dan rusaknya generasi yang terjadi.

Padahal Rasulullah Saw telah memberikan obat pelipur lara bagi perempuan yang menjalankan fitrahnya dengan ikhlas sebagai istri yang melahirkan anak-anaknya. Sebagaimana nasihat Rasul pada Fathimah ra.

“Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah. Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikit pun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

Maka, dapat kita pahami bahwa angka kematian ibu semakin meningkat bukan karena perempuan tak berhak menjadi pemutus atas kesehatan reproduksinya. Yang terjadi sesungguhnya adalah disebabkan solusi salah arah (misleading) yang mengalihkan kita dari penyelesaian akar masalah kesehatan bagi perempuan dan mengasumsikan bahwa negara sulit menyediakan layanan kesehatan gratis dan berkualitas bagi perempuan. Serta seolah menegaskan bahwa jumlah penduduk yang turun angkanya dan jumlah anak sedikit, seolah ada jaminan suatu negara penduduknya sejahtera.

Faktanya, tetap saja para istri banyak bekerja di luar untuk ikut menanggung beban hidup keluarga dengan konsekuensi keluarga kehilangan fungsi menanamkan nilai-nilai dasar bagi generasi. Akibatnya makin merajalela pecandu pornografi dan seks bebas, penikmat dan pelaku video mesum, hingga korban pedofilia. Ini fakta yang memilukan.

Lalu kebijakan memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini dalam kurikulum sekolah tanpa menghapus pornografi, menutup lokalisasi prostitusi, mengganti kurikulum liberal dan mewujudkan kontrol masyarakat.  Imbasnya, hanya akan berujung semakin menguatkan gaya hidup liberal.

Maka solusi kaum feminis menyelamatkan perempuan dari penderitaan justru hanya angan-angan semata. Faktanya, perempuan akan tetap dalam penderitaan karena meninggalkan Islam sebagai aturan kehidupan.

Kembali pada Islam merupakan jalan satu-satunya bagi perempuan agar sesuai dengan fitrah. Tinggalkan semua ide sesat dan berbahaya feminisme. Karena perempuan mulia dan terjaga kehormatannya saat Islam diterapkan sebagai institusi Khilafah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

3 thoughts on “Bahaya Ide Feminisme: Perempuan Pengontrol Total Reproduksinya

  • 24 Maret 2020 pada 16:45
    Permalink

    Sepakat. Kapitalisme merupakan sistem rusak yg merusak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *