; Corona: Pukulan Telak Rezim “Auto-njeplak” – Muslimah News

Corona: Pukulan Telak Rezim “Auto-njeplak”

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA, Lembaga Kajian Strategis Perempuan)

MuslimahNews.com, OPINI – Turut mewabahnya penyakit akibat virus corona (COVID-19) di Indonesia sungguh menyentak. Pemerintah gagap. Rakyat juga tak kalah terperangah. Sama-sama bingung.

Pasalnya, di awal kemunculan corona yang ketika itu bukan di Indonesia, sejumlah pejabat nampak menganggap enteng. Mulai dari yang menyatakan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang bebas corona.

Ada lagi yang menyatakan bahwa orang terjangkit corona bisa sembuh dengan sendirinya. Bahkan ada yang menyatakan orang Indonesia kebal corona karena terbiasa makan nasi kucing.

Juga nampak begitu congkak justru ketika penguasa mengatakan bahwa corona akan ditangani dengan senyap. Mungkin semua pola pernyataan itu semata untuk menutupi ketidakmampuan mereka menjadi pemimpin negara.

Duh, sungguh membuat gigi bergemeretak. Bagaimana mungkin di tengah situasi wabah gawat begini rezim masih begitu lancang auto-njeplak (asal bicara)? Kendati corona saat itu belum menjangkau negeri ini, namun lisan para pejabat itu sudah sangat menyakitkan rakyat. Mereka berkata-kata seolah tanpa dipikirkan dampaknya. Benar-benar asal bicara.

Sementara pada saat yang sama, mereka berhadapan dengan media. Yang dengan perantara media itu, rakyat selalu penuh harap mereguk berita. Akan tetapi tingkah polah para pejabat itu justru memutus asa.

Dan ketika pada gilirannya COVID-19 benar-benar sudah sampai di Indonesia, yang ada malah kepanikan! Pemerintah kelabakan mengelola jalur birokrasi dan koordinasi. Terjebak kebimbangan lockdown atau tidak. Penanganan diserahkan pada pusat atau daerah. Hingga harus ada juru bicara khusus, mengingat pejabat terkait malah tak pandai berkomunikasi pada publik.

Kini, jutaan nyawa rakyat sedang menjadi taruhan. Angka korban COVID-19 di Indonesia kian bertambah dengan death rate tercepat di dunia. Tapi kepekaan politik –minimal rasa kemanusiaan– para penghulu negara tak jua terbangkitkan.

Pernyataan yang meluncur dari lidah penguasa itu seolah ringan tanpa beban. Padahal di balik jabatan mereka, terdapat tetes keringat dan perjuangan rakyat pendukungnya. Na’udzu billaahi.

Inilah barangkali peringatan Sang Khalik, agar menjadi pukulan telak terhadap pongahnya rezim yang auto-njeplak tadi. Supaya mereka lebih peka dan empati. Alih-alih menenangkan, pernyataan-pernyataan mereka selaku stakeholder justru menambah kegaduhan dan kepanikan sosial.

Baca juga:  Kebijakan Ekonomi Khilafah Jika Menghadapi Corona

Belum lagi di sisi lain, betapa ranumnya iming-iming peluang ekonomi dari sektor pariwisata dan investasi. Keberadaan masker dan sanitizer sebagai piranti tercepat untuk isolasi diri pun jadi langka.

Ketika diusut, ternyata sempat ditemukan bukti ekspor masker besar-besaran ke luar negeri, ke sesama negara terwabah corona. Apa iya masker saja hendak diliberalisasi?

Pun adanya pedagang nakal yang melakukan penimbunan masker. Tapi ketika disita pihak berwenang, malah mereka hendak memperjualbelikannya kepada rakyat. Lantas, mana jatah cuma-cuma untuk rakyat? Mana perhatian negara kepada rakyat?

Dalam kondisi genting ini, tiadakah setetes saja simpati kepada kami? Sampai-sampai rakyat jadi makin jengah hingga harus self-distancing secara mandiri.

Seperti ini rupanya potret rezim anti-Islam. Wajarlah seperti itu. Karena mereka pun tak paham syariat Islam. Padahal negeri ini adalah negeri Muslim terbesar. Di mana, syariat Islam sebenarnya sudah begitu paripurna menyediakan solusi pandemi.

Mulai dari penanganan teknis hingga cara mengedukasi publik. Berikut dengan mekanisme pemberitaannya agar publik tidak bingung sendiri.

Dalam sistem Islam yang diemban melalui Negara Khilafah, baik pemerintah maupun rakyat, semua saling mendukung dalam ketaatan pada syariat. Wabah diyakini sebagai musibah yang dapat ditimpakan kepada siapa pun, baik orang yang beriman maupun tidak.

Bagi kaum beriman, haruslah meyakini bahwa wabah ini adalah makhluk Allah, tentara Allah. Maka sikap pertama adalah menguatkan keimanan kepada Allah dengan berserah diri kepada-Nya. Tak lupa introspeksi, bertobat hingga terus meningkatkan hubungan kepada Allah. Di samping terus memaksimalkan ikhtiar.

Namun, kunci lain dalam hal ini adalah peran rakyat itu sendiri. Rakyat yang mempunyai pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara, mereka akan mudah diatur. Ketika negara dalam kondisi kesulitan, rakyat dengan suka rela mendukung dan membantu negara.

Sebaliknya, bayangkan jika negaranya selama ini hanya mementingkan pencitraan di hadapan rakyat. Apalagi jika sampai tega mendustai rakyat. Tak pelak, ini akan berakibat pada menurunnya dukungan rakyat. Yang sangat mungkin, dukungan itu pernah menggebu-gebu ketika pemilu yang telah berlalu.

Baca juga:  Darurat Virus Corona dan Kebutuhan Dunia pada Khilafah

Oleh karena itu, di sinilah pentingnya fungsi penerangan yang tepat guna antara penguasa dan rakyat. Media memang bisa menjadi alat penguasa untuk membangun citra.

Tapi jika realisasi kebijakan hanya sebatas wacana dan propaganda, maka jangan heran jika rakyat kian mundur teratur dan menjauh karena meragukan kredibilitas penguasa, bahkan untuk sebuah urusan “berbicara”. Bagaimana dengan sebuah urusan yang lebih besar? Keraguan rakyat bisa jauh lebih hebat lagi.

Termasuk dalam kasus corona ini. Di tengah kondisi darurat dengan beragam tekanan psikologis, rakyat membutuhkan kebijakan yang tepat dan segera. Sebisa mungkin, pemerintah semestinya menghindar jauh dari kebiasaan lisan-lisan pejabat yang auto-njeplak.

Jangan bicara jika belum siap bicara. Karena kondisinya, rakyat sedang butuh ditenangkan. Mereka butuh perlindungan melalui kebijakan yang konkret. Mereka juga butuh edukasi yang menumbuhkan rasa optimis.

Firman Allah SWT:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (TQS An-Nisa’ [4]: 83).

Di sinilah fungsi penerangan itu sangat dibutuhkan. Ini jelas dalam rangka menjiwai mandat riayatusy syu’unil ummah (mengurusi urusan umat). Dalam Negara Khilafah, penerangan adalah salah satu aktivitas vital negara.

Departemen Penerangan berperan mengelola strategi informasi yang spesifik. Yang terpenting, tidak menambah keresahan di tengah masyarakat ketika terjadi kondisi genting seperti adanya wabah corona ini.

Informasi yang disampaikan oleh departemen ini kepada rakyat di dalam negeri berupa hal-hal prosedural yang sifatnya antisipatif serta tindakan kuratif. Sedapat mungkin penguasa berusaha mengurangi kegaduhan publik.

Baca juga:  Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 2/4]

Sementara porsi aktivitas dari dan ke luar negeri akan dikurangi untuk sementara. Ini semacam upaya lockdown. Karena bagaimana pun, stabilitas kondisi dalam negeri akan menopang kemampuan dan kekuatan dalam aktivitas politik luar negeri; khususnya dalam hal ini adalah dakwah dan jihad.

Jika kondisi dalam negeri melemah dan tidak stabil, maka personal urusan luar negeri –yakni pasukan militer– akan diperbantukan untuk menstabilkan kondisi dalam negeri terlebih dahulu sebelum mereka berangkat berjihad.

Karena, jikalau pasukan militer diberangkatkan jihad sementara kondisi dalam negeri terganggu setelah pasukan itu berangkat, maka hal ini justru akan melemahkan kemampuan pasukan militer dalam melanjutkan perjuangan ke luar negeri.

Terlebih lagi, semua langkah ini dilaksanakan berlandaskan pada dalil syariat. Bukan hanya asal bicara apalagi omong kosong atau dusta belaka sebagaimana para pengambil kebijakan di negara sekular.

Dengan kata lain, para pejabat di Negara Khilafah tentu akan sangat memperhatikan alur bicara di hadapan publik. Pembicaraannya berkonten seruan dakwah.

Pembicaraannya hanya berisi hal-hal berguna selayaknya ciri kaum yang beriman. Adapun terkait kondisi baik dan buruk yang datangnya dari Allah, maka rakyat diajak untuk berikhtiar dan bertawakal bersama.

Demikianlah pentingnya bagi negara membangun opini bersama, sejalan dengan kekuatan umat. Negara diakomodir oleh keyakinan dan pandangan yang sama antara penguasa dengan umat. Agar melahirkan kesatuan menuju kekuatan yang besar untuk menghadapi berbagai tantangan.

Krisis dan pandemi bukan baru sekali ini terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia, termasuk di era kejayaan Islam. Tapi, semua berhasil dilalui oleh kaum Muslimin.

Dalam kondisi krisis, umat bahu-membahu menjadi pendukung negara. Mereka bersatu dalam ikhtiar dan tawakal dalam menopang stabilitas negara.

Ini dapat dicapai karena selama ini negara juga mengurus urusan mereka. Negara memberikan apa yang menjadi hak rakyat. Sandang, papan, pangan, pendidikan, keamanan, kesehatan, serta kesejahteraan difasilitasi oleh negara dengan seutuhnya. Inilah kunci utama, mengapa Khilafah bisa bertahan hingga lebih dari 13 abad. Semua karena kuatnya dukungan umat. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *