; Pemberdayaan Perempuan, Solusi Semu Pengentasan Kemiskinan – Muslimah News

Pemberdayaan Perempuan, Solusi Semu Pengentasan Kemiskinan

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Kemiskinan memang menjadi masalah utama dunia. Kemiskinan seringkali dijadikan tameng bagi kaum feminis gender untuk meningkatkan partisipasi perempuan di ranah publik. Dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga seringkali menjadi target serangan kaum gender. Rumah tangga dianggap sebagai salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Inilah beberapa alasan yang dikemukakan kaum gender tentang perempuan sebagai kelompok yang paling rentan mengalami kemiskinan.

Pertama, ketimpangan gender meliputi ketimpangan dalam hal peran politik perempuan yaitu keterwakilannya dalam lembaga politik formal baik di tingkat nasional ataupun lokal.

Kedua, ketimpangan dalam aspek partisipasi angkatan kerja, upah, kepemilikan tanah (aset produktif), pekerja migran seperti TKW, layanan kesehatan reproduksi, layanan pendidikan, beban kerja perempuan yang tinggi, serta minimnya alokasi anggaran pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan perempuan.

Sebagai contoh, di Rwanda angka partisipasi politik perempuan mencapai 60 persen. Namun tingkat kemiskinan di negeri ini berada di angka 40 persen. Di Meksiko dan Afrika Selatan, angka partisipasi politik perempuan yang selama ini tinggi, situasi ekonominya tetap mengerikan bahkan mengalami krisis sistem pendidikan dan kesehatan yang buruk.

Mereka juga berdalih dengan penemuan semu yang dilaporkan UNDP bahwa ketika perempuan mengontrol pendapatan keluarga, dampak pada kesehatan anak-anak dua puluh kali lebih besar ketimbang laki-laki yang mengontrol pendapatan tersebut.

Kajian yang berbeda mengatakan, ketika perempuan punya kontrol atas sumber daya maka kesehatan anak-anak pra-sekolah meningkat pesat (Bangladesh); pemanfaatan kelambu antinyamuk di kawasan riskan malaria (Benin); anak-anak memiliki gizi lebih baik (Brazil); anak-anak terjamin vaksinasi (India), dan sebagainya. Lalu dengan salah menyimpulkan bahwa kemiskinan tak kunjung tuntas lantaran peran perempuan belum dioptimalkan. (Investor.id, 2/1/2020).

Baca juga:  Jalan Panjang Ilusi Kesetaraan Gender

Alhasil, jadilah satu paket pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi target program pengentasan kemiskinan di seluruh dunia. Secara umum, kemiskinan adalah suatu kondisi ketika seseorang atau kelompok tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan dan kesehatan yang layak.

Jika kemiskinan bisa dituntaskan dengan pemberdayaan perempuan di berbagai sektor, lantas mengapa pemberdayaan itu tak kunjung memberi hasil berarti? Kemiskinan tetap menjadi pandemi global yang tak bisa diputus.

Kemiskinan yang dialami kaum perempuan bukanlah kemiskinan yang berdiri sendiri. Faktor yang paling memengaruhi adalah kemiskinan struktural sebagai akibat penerapan sistem yang diterapkan. Jika kesejahteraan perempuan tak terurus itu bukan karena faktor ketidakadilan gender dan ketimpangan gender.

Hal ini hanyalah mantra dan akal-akalan kaum gender untuk membuat para perempuan ikut berpartisipasi dalam ranah publik. Menganaktirikan peran domestiknya demi meningkatkan ekonomi negara.

Hasilnya, para perempuan terlena dan melupakan jati diri mereka sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Semua ini berawal dari sebuah paradigma. Paradigma kebebasan dan hak menuntut kesetaraan.

Adanya ketimpangan sosial yang berimbas pada perempuan tidak lepas dari sistem ekonomi kapitalis yang tengah diterapkan dunia. Penjajahan suatu negeri atas nama kebebasan kepemilikan sumber daya alam adalah salah satu sebab kemiskinan.

Penduduk asli tetap tidak sejahtera, sementara kaum kapitalislah yang paling banyak meraup untungnya. Lihat, bagaimana kondisi perempuan-perempuan di berbagai belahan dunia.

Di beberapa negara yang terlibat konflik perang, kemiskinan ekstrem tak terhindarkan. Seperti yang dialami Yaman, Lebanon, Afganistan, Palestina, dan lainnya. Pengerukan kekayaan alam juga menjadi sebab kemiskinan di wilayah yang banyak dikuasai kapitalis asing seperti Afrika dan beberapa negara Asia. Termasuk Indonesia.

Baca juga:  Mitos-Mitos Palsu Kesetaraan Gender

Jadi, tak ada korelasi antara kemiskinan dengan pemberdayaan perempuan. Justru derasnya arus pemberdayaan perempuan menimbulkan masalah baru. Angka gugat cerai meningkat. Ketahanan keluarga rapuh. Anak-anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Semua itu terjadi akibat kaum ibu yang keluar bekerja.

Memang benar, berdaya bagi perekonomian, namun tak berdaya menghadapi konflik keluarga yang juga berimbas pada kualitas generasi.

Sebagai contoh, di Amerika angka perceraian mencapai 73 persen. Pernikahan di Perancis rata-rata hanya bertahan selama 13 tahun. Tingkat perceraian di kota Paris mencapai 55 persen. Uni Emirat Arab menjadi negara dengan tingkat perceraian paling tinggi yaitu sebesar 46 persen. Disusul kemudian Arab Saudi yang tercatat terjadi 5 perceraian setiap jamnya.

Indonesia sama saja. Hampir setengah juta angka perceraian di tahun 2018 dan jumlah itu meningkat di tahun 2019. Mayoritas faktor yang mendominasi perceraian adalah persoalan ekonomi.

Masihkah pemberdayaan perempuan relevan mengentaskan kemiskinan? Sementara program pemberdayaan itu malah memunculkan problem baru yang kian menganga.

Islam Memuliakan Perempuan dan Mengentaskan Kemiskinan

Sejatinya, Islam sudah memiliki seperangkat aturan untuk mengatasi problematik yang melanda kaum perempuan. Kemiskinan bukan saja menimpa kaum perempuan. Kemiskinan bermula dari rendahnya tingkat pendidikan, sulitnya lapangan pekerjaan, beban hidup yang makin berat, malas bekerja, serta keterbatasan sumber daya alam maupun modal.

Dalam hal ini, Islam akan memberlakukan pendidikan dan kesehatan secara gratis. Sebab, keduanya adalah hal yang wajib dipenuhi negara. Mengenai lapangan kerja, Islam juga akan memberi ruang seluasnya bagi kaum laki-laki untuk mencari nafkah. Yang tidak punya pekerjaan akan dipekerjakan. Yang malas bekerja akan diberikan ketegasan agar mereka menunaikan kewajibannya.

Baca juga:  Kesetaraan Gender, Eksploitasi Perempuan Tersamar ala Kapitalis

Merekalah tulang punggung ekonomi. Perempuan berfokus diri mendidik dan membentuk generasi berkualitas. Perbedaan kewajiban bukan berarti memarginalkan peran perempuan. Namun, mengoptimalkan peran masing-masing sesuai fitrah mereka diciptakan.

Meski kaum gender mengklaim bahwa pemberdayaan perempuan mampu mengentaskan kemiskinan. Pada faktanya, dominasi perempuan di berbagai sektor publik malah menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial bahkan kriminalitas yang rentan dihadapi kaum perempuan.

Sebab, apa yang mereka gagas telah melawan fitrah. Dalam hal fisiologis dan psikis, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Namun, hal itu dipaksakan setara atas nama gender.

Dalam hal hak publik, Islam tak membedakan keduanya. Layanan pendidikan, kesehatan, dan berbagai fasilitas publik lainnya diberikan hak yang sama. Islam justru mendorong agar kaum perempuan kuat iman dan cerdas ilmu.

Tujuannya, agar mereka mampu mendidik anak dengan baik. Agar ketahanan keluarga kukuh, tak mudah dipicu dengan perselisihan tak perlu. Sebagaimana yang dialami keluarga dalam kapitalisme.

Penindasan dan ketidakadilan hingga berimbas kemiskinan pada kaum perempuan sesungguhnya bermula dari sistem kehidupan yang sekuler kapitalistik. Atas nama pemberdayaan, perempuan dieksploitasi.

Padahal, problem kemiskinan adalah tanggung jawab negara, bukan beban perempuan. Kemiskinan bisa tuntas bilamana dunia mau menerapkan sistem Islam dalam institusi Khilafah. Dengan Khilafah, perempuan mampu lepas dari belenggu kemiskinan, penindasan, dan kriminalitas. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *