Ilusi Negara Imajiner “Equiterra”

Oleh: Arum Harjanti

MuslimahNews.com, FOKUS – Kabar mengejutkan dirilis oleh UN Women dalam akun twitternya @UN_Women‘s pada tanggal 4 Maret 2020 : BREAKING NEWS: We found a country that has achieved gender equality![1] Direktur Eksekutif UN Women, Phumzile Mlambo‏, dalam akunnya @phumzileunwomen juga mengabarkan hal yang sama: @UN_Women has found a country that has achieved gender equality![2] Negara itu adalah Equiterra..[3]

Namun rupanya “Equiterra” hanyalah negara imajinasi UN Women, setelah ‘lelah’ menunggu kesetaraan yang menjadi obsesi ilusioner pemimpi kesetaraan gender. Memang benar, sudah banyak kemajuan, namun ternyata kesetaraan gender masih jauh dari harapan: “We have made progress, but we are still far from achieving gender equality.[4]

Direktur Eksekutif UN Women bahkan mengeluh, “It’s been 25 years since the adoption of the Beijing Declaration and Platform for Action, but how close are we really to achieving gender equality?“ [5]

Jauhnya harapan sangat nyata ketika the Global Gender Gap Report 2020 melaporkan bahwa butuh 100 tahun untuk mewujudkan kesetaraan gender di dunia secara keseluruhan. Bahkan 257 tahun untuk terwujudnya kesetaraan gender dalam bidang ekonomi!!![6]

Demi menghibur hatinya, akhirnya UN Women berimajinasi adanya negara yang berhasil mewujudkan kesetaraan gender[7]. To date, no country in the world has achieved gender equality, so we imagined one! Join #GenerationEquality for a tour of the bustling capital of Equiterra.[8]

Ya, Equiterra adalah nama negara imajiner dengan gender yang setara. Negara itu digambarkan sebagai negara di mana perempuan bebas dari ancaman kekerasan, laki-laki bebas dari racun maskulinitas, adanya kesamaan upah dan juga kesempatan kerja, dan setiap orang diwakili dalam kepemimpinan.[9]

Baca juga:  BPfA+25 dan Kesetaraan Gender: Sebuah “Injury Time”

Equiterra dihadirkan di tahun 2020 yang menjadi tahun istimewa bagi mimpi-mimpi kaum feminis. Direktur Eksekutif UN Women menggambarkan tahun 2020 ini sebagai tahun masif untuk kesetaraan gender [10] yang juga penting untuk the UN Decade of Action and the 2030 Agenda for Sustainable Development. Semua itu karena kesetaraan gender dianggap sebagai perkara fundamental.[11]

Namun tentu saja Equiterra tidak nyata, belum ada wujudnya, dan bahkan mustahil untuk mewujudkannya. Negara imajinasi ini lahir setelah lelah menunggu 25 tahun berlalu pascalahirnya Deklarasi Beijing (the Beijing Declaration and Platform for Action-BPfA) pada tahun 1995.

Meski BPfA dianggap sebagai landasan gerak yang paling komprehensif dan transformatif untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, namun rupanya mereka hanya mengejar obsesi dan ilusi.

Equiterra hanyalah ilusi, karena lahir dari kesetaraan gender yang juga ilusi. Apalagi dengan formasi impian Planet 50×50 in 2030, yang digambarkan lebih detail dalam laporan terbaru UN Women yang berjudul “Gender Equality Womens Rights in Review After 25 Years Beijing”: Equality isn’t just one quarter of the seats at the tables of power. …. Only half is an equal share, and only equal is enough. [12]

Baca juga:  Gender Equality: Laki-laki Haram Berdaya, Perempuan Dijauhkan dari Fitrah

Jadi menurut mereka, kesetaraan bukan hanya sekadar memberi perempuan 25 persen kursi kekuasaan, tapi hanya 50 persenlah pembagian yang setara, dan (tapi) hanya setara sajalah yang cukup! Ambisius dan tidak realistis bukan?!

Kesetaraan gender tidak akan menjadi nyata, karena jelas bertentangan dengan kodrat manusia yang telah diciptakan oleh Allah. Secara fitrah, laki-laki dan perempuan tidak sama, masing-masing memiliki tugas khusus sesuai dengan kodratnya.

Memaksakan perempuan menjalani tugas laki-laki, -seperti menjadi pemimpin negara, mencari nafkah dan lainnya-, akan memberikan beban ganda kepada perempuan. Selain memperberat hidup perempuan, beban ganda ini akan memberikan dampak buruk bagi anak-anaknya.

Peran perempuan sebagai ibu generasi akan terabaikan. Akibatnya anak-anak akan tumbuh tanpa bimbingan dan sangat potensial melakukan berbagai kenakalan remaja, sebagaimana yang ditunjukkan dalam berbagai penelitian.

Adanya dampak buruk dan membahayakan bila kesetaraan gender diterapkan menunjukkan bahwa ide ini hanyalah ilusi, tidak mungkin diterapkan.

Ilusi Equiterra makin nyata jika melihat rincian kondisi negara imajiner ini, terlebih bagi seorang muslim. Dalam imajinasi yang lebih lengkap, Equiterra digambarkan memiliki sembilan ciri sebagai berikut: (1) Unstereotype Avenue (Jalan yang menghilangkan stereotip bagi perempuan), (2) Violence-Free Alley (Jalan Bebas Kekerasan), (3) Equal pay street (Jalan Upah Setara), (4) Toxic Masculinity Recycling Plant (Tanaman Daur Ulang Racun Maskulinitas), (5) Inclusion square (Lapangan Inklusi), (6) Climate Action Street (Jalan Aksi Iklim), (7) Equal Representation Avenue (Jalan perwakilan setara), (8) Education Boulevard (Boulevard Pendidikan), dan (9) Freedom Avenue (Jalan Kebebasan).[13]

Baca juga:  Syariat Islam Menjaga Fitrah Perempuan

Islam sebagai satu sistem kehidupan yang lengkap dan sempurna, mensyaratkan ketundukan total kepada Allah Zat Yang Menciptakan dalam bingkai keimanan, jelas bertentangan dengan kebebasan yang menjadi prinsip dasar Equiterra.

Islam menjadikan akal tunduk kepada ketetapan Allah, sementara Equiterra justru memberi kebebasan kepada akal manusia atas nama hak asasi manusia. Islam sangat memuliakan perempuan meski memiliki beberapa hukum yang berbeda ketika mengatur laki-laki dan perempuan, sementara Equiterra justru mengeksploitasi perempuan dengan dalih kesetaraan dan memberikan beban ganda.

Maka jelaslah, Equiterra, negara imajiner UN Women, tidak layak menjadi negara untuk seorang muslim, karena bertentangan dengan aturan-aturan Islam. Dan gencarnya upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender sesungguhnya menggambarkan upaya untuk menjauhkan Islam dari kehidupan. Wallahu a’lam. [MNews]

[1] https://twitter.com/UN_Women/status/1235212163171655680

[2] https://twitter.com/phumzileunwomen/status/1236351265669513217

[3] https://medium.com/@UN_Women/welcome-to-equiterra-where-gender-equality-is-real-6fc832c383fe

[4] https://twitter.com/UN_Women/status/1235891641388539910

[5] https://twitter.com/phumzileunwomen/status/1235620602108616704

[6] https://www.weforum.org/reports/gender-gap-2020-report-100-years-pay-equality

[7] https://twitter.com/UN_Women/status/1235707161205858304.

[8] https://twitter.com/UN_Women/status/1235707161205858304.

[9] https://twitter.com/UN_Women/status/1235846341487550464

[10] https://www.unwomen.org/en/news/stories/2020/2/statement-ed-phumzile-international-womens-day

[11] https://www.unwomen.org/en/news/stories/2020/2/statement-ed-phumzile-international-womens-day

[12] https://www.unwomen.org/-/media/headquarters/attachments/sections/library/publications/2020/gender-equality-womens-rights-in-review-en.pdf?la=en&vs=934

[13] https://medium.com/@UN_Women/welcome-to-equiterra-where-gender-equality-is-real-6fc832c383fe

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Ilusi Negara Imajiner “Equiterra”

  • 4 April 2020 pada 12:29
    Permalink

    Sepakat, karena apapun gerakan dan aturan bagi perempuan yg lahir dari pemikiran manusia semata, maka kehancuran yg akan didapatkan.

    Balas
  • 28 Maret 2020 pada 19:12
    Permalink

    Sistem kehidupan di luar Islam memang memudahkan beragam ide yang terasa ilusi karena manusia pencetusnya berupaya bersaing dengan pembuat aturan dunia ini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *