Menagih Janji Manis Ide Kesetaraan Gender

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Tahun 2020 adalah tahun yang luar biasa untuk kesetaraan gender. Hal ini dinyatakan oleh Phumzile Mlambo-Ngcuka, direktur eksekutif Perempuan PBB (UN Women), dikutip dari CNN. Salah satu hal yang menjadikan tahun ini penting adalah momentum peringatan ke-25 Deklarasi dan Platform Aksi Beijing (BPFA +25).

KG adalah Pemikiran Barat, Bukan dari Islam

Konsep gender berawal dari buruknya perlakuan masyarakat Eropa terhadap kaum perempuan. Perempuan dipandang sebagai makhluk inferior, sumber dosa dan laki-laki yang cacat. Perempuan tidak memiliki hak atas pendidikan, ekonomi, politik, milik, berpendapat dan bahkan atas dirinya. Lalu muncullah gerakan feminisme yang melakukan perlawanan.

Feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis Sosialis Utopis, Charles Fourier, pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, The Subjection of Women (Perempuan sebagai Subjek) pada tahun 1869.

Kaum feminis kemudian mengembangkan konsep gender pada tahun 1970. Kemudian wacana jender diperkenalkan oleh sekelompok feminis di London pada awal tahun 1977. Sejak itu para feminis mengusung konsep gender equality atau kesetaraan jender sebagai mainstream gerakan mereka (thisisgender, 12/05/2012).

Konsep gender dibawa ke negeri-negeri muslim oleh mereka yang mendapatkan pendidikan di Barat, atau yang telah di-brainwash di Barat. Tokoh-tokoh awal yang membawa ide ini masuk ke dunia Islam, sebut saja Rufa’ah at-Thahthawi di Mesir dan Khairuddin at-Tunisi.

Mereka dikirim ke Prancis. Ketika kembali ke negerinya, merekalah yang menyuarakan ide tahrir al-mar’ah (liberalisasi perempuan). Jadi, ide kesetaraan gender secara historis bukan dari Islam, tetapi berakar pada budaya kafir Barat. Karena itu, ide ini tidak memiliki akar sejarah dalam peradaban Islam.

Baca juga:  Meluruskan Metode Tafsir Jilbab ala Liberalis (Bagian 1/2)

Penerapan ide kesetaraan gender justru menghasilkan kerusakan di dunia Islam. Kehidupan menjadi penuh persaingan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki kehilangan kesempatan kerja, sebaliknya perempuan terabaikan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Terjadilah lost generation. Angka kriminalitas anak meningkat. Setelah penerapan ide kesetaraan gender selama lebih dari satu abad, permasalahan perempuan seperti kekerasan, kemiskinan, pendidikan, kematian ibu, dll masih tinggi. Ini membuktikan bahwa janji manis kesetaraan gender akan mengangkat harkat perempuan adalah bohong belaka.

Kesetaraan Gender Alat Penjajahan

Yang kini terjadi justru adalah kolaborasi antara kapitalisme dengan feminisme berkedok kesetaraan gender untuk melanggengkan penjajahan Barat. Dunia Islam digiring dan bahkan dipaksa untuk menerima ide gender. Para muslimah didorong untuk melepas hijabnya melalui gerakan “My Body, My Authority”.

Keharmonisan keluarga muslim dihancurkan melalui UU-PKDRT. Hangatnya relasi orang tua-anak dirusak dengan UU Perlindungan Anak. Kehormatan remaja muslimah diliberalkan dengan UU Kesehatan Reproduksi. Juga banyak UU lain yang sangat berbahaya bagi keutuhan keluarga.

Sebaliknya, ketika ada upaya menyelamatkan keluarga melalui UU ketahanan keluarga, justru ditolak oleh kalangan feminis karena tugas istri sebagai ummu warabbatul bait dianggap sebuah kemunduran.

Ketika para hijaber mengenakan cadar dengan alasan ketaatan pada Allah Ta’ala, para feminis menyebutnya penindasan dan radikalisme. Pernikahan dini dicerca, tapi zina dibela. Aborsi dibolehkan atas dalih kebebasan reproduksi.

Ide kesetaraan gender yang katanya memanusiakan perempuan justru mengembalikan ke tabiat hewan ketika mereka mendukung ketelanjangan atas nama body positivity atau seni. Kesetaraan gender bahkan membawa perempuan pada derajat lebih rendah dari hewan ketika mendukung hubungan sesama jenis.

Baca juga:  Rezim PHP Gagal Sejahterakan Kaum Perempuan, Hanya Kepemimpinan Islam yang Bisa!

Pada hakikatnya, ide kesetaraan gender itu merusak perempuan, bukan memanusiakannya, apalagi memuliakannya. Ide ini menjadi alat barat untuk menjaga hegemoninya di dunia Islam. Kebangkitan umat Islam akan membahayakan dominasi barat atas kekayaan alam kaum muslim.

Padahal, kekayaan alam inilah yang selama ini menghidupi barat. Barat kekenyangan di atas kelaparan di Afrika dan Asia. Jika umat Islam sadar atas identitasnya sebagai pemilik sah bumi yang mereka tinggali, kekuasaan Barat tinggal sejarah.

Demi mencegah kebangkitan Islam, Barat menginjeksi racun kesetaraan gender ke tubuh umat Islam. Mereka menggunakan tangan anak-anak umat Islam sendiri yang telah terliberalkan. Mereka ditopang dana yang besar untuk meracuni saudaranya sesama muslim.

Tapi dana itu ibarat selembar dolar dibandingkan dengan miliaran dolar yang dikeruk dari negeri Islam. Umat harus menyadari penjajahan Barat berkedok ide kesetaraan gender ini.

Umat Islam tak boleh tertipu dengan tafsir sesat mereka atas ayat Alquran. Meski mereka membungkus ide gender dengan ayat suci, hakikatnya tetap sama. Ide gender adalah ide kufur, tidak berasal dari Islam. Bahkan ide ini merusak perempuan dan keluarga muslim demi melanggengkan penjajahan barat.

Pandangan Islam terhadap Perempuan

Islam memandang perempuan dan laki-laki sebagai bagian dari umat manusia yang memiliki berbagai naluri dan kebutuhan jasmani yang sama, apa pun jenis kelaminnya. Kaum laki-laki maupun perempuan adalah makhluk Allah SWT, keduanya memiliki kedudukan yang sama.

Tujuan hidup keduanya sama yakni untuk beribadah kepada Allah Swt.  Di mata Allah SWT, kaum laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama.

Allah SWT berfirman di dalam Alquran,

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berkata),  “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. (TQS Ali Imran [3]: 195)

Baca juga:  Mewaspadai Bahaya Moderasi Islam dalam Feminisme

Namun Allah Swt menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah yang berbeda, yang menyebabkan mereka mempunyai peran yang berbeda dalam kehidupan ini. Sebagai misal, kaum perempuan mengandung dan menyusui anak-anaknya; sementara laki-laki tidak.

Dalam beberapa aspek, yang tidak dikhususkan bagi jenis kelamin tertentu, kaum laki-laki dan kaum perempuan mengikuti aturan-aturan yang sama, seperti dalam hal salat atau shaum; kecuali pada saat-saat tertentu di mana terdapat perbedaan akibat adanya sifat-sifat alamiah tertentu. Misalnya, pada saat menstruasi, kaum perempuan tidak melaksanakan salat.

Akan tetapi, pada aspek-aspek yang lain, yakni dalam hal-hal yang berkaitan dengan jenis kelamin tertentu, kaum laki-laki dan kaum perempuan mempunyai peran yang berbeda serta mengikuti aturan yang berlainan pula. Misalnya adalah potensi untuk menjalani fungsi-fungsi keibuan dan potensi untuk menjalankan fungsi-fungsi seorang bapak. Melalui syariat ini terciptalah harmoni dan ketenangan, bukan persaingan.

Khilafah Memuliakan Perempuan

Khilafah menerapkan syariat Islam secara kafah. Hal ini menjadikan perempuan dimuliakan. Perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, surga berada di bawah telapak kakinya. Perempuan, menjadi arsitek generasi Islam. Di balik semua kegemilangan peradaban Islam ada para muslimah yang menyiapkan SDM-nya.

Tak hanya menyiapkan SDM, perempuan juga terjun di kancah masyarakat untuk menebar manfaat dengan menjadi ulama, ilmuwan, pengusaha, pengajar, paramedis, dll tanpa meninggalkan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Penerapan syariat oleh khilafah akan mewujudkan kesejahteraan dan kemuliaan bagi perempuan. [MNews]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *