ABG Bunuh Bocah dan Rapuhnya Ketahanan Keluarga Indonesia

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Gadis ABG itu mengaku puas pada polisi. Tak ada penyesalan sedikit pun di raut wajahnya. Padahal dia baru saja melakukan tindakan sadis, yakni membunuh seorang bocah. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada Kamis (5/3/2020) sore.

N (15 tahun) menenggelamkan dan mencekik A (6 tahun) hingga tewas. N membawa mayat A ke lemari di kamarnya dan tidur seperti biasa. Esok paginya, N berangkat sekolah. Di tengah jalan, N berganti baju lalu menuju Polsek Tamansari, Jakarta Pusat dan mengakui perbuatannya.

Polisi mendatangi rumah N dan menemukan mayat bocah A di lemari (detik, 08/03/2020). Publik langsung terhenyak menyimak kejadian ini. Ternyata N terinspirasi dari film horor. Remaja SMP ini menyukai Slender Man dan Chucky.

Nasib Remaja Era Digital

Kasus N membuka mata kita, bahwa para anak remaja sedang bermasalah. Di era digital, para remaja diserang tayangan sampah yang mempromosikan sadisme tanpa sensor dan melalui gawai yang sangat privat yaitu gawai (smartphone). Tayangan sadisme hadir begitu saja di gawai anak-anak, seolah tidak ada pengawas tayangan di negara ini.

Cerita tentang sadisme juga bertebaran di Facebook dan Wattpad. Seringkali tanpa penjelasan bahwa yang dilakukan pelaku adalah hal buruk. Screening pembaca cukup dilakukan dengan memberi label D (Dewasa) dan 18+.

Siapa yang menjamin label tersebut dipatuhi? Remaja yang menonton tayangan tersebut akhirnya terdoktrin untuk meniru pelaku. Apalagi kini Hollywood gemar membentuk citra positif terhadap pembunuh berantai. Hingga penonton tak merasa benci pada sang pelaku, bahkan justru terinspirasi.

Sungguh berat menjadi remaja di era digital. Kemajuan teknologi dimanfaatkan kapitalisme barat untuk mendulang Dolar dari tayangan kekerasan. Tontonan itu telah menjadi tuntunan.

Sementara sistem pendidikan demikian sekuler, hingga sekolah didominasi transfer materi, bukan tempat mendidik pribadi anak agar bertakwa. Liberalisasi media dan sekularisasi pendidikan berkelindan hingga menghasilkan kerusakan generasi.

Keluarga Rapuh, Negara Abai

Kejadian ini tentu bukan salah N semata. Dengan latar belakang keluarga yang broken home, terlebih di sistem kapitalisme sekuler saat ini, besar kemungkinan pecahnya biduk rumah tangga berdampak besar pada perkembangan jiwa sang anak.

Baca juga:  Pemberdayaan Perempuan sebagai Agen Perdamaian?

Kasus N juga mengingatkan kita para orang tua untuk memperhatikan anak kita. Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, melimpahinya dengan kasih sayang, dan peduli pada perasaannya, adakah hal yang membuatnya sedih atau marah.

Juga mengawasi gawai mereka, tayangan apa yang mereka akses, dan memfilter konten agar ramah anak, baik dengan edukasi maupun fasilitas filter dari aplikasi. Bahkan sebisa mungkin menyimpan gawai ketika orang tua sedang membersamai anak-anaknya.

N tidaklah sendiri. Di luar sana ada N-N yang lain. Yang kecewa dengan hidupnya lalu mencari saluran untuk menuntaskan kekecewaan. Mereka “diajari” YouTube untuk berlaku sadis dan terangsang untuk turut mempraktikkannya. Entah, sadisme apalagi yang terjadi esok hari.

Peristiwa ini membuktikan bahwa ketahanan keluarga di negara kita sangat rapuh. Banyak suami-istri cerai dengan mengabaikan kondisi anak. Kadang hidup utuh satu atap, namun komunikasi tidak berlangsung hangat. Negara juga abai. Penguasa sibuk mengundang investasi, tak peduli nasib generasi.

Sungguh problem ini harus segera diselesaikan. Kasus N tak boleh dianggap sekadar kasus personal lalu selesai. Bagaimana dengan nasib para N di luar sana? Mereka butuh solusi, pendampingan, dan kasih sayang.

Solusi atas masalah ini tak bisa diserahkan pada psikolog, polisi, atau bahkan orang tua pelaku. Butuh solusi integral-sistemis yaitu dimulai dari mengubah asas kehidupan kita yang demikian sekuler-liberal, di mana agama dimaknai hanya sebagai aktivitas ritual.

Manusia berpikir dan bertindak terkait otak dan informasi yang diterimanya. Ketika penuh dengan tayangan sampah semisal sadisme, tindakannya pun mengikuti. Maka akidah Islam haruslah dijadikan sebagai asas berpikir dan bertindak. Sehingga bisa menilai sebuah tayangan, apakah baik atau buruk. Baik jika diridai Allah Ta’ala, buruk jika dimurkai-Nya.

Baca juga:  Pemberdayaan Perempuan, Solusi Semu Pengentasan Kemiskinan

Selanjutnya, keluarga dikembalikan posisinya sesuai tatanan syariat Islam, bahwa keluarga adalah kepemimpinan terkecil. Ayah bertanggung jawab atas amanah sebagai pemimpin (qawam), ibu bertanggung jawab atas posisi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa robbatul bait), dan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan juga wajib taat pada orang tua (selama tidak maksiat).

Semua anggota keluarga saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Hingga berkumpul bersama di jannah menjadi misi keluarga. Rumah menjadi tempat berkumpul nan hangat dan dirindukan. Menjadi tempat melabuhkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas di luar. Itu semua bisa terwujud melalui pelaksanaan syariat Islam secara kafah dalam keluarga.

Jika ada anggota keluarga yang tak menjalankan kewajibannya, maka ada mekanisme sosial. Para dai mengajarkan tentang keluarga sakinah. Sistem pendidikan membentuk akidah yang menjadi fondasi ketaatan pada Sang Khalik. Sistem peradilan memberi sanksi yang efektif bagi anggota keluarga yang zalim.

Dari sisi negara, maka negara akan turut memperhatikan relasi keluarga, sudahkah terwujud sakinah ataukah belum. Negara memfasilitasi para anggota keluarga yang konflik untuk dinasihati, dimediasi, dan dihibur.

Khalifah Umar bin Al Khaththab pernah membuat rumah tepung untuk para perempuan yang sedang konflik dengan suami. Di sana mereka makan dan istirahat, hingga hatinya terhibur dan tak sedih lagi, sehingga bisa kembali pulang dengan gembira. Khalifah Umar ra juga pernah “memaksa” seorang laki-laki agar bekerja untuk menafkahi keluarganya.

Negara juga menyejahterakan ekonomi agar kefakiran tak menjadi momok yang merongrong keharmonisan keluarga. Para penguasa Islam terus mengingatkan rakyatnya agar bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana takwa.

Aneka tayangan di media yang merusak keharmonisan keluarga akan diblokir. Konten kekerasan, pornografi, kebebasan bertingkah laku, perselingkuhan, kebohongan, dll, akan diblokir. Konten media akan diatur agar menjadi media yang sehat bagi generasi.

Baca juga:  Menagih Janji Manis Ide Kesetaraan Gender

Media akan diisi tayangan Islami semisal pembelajaran Alquran, hadis, fikih, sains, dll. Semua upaya ini merupakan kolaborasi yang kompak antara individu, masyarakat, dan negara yang menerapkan Islam kafah yakni khilafah.

Ketika keluarga sakinah, anak menjadi pihak yang berbahagia. Anak mendapatkan kasih sayang, dukungan dan tuntunan dari orang tua. Sehingga lahirlah generasi yang saleh, generasi yang mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka tak perlu mencari pelarian di luar, karena keluarga telah melengkapi hidupnya.

Ironisnya, sistem Islam yang demikian sempurna dalam mewujudkan ketahanan keluarga, justru ditolak oleh kalangan aktivis feminis. Mereka menolak RUU Ketahanan Keluarga dengan alasan negara turut campur dalam urusan keluarga yang menurut mereka bersifat privat.

Mereka juga menolak pasal-pasal yang memosisikan tugas utama ibu adalah umm wa robbatul bait. Menurut mereka, ini adalah sebuah kemunduran (konde.co, 02/2020). Padahal RUU ketahanan keluarga sendiri belum mencerminkan gambaran Islam kafah.

Para feminis lupa atau tak paham, bahwa banyak ayat terkait keluarga, salah satunya, Allah berfirman,

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (QS An-Nisa’ 4: Ayat 19)

Juga banyak hadis yang mengatur tentang keluarga, salah satunya adalah Beliau saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)

Ayat dan hadis tersebut merupakan dalil bahwa Islam mengatur urusan keluarga. Bahkan Islam memiliki serangkaian syariat yang mengatur relasi dalam keluarga. Dengan adanya khilafah yang menerapkan Islam kafah, akan terwujud keluarga sakinah di seluruh rumah hingga menghasilkan generasi yang sehat jiwa raganya. Wallahu a’lam bishawab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *