; Muslim Dizalimi India – Muslimah News

Muslim Dizalimi India

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, FOKUS – Sikap PM India, Narendra Modi, jelas mewakili pemimpin dunia saat ini. Jika bukan munafik, pasti penuh kebencian terhadap Islam. Janjinya untuk menyatukan India usai memenangkan Pemilu Mei 2019 hanya omong kosong.

Agustus 2019 India mencabut status otonomi Kashmir hingga wilayah muslim yang diperebutkan Pakistan, India, dan Cina itu kembali alami konflik. Kejahatan Modi berulang kembali saat 12 Desember 2019, Amandemen UU Kewarganegaraan (Citizenship Amendment Act/CAA) disahkan.

Amandemen itu nyata-nyata mendiskriminasi muslim yang tak bakal mendapat kewarganegaraan sebagaimana imigran ilegal dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan yang beragama Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan Kristen.

Korban penguasa yang dikuasai partai Nasionalis Hindu –Bharatiya Janata (BJP)– jelas bukan hanya 200 juta muslim saja. Kerusuhan di Uttar Pradesh Utara Desember lalu memakan korban 30 tewas. Kenekatan Modi –yang disinyalir bakal mengubah India menjadi Negara Hindu– membuat kerusuhan kembali meletus di New Delhi sejak Senin (24/2/2020) yang mengakibatkan 33 korban tewas, lebih dari 200 orang terluka, 2 masjid terbakar, berbagai fasilitas umum dan pribadi hancur. Anehnya, polisi Delhi tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan kekerasan.

Baca juga:  Upaya Mutilasi Islam atas Nama Deradikalisasi

Tak bisa dipungkiri, kerusuhan ini adalah konflik beragama yang dipicu Islamofobia, hingga mengakibatkan tindakan yang luar biasa kejam terhadap muslim India. Rekaman media sosial menunjukkan kelompok-kelompok meneriakkan “Jai Shri Ram” (slogan agama Hindu) dan menyerang lingkungan muslim.

Beredar berbagai gambar penyiksaan yang dilakukan terhadap warga muslim. Hingga tagar #ShameOnYouIndia langsung menjadi trending di twitter.

Namun yang mengecam hanyalah rakyat kebanyakan. Hingga komentar ini dibuat, pemerintah Indonesia sebagai negri muslim terbesar tak merespons apa pun. Padahal di sela-sela Sidang Dewan HAM di Jenewa (24/2/20), Indonesia berinisiatif menggelar side event mengenai Konvensi HAM PBB tentang Antipenyiksaan (Convention Against Torture Initiative/CTI).

Apalagi sikap Amerika Serikat, pendekar HAM yang amat hipokrit. Padahal Donald Trump sedang berkunjung ke New Delhi, hanya beberapa kilometer jaraknya dari tempat kerusuhan. Ditanya tentang insiden itu, Trump mengatakan, “Sejauh mengenai serangan individu, saya mendengarnya, tetapi saya tidak membicarakannya dengan dia (PM Modi). Itu terserah India.”

Karenanya Bernie Sanders –calon presiden Partai Demokrat– menyebut perilaku Trump sebagai kegagalan kepemimpinan dalam hak asasi manusia.

Begitulah kaum kafir. Hanya peduli pada HAM yang menguntungkan perolehan material kapitalistik saja. Sehingga mereka hanya nyinyir dan kerap memberikan sanksi pada kaum muslimin yang dinilainya radikal, ekstremis, dan intoleran.

Baca juga:  Antara Azan dan Cadar: Sinyal Kental Islamofobia

Lalu, ke mana para pengasong ide moderasi Islam yang memaksakan muslim Indonesia latah mengadopsi inklusivitas, pluralisme, dan toleransi? Bukankah Modi juga meneriakkan slogan “Bersama-sama kita akan membangun India yang kuat dan inklusif”?

Sungguh munafik bukan, hanya memaksa Islam dan muslim yang harus berubah, sementara di luar Islam boleh radikal, intoleran, ekslusif, dan ekstrem.

India, sebagaimana tetangganya, Cina, adalah contoh nyata ekstremis intoleran yang bertindak sebagai tirani mayoritas terhadap minoritas muslim. Kekafirannya telah menjadikan mereka bagai monster yang selalu mengancam kehidupan muslim.

Namun tidak hanya di dua negara tersebut, di seluruh dunia saat ini, memang tidak pernah ada penguasa yang benar-benar adil terhadap muslim, termasuk di negeri muslim macam Indonesia. Muslim, dalam kondisi yang lemah pun masih ditakuti akan kembali bangkit. Sehingga, sekecil apa pun potensinya, akan dimusnahkan.

Padahal saat muslim berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah, semua pemeluk agama –ahlul kitab ataupun musyrik– akan mendapatkan perlindungan dan tak akan dizalimi. Saat Khilafah Utsmaniyah menguasai hampir 2/3 dunia, dengan keragaman komunitas agama dan etnis, semua dilindungi.

Cobalah menelaah sejarah secara fair. Setelah menguasai Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan kebebasan kepada orang-orang Nasrani untuk melaksanakan semua acara ritual keagamaan mereka dan memiliki pemimpin keagamaan yang mengatur urusan agama mereka.

Baca juga:  Salah Kaprah Toleransi

Demikian pula Sultan Bayazid II yang menolong Yahudi di Andalusia dari mahkamah inkuisisi Spanyol. Jelas Islam tidak mungkin bertindak brutal, karena Allah SWT melarang kezaliman dan Rasulullah SAW juga memerintahkan setiap muslim berlaku adil pada nonmuslim. Menempatkan mereka secara beradab, karena Islam adalah agama paling sempurna dan akan terlihat kesempurnaannya jika Khilafah yang menjadi pelaksananya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Muslim Dizalimi India

  • 7 Maret 2020 pada 12:02
    Permalink

    Tanpa khilafah,kaum Muslimin akan terus dinista dan ditindas

    Balas
  • 28 Februari 2020 pada 19:14
    Permalink

    Astaghfirulloh..
    Sungguh biadab mereka..
    Ya Allah segeranlah fajar kemenangan Islam.. Kuatkanlah saudara saudaraku korban kedzoliman dan berilah kesabaran dan kekuatan kpd kaum muslimin menegakkan syariatbdan Khilafah ala minhaji nubuwwah.
    Aamiin ya Allah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *