Sekularisme Musuh Bersama Kita

Oleh: Emma Lucya Fitrianty

MuslimahNews.com, OPINI – Disadari ataupun tidak, sekularisme telah menjadi virus yang menyebar di dalam tubuh kaum muslimin. Sekularisme telah menimbulkan banyak sekali masalah, baik dalam lingkup kecil individu maupun lingkup luas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Adanya banyak kasus kejahatan, kriminalitas, dan berbagai bentuk penyimpangan perilaku masyarakat tejadi karena penerapan asas sekular. Lalu, bagaimana kita menyikapinya?

Definisi Sekularisme

Kata sekuler berasal dari bahasa latin ‘Saeculum’ yang arti harfiahnya suatu generasi atau zaman. Dengan tambahan kata isme jadilah sekularisme sebagai salah satu pandangan dunia yang memiliki sistem hidup sendiri yang membedakannya dengan isme yang lain.

Kamus Oxford mengartikan sekularisme sebagai pandangan yang bersifat keduniaan atau materialistik, bukan keagamaan atau kerohanian. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, atau pemerintahan yang bertentangan dengan gereja.

Dengan pengertian yang tidak jauh berbeda, Kamus Internasional Modern menyebutkan: “Sekularisme sebagai suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya.”

Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” menyatakan: “Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one.”

Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, dalam Islam, negara sebagai institusi politik diselenggarakan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan Islam, menjaga umat, dan menjamin pelaksanaan syariat (hukum Islam).

Ensiklopedi Islam mendefinisikan sekularisme sebagai suatu aliran atau sistem doktrin dan praktik yang menolak segala bentuk yang diimani dan diagungkan oleh agama atau keyakinan harus terpisah sama sekali dari masalah kenegaraan (urusan duniawi).

Baca juga:  Perpanjangan Tangan Rezim di Negeri Muslim Bekerja untuk Merusak dan Menyekularisasi Keluarga!

Adalah Zia Gokalp (1875-1924) seorang sosiolog terkemuka dan politikus nasional Turki yang pertama kali memopulerkan istilah “sekuler” di dunia Islam. Ia menggulirkan perlunya pemisahan antara masalah ibadah serta keyakinan dan muamalat. Sehingga, terjadi pemisahan antara kekuasaan spiritual khalifah dan kekuasaan duniawi sultan di Kesultanan Turki Utsmani (republika.co.id, 05/01/2018).

Sebuah pendapat yang kontroversial dari Luthfi Assyaukanie yang mengatakan sekularisme adalah berkah bagi agama-agama (www.islib.com, 11/04/2005). Ada juga pendapat berkaitan dengan sekularisme dari Abdullah Ahmad An-Naim, seorang pakar Islam dan Profesor Hukum di the Emory Law School, Atlanta, Amerika Serikat yang menyatakan, “Kita butuh negara sekuler untuk menjadi muslim yang baik.” (sumber: Wawancara Pusat Berita Radio VHR (Voice of Human Right) – http://www.vhrmedia.com/ dengan Ahmad An-Naim di Jakarta dan dipublikasikan pada 3 Agustus 2007 dengan judul berita: Ahmad An-Naim: Negara Sekuler untuk Muslim yang Baik).

Dampak Sekularisme dalam Berbagai Bidang

Dilihat dari aspek individu dan pendidikan karakter anak, sekularisme menggiring anak-anak untuk berpikir dan berperilaku secara bebas tanpa harus mengikuti aturan agama. Adab kesopanan yang jelas dituntun dalam pendidikan agama semakin luntur.

Viral seorang siswa yang merokok dan duduk dengan tidak sopan di samping gurunya yang seolah tak berdaya menegurnya. Generasi yang saleh dan bertakwa menjadi sekadar mimpi.

Adapun dari aspek sosial kemasyarakatan, sekularisme menempatkan orang-orang yang taat beragama menjadi sosok ekstrem, radikal atau fanatik. Kebebasan berperilaku lepas dari aturan agama membuat kemaksiatan, kriminalitas dan kerusakan semakin meluas.

Baca juga:  Alhamdulillah, Umat Islam Sepakat Urgensitas Pelajaran Agama di Sekolah

Sedangkan dari aspek politik dan pemerintahan, sekularisme yang menempatkan materialisme pada posisi paling penting membuat kebijakan-kebijakan politik sebuah negara menjadi kering dari suasana keimanan. Agama harus dipisahkan dari politik dan negara.

Wajar jika kemudian terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme karena yang dikejar adalah kekuasaan, bagaimana pun cara untuk memiliki kekuasaan tersebut. Halal-haram tidak lagi dilihat. Padahal sejatinya politik dan agama itu tak dapat dipisahkan.

Sekularisme dan Islam

Beberapa pendapat dari ulama dan tokoh-tokoh besar tentang sekularisme di antaranya:

Sayid Qutub, Ulama dan Filsuf Mesir menyatakan:

“Sekularisme merupakan pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Karena itu, sekularisme bertentangan dengan Islam, bahkan merupakan musuh Islam yang paling berbahaya. Sekularisme jelas bertentangan dengan Islam. Karena Islam justru mengajarkan bahwa kehidupan sehari-hari kita tidak boleh terpisah dari ajaran agama, mulai dari urusan pribadi, berakhlak, berumah tangga, bertetangga, bermasyarakat hingga bernegara.”

Altaf Gauhar, seorang filsuf Muslim Kontemporer dari Mesir menyatakan:

“Sekularisme dan Islam tak memiliki tempat berpijak yang sama. Esensi Islam berantitesis terhadap sekularisme.”

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas:

“Sekularisme menunjuk pada ideologi yang mendesakralisasi alam dan politik. Islam tidaklah sama dengan Kristen. Karena itu, sekularisasi yang terjadi pada masyarakat Kristen Barat tidaklah sama dengan apa yang terjadi pada masyarakat Muslim. Islam pada dasarnya menolak segala bentuk sekularisme. Bahkan, Islam menolak penerapan apa pun mengenai konsep-konsep sekuler, sekularisasi, serta sekularisme, karena semuanya bukanlah milik Islam dan berlawanan dengannya dalam segala hal. Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap. Karena itu, tak membutuhkan sekularisme.”

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Islam mengajarkan kita untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi, berakhlak, bertetangga, bermasyarakat, hingga bernegara. Konsep Islam Kafah bahkan mengajarkan agar kita menerapkan sistem politik Islam dan menegakkan hukum-hukum (sistem sanksi) Islam secara keseluruhan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islam lah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” QS Al-Baqarah (2): 208.

Agama Islam bukan agama prasmanan yang bisa diambil bagian-bagiannya yang disukai atau bermanfaat dan membuang yang tidak disukai atau tidak mendatangkan manfaat.

Allah Ta’ala menegaskan, “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS Al-Baqarah (2): 85.

Maka sekularisme jelas menjadi musuh Islam. Karena bagi kaum muslimin, mengambil sebagian hukum Islam dan mencampakkan sebagian yang lain saja dilarang, apalagi memisahkannya dari kehidupan kita (sekuler). Islam dan sekularisme bagai air dan minyak yang tidak mungkin bersatu. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *