Khilafah adalah Berkah, Bukan Bencana

Oleh: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Setelah agama (Islam) dikriminalisasi dengan disebut sebagai musuh bagi Pancasila, maka ajaran agama (Islam) yaitu Khilafah kembali diserang dengan menyebutnya sebagai “Bencana Besar”.

Setidaknya demikianlah yang disebut sang penulis di sebuah artikel yang sangat provokatif bin sesat dengan judulnya: “Khilafah Bencana Besar Negara Pancasila”

Tak kalah provokatifnya adalah adanya dua gambar di bawah judul tulisan tersebut yang disandingkan kiri dan kanan. Sebelah kiri, adalah gambar ISIS dengan pentolannya Abu Bakar al Baghdadi, lengkap dengan rayah (bendera hitam bertuliskan kalimat syahadah), kemudian ada juga gambar Alquran, dan di sampingnya ada tulisan kalimat syahadah “Laa ilaaha illallah”.

Sementara gambar yang kanan adalah gambar Negara Indonesia, lengkap dengan presiden Jokowi dan gambar lambang burung Garuda disertai tulisan Bhinneka Tunggal Ika.

Di bawah kedua gambar tersebut tertulis: “ Wahai Ahlussunnah Indonesia! Manakah yang kalian pilih?! 1. Islamic state (Alquran dan  sunah). 2. NKRI (Pancasila dan UUD ’45). (harakatuna.com, 13/2/2020).

Baru baca judul dan gambarnya saja sudah sangat provokatif, apalagi membaca tulisannya. Tak layak seorang intelektual muslim membuat tulisan semacam ini. Bagaimana mungkin ia membandingkan Alquran dan Sunah (al-hadits) dengan Pancasila dan UUD 45?! (lihat tulisan bergaris).

Sebagai seorang yang mengaku muslim, seharusnya ia tak berani membandingkan antara Alquran yang berasal dari Allah dengan sesuatu yang merupakan buatan manusia. Demikian juga tak layak sebuah pemikiran produk akal manusia dibandingkan dengan as-Sunnah (al-hadits) yang juga merupakan wahyu dari Allah SWT (Lihat QS An Najm: 3).

Sebaik apa pun pemikiran produk akal manusia, tak akan mungkin bisa menandingi pemikiran yang berasal dari Allah, Sang Khaliq. Allah adalah Sang Pencipta langit dan bumi dengan seluruh isinya, termasuk manusia dengan akal yang dimilikinya.

Dengan akal yang dikaruniakan Allah kepadanya, seharusnya manusia bisa memahami wahyu Allah hingga bisa membedakan antara yang haq dan yang batil. Tak selayaknya akal dibiarkan memilih tanpa dituntun wahyu, karena akal manusia sangatlah lemah dan terbatas.

Baca juga:  Adakah Impeachment dalam Khilafah?

Keterbatasan itulah yang menyebabkan manusia tak bisa menjadikan akal sebagai pemutus atas sebuah perbuatan ataukah sebuah pemikiran sebagai baik ataukah buruk.

Allah SWT berfirman:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (TQS Al Baqarah 216).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut: Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang dan merasa berat. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Sedangkan orang yang enggan berjihad, maka itu sebenarnya buruk walau jiwa kita sukai, karena musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.”

Ibnu Katsir menyatakan, “Hal itu berlaku untuk semua perkara (pen-bukan hanya perang). Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ”

Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.”

Boleh jadi para penentang Khilafah begitu bersemangat dan tiada letih mencacinya karena akalnya tidak menjangkau kebaikan Khilafah. Padahal keberadaan Khilafah membawa keberkahan karena ia adalah sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan Allah SWT yang pasti baik bagi seluruh umat manusia.

Boleh jadi pula para pembenci Khilafah ini sudah tertutup hati dan pikirannya sehingga tidak bisa diajak berpikir benar, sesuai dengan potensi akal yang dimiliknya.

Baca juga:  Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah

Seharusnya, ketika akal manusia tak mampu menjangkau kebaikan sebuah syariat (hukum) Allah SWT, maka yang harus dilakukan adalah berhenti mendebat dan mencari cari keburukan ataupun kesalahannya, dan kemudian mengambilnya dengan lapang karena keimanannya mengharuskan demikian.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah Saw)sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS An Nisa 65)

Melalui ayat ini Allah SWT menjelaskan kepada kita tentang kewajiban seorang muslim untuk berhukum dengan syari’at Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunah Rasul-Nya Saw. dalam segala urusan yang diperselisihkan. Kemudian bersikap ridha serta tidak sedikitpun merasa sempit dan berat dengan syari’at Allah yang telah memutuskan segala urusannya.

Tidak seharusnya Khilafah dianggap sebagai pembawa bencana padahal tegaknya adalah sebuah kewajiban dari Allah, Sang Khaliq dan Dia pula yang menjanjikannya (lihat QS An Nuur 55). Mengganggap Khilafah sebagai pembawa bencana sama saja menuduh Allah telah mewajibkan sesuatu yang membawa bencana, na’uudzubillahi min dzaalik.

Selain provokatif, artikel tersebut juga menampakkan kesesatan berpikir ketika menyamakan antara Islamic State/Khilafah ala ISIS dengan Khilafah yang merupakan bisyarah (berita gembira) dari Rasulullah Saw, yaitu Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Baca juga:  Berjuang Mewujudkan Kepemimpinan Berdaulat dan Mandiri

Hadis di atas menjelaskan bahwa masa pemerintahan Islam pada mulanya adalah masa pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad yang disebut sebagai masa/periode Kenabian (Daulah Nabawiyah).

Kemudian pemerintahan selanjutnya adalah Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah yaitu Khilafah yang sesuai dengan minhaj kenabian. Sehingga Khilafah hakikatnya bukan sebuah daulah (negara) baru tapi hanyalah meneruskan negara yang didirikan oleh Rasulullah Saw. Khilafah inilah yang akan tegak kembali, dan akan memberikan keberkahan kepada umat manusia.

Allah SWT berfirman,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (TQS Al A’raf: 96).

Ayat di atas menjelaskan bahwa keberkahan akan datang dari Allah dengan kita beriman dan bertakwa. Sementara takwa akan bisa kita raih hanya dengan taat dan tunduk pada semua aturan dan hukum-Nya.

Ibn Katsir menjelaskan “Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, yaitu hati mereka beriman kepada apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, membenarkannya, mengikutinya, dan bertakwa dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

Artinya keberkahan itu akan datang jika hukum Allah (syariat) ditegakkan secara sempurna. Dan itu hanya terwujud dengan adanya Khilafah. Maka jelaslah bahwa Khilafah bukan bencana tapi akan membawa keberkahan bagi umat manusia di manapun, termasuk di Indonesia.

Khilafah adalah perintah dari Sang Khaliq. Siapa pun yang menentangnya, maka ia sedang dan telah menentang Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi. Dan Khilafah adalah ajaran Islam, ajaran Rasulullah Saw.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mewaspadai ada rencana busuk menjauhkan umat dari ajaran Islam, ajaran Rasulullah Saw di balik ungkapan membandingkan Alquran dan Sunah dengan produk akal manusia, apa pun bentuk dan namanya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *