Mewaspadai Islamisasi Valentine’s Day

“Realitas Perayaan Valentine’s Day: Kemaksiatan Berbalut Kasih Sayang”

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Meski momen Valentine’s Day sudah lewat, bukan berarti umat tidak perlu lagi mewaspadai ekses dari perayaan itu. Karena bukan tuduhan tanpa bukti bahwa perayaan Valentine’s Day dekat dengan pelanggaran hukum bahkan tergolong maksiat yang dilaknat.

Beberapa media memberitakan bahwa jelang puncak peringatan hari kasih sayang ini penjualan kondom laku keras, omzetnya bisa melonjak tajam, seperti disampaikan tribunnews.com sehari sebelum peringatan Valentine’s Day 2020 lalu.

Bahkan Jatim.suara.com melaporkan inspeksi mendadak yang digelar gabungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri bersama Satpol PP dan aparat kepolisian ke supermarket, minimarket, dan apotek yang menjual kondom.

Sidak tersebut dilakukan setelah Dinkes menerima laporan dari masyarakat dan Satpol PP mengenai maraknya kondom bekas yang ditemukan usai momen Valentine’s Day, bahkan kerap ditemukan di tempat publik.

Tentu bisa dipastikan bahwa pengguna alat pencegah kehamilan ini kebanyakan bukan pasangan suami-istri. Mereka memakainya karena tidak mau perzinaannya berbuah kehamilan.

Fakta ini juga semakin menguatkan bahwa kasih sayang yang mereka gadang-gadang selama ini tak lebih dari ekspresi nafsu seksual berbalut perhatian, cokelat, dan bunga, yang ujungnya perzinaan massal. Na’udzubillahi min dzalika.

Karenanya, bisa dimengerti jika MUI dalam fatwanya Nomor 3 Tahun 2017 mengharamkan muslim ikut serta merayakan Valentine’s Day. Alasan yang dikemukakan MUI adalah bahwa perayaan itu bukan termasuk tradisi Islam; Perayaan Valentine’s Day menjurus pada pergaulan bebas, seperti hubungan badan di luar nikah; dan tradisi dari luar itu berpotensi menimbulkan keburukan.

Berbeda dengan sikap MUI yang dengan tegas melarang seorang muslim terlibat dalam perayaan Valentine’s Day, justru ada pihak yang mewacanakan adanya upaya Islamisasi Valentine’s Day. Salah satu media yang memuat usulan ini adalah harakatuna[dot]com.

Selain karena alasan kasih sayang merupakan ajaran Islam, disampaikan juga bahwa Islamisasi Valentine’s Day ini perlu untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mampu beradaptasi dengan situasi apapun. Sehingga ajaran Islam bisa diterima oleh seluruh semesta.

Arus perubahan sikap terhadap Valentine’s Day bukan hanya ada di negeri ini. Menurut Tempo.com sebelumnya sudah terjadi juga di Arab Saudi pada 2018 ketika mantan Presiden Komisi Makkah untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (CPVPV), Syekh Ahmed Qasim Al-Ghamdi, menyatakan bahwa perayaan Valentine’s Day sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, perayaan cinta adalah fenomena universal dan tidak terbatas pada dunia nonmuslim.

Apakah kasih sayang dalam Islam bisa diungkapkan seperti dalam ritual Valentine’s Day? Perlukah Islamisasi Valentine’s Day? Dan apa yang harus diwaspadai dari wacana tersebut?

Valentine’s Day bukan Budaya Islam

Banyak cerita di balik munculnya Valentine’s Day. Salah satu yang paling dikenal masyarakat adalah kisah yang berasal dari sejarah Romawi pada masa Kaisar Claudius II yang melarang para tentara menikah dan bertunangan dengan alasan akan melemahkan mereka ketika bertempur di medan perang.

Kebijakan ini ditentang oleh seorang pendeta yang bernama Valentine, ia berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan ini ketahuan dan pada akhirnya pendeta Valentine ditahan serta dihukum, kemudian tubuhnya dipukul hingga dipancung.

Hukuman ini kemudian diabadikan lewat peringatan atau perayaan hari kasih sayang yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari.

Dari sejarahnya saja jelas peristiwa ini tidak sesuai dengan aturan Islam. Naluri seksual adalah fitrah setiap manusia yang normal yang tidak mungkin dihancurkan atau dihilangkan, bahkan oleh pasukan tentara sekalipun.

Baca juga:  Khilafah adalah Berkah, Bukan Bencana

Karenanya, syariat Islam tidak menolak keberadaan naluri tersebut. Sekadar kemunculan kecenderungan seksual dalam diri seseorang atau ada ketertarikan kepada lawan jenis bukanlah sebuah dosa yang berkonsekuensi pada hukuman. Namun Islam pun tidak membebaskan manusia memenuhi gejolak seksualnya sekehendak hati.

Syariat Islam datang untuk menyelesaikan masalah naluri ini, berupa paket aturan dalam an-nizham ijtima’iy (sistem sosial). Supaya naluri terkendali dan terpenuhi secara benar, maka Islam menetapkan pemisahan kehidupan antara kaum perempuan dengan laki-laki yang bukan mahramnya kecuali ada kebutuhan yang diizinkan syara, seperti dalam pendidikan, perdagangan, dan pengobatan.

Izin ini disertai dengan ketentuan yang harus dipenuhi di antaranya: masing-masing baik laki-laki maupun perempuan tetap menjaga akhlak mulia ketika berinteraksi; menutup aurat; tidak boleh khalwat; interaksi yang dilakukan pun hanya terbatas pada hal-hal yang dibutuhkan dan tidak boleh berkaitan dengan masalah pribadi yang bisa membangkitkan naluri seksual.

Keterikatan pada aturan ini akan menjauhkan manusia dari terjerumus pada perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Larangan tersebut sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam firman Nya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS al Isra[17]: 32).

Di antara perbuatan yang bisa mendekati zina adalah khalwat, perbuatan yang diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

Islam Mengatur Kasih Sayang dan Mengharamkan Pergaulan Bebas

Memang benar ajaran Islam menganjurkan menyebarkan kasih sayang. Bahkan dalam sejumlah hadis Rasulullah saw menyebutkan kasih sayang sebagai salah satu sebab turunnya rahmat Allah SWT, seperti sabda beliau:

Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924)

Implementasi kasih sayang yang diperintahkan Islam tidak sama dengan wujud kasih sayang yang disebarkan para pecinta valentine day. Di antara keduanya memiliki perbedaan yang jauh sekali.

Berikut ini adalah ketetapan Islam terkait kasih sayang yang harus diperhatikan:

Pertama, menyebarkan kasih sayang landasannya bukan semata karena rasa suka dan cinta, namun didasari karena ketaatan pada perintah Allah SWT seperti yang dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud di atas.

Kasih sayang semata karena Allah tidak dibatasi waktu dan tempat. Muslim manapun akan senantiasa terdorong untuk melaksanakannya setiap saat demi untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah, Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukan hanya terbatas di momen Valentine’s Day.

Baca juga:  Daulah Nabawiyah ataukah Daulah Khilafah yang akan Tegak Kembali?

Kedua, wujud kasih sayang ditampakkan harus sesuai dengan ketentuan syariat. Di antara ketetapan tersebut adalah:

1). Ungkapan kasih sayang di antara perempuan dan laki-laki bukan mahram hanya ada dalam ikatan pernikahan yang terwujud dalam pergaulan suami istri. Ketaatan istri pada suaminya adalah bukti nyata kasih sayangnya.

Adapun tanggung jawab, perhatian, dan kepemimpinan seorang suami merupakan bentuk kasih sayang paling utama dalam rangka meraih keridaan Allah SWT. Sementara kasih sayang diantara pasangan muda-mudi diluar ikatan resmi pernikahan yang ditampakkan dalam ritual Valentine’s Day sudah pasti dilakukan karena dorongan hawa nafsu, bukan untuk mendapatkan pahala-Nya.

2). Kasih sayang dari orang tua kepada anak-anaknya. Diwujudkan dalam pemeliharaan, pengasuhan, pendidikan, sampai mengantarkan mereka ke gerbang akil balig. Semua itu bukan perkara instan juga tidak mudah untuk melaksanakannya. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh juga diperlukan waktu yang panjang.

Kasih sayang orang tua tak berbatas masa dan usia. Akan ada setiap saat. Kasih sayang demikianlah yang akan melahirkan anak yang saleh dan salihah yang kelak akan berbuah pahala yang terus mengalir, layaknya investasi tiada henti.

Sabda Rasulullah saw:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh” (HR Muslim no. 1631). Karenanya sangat naif jika kasih sayang hanya ditampakkan setiap setahun sekali.

3). Kasih sayang anak kepada orang tuanya. Ditunjukkan dengan bakti dan ketaatan mereka kepada perintah keduanya selama bukan dalam kemaksiatan (QS Luqman: 14-15), serta lemah lembut dalam bergaul dengan keduanya (QS Al Isra: 23-24).

Berbuat baik kepada orang tua adalah salah satu kewajiban anak setelah perintah beriman kepada Allah dan Rasul. Seorang anak senantiasa dituntut melakukannya, bahkan manakala orang tuanya sudah tiada pun dia tetap wajib menunaikannya, walau hanya berupa untaian doa untuk mereka.

4). Kasih sayang di antara orang beriman. Orang beriman adalah saudara. Satu sama lain ibarat satu tubuh yang tak terpisahkan. Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berkasih sayang (QS Al Fath: 29).

Namun tentu saja wujudnya berbeda dengan kasih sayang di antara pasangan suami istri juga tidak sama dengan kasih sayang dari orang tua kepada anaknya. Kasih sayang di antara saudara seiman ditampakkan dalam pemenuhan hak dan kewajiban sesama muslim.

Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi saw: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR Muslim, no. 2162).

Baca juga:  Khilafah adalah Berkah, Bukan Bencana

Dalam hadis ini pun tampak bahwa kasih sayang sesama muslim tidak terikat waktu dan keadaan. Wajib dilakukan dalam setiap kondisi, baik dalam keadaan senang, susah, sakit, bahkan ketika ajal sudah menjemput masih memiliki hak yang harus ditunaikan oleh saudaranya.

5). Kasih sayang sesama makhluk Allah SWT. Islam mengajarkan pada pemeluknya untuk memiliki kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Diantara bentuk kasih sayang sesama ciptaan Nya adalah: perintah saling mengenal (QS Al Hujurat: 13); menyeru kepada kebenaran Islam dengan cara yang baik (QS An Nahl: 125).

Dakwah kepada Islam merupakan wujud kasih sayang terindah yang wajib dilakukan. Dakwah merupakan wasilah sampainya hidayah. Dakwah Islam bisa menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup di dunia dan membebaskannya dari azab pedih di akhirat kelak. Tetap membiarkan mereka dalam kesesatan justru bertentangan dengan hakikat kasih sayang.

Tidak hanya terhadap sesama manusia, kepada binatang dan hewan ternak pun Islam memerintahkan kita untuk memberikan kasih sayang, seperti hadis Rasulullah saw berikut ini:

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةً، رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa yang berkasih sayang meskipun terhadap seekor sembelihan maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat.” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod)

Islamisasi Valentine’s Day, Upaya Mencampuradukkan yang Hak dengan Kebatilan

Sungguh berbeda antara kasih sayang yang disebarkan dalam Valentine’s Day dengan kasih sayang yang diajarkan Islam. Keduanya tidak bisa disatukan. Memoles perayaan Valentine’s Day dengan ritual zikir, doa, dan pengajian, namun berikutnya tetap membuka celah pergaulan bebas dan maksiat lainnya seperti minum minuman keras, hakikatnya merupakan pencampuran antara yang hak dengan yang batil.

Ibarat pelacuran, tetap saja termasuk perzinaan yang diharamkan sekalipun dilakukan di tempat resmi (lokalisasi), juga tetap merupakan perbuatan dosa walaupun pelakunya rajin salat dan selalu menjalankan puasa Senin-Kamis.

Mencampurkan kebenaran dan kemaksiatan dilarang Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Baqarah ayat 42.

Muslim yang baik tidak akan berani mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan apa pun alasannya, termasuk dalam menyebarkan kasih sayang. Dia akan mewujudkan cinta dan kasih sayangnya sesuai aturan Islam, bukan dengan mengikuti ritual Valentine’s Day yang sudah jelas bukan berasal dari ajaran Islam.

Islamisasi pada perkara yang sudah jelas keharamannya sangat berbahaya. Umat akan terpalingkan dari kebenaran risalah Islam yang sesungguhnya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari upaya tersebut.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

 ‘Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kami yang batil itu batil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” (HR Bukhari dan Muslim). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *