; Pejabat Yakini Klenik: Menolak Berkah, Mengundang Azab – Muslimah News

Pejabat Yakini Klenik: Menolak Berkah, Mengundang Azab

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Sabtu kemarin (15/02/2020) Kediri sedang viral di dunia maya. Bukan karena Wakil Walikota Lilik Muhibbah yang wafat. Bukan karena pembangunan bandara Kediri yang dibiayai PT Gudang Garam Tbk. Juga bukan karena adanya Kampung Inggris di sana.

Kediri banyak diperbincangkan warganet menggunakan tagar #JokowiTakutKediri. Penyebabnya adalah pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung. Dia menyatakan bahwa Kediri selama ini dianggap sebagai daerah wingit atau angker bagi presiden.

Pramono mengungkapkannya saat mengunjungi Kediri. Ia datang bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Mereka meresmikan rusunawa di Ponpes Lirboyo Kediri.

Saat itu, Pramono memberikan sambutan di hadapan para kiai sepuh pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadien Lirboyo Kediri. Menurutnya Kediri merupakan wilayah yang wingit untuk didatangi presiden. Pramono Anung secara terang-terangan melarang Presiden Joko Widodo untuk berkunjung ke Kediri. Alasannya, Gus Dur, setelah berkunjung ke Lirboyo, tidak begitu lama gonjang-ganjing di Jakarta (Detik, 15/2/2020).

Percaya Klenik adalah Syirik

Pernyataan Pramono Anung ini menunjukkan bahwa dirinya mempercayai klenik. Tak hanya dia, banyak pejabat Indonesia yang masih percaya klenik. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (16/02/2020).

“Pejabat kita hampir seluruhnya percaya klenik. Mau Menteri, Dewan atau Presiden, aktivitas perdukunan itu jalan. Jadi saya kira hampir sedikit yang tidak datang ke dukun itu,” ungkap Ujang.

Baca juga:  'Teror' Pariwisata Syirik Pengundang Bencana

Menurutnya, perilaku ini memang sesuatu yang membingungkan di tengah zaman yang semakin berkembang. Namun mau tidak mau, suka tidak suka, fakta dan kenyataan mengarah kepada hal yang demikian.

Pernyataan Pramono Anung bisa berdampak pada masyarakat, mengingat posisinya sebagai pejabat publik. Pejabat adalah teladan bagi rakyat. Segala tingkah polahnya akan dilihat dan diikuti oleh rakyat. Ketika pejabat meyakini klenik, rakyat juga akan melakukan praktik yang sama.

Jika benar mayoritas pejabat menggunakan klenik untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya, ini menjadi salah satu alasan mengapa profesi dukun masih laris manis di masyarakat. Ternyata banyak konsumennya dari kalangan pejabat.

Padahal para pejabat itu rata-rata berpendidikan tinggi, minimal sarjana. Namun, nalar berpikir kritis yang seharusnya dibentuk di kampus tak berbekas pada mereka. Saat dunia sudah mengalami revolusi industri hingga empat kali, Indonesia masih terjebak pada pemahaman kuno dan minus nalar rasional.

Pola pikir rendah inilah yang membuat bangsa kita tak kunjung maju. Setiap masalah yang datang tidak diselesaikan dengan akal kecerdasan hingga tuntas, namun justru lari ke dukun.

Saat berbagai kegagalan pemerintah terpampang jelas di permukaan, tak ada upaya serius dan efektif untuk menyelesaikan. Justru yang dilakukan adalah praktik klenik demi mempertahankan kekuasaan yang kian hari makin rapuh.

Padahal mempercayai klenik artinya meminta bantuan kepada setan. Sementara setan adalah musuh manusia yang selalu mengajak untuk berpaling dari Allah SWT. Mungkin inilah salah satu alasan para pejabat menolak khilafah. Karena khilafah akan menerapkan syariat Islam yang tak disukai para setan.

Baca juga:  Mewaspadai Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mengharamkan aktivitas klenik. Allah Ta’ala berfirman,

“Apakah akan Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Setan-setan tersebut menyampaikan berita yang mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta.” (QS asy-Syu’araa’: 221-223).

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima salatnya selama 40 hari.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Barang siapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Abu Daud)

Hadis-hadis tersebut berisi larangan mempercayai para peramal, dukun, penyihir, dan sejenisnya. Penguasa wajib melarang praktik klenik ini. Bukan justru mempercayai dan mengumumkan keyakinannya itu.

Keberkahan Dicabut

Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa keberkahan akan tercurah pada penduduk negeri yang bertakwa. Sebaliknya, jika mereka tidak bertakwa (justru mendustakan ayat-Ayat Allah) maka kelak akan mendapat siksa yang pedih. Allah Ta’ala berfirman:

Baca juga:  Mewaspadai Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Inilah jawaban mengapa keberkahan dicabut dari negeri ini. Hujan yang harusnya membawa rahmat justru menjadi bencana banjir. Longsor kerap terjadi. Kemarau pun berujung kebakaran hutan. Memang ada faktor teknis seperti pembalakan liar. Namun juga ada faktor ruhiyah, yakni maraknya kesyirikan. Juga pengabaian terhadap hukum Allah.

Padahal jika mau berpikir rasional, segala persoalan akan ditemukan jawabnya. Misalnya terkait lengsernya Gus Dur, ternyata menurut orang dekat Gus Dur, pelengseran itu disebabkan oleh konflik politik dengan Megawati.

Sementara mitos Kediri wingit itu tak terbukti, karena Presiden SBY pernah dua kali ke Kediri. Ternyata SBY tidak dilengserkan hingga akhir dua periode.

Namun, kebiasaan bersandar pada klenik akhirnya menumpulkan kecerdasan untuk mencari solusi persoalan. Jika penguasa percaya klenik yang memimpin Indonesia, mustahil akan terwujud kemajuan.

Baldatun thayibatun wa rabbun ghafur hanya akan jadi mimpi belaka. Bagaimana mau mendapat ampunan Allah jika syirik saja dipercayai? Bagaimana mau menyelesaikan setumpuk persoalan negara, jika pikirannya selalu lari ke dukun? Giliran ditawari syariat Islam sebagai solusi, justru ditolak mentah-mentah. Astaghfirullah. Na’udzubillahimindzalik. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *