; Kasus Foto Mahasiswi Blur jadi Bahan “Dagangan” Pegiat Kesetaraan Gender – Muslimah News

Kasus Foto Mahasiswi Blur jadi Bahan “Dagangan” Pegiat Kesetaraan Gender

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Kasus foto mahasiswi BEM UNJ dan UGM yang di-blur fotonya, ternyata masih menjadi polemik, bahkan disinyalir isunya akan semakin panjang.

Meski pihak organisasi kampus terkait sudah menyatakan kasusnya selesai dengan diturunkannya foto yang dimaksud, namun tidak dengan opininya yang makin bergulir bak bola salju.

Seperti yang dikatakan oleh Komisioner Komnas Perempuan, Rainy Maryke Hutabarat, yang mengatakan pengaburan foto mahasiswi dalam struktur kepengurusan organisasi kampus tersebut merupakan kekerasan simbolik terhadap perempuan.

“Pengaburan foto mahasiswi-mahasiswi UGM dan UNJ merupakan bentuk penghilangan peran dan eksistensi perempuan dalam teks organisasi. Ini kekerasan simbolik. Seharusnya kampus menjadi pelopor teks-teks berspektif hak asasi manusia,” kata Rainy dilansir Suara.com, Rabu (12/2/2020).

Juga seperti pendapat aktivis Gusdurian penulis buku, Kalis Mardiasih, yang menilai fenomena yang terjadi sebagai bentuk konservatisme di kampus. Ia mengatakan sejumlah organisasi agama di kampus-kampus masih berpandangan konservatif, salah satunya dengan memandang perempuan sebagai aurat.

Merespons hal ini, pemerhati isu gender dan penulis, Siti Nafidah Anshory mengatakan bahwa sebetulnya yang kalangan feminis liberal khawatirkan dari kasus ini adalah melemahnya semangat liberalisme di kalangan milenial dan juga post-millenials, bukan menguatnya konservatisme seperti yang selama ini digadang-gadangkan.

Baca juga:  Tidak Ada Kesetaraan Gender dalam Islam

Siti Nafidah juga mengungkapkan bahwa ini ada kaitannya dengan agenda global untuk mengukuhkan “Triple -isme”: sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme.

“Mereka merasa memiliki bahan untuk mengangkat kembali “dagangan” mereka, yakni isu kesetaraan gender yang merupakan agenda global untuk mengukuhkan sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme. Apalagi Maret (2020) nanti ada evaluasi BPFA +25,” ungkapnya kepada MNews, 18/1/2020.

Menurut Siti Nafidah, mereka (pegiat feminis liberal, red.) secara konsisten mempropagandakan paham feminisme liberal sebagai paham yang dibutuhkan perempuan. Di mana paham tersebut diklaim akan membebaskan, memajukan, dan memuliakan perempuan.

Mereka lalu menarasikan, lanjut Siti Nafidah, bahwa keterpurukan, diskriminasi, marginalisasi, dan semua apa yang mereka klaim sebagai “persoalan perempuan” penyebabnya adalah Islam dan semua hal yang mereka sebut konservatisme.

“Padahal penyebab utamanya justru liberalisme dan kapitalisme. Istilahnya, mereka sedang mencari kambing hitam, atau lebih tepatnya sengaja menjadikan Islam sebagai kambing hitam,” jelasnya.

Siti Nafidah menegaskan, hal inilah yang harus dibongkar. Ia menyebut logika yang mereka bangun itu rusak, asumtif, tendensius, bahkan melawan Islam. Sehingga, sebetulnya pegiat feminis liberal itu bukan sedang membela perempuan. Namun sejatinya sedang membela agenda kapitalisasi dan liberalisasi global, sekaligus melawan Islam yang jadi penghalangnya.

Baca juga:  RUU PKS: Hoax Pencegahan Kekerasan Seksual

“Mereka panik ketika arus kesadaran perlawanan terhadap liberalisasi global itu justru menguat di kalangan kampus yang merepresentasikan para post-millenials,” paparnya.

Siti lalu melanjutkan, ini sesungguhnya “warning” bagi mereka, bahwa hegemoni kapitalisme liberalisme sedang dalam ancaman dengan menguatnya kesadaran untuk kembali ke jalan Islam.

“Jadilah mereka membuat narasi-narasi seperti itu,” ujarnya.

Hukum Asal Pria-Wanita

Dalam Islam, hukum asal laki-laki dan wanita di dalam masyarakat Islam adalah terpisah. Ketentuan di atas tidak boleh dipahami bahwa Islam melarang pertemuan dan interaksi laki-laki dan wanita secara total.

  • Baca: https://www.muslimahnews.com/2019/03/11/hukum-asal-pria-wanita-terpisah/

Sebabnya, Islam tidak melarang laki-laki dan wanita melakukan aktivitas di luar rumah seperti bermuamalah, berdakwah, mengikuti taklim, dan lain sebagainya. Mereka juga tidak dilarang berinteraksi dalam perkara-perkara mubah yang meniscayakan pertemuan dan interaksi keduanya.

Sebagai contoh, laki-laki dan wanita tidak dilarang melakukan transaksi jual-beli. Di dalam transaksi jual-beli, pasti terjadi pertemuan dan interaksi antara penjual dan pembeli. Jual-beli tidak mungkin terlaksana jika tidak ada pertemuan dan interaksi penjual dan pembeli.

Dalam hal ini syariat tidak mensyaratkan penjual dan pembeli harus sama-sama wanita, atau sama-sama laki-laki. Oleh karena itu, kebolehan wanita dan laki-laki melakukan transaksi jual-beli juga menunjukkan kebolehan seorang laki-laki dan wanita bertemu dan berinteraksi dalam hajat yang meniscayakan adanya pertemuan dan interaksi keduanya.

Baca juga:  Syariat Islam Menjaga Fitrah Perempuan

Dengan catatan, dalam pertemuan dan interaksi tersebut, keduanya harus tetap menjaga pandangan, dan segera berpisah kembali ketika hajatnya telah usai.

Termasuk dalam menampakkan wajah, termasuk hal yang diperbolehkan karena pendapat terkuat terkait menutup aurat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya,” (QS. An Nur: 31).

Yang dimaksud dengan ‘kecuali yang biasa nampak padanya’ menurut para ulama tafsir adalah wajah dan kedua telapak tangan. Wajah dan kedua telapak tangan bukanlah aurat karena kebutuhan yang menuntut keduanya untuk ditampakkan (Al Iqna’, (1/221)).

“Hanya saja, menjadi soal ketika sesuatu yang pada dasarnya ada dalam ranah “mubah” dan “pilihan” ini langsung dijadikan bahan gorengan oleh kalangan moderat liberal untuk menohok konservatisme yang menyasar pada ajaran Islam,” pungkas Siti Nafidah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *