; [Editorial] Serangan Barat di Balik Isu Ekstremis dan Moderat – Muslimah News

[Editorial] Serangan Barat di Balik Isu Ekstremis dan Moderat

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Istilah tatharruf (ekstrem) dan i’tidal (moderat) telah digunakan Barat untuk menyerang Islam dan umat Islam. Padahal sebagai lafaz berbahasa arab, keduanya merupakan lafaz-lafaz yang memiliki makna tertentu yang jauh berbeda dari makna yang Barat sematkan.

“Tatharruf” misalnya, digunakan Barat untuk menggambarkan sesuatu yang dipandang ekstrem, radikal, dan teror. Padahal dalam Islam bisa jadi sesuatu itu merupakan hal yang wajib dilaksanakan dan dosa jika ditinggalkan. Contohnya jihad, amar makruf nahi mungkar, dan muhassabah lil hukkam (mengoreksi penguasa).

Begitu pun dengan “i’tidal”. Barat menggunakannya untuk memuji sikap seseorang yang mau kompromi terhadap kebatilan, tidak menyerang Barat dan lain-lain. Padahal Islam memerintahkan agar umat berpegang teguh pada aturan-aturan Islam dan tak berkompromi dengan kebatilan.

Mereka menggunakan kedua istilah itu dari cara pandang politik dan bukan dari pandangan syara’. Untuk mengarahkan perspektif umat agar sesuai dengan cara pandang mereka dalam kerangka serangan pemikiran (ghazwul fikr).

Bagi Barat, ghazwul fikr ini merupakan strategi alternatif untuk menyerang umat Islam yang sulit ditaklukkan oleh serangan fisik atau militeristik.

Sayangnya, ada di antara ulama umat yang terjebak dan berada di sisi Barat. Lalu mereka turut menyerang umat Islam yang lurus dengan menggunakan senjata istilah-istilah yang dipakai oleh Barat ini.

Ada pula yang berniat lurus dan berusaha menjawab tudingan Barat, namun dengan pandangan apologetis yang justru menjauhkan umat dari kebenaran. Misalnya dengan turut mengatakan bahwa pemikiran Islam memang moderat, sangat toleran, dan jauh dari kekerasan.

Lalu mereka pun ikut mengaruskan isu moderasi Islam atau Islam wasathiyyah sebagaimana yang diaruskan Barat. Padahal terminologi wasathiyah atau moderasi Islam sebagaimana yang mereka maksudkan ini tak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam.

Mereka menyandarkan pemikirannya pada QS Al Baqarah 143 yang memang mengungkap istilah wasatha:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu… “

Hal ini tentu saja sejalan dengan kemauan Barat yang nyata-nyata memusuhi Islam. Bahkan sebagaimana rekomendasi Rand Corporation yang merupakan lembaga think tank kebijakan keamanan Amerika, Barat sengaja merangkul sebagian dari mereka dan memberi panggung untuk mengekspos pandangan-pandangan sesat mereka.

Akhirnya, tersebarluaslah gagasan batil ini di tengah umat. Memecah belah umat dengan berbagai pandangan yang berbeda-beda. Seolah-olah Islam itu terbagi-bagi menjadi Islam fundamentalis, ekstremis, dan teroris di satu sisi. Dan Islam yang moderat, humanis, dan toleran di sisi lainnya.

Baca juga:  Islam Moderat, Konspirasi Menjegal Kebangkitan Islam Politik

Benar Perkataannya, Batil Tujuannya

Sesungguhnya, apa yang mereka maksudkan dengan istilah tatharruf, i’tidal, atau ummatan wasathan adalah perkataan benar namun memiliki tujuan batil. Karena semuanya lahir dari asas yang rusak, yaitu sekularisme dan kebebasan yang merupakan roh ideologi Barat, dan ditujukan untuk tujuan yang jahat.

Itulah kenapa kita wajib menjelaskan hakikat yang sebenarnya. Wajib menolak perspektif Barat dan mengungkap kebusukannya. Sekaligus wajib mengetahui bagaimana perspektif Islam terhadapnya. Semata demi kepentingan dakwah dan taqarrub ilallaah.

Adapun patokan yang harus digunakan dalam menjelaskan hakikat pemikiran-pemikiran itu  di antaranya adalah kaidah-kaidah ushul yang lahir dari nas-nas syariat, yang semestinya menjadi sumber undang-undang bagi seorang mukmin.

Kaidah itu antara lain: Allah adalah al-Hakim, hukum asal sesuatu dan perbuatan terikat dalil syara, penentu baik (khair) dan buruk (syar) adalah rida dan murkanya Allah, serta penentu terpuji (hasan) dan tercela (qabih) adalah apa yang dipuji dan dicela oleh syariat. Bukan akal atau persepsi manusia yang lahir dari asas kebebasan, sekularisme, dan kemanfaatan.

Patokan-patokan inilah yang pada akhirnya melahirkan konsep kebahagiaan dan standar perbuatan dalam hidup seorang muslim. Bahwa kebahagiaan ada pada keridaan Allah dan standar perbuatan seorang muslim adalah hukum-hukum Allah.

Tentu saja, patokan Islam ini sangat berbeda jauh dengan ideologi kapitalis. Bak air dan api, tak bisa dicampur alias dikompromikan.

Maka, Islam misalnya, tidak bisa menerima ide dan praktik demokrasi. Karena keduanya saling bertentangan bahkan bisa saling menegasikan. Demokrasi menjadikan rakyat/manusia sebagai hakim. Sementara Islam menetapkan Allahlah satu-satunya Pembuat Hukum.

Demokrasi menjadikan kebebasan dan manfaat sebagai standar perbuatan. Sementara Islam mengikat perbuatan hamba dengan aturan halal dan haram. Sehingga ketika Barat menuding muslim yang menolak demokrasi sebagai fundamentalis, teroris dan radikal. Maka kita justru harus menunjukkan, bahwa demokrasi memang tidak bersesuaian dengan Islam.

Bahkan kita pun harus menunjukkan bahwa faktanya Baratlah yang fundamentalis, teroris, dan radikal. Karena Barat nyatanya telah melanggar ideologinya sendiri dengan cara menutup celah politik bagi orang lain, khususnya umat Islam, untuk eksis sebagaimana terjadi pada FIS di Aljazair dan Hammas di Mesir. Padahal mereka terus menggembar-gemborkan tentang kebebasan, hak asasi, dan toleransi.

Tak ada alasan bagi kita untuk menerima perspektif Barat dalam segala hal terkait Islam. Termasuk makna tatharruf dan i’tidal, juga wasathiyah yang faktanya sudah dibajak oleh Barat sesuai pemaknaan dan pandangan politik mereka tentang Islam.

Penolakan itu tentu harus disertai dengan penjelasan gamblang tentang apa makna sesungguhnya. Sehingga umat paham pertentangannya dan bisa bersikap dengan sikap yang benar dilandasi pemahaman dan kesadaran.

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Hakikat Tatharruf, I’tidal, dan Ummatan Wasathan

Yang harus dipahami, setiap lafaz dalam bahasa Arab sesungguhnya memiliki madlul (penunjukan) yang dikehendaki oleh lafaz itu sendiri. Namun terkadang, kita jumpai dalam Alquran (atau bahasa Arab) ada lafaz yang berbeda-beda namun ditujukan pada satu makna tertentu.

Inilah yang disebut dengan lafaz muradif atau mutaradif (sinonim). Artinya, satu makna tapi bisa dilafalkan dengan banyak lafaz yang berbeda-beda. Nah, istilah tatharruf dan i’tidal juga termasuk dalam lafaz mutaradif ini.

Tatharruf (ekstrem) misalnya, semakna dengan ghuluw, azziyaadah, mubaalaghah, tasyaddud, dan tashallub. Semuanya semakna dengan lafaz ifrath, yakni melampaui batas yang dituntut dan yang telah ditetapkan.

Dan lawan dari kata ifrath adalah tafrith, yang artinya melalaikan hukum syara’, menyia-nyiakan hak, menampakkan kelemahan dalam menjalankan hukum syara’, dan sejenisnya.

Baik ifrath (berlebih-lebihan) maupun tafrith (lalai/meremehkan) sama-sama terlarang dalam Islam.

Di dalam Alquran Surah Al Maidah ayat 77, Allah SWT mencela perilaku tatharruf atau ghuluw ini:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Contoh perbuatannya antara lain seseorang yang bernazar tidak akan duduk, tidak bicara sambil shaum. Ini tergolong tatharruf atau ghuluw dalam konteks ifrath. Atau seseorang melakukan dosa besar dan berjanji akan tobat sebelum mati. Padahal menghindari dosa adalah kewajiban dan kematian adalah rahasia baginya dan bagi siapa pun. Ini tergolong tatharruf atau ghuluw dalam konteks tafrith.

Adapun i’tidal, artinya sama dengan iqtishad, tawassuth (wasathiy), rusyd, istiqamah. Orang yang mu’tadil dalam agama adalah orang yang istikamah dalam menjalankan perintah Allah, konsisten dengan batas-batas Allah, tidak menyimpang, baik ke arah ifrath (berlebihan) maupun tafrith (lalai), juga tidak membuat-buat bid’ah.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

Artinya: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS Hûd: 112)

Dua lafaz ini, yakni tatharruf dan i’tidal sebetulnya biasa digunakan dalam pembahasan-pembahasan syariat. Namun dengan pemaknaan yang tidak menyimpang dari apa yang dikehendaki madlul (penunjukkan makna)-nya.

Baca juga:  Indonesia Pusat Studi Islam Moderat

Sementara di lain pihak, Barat justru sengaja menyimpangkan makna keduanya demi kepentingan politik tertentu dan untuk tujuan menyesatkan umat agar makin jauh dari agamanya. Karena mereka tahu, bahwa rahasia kebangkitan umat Islam terletak pada kemurnian ajarannya dan pada penerapannya secara utuh dalam seluruh aspek kehidupan.

Ndilalahnya, banyak hari ini, para dai dan ulama yang bisa jadi ada yang bertolak dari kecintaannya pada Islam sehingga justru ikut-ikutan meremehkan berbagai hukum Islam dengan menerima deskripsi Barat tentang Islam. Lantas mereka menakwil nas-nas syariat Islam agar sesuai dengan kehendak Barat sebagai wujud pembelaan.

Misalnya saja, mereka menakwil bahwa orang murtad tak perlu dibunuh, wanita boleh jadi kepala negara, dan sejenisnya, semata-mata karena ingin menunjukkan bahwa Islam menghargai hak berkeyakinan dan bahwa Islam juga menghargai perempuan.

Atau ada juga yang memang sengaja mengabdikan diri kepada Barat untuk mendapat bayaran yang sedikit. Lalu mereka menjalankan proyek-proyek penghancuran Islam sesuai kehendak Barat. Padahal pernyataan-pernyataan seperti ini menunjukkan kebodohan dalam beragama, termasuk berlebih-lebihan sekaligus peremehan agama yang bisa menghancurkan agama itu sendiri.

Walhasil, itulah kenapa kita harus menolak pemikiran Barat tentang istilah-istilah itu, dan menolak penggunaan istilah itu, karena keduanya sudah lekat dengan perspektif Barat, yang serangannya mengarah pada pelaksanaan ketaatan pada hukum-hukum Allah.

Senyatanya, Islam memang melarang tatharruf, tapi konteksnya adalah melampaui hukum Allah, atau lalai terhadapnya atau mengada-ada dalam hukum syara, alias berbuat bid’ah.

Bukan seperti kata Barat, yakni melaksanakan ketaatan pada perintah Allah seperti menyerukan jihad fi sabilillah, melakukan amar makruf nahi munkar, konsisten menutup aurat, tegas menolak riba, menolak elgebeteqi, menolak pernikahan beda agama, dan lain-lain.

Islam pun memang mewajibkan i’tidal dan menjadi ummatan wasatha, tapi konteksnya adalah istikamah melaksanakan perintah Allah dan tetap di jalan yang lurus, tidak berbuat lalai atau berlebih-lebihan mengada-ada dalam urusan agama di luar yang diperintahkan. Bukan seperti kata Barat, yakni berkompromi terhadap kekufuran, talbisul haq bil baatil, dan lain-lain.

Namun demikian, ketika kita mengatakan tatharruf itu terlarang dan i’tidal serta menjadi ummatan wasathan itu wajib, sepanjang konteksnya tak menyalahi ajaran Islam, bukan berarti boleh bagi kita untuk turut menggunakan kalimat itu dalam perbincangan-perbincangan. Apalagi turut mengaruskan.

Karena faktanya, istilah-istilah itu telanjur dipropagandakan dan dipahami umat sebagaimana yang Barat inginkan. Kita justru diwajibkan untuk meluruskan dan mengungkap hakikat serangannya. Agar umat tak terjauhkan dari Islam yang justru merupakan kunci kebangkitannya. [MNews/SNA]

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “[Editorial] Serangan Barat di Balik Isu Ekstremis dan Moderat

  • 3 April 2020 pada 13:03
    Permalink

    kata eksrim dalam pandangan sekuler kapitalis, jika tidak sesuai dengan keinginan mereka sehingga bisa dikatakan bahwa ekstrim adalah alat mengucilkan islam dan

    Balas
  • 2 April 2020 pada 12:32
    Permalink

    Sebagai muslim kita harus jeli dalam menanggapi istilah-istilah yang dipakai oleh Barat, apalagi kalau merujuk pada ajaran2 Islam.

    Balas
  • Pingback:Bunuh Diri Politik di Balik Pengarusan Istilah Berbau Moderasi Islam – Muslimah News

  • 19 Februari 2020 pada 07:26
    Permalink

    Begitulah ..Barat senantiasa menciptakan istilah2 baru dan menggunakanny untuk memecahbelah dan memerangi kaum muslimin.
    Umat Islam harus lebih banyak mengkaji agamanya dan menjadikan diri kita sebagai para pejuang agama Allah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *