; IPB Peringkat Satu Dunia Publikasi Internasional Riset Terkait Sawit; Nida Sa’adah: Terlalu Mahal Harga yang Harus Dibayar – Muslimah News

IPB Peringkat Satu Dunia Publikasi Internasional Riset Terkait Sawit; Nida Sa’adah: Terlalu Mahal Harga yang Harus Dibayar

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Ada angin segar dari dunia riset Indonesia. Berdasarkan analisis Elsevier Research Intelligent, Singapura (2020), hasil penelitian sawit terkini berupa jumlah total artikel ilmiah internasional yang terindeks pada pangkalan data bereputasi, Institut Pertanian Bogor (IPB) University berada pada peringkat satu dunia publikasi internasional riset terkait sawit dengan jumlah total artikel ilmiah sebanyak 69. Berada di atas Jerman dan Malaysia.

Riset sawit aktif dilakukan pada berbagai topik utama seperti pertanaman, biodiversitas, lingkungan, sertifikasi, sustainability, sosio-ekonomi, petani kecil, tutupan lahan, dll.

Terkait capaian tersebut, Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, akan terus mendorong upaya peningkatan kualitas riset sawit di Indonesia melalui pendekatan interdisiplin maupun transdisiplin sehingga dampaknya dirasakan penerima manfaat secara berkelanjutan.

Secara khusus, IPB University saat ini juga aktif bekerja sama dengan University of Goettingen (Jerman) dan CIFOR melalui berbagai proyek kerja sama riset seperti OPAL, GCRF-Trade Hub, CRC990-EFForTS dan lain-lain.

Kapasitas yang terbangun melalui kerja sama riset tersebut di antaranya adalah terbentuknya pool of experts, meluasnya international networks, infrastruktur riset lapang, modul training/kuliah, produk inovatif, dan lain-lain. (kumparan, 12/2/2020)

Sayangnya, “angin segar” atau prestasi yang sebetulnya luar biasa jika ditinjau dari perspektif potensi para intelektual di Indonesia, justru menjadi ironi jika dikaitkan dengan alih fungsi hutan dan dampaknya bagi masyarakat setempat. Demikian menurut pakar ekonomi Islam, Nida Sa’adah, kepada MNews, 17/2/2020.

Baca juga:  L98T dan Pertaruhan Reputasi Intelektualitas Kampus

Menurutnya bukan tanpa alasan mengapa hal ini akhirnya dianggap ironis. Apalagi kalau dikaitkan dengan posisi hutan dalam perspektif syariah yang merupakan milkiyyah ammah (milik umum).

“Terlebih lagi jika dikaji dampak peralihan hutan dengan kasus kebakaran yang membahayakan manusia, hewan, tumbuhan, keseimbangan ekosistem,” jelas Ustazah Nida, sapaan akrabnya.

Ustazah Nida bahkan menyebut hal ini sebagai “Terlalu mahal harga yang harus dibayar”.

Di samping itu, para intelektual dengan seluruh potensi keilmuannya, juga akan dihisab di hadapan Allah ta’ala. Di mana segala amal ataupun keilmuan akan dimintai pertanggungjawaban. Ustazah Nida pun membandingkan kondisi ini dengan kondisi ketika peradaban sistem Islam kafah memimpin.

“Peradaban Khilafah Islam sangat memperhatikan potensi para intelektual ini. Memberikan berbagai fasilitas riset yang dibutuhkan agar potensi mereka ini tidak dibajak oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadi,” tukasnya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *