Kerukunan Beragama Tidak Berarti Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Di berbagai daerah, peringatan cap go meh berlangsung meriah. Dari festival lampion, street food, karnaval, dan yang paling ditunggu adalah pertunjukan barongsai. Di Bogor, acara digelar di sepanjang jalan Suryakencana. Di Jakarta, acara dipusatkan di Pancoran yang identik dengan daerah pecinan, dibuka langsung oleh sang gubernur, Anies Baswedan.

Memang, yang hadir di perayaan cap go meh ini bukan semuanya suku Cina. Banyak non-Cina yang hadir, dan sebagian besarnya malah mengenakan kerudung pertanda bahwa mereka adalah muslim.

Para pejabat yang membuka acara, dalam pidatonya selalu menyampaikan bahwa perayaan cap go meh ini adalah bagian dari kerukunan umat beragama, simbol dari persatuan, dan penerimaan terhadap keberagaman.

Di Bogor, acara bahkan dibuka dengan doa bersama lintas agama oleh 6 (enam) pemuka agama. (https://travel.kompas.com/read/2020/02/08/190000527/6-pemuka-agama-buka-bogor-street-festival-cap-go-meh-2020-dengan-doa?page=all).

Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa mengikuti perayaan cap go meh tidak berkaitan dengan peribadatan, hanya sekadar tradisi dan budaya saja. Bahkan ada yang mengatakan menghadiri acara ini tidak akan membahayakan akidah.

Benarkah demikian?

Seorang muslim, ketika melakukan suatu perbuatan, wajib baginya untuk mengikatkan diri dengan hukum syara’, sesuai kaidah alashlu fi alafâl altaqayyudu bi al-hukm al-syar’i (hukum asal dari suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’. Karena itu, kita harus mencari tahu dulu hukum dari menghadiri perayaan ini dari tinjauan dalil-dalil syar’i yang muktabar.

Imlek dan Cap Go Meh: Budaya atau Ritual?

Imlek dirayakan semua etnis Cina beragama Kong Hu Cu maupun Buddha dan juga yang menganut ajaran Tao. Ada beberapa pendapat mengenai asal mula perayaan Imlek. Pertama perayaan Imlek dikaitkan dengan dimulainya musim semi di Cina.

Pendapat kedua yakni awal imlek dikaitkan dengan kisah Giok Hong Siang Tee yang menitis ke muka bumi dan menjadi seorang Raja. Ketiga adalah hari lahirnya Bi Lek Huda atau O Mi To Hud atau A Mi Tou Fo yang berarti Buddha. https://www.republika.co.id/berita/selarung/breaking-history/19/02/05/pmfmm8282-imlek-dan-sejarah-di-baliknya

Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang: Effhar & Dahara Prize, 2003) Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa pandangan Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, adalah suatu kesalahpahaman.

Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagian Gwat Ling, yang berbunyi:

“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia…” (Tiong Yong XV: 1-5). (Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang: Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).

Baca juga:  Survei Provokatif Setara: Jualan Narasi Intoleransi untuk Menyerang Ajaran Islam

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu, dengan menegaskan, “Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).

Sementara Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina.

Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai dewa tertinggi di langit ol

.089.eh Dinasti Han (206 SM – 221 M). https://www.tionghoa.info/sejarah-cap-go-meh/

Bagaimana dengan pertunjukan barongsai? Konon, tarian barongsai dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat. Hantu dan roh-roh jahat seperti Nian (monster) takut dengan suara keras. (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150218122625-269-33073/asal-usul-barongsai-si-pengusir-roh-jahat).

Hal ini merupakan suatu mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekadar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekadar tradisi.

Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek

Berdasarkan dalil-dalil Alquran dan Sunah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, baik dianggap ajaran agama maupun dianggap tradisi, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.

Imam Suyuthi berkata, ”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka...” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut: Darul Kutub Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil Alquran yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT (artinya): “Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS. Al-Furqan: 72).

Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur. Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi).

Baca juga:  Merusak Islam dengan Dialog Antaragama

Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah “tidak menghadiri kebohongan”, bukannya “memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.

Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat (artinya):

“Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 145).

Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka]. Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).

Adapun dalil Sunah, antara lain Hadis Nabi Saw, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadis ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo: Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

Berdasarkan dalil Alquran dan Sunah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dan Cap Go Meh dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai aksesoris lainnya yang serba berwarna merah.

Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan seperti barongsai, festival, dan sebagainya. Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan terlibat merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Alquran dan Sunah.

Baca juga:  Toleransi di Negeri Demokrasi Bagai Mimpi

Syariat Islam Mewujudkan Kerukunan Beragama

Di sepanjang penerapan syariat Islam oleh Daulah Khilafah Islam, tercipta kerukunan beragama yang tak pernah ada sebelum masa Islam. Kaum muslimin saat itu telah menguasai wilayah yang sangat luas. Mereka membebaskan Irak yang penduduknya sangat heterogen. Ada yang beragama Nasrani, Mazdak dan Zoroaster, dan ada pula yang berbangsa Arab dan Persia.

Setelah itu, Persia menyusul. Penduduknya terdiri dari orang-orang non-Arab, Yahudi, dan Romawi, namun mereka memeluk agama yang dipeluk bangsa Persia.

Syam juga jatuh ke tangan para Khulafa’ Rasyidin. Ketika itu, Syam adalah koloni Romawi, berperadaban Romawi dan memeluk Kristen. Penduduknya terdiri dari bangsa Suriah, Armenia, Yahudi, sebagian Romawi. Afrika Utara yang penduduknya Barbar dan di bawah kekuasaan Romawi akhirnya juga jatuh ke pangkuan kaum Muslim.

Menariknya, semua perbedaan itu berhasil dilebur dan diintegrasikan oleh Islam di bawah naungan khilafah. Prinsip “laa ikraha fiddiin” (tidak ada paksaan dalam beragama, QS Albaqarah 256) melahirkan kisah manis kerukunan umat beragama yang direkam dengan indah oleh Will Durant, dalam The Story of Civilization.

Will Durant menggambarkan bagaimana keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi, dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayyah. Will Durant menuturkan, orang-orang yang Yahudi yang ditindas oleh Romawi, membantu kaum Muslim yang datang untuk membebaskan Spanyol. Mereka pun hidup aman, damai, dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M.

Para pemuda Kristen yang dianugerahi kecerdasan pun mempelajari fikih dan bahasa Arab bukan untuk mengkritik atau meruntuhkannya, tetapi untuk mendalami keindahan gaya bahasanya yang luar biasa. Mereka pun membelanjakan banyak uang mereka untuk memenuhi perpustakaan mereka dengan referensi Islam dan bahasa Arab. [Will Durant, Qishat al-Hadharah, juz XIII/296-297].

Hidup berdampingannya tiga agama besar dunia ini secara damai juga digambarkan oleh Maria Rosa Menocal, dalam bukunya Surga di Andalusia (Noura Books, 2015).

Harmoni kehidupan berdampingan dengan nonmuslim seperti contoh-contoh di atas, hanya bisa diwujudkan dengan penerapan hukum Islam. Dalam hukum Islam, siapa pun yang melanggar hak agama lain, apakah dia muslim atau nonmuslim akan mendapatkan sanksi tegas dari negara.

Dengan demikian muslim akan menjaga hak nonmuslim, dan sebaliknya nonmuslim juga menjaga hak muslim, tanpa melihat apakah posisi muslim mayoritas atau minoritas. Ini berarti tidak ada yang perlu ditakuti oleh nonmuslim dari penerapan Islam oleh institusi Khilafah Islamiah.

Kerukunan beragama pun bisa diwujudkan tanpa perlu mencampuradukkan ajaran agama satu dengan lainnya, tanpa perlu menghadiri perayaan agama lainnya, dan tanpa perlu membahayakan akidah masing-masing agama. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *