; Alam Semesta akan Hancur karena Moderasi Islam Produksi Barat – Muslimah News

Alam Semesta akan Hancur karena Moderasi Islam Produksi Barat

Oleh: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Moderasi Islam jelas bukan pilihan untuk mencerahkan alam semesta. Justru alam semesta akan hancur karenanya. Apa yang disebutkan dalam Alquran surah al-Anbiya: 107 bahwa Rasulullah Saw adalah rahmatan lil ‘aalamin atau rahmat bagi seluruh alam adalah karena Islam dan syariat Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, alam semesta akan terjaga dengan baik ketika Islam dan syariat Islam diterapkan dan dilaksanakan dalam seluruh aspek kehidupan. Sementara moderasi Islam justru menolak syariat Islam dijalankan secara sempurna.

Moderasi Islam (wasathiyatul Islam) sekalipun sebenarnya berbeda maknanya dengan Islam moderat (Islam wasathiyah), akan tetapi sudah telanjur dimaknai sama: Islam moderat, yakni Islam yang mengambil sikap kompromis dan jalan tengah, Islam yang berkompromi dengan selain Islam.

Di tataran akidah, Islam moderat berusaha mengompromikan akidah Islam dengan akidah selain Islam. Di tataran syariat, mengompromikan syariat Islam dengan syariat selain Islam.

Dengan demikian, yang dihasilkan jelas bukan Islam yang sebenarnya, melainkan Islam setengah-setengah; Islam yang dipilih untuk mewujudkan sikap toleransi antarbudaya dan/atau antaragama di daerah multikultural.

Atas nama toleransi dan moderasi, umat Islam harus mengakui bahwa semua agama adalah benar. Padahal jelas hal ini menyalahi akidah Islam. Allah berfirman dalam Alquran surah Ali ‘Imran: 19, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam.”

Atas nama moderasi pula berbagai budaya masyarakat tetap dilestarikan sekalipun sangat jelas kesyirikannya. Seperti berbagai upacara larung saji, sedekah bumi, dll.

Baca juga:  Indonesia Pusat Studi Islam Moderat

Moderasi Islam juga mengakibatkan munculnya pernyataan-pernyataan aneh, seperti: “Khilafah adalah ajaran Islam, tapi tertolak di Indonesia karena tidak sesuai kesepakatan para pendiri bangsa”. Lantas, sejak kapan kesepakatan manusia bisa mengalahkan perintah Allah Ta’ala?

Atau pernyataan bahwa haram meniru sistem pemerintahan Nabi, jilbab tidak wajib, boleh memilih penguasa kafir, dll. Jelas-jelas pernyataan yang menyalahi syariat Islam.

Inilah wajah asli Islam moderat, yaitu Islam yang mengakomodasi pemikiran di luar Islam (asing), sehingga semua pemikiran tersebut bisa diterima dan dijalankan bersamaan dengan menjalankan ajaran Islam.

Bahkan, Islam moderat juga berupaya mengompromikan Islam dengan Barat yang kafir. Produk pemikiran Barat kafir seperti sistem demokrasi pun dikompromikan dengan Islam, hingga dikenalkan istilah Demokrasi Islam.

Padahal, jelas keduanya bertentangan secara diametral. Demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum, sementara Islam menjadikan Allah sebagai Pembuat hukum.

Lalu, Islam seperti inikah yang akan menyelamatkan alam semesta?

Jelas bukan! Justru Islam seperti ini telah merusak akidah umat dan menghancurkan Islam dan syariatnya. Islam moderat tidak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam saat khilafah Islam masih tegak dan menerapkan syariat Islam kafah.

Baratlah yang pada awalnya memproduksi pemikiran moderasi atau konsep jalan tengah ini, yang kemudian memaksakan kaum muslimin agar ikut mengadopsinya.

Baca juga:  Poros Wasathiyah dalam Isu Gender

Untuk mendukung pemikiran tersebut, dicari istilah-istilah dalam Alquran hingga “ditemukan” di surah al-Baqarah ayat 143 mengenai “ummatan wasatho” (umat pertengahan) –yang dianggap pas dengan konsep moderasi–. Padahal, tafsir dari ayat ini tidak menunjukkan Islam kompromistis atau Islam jalan tengah.

Mayoritas para mufasir menafsirkan kata “wasath” di ayat tersebut dengan “al ‘adl” (adil) atau “al khiyar” (terbaik dan pilihan). Bisa dilihat di antaranya di tafsir Al Qurthubi dan tafsir Ibn Katsir. Sehingga sikap wasath yang dimaksud dari ayat tersebut bukanlah sikap moderat, kompromistis, dan selalu mengedepankan jalan tengah.

Sikap wasath tidak lain adalah sikap adil, yaitu menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuannya menurut syariat. Sikap wasath juga mencakup sikap memilih yang benar dan sikap melaksanakan dan terikat dengan syariat Islam. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *