; Daulah Nabawiyah ataukah Daulah Khilafah yang akan Tegak Kembali? – Muslimah News

Daulah Nabawiyah ataukah Daulah Khilafah yang akan Tegak Kembali?

Oleh: Wiwing Noeraini

Allah SWT berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (TQS Ash-Shaf: 8).

MuslimahNews.com, FOKUS – Sungguh, apa yang disebutkan di ayat tersebut hari ini nampak nyata ada di depan kita. Berbagai macam cara dilakukan untuk menghalangi kebenaran itu hadir. Ya, Khilafah, janji Allah dan bisyarah Rasulullah Saw itu tak henti hentinya difitnah.

Di antaranya adalah dengan klaim mereka bahwa Khilafah tak akan mungkin tegak kembali karena Negara yang didirikan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah Daulah Nabawiyah yang mustahil tegak kembali.

Daulah Nabawiyah Mungkinkah Tegak Kembali?

Dalam sebuah tulisan di harakatuna[dot]com dikatakan bahwa negara dan pemerintahan Nabi Muhammad saw adalah Daulah Nabawiyah (negara kenabian). Daulah yang sangat istimewa, khas, dan unik; Bukan khilafah, bukan kerajaan, dan bukan republik.

Daulah Nabawiyah dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw yang ma’shum di bawah bimbingan wahyu Ilahi. Dikatakan juga bahwa karena keistimewaan, kekhasan, dan keunikannya, Daulah Nabawiyah hanya ada sekali di muka bumi sampai hari Kiamat. Tidak akan terulang lagi. Daulah ini mustahil bisa diduplikasi, daulah ini mustahil bisa di-copy paste, daulah ini mustahil tegak kembali. (harakatuna, 1/2/2020).

Untuk memperkuat hujahnya, penulis mengatakan bahwa di dalam hadis-hadis tentang periodesasi pemerintahan Islam, masa Nubuwwah selalu disebut pertama kali dan hanya sekali. Artinya Daulah Nabawiyah adalah daulah pertama umat Islam dan hanya eksis sekali selama 10 tahun kepemimpinan Nabi Saw di Madinah.

Dan dalam hadis-hadis tentang akhir zaman pun, tidak disebutkan Daulah Nabawiyah akan tegak kembali. Yang akan tegak kembali itu adalah Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. (harakatuna, 1/2/2020).

Klaim Tanpa Dalil

Apa yang disampaikan oleh penulis [di tautan harakatuna di atas] nampak sekali sebagai sebuah klaim tanpa dalil dan menunjukkan kegagalannya memahami kewajiban tegaknya Khilafah. Justru pendapat penulis tersebut tak menunjukkan kemustahilan tegaknya Khilafah malah memperkuat hujah bahwa Khilafah pasti akan tegak kembali

Daulah Nabawiyah memang hanya sekali, karena daulah ini berakhir dengan meninggalnya Nabi Muhammad Saw. Tidak akan terulang kembali, karena Nabi Saw adalah Nabi terakhir, tidak ada lagi Nabi sepeninggal beliau Saw.

Tapi kalau dikatakan Daulah Nabawiyah mustahil bisa diduplikasi, Daulah ini mustahil bisa di-copy paste, maka ini jelas pemikiran yang batil.

Nabi Muhammad Saw adalah teladan bagi umat manusia. Sehingga Daulahnya pun adalah Daulah teladan bagi umat manusia. Allah SWT berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak mengingat Allah”.(TQS al-Ahzab [33]: 21).

Untuk bisa meneladani dan mengikuti (ittibâ’) terhadap perbuatan Rasulullah Nabi Muhammad Saw, maka harus diketahui status perbuatan beliau itu. Dengan mengetahuinya maka pelaksanaan atas perbuatan beliau (qiyâmu bi fi’li ar-Rasûl) bisa ditunaikan dengan benar.

Disebutkan dalam Kitab Nizhomul Islam bahwa perbuatan Rasulullah Saw dibagi menjadi dua macam yaitu jibiliyah dan selain jibiliyah.

Jibiliyah adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh manusia seperti berdiri, duduk, makan, minum dsb. Tidak ada perselisihan, bahwa status perbuatan tersebut adalah mubah, baik bagi Rasul Saw maupun umatnya. Karena itu tidak termasuk dalam kategori mandub (sunah). (Syekh Taqiyuddin An Nabhani, Nidzomul Islam).

Perbuatan jibiliyah bisa menjadi tasyrî’ bagi kita dan hukumnya sunah jika ada dalil yang menjelaskan kesunahannya, seperti makan dengan tangan kanan.

Sedangkan perbuatan selain jibiliyah dibagi menjadi dua, yaitu yang tergolong khusus sehingga tidak seorang pun boleh mengikuti dan meneladaninya, dan yang tergolong tidak khusus.

Perbuatan yang khusus hanya bagi Rasul, adalah seperti beliau Saw boleh melanjutkan shaum hingga malam hari tanpa berbuka, boleh menikah dengan lebih empat wanita, dsbnya. Perbuatan tersebut khusus bagi beliau Saw, kita tidak boleh mengikutinya. Sedangkan perbuatan yang tidak dikhususkan untuk beliau Saw, tidak ada perselisihan bahwa itu harus diikuti. (Syekh Taqiyuddin An Nabhani, Nizhomul Islam).

Aktivitas Nabi Saw dalam politik dan pemerintahan bukan termasuk jibiliyah dan juga bukan termasuk perbuatan yang dikhususkan bagi Nabi Saw karena tidak ada satu nash pun baik dari Alquran maupun Hadis yang menunjukkan pengkhususannya. Dengan demikian ini termasuk perbuatan Nabi Saw yang wajib kita teladani.

Demikian juga bentuk pemerintahan dan sistem kenegaraan yang dipraktikkan oleh Nabi Saw yang diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dalam wujud Khilafah, adalah wajib kita ambil dan ikuti sebagaimana firman Allah SWT:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (TQS Al Hasyr : 7)

Daulah Itu adalah Khilafah Berminhaj Nubuwwah

Itu sangat jelas disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw:

Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Sahih).

Hadis tersebut mengabarkan bahwa di muka bumi ini akan ada 5 (lima) fase sistem pemerintahan sebagai berikut:

1). Masa pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Saw yang disebut sebagai masa Kenabian. Periode ini berakhir dengan wafatnya beliau;

2). Periode Khilafah berdasarkan Minhaj Nubuwwah. Masa ini dimulai dengan berdirinya kekhilafahan Abu Bakar sampai wafatnya Ali ra. Sebagian ulama memasukkan pemerintahan Hasan bin Ali ke dalam periode ini. Inilah 30 tahun masa khilafah ala minhaj nubuwwah, seperti disebutkan oleh Nabi saw;

3). Periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit). Yaitu setelah kekhilafahan Hasan bin Ali sampai runtuhnya kekuasaan Turki Utsmani menjelang abad ke-20. Awal periode ini adalah akhir periode khilafah rasyidah, atau disebut dalam hadis lain sebagai masa raja-raja. Namun, perlu dicatat bahwa karakter kerajaan ini bersifat global dan tidak menutup kemungkinan adanya raja yang mengikuti sunah dan menerapkan syariat dan jihad fi sabilillah. Seperti yang terjadi pada masa Umar bin Abdul Aziz dan khalifah-khalifah setelahnya. (Majmu’ Al_Fatawa, 35/18);

4). Periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Yaitu sejak runtuhnya dinasti Utsmani sampai hari ini. Mencakup seluruh bentuk pemerintahan di dunia Islam, baik kerajaan, warisan, partai, atau rezim kafir terhadap kaum muslimin; Dan

5). Khilafah berminhaj Nubuwwah.

Rasulullah Saw menamai Daulah pertama sepeninggal beliau dengan sebutan Khilafah sesuai minhaj nubuwwah. Sifat para khalifahnya beliau Saw sebut sebagai Khilafah Rasyidah (lurus) dan mendapatkan petunjuk. Khilafah pada masa ini memperoleh sifat “rasyidah” karena berjalan sesuai minhaj nubuwwah.

Keempat fase tersebut sudah dialami oleh kaum muslimin saat ini, dan Rasulullah Saw menyebutkan adanya fase terakhir (kelima) yaitu Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Sehingga jelas bahwa yang wajib ditegakkan oleh kaum muslimin dan ini juga menjadi bisyarah (berita gembira) dari Rasulullah Saw adalah Daulah Khilafah yang memiliki karakter seperti Daulah Nabawiyah, yang disebut Rasul Saw sebagai sesuai dengan minhaj kenabian (ala minhajin nubuwwah). Tak mungkin apa yang menjadi bisyarah Rasul Saw dianggap sebagai sesuatu yang mustahil ditegakkan.

Jadi, Daulah Nabawiyah memang tak akan tegak, tapi Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah-lah yang akan segera tegak. Insyaa Allah. Wallahu a’lam bishshowab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *