; Meluruskan Pandangan tentang Sunat Perempuan – Muslimah News

Meluruskan Pandangan tentang Sunat Perempuan

Oleh: Ustazah Rohmah Rodhiyah

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Akhir-akhir ini pelarangan sunat perempuan kembali digencarkan. Pelarangan ini mengikuti seruan pegiat gender yang merujuk hasil Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) yang diadakan di Kairo, Mesir pada 1994.

WHO telah melarang praktik sunat perempuan dan dianggap melanggar HAM dengan alasan merusak dan membahayakan organ reproduksi perempuan. WHO dengan tegas mengeluarkan pedoman baru yang mengatakan bahwa mutilasi alat kelamin perempuan merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. (IDN Times, 2018)

Menurut WHO, terdapat beberapa metode yang digunakan dalam sunat perempuan: (1) Clitoridectomy, pemotongan sebagian atau seluruh klitoris, atau selaput di atasnya; (2) Excision, pemotongan sebagian atau seluruh klitoris dan/atau labia minora dengan atau tanpa memotong labia majora; dan (3) Infibulation, mempersempit lubang vagina dengan selaput penutup, dengan memotong atau mengubah bentuk labia majora dan labia minora. Sedangkan klitoris tidak disentuh sama sekali. Tindakan lain yang melukai vagina tanpa tujuan medis. (idntimes.com)

WHO, menyamakan khitan perempuan dengan FGC/ FGM, Female Genital Cutting (FGC) atau Female Genital Mutilation (FGM), yaitu seluruh prosedur yang menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksterna atau melukai pada organ kelamin wanita karena alasan nonmedis.

Female Genital Mutilation/FGM yang merupakan tradisi penyunatan di Afrika ini sangat ekstrem dengan menggunakan silet, pecahan kaca, atau gunting. Penyunatan mencakup pemotongan alat kelamin perempuan. Organ klitoris dan alat kelamin luar dipotong, kemudian dijahit.

Lembaga PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF, mengatakan lebih dari 125 juta perempuan di 29 negara di Afrika dan Timur Tengah menjalani tradisi sunat. Akibat tradisi ini menimbulkan sakit yang luar biasa, pendarahan, perasaan terguncang, dan dapat menyebabkan komplikasi saat melahirkan. (cnnindonesia.com).

Baca juga:  Peran Perempuan di Era Digital, Bukan untuk Kapitalisasi

WHO melarang Female Genital Mutilation/FGM atau sunat perempuan karena praktik khitan yang salah seperti terjadi di Afrika yang memotong hampir seluruh atau seluruh alat kelamin perempuan, berakibat buruk pada kesehatan perempuan. Di samping itu mereka akhirnya tidak bisa merasakan nikmatnya berhubungan suami istri, bahkan merasa kesakitan.

Inilah latar belakang Female Genital Mutilation/FGM dilarang oleh WHO. Negara-negara anggota PBB mengikuti pelarangan tersebut. Praktik sunat perempuan dengan memotong sebagian besar, hampir seluruh atau seluruh alat kelamin, bahkan ada yang dijahit setelah pemotongan.

Khitan Perempuan dalam Islam

Sesungguhnya, praktik seperti itu bukanlah berasal dari Islam. Dalam Islam cara mengkhitan perempuan menurut Imam Al Mawardi adalah memotong sebagian kecil kulit yang menutupi klitoris atau bagian atas farjinya. Kulit bagian atas yang harus dipotong tanpa mencabutnya/tanpa menghilangkan klitorisnya.

Rasulullah memerintahkan kepada tukang khitan perempuan, Ummu ‘Athiyah RA, sebagai berikut:

لاَ تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْل

Jangan berlebihan dalam mengkhitan, karena akan lebih nikmat (ketika berjimak) dan lebih disukai suami.” (HR Abu Dawud).

Dengan demikian jelas praktik sunat perempuan yang salah bukan berasal dari dari ajaran Islam. Oleh karena itu tidak ada alasan mengeneralisir kasus ini, sehingga melarang sunat perempuan secara umum.

Perlu dipahami bahwa semua yang berasal dari ajaran Islam akan membawa kebaikan bagi pelakunya. Karena aturan Islam –termasuk khitan– berasal dari Allah yang menciptakan manusia, tentu Allah yang paling mengetahui dan memahami kebaikan disyariatkan khitan baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Baca juga:  Bagaimana Khilafah akan Menjamin Hak-hak Politik Perempuan

Ulama berbeda pendapat berkaitan dengan khitan bagi perempuan

Pertama, sebagian ulama mazhab Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. mewajibkan khitan baik bagi pria maupun wanita. Dalilnya antara lain QS an Nahl ayat 123:

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.”

Sabda Rasulullah:

إذ ا جاوز الختان الختان فقد وجب الغسل

Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.“ (Hadis sahih diriwayatkan imam Ahmad dalam musnad hadis no. 24709; HR Muslim, Al Hadis 88/ 349; dalam kitab Al Muatha’, Imam Malik, hlm 38).

Sabda Rasulullah:

الق عنك شعر الكفر واختتن

Buanglah rambut kekafiranmu dan berkhitanlah.” (HR Ahmad dalam kitab Muhtashar Nailul Authar/I/98)

Kedua, berkhitan wajib bagi pria dan sunah bagi wanita. Ini pendapat sebagian penganut dan pendukung ulama mazhab Syafii. Mereka berargumentasi tidak ada dalil yang terdapat tuntutan yang tegas atau pasti. Dalil yang yang ada adalah tuntutan tidak pasti/tidak tegas. Dengan demikian, sunat perempuan hukumnya sunah, tidak wajib.

Ulama yang berpendapat khitan perempuan hukumnya sunah juga berargumentasi bahwa Ibnu Taimiyah RA menjelaskan tujuan khitan laki-laki adalah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala penis, dan suci dari najis adalah syarat untuk melakukan ibadah salat.

Sementara tujuan khitan perempuan adalah untuk menstabilkan syahwatnya, karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya sangat besar.” (Majmu’ Fatawa 21/114).

Baca juga:  Ilusi Feminisme Menyelesaikan Permasalahan Kekerasan terhadap Perempuan

Pendapat terkuat soal khitan perempuan

Dari dua pendapat di atas, menurut pendapat saya lebih kuat pendapat yang mengatakan bahwa khitan bagi perempuan hukumnya sunah, karena beberapa hal:

Tidak ada dalil dengan tuntutan yang tegas atau pasti. Dalil yang yang ada adalah tuntutan tidak pasti/tidak tegas. Dengan demikian sunat perempuan hukumnya sunah, tidak wajib.

Hadis sahih:

الق عنك شعر الكفر واختتن

Buanglah rambut kekafiranmu dan berkhitanlah.” Dhamir” كka” pada “عنك” menunjukkan kata ganti laki-laki. Jadi yang diseru berkhitan dalam hadis ini adalah laki-laki.

Ibnu Taimiyah RA menjelaskan tujuan khitan laki-laki adalah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala penis, dan suci dari najis itu syarat untuk melakukan ibadah salat.

Sementara tujuan khitan perempuan adalah untuk menstabilkan syahwatnya, bukan untuk melakukan ibadah wajib, yaitu shalat sebagaimana laki-laki.

Terlepas dari perbedaan ulama tentang hukum khitan bagi perempuan, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa khitan perempuan itu ajaran Islam –ajaran Allah dan Rasul-Nya–. Setiap ajaran Islam pasti membawa maslahat bagi umatnya.

Dengan demikian kesimpulannya bahwa praktik sunat perempuan yang salah, yaitu memotong sebagian besar atau bahkan sampai pada klitorisnya, membahayakan kesehatan perempuan dan menyebabkan kesulitan dalam menikmati berjimak, bahkan sampai membencinya.

Praktik salah ini bukan berasal dari ajaran Islam, karena cara mengkhitan perempuan yang sesuai ajaran Islam hanya memotong sebagian kecil kulit yang menutupi klitoris. Sunat perempuan sesuai ajaran Islam ini tidak membahayakan kesehatan, bahkan untuk kemaslahatan perempuan. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *