Saat Agama Dipandang sebagai Musuh

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, FOKUS – Statement Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila, nampak sangat tendensius dan menyakiti hati umat Islam. (m.detik.com/news/berita/d-4895595/kepala-bpip-sebut-agama-jadi-musuh-terbesar-pancasila)

Betapa tidak? Statement ini terkait dengan kritiknya terhadap realitas di era reformasi yang meniscayakan ormas-ormas memilih Islam sebagai asas organisasi. Padahal menurutnya, Pancasilalah yang harus menjadi asas, bukan Islam. Karena menjadikan Islam sebagai asas, sama halnya dengan membunuh Pancasila secara administratif.

Yudian juga merasa prihatin bahwa belakangan ini ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya adalah kelompok yang membuat ijtima ulama.

Mereka disebutnya sebagai kelompok minoritas yang mengaku-ngaku mayoritas yang ingin melawan Pancasila. Dan ini menurutnya berbahaya.

Sebagai seorang yang menggawangi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sekaligus Rektor di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, tak pantas baginya mengeluarkan statement demikian.

Selain sesat-menyesatkan, statement ini secara tidak langsung telah menempatkan agama Islam sebagai musuh bangsa dan sumber kekacauan di dalam negara.

Di luar itu, menyebut agama sebagai musuh, mengingatkan kita pada pernyataan kalangan sosialis-komunis dan ateis, yang menganggap agama sebagai candu. Sehingga agama, terutama Islam, harus disingkirkan dari kehidupan.

Baca juga:  Indonesia Merindukan Ideologi Islam

Padahal sejatinya, Islam adalah agama politik spiritual. Yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mengajarkan konsep-konsep keimanan, sekaligus menuntun manusia dalam menjalani kehidupan sesuai fitrah penciptaan.

Karenanya, Islam tak bisa ditempatkan vis a vis dengan Pancasila sebagai sebuah falsafah yang mengajarkan nilai-nilai moral. Atau ditempatkan di bawah pancasila. Apalagi disingkirkan atas nama pembumian nilai-nilai Pancasila.

Islam dan Pancasila faktanya memang beda. Islam ada sebelum Pancasila. Bahkan ada sebelum negara Indonesia ini lahir. Kepiawaian Islam dalam mempersatukan kepelbagaian serta kemampuannya memberi solusi atas problem-problem kehidupan sudah teruji sepanjang sejarah peradaban manusia.

Siapa pun tak bisa memungkiri, saat Islam diterapkan secara murni dan konsekuen, dunia diliputi kedamaian, kesejahteraan, dan keamanan. Sebaliknya, saat Islam diabaikan, keadaan berubah menjadi penuh kekacauan, diliputi oleh keserakahan, kezaliman, dan kemaksiatan yang membunuh fitrah kemanusiaan. Penjajahan bahkan menjadi hal yang diniscayakan.

Sungguh, menghadap-hadapkan Islam dengan Pancasila atau melecehkan Islam di hadapan Pancasila, justru bisa kian menguatkan tuduhan bahwa rezim ini adalah rezim anti-Islam. Padahal kekuasaan mereka hari ini, diperoleh dari suara mayoritas umat Islam, meski dengan berbagai dugaan kecurangan.

Semoga para pejabat negara bisa cepat belajar, bahwa bermain-main dengan agama hanya akan mengundang keburukan. Setidaknya umat akan melihat, bahwa kepemimpinan yang tidak tegak atas dasar Islam, sama sekali tak bisa diharapkan bisa membawa kebaikan, apalagi keberkahan.

Baca juga:  Keadilan Islam dan Kegagalan Kapitalisme, dari Keadilan dan Kesejahteraan menjadi Kezaliman dan Kemerosotan

Yang terjadi justru agama dilecehkan, keragaman jadi sumber keterpecahbelahan, kemanusiaan diabaikan, dan bangsa ini kian terjauhkan dari identitas sebagai bangsa pemimpin yang berperadaban. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *