Merusak Islam dengan Dialog Antaragama

Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS – Pada perayaan Natal MPR DPR DPD tahun lalu, ada satu statement yang mengejutkan dari Prof. KH. Nasaruddin Umar. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Nasaruddin Umar menegaskan ajaran Islam menekankan silaturahmi tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia: seperti agama, ras, etnik, suku-bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan lain sebagainya.

Nasaruddin mengutip QS Al-Isra’ ayat ke-70, yang artinya: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam.” Bahwa menurutnya Tuhan tidak menggunakan redaksi: “Allah memuliakan orang-orang Islam” (wa laqad karramna al-muslimin). “Ini artinya siapa pun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia,” katanya (29/1/2020).

Benar-benar yang diucapkan oleh Imam Besar Masjid tersebut menunjukkan kekerdilan diri. Menanggalkan jati diri sebagai seorang muslim yang dimuliakan Allah. Seolah dia lupa dengan ayat Allah: “Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.”

Begitu pula ayat: “‘Kalian (umat Islam) adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan di tengah manusia. Mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Ucapannya (si Imam Besar Masjid) adalah bentuk nyata upaya menjauhkan umat ini dari kemuliaannya (Islam).

Realitas demikian kian menjamur di dunia Islam sebagai bentuk sekularisasi Islam. Para tokoh muslim membungkus sekularisasi tersebut melalui seruan pluralisme agama. Aksi implementasinya melalui interfaith dialogue (dialog antarumat beragama), melibatkan muslim dalam perayaan hari besar nonmuslim, ‘people to people connection lewat pertukaran tokoh agama, mahasiswa, pelajar, dan lain-lain.

Seruan Pluralisme, Seruan Sesat

Meski dibungkus dengan narasi kepedulian akan persatuan bangsa, sesungguhnya statement Sang Imam Besar Masjid Istiqlal kental dengan ajaran pluralisme. Walaupun MUI telah mengeluarkan fatwa haramnya paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme pada 2005, namun wacana pluralisme ini terus digulirkan.

Hal itu tidak lepas dari strategi politik yang dirancang Barat untuk dunia Islam. Menlu AS 2013-2017, John Kerry, menyatakan, “Diplomasi global saat ini adalah dengan melibatkan tradisi agama pada urusan luar negeri (AS)… karena aktor dan insan agama sedang memainkan peran resmi di setiap wilayah di dunia dan pada hampir setiap masalah yang menjadi pusat kebijakan luar negeri AS.”[1]

Tujuannya adalah mencegah ekstremisme agama (Islam) yang menjadi common enemy kafir Barat. Dan sayangnya, dunia Islam –termasuk Indonesia– justru menderaskan pluralisme dan sekularisasi Islam sebagai solusi problem bangsa saat ini.

Pengarusan pluralisme tampak dalam program pembangunan nasional. Untuk mempercepat pencapaian target pembangunan nasional, RPJMN IV tahun 2020-2024 telah ditetapkan enam pengarustamaan (mainstreaming) sebagai bentuk pendekatan inovatif yang akan menjadi katalis pembangunan nasional yang berkeadilan dan adaptif. Salah satu pendekatan inovatif yang dilakukan adalah pengarusutamaan modal sosial budaya.

Baca juga:  Islam dan Penghapusan Kasta

Pengarusutamaan modal sosial budaya dimaksudkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya dan memanfaatkan kekayaan budaya sebagai kekuatan penggerak dan modal dasar pembangunan.

Dua dari enam indikatornya adalah mewujudkan inklusi sosial masyarakat berupa toleransi, kesetaraan gender dan inklusivitas, dan yang kedua mewujudkan kohesi sosial berupa kerja sama, jejaring, aksi kolektif, dan kepercayaan sosial.

Semua itu adalah bahasa-bahasa yang kerap digunakan untuk mengamuflase tujuan sesungguhnya: meniadakan konsep Islam dilibatkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Keseriusan pemerintah dalam mengusung pluralisme juga tampak dengan adanya jabatan utusan khusus Presiden untuk dialog antarumat beragama. Aksi ‘komisi’ ini antara lain adalah usulan dari Pendiri Foreign Policy of Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal.

Dino, diplomat kawakan untuk urusan people to people connection, menjadikan dalih tren memburuknya hubungan pemeluk tiga agama Ibrahim yakni Islam, Kristen, dan Yahudi secara global, sehingga ditawarkannya program 1.000 Abrahamic Circlesa atau 1.000 lingkaran Ibrahim.

Program tersebut memberikan kesempatan pada masing-masing satu pemuka agama Kristen, Islam, dan Yahudi dari tiga negara berbeda selama tiga pekan, untuk saling bertukar pengalaman tinggal di tiga negara asal mereka guna merasakan keberagaman hidup beragama. Satu angkatan penyelenggaraan itu kemudian disebut sebagai satu lingkaran atau one circle.

Dino mencontohkan, “Taruhlah ini tinggal di Cirebon, pesantren, kemudian ramai-ramai seminggu tinggal di rumah dan komunitas pendeta Kristen di New Zealand dan seminggu lagi di Amerika.”

Dengan pengalaman tiga minggu, Dino berasumsi mereka bertemu dengan keluarga dan komunitas dan saling berinteraksi akan timbul suasana persahabatan dan respek yang riil.

Meski dibangun berangkat dari niat peduli terhadap kerukunan umat beragama, bahkan kerukunan antarbangsa, namun senyatanya ide dan program ini adalah program yang berbahaya.

Koneksi intensif antaraktor agama yang berbeda akan lebih memunculkan ‘rasa empati’, merasa menjadi ‘mereka’ (the others) sehingga pelakunya lebih toleran terhadap ajaran agama lain dan tidak mustahil kian mengesampingkan pemikiran Islam. Padahal Islam amat tegas dalam memosisikan “lakum diinukum waliyaddin”.

Program pluralisme seperti ini ini jelas-jelas bentuk pendangkalan akidah. Pandangan pluralisme menyatakan pluralitas (beragamnya) manusia, pendapat, atau agama adalah suatu fakta yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sehingga, agar tidak menimbulkan konflik dan masalah di dalam kehidupan bermasyarakat, tidak boleh ada manipulasi nilai-nilai kebenaran oleh suatu kelompok, agama, atau individu mana pun.

Baca juga:  Upaya Mutilasi Islam atas Nama Deradikalisasi

Menurut pengasong pluralisme, kebenaran itu relatif dari mana kita memandang. Dengan kata lain, mereka katakan bahwa semua pandangan agama bernilai sama. Tidak boleh satu agama dianggap lebih unggul dari yang lainnya. Karena, yang demikian itu dianggap bakal menimbulkan konflik.

Inilah klaim yang dideraskan oleh masyarakat demokratis liberal, sebagai ciri ide Barat sekuler. Apalagi, sejak awal abad ke-21 Barat melihat politisasi ulang agama kembali muncul. Agama kembali memainkan peran penting dalam politik dan peristiwa global saat ini. Selain itu, agama (Islam) dianggap telah digunakan sebagai alat untuk merekrut massa untuk alasan yang salah.

Oleh karena itu, Barat menjadikan dialog antaragama dan lintas agama sebagai alat untuk memainkan peran katalis dan tren masa depan dalam diplomasi budaya.[2] Tentu sasarannya adalah perubahan Islam sebagai agama ideologis, disandingkan dengan Yahudi dan Nasrani sebagai agama besar yang menyebabkan kemunculan sekularisme dan memainkannya dalam politik dunia sejak penandatanganan Perjanjian Westphalia pada 1648 dan kemunculan negara-negara modern di seluruh dunia.

Padahal realitasnya, upaya mempertemukan ketiga agama samawi –Yahudi, Kristen, dan Islam– adalah justru bentuk pengebirian terhadap agama Islam dan menutupi kebenaran. Dalam kitab Yahudi maupun Nasrani sudah diberitakan bahwa akan ada Nabi terakhir yang akan membawa risalah ke muka bumi, yang akan menyempurnakan risalah sebelumnya.

Jelas di sini syariat Islam yang paling sempurna di antara agama samawi yang lain. Jika sekarang dicari titik temu dan kesamaannya, maka akan banyak sekali risalah Islam yang tidak akan masuk irisan di antara ketiganya. Artinya ada banyak hukum Islam yang harus dibuang jika ingin mendudukkan ‘setara’ dan ‘toleran’ dengan agama lainnya.

Islam Mengakui Pluralitas

Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh ranah dan matra kehidupan manusia. Tak ada sekularisme dalam Islam karena semua urusan negara hingga person, publik, dan privat berjalan secara sinergis dan melengkapi, tanpa bertubrukan satu sama lain.

Termasuk dalam memandang realitas keberagaman (pluralitas). Islam tidak antikeberagaman. Islam memandang bahwa kemajemukan masyarakat adalah realitas.

Secara fitrah dan hakiki, masyarakat memang plural. Pluralitas berbeda dengan pluralisme. Secara historis menunjukkan pula bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang plural. Tidak homogen –semua penduduknya beragama Islam-, namun ada juga pemeluk Yahudi dan Nasrani dalam tatanan masyarakat Islam di bawah naungan daulah Khilafah Islamiah. Mereka dibiarkan menunaikan ibadahnya, mereka pun mendapatkan hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara daulah.

Baca juga:  New Zealand dan 'Teror' Islamofobia

Tidak dijumpai dalam masa kekuasaan Islam, pembakaran tempat-tempat ibadah sebagaimana yang terjadi di Minahasa Utara dan beberapa tempat lainnya. Yang demikian dikarenakan terpenuhinya ri’ayah (pengurusan) penguasa terhadap kebutuhan umat, termasuk dalam melaksanakan ibadahnya.

Selain itu juga adanya sikap tegas yang mencerminkan kewibawaan penguasa dalam menindak setiap pelaku penodaan dan pelecehan agama. Sehingga tidak muncul penodaan agama sebagai cerminan masyarakat yang sakit.

Cukuplah kisah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab sebagai bukti atas hal itu. Umar bin Khaththab ketika beliau membuka Mesir, mayoritas penduduk Mesir beragama Kristen Koptik. Amr bin Ash diutus untuk ekspedisi ini.

Ketika itu negeri Mesir tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Ketika Amr bin Ash masuk kota Mesir, masyarakat tengah dihantui oleh pengumuman pemerintah yang isinya:

“Barang siapa menemukan kepala Paus Kristen ortodoks di Mesir, akan diberi hadiah oleh kaisar Romawi”. Lalu Amr bin Ash berkata, “Kepada Paus Kristen Koptik, Anda jangan khawatir. Kami akan melindungi Anda dan kaum Anda. Anda bebas melaksanakan agama Anda tanpa harus takut kepada siapa pun.” 

Dengan pengumuman inilah, akhirnya berduyun-duyun penduduk Mesir masuk Islam. Bahkan Paus pun ikut membantu kaum muslimin menaklukkan Romawi. Inilah fakta sejarah.

Oleh karenanya, adalah suatu kebohongan yang terus disuarakan oleh musuh-musuh Islam, bahwa penerapan syariat islam akan men-’Suriahkan Indonesia’, akan menimbulkan perpecahan, dan sebagainya.

Fatalnya, kaum muslimin yang dangkal pemahamannya akan Islam, menelan saja kebohongan yang ada. Akhirnya yang muncul adalah fobia kaum muslimin terhadap agamanya sendiri.

Saatnya kaum muslimin sadar akan mulianya Islam dan sempurnanya Islam sebagai solusi bagi kehidupan. Di satu sisi juga perlu dibangun kewaspadaan terhadap pemikiran yang bertujuan ingin menjauhkan umat ini dari Islam, sunah rasul-Nya, dan aturan-aturan (syariat-Nya).

Tak jarang pemikiran sesat yang ditawarkan tersebut ”kelihatan” berdalil ataupun rasional, namun ujungnya mengajak untuk mengikuti nilai-nilai kufur. Bentuk makar para pembenci Islam akan semakin beragam.

Namun yakinlah, bahwa makar Allah jauh lebih besar.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal [8]: 30). [MNews]

[1] http://blogs.state.gov/stories/2015/09/05/toward-better-understanding-religion-and-global-affairs#sthash.YxlLRPwJ.dpuf

[2] https://www.researchgate.net/publication/318213453_The_Role_of_Interreligious_and_Interfaith_Dialogue_in_the_Post-Secular_World

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *