; Kosmopolitanisme Islam, Satu Lagi Upaya Memoderasi Islam – Muslimah News

Kosmopolitanisme Islam, Satu Lagi Upaya Memoderasi Islam

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Satu tulisan di nu.or.id tentang Kosmopolitanisme Islam, menarik untuk dicermati. Penulisnya adalah Fahri Hilmi, mahasiswa KPI UIN Suka Yogyakarta. Mengapa menarik? Karena istilah kosmopolitanisme Islam belum familiar di tengah umat, namun sebenarnya sudah sejak lama diaruskan sebagai satu prinsip dalam moderasi Islam yang digagas Gus Dur.

Sekalipun belum familiar, namun gagasan tentang kosmopolitanisme Islam ini ibarat bisa ular yang bila telah menyebar akan membawa efek mematikan pada Islam. Maka memenggalnya sebelum terlambat adalah solusinya.

Makna Kosmopolitanisme Islam

Penulis memaparkan, secara bahasa, kosmopolit berakar dari dua kata, yakni kosmo (dunia) dan polit (warga). Artinya, gagasan ini bermakna prinsip kewargaan dunia yang tak berbatas pada identitas-identitas sempit individual (agama, ras, etnik, negara, dll).

Kosmopolitanisme dan Islam memiliki substansi rasionalitas yang tidak jauh berbeda antara keduanya, yakni kemanusiaan. Dalil yang disampaikan penulis adalah hadis Nabi Muhammad saw yang mengatakan secara eksplisit untuk tidak menaruh batas-batas yang didasarkan pada identitas individual yang sempit.

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah. Kecuali dengan takwanya.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Kosmopolitanisme Islam inilah yang menurut Gus Dur akan menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka dan tidak kering. Gus Dur dalam esainya berjudul “Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama” (Majalah Aula: Risalah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, No. 5/1985: 23-32) mengatakan bahwa untuk duduk setara dengan ideologi-ideologi dunia, Islam mesti mau menyerap pemahaman dan pemikiran yang positif dari luar sehingga dapat terwujud relevansi.

Kemauan serap-menyerap ini, menurut Gus Dur, telah menjadi watak asli dari agama Islam. Prinsip “al-muhafadhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (melestarikan hal lama yang masih bagus dan menyerap hal baru yang lebih bagus) menjadi landasan dari lahirnya pemahaman tersebut. (https://www.nu.or.id/post/read/115444/kosmopolitanisme-dan-daya-serap-islam)

Bahaya Ide Kosmopolitanisme

Sekilas, apa yang ingin dituju kosmopolitanisme Islam tampak bagus, menuju agama yang berkemajuan dan mampu menjawab persoalan-persoalan kekinian secara kontekstual. Dengan begitu, Islam akan menjadi agama yang begitu dekat dengan para pengikutnya (ibid.).

Namun di balik gagasan ini, ada opini yang hendak menyimpangkan kebenaran. Islam diposisikan sebagai agama yang masih memiliki kekurangan, tidak mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga dianggap perlu untuk mengadopsi nilai-nilai dari luar melalui “daya serap”-nya.

Bila opini ini diterima oleh umat, maka akan menjadi legitimasi untuk mengambil nilai, pemikiran, atau aturan hukum dari luar Islam. Yang berbahaya, bila apa yang diambil dari luar Islam adalah hal yang bertentangan dengan Islam, diambil hanya karena ada persamaan “kulit”-nya.

Sebagai contoh, dalam tulisan berikutnya Fahri Hilmi mengangkat kesetaraan gender. Ia mengatakan:

“Islam harus menerima kesetaraan gender karena gagasan ini menjadi salah satu agenda dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam semasa perjuangan Islam awal. Hanya saja, saat itu tidak dipakai istilah feminisme atau gender karena kedua istilah itu berasal dari Barat. Akan tetapi, rasionalitas yang ditawarkan oleh feminisme identik dengan Islam, terutama berbicara mengenai kemanusiaan. Berbasis pembacaan demikian, wacana feminisme dan kesetaraan gender mestinya dapat diterima dengan baik dalam ajaran Islam, karena memuat substansi perjuangan yang kembar dan identik.” (https://www.nu.or.id/post/read/115676/islam–kosmopolitanisme–dan-kesetaraan-gender).

Inilah sebenarnya yang dituju oleh ide kosmopolitanisme Islam, agar umat Islam mau menerima masuknya ide-ide asing dalam kehidupan mereka. Bagaimana mungkin feminisme bisa dikatakan merupakan perjuangan Rasulullah saw?

Rasulullah saw tidak memperjuangkan hak perempuan untuk menjadikannya sama dengan laki-laki, tapi menjadi solusi atas persoalan yang terjadi. Sementara feminisme itulah yang paling getol menolak syariat Islam.

Mereka menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, menolak haramnya perempuan jadi pemimpin negara, menolak pembagian warisan laki-laki dan perempuan 2:1, menolak jilbab dan menutup aurat, menolak hukum khalwat dan safar bagi perempuan, dan menolak banyak hukum-hukum Islam lainnya.

Islam Agama yang Sempurna

Manusia, di masa lampau maupun sekarang, atau di masa yang akan datang, hakikatnya adalah manusia yang sama dengan seluruh potensi kehidupannya. Allah telah memberikan mereka akal, kebutuhan jasmani, dan naluri. Pemenuhan kebutuhan dan naluri ini juga sama dari waktu ke waktu. Yang berbeda hanya cara dan sarana pemenuhannya.

Islam datang dengan seperangkat pemikiran dan aturan-aturan yang lengkap mengatur bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dan menjalani kehidupannya. Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Mafahim Islamiyah mengatakan, tidak dibolehkan, bahkan haram apabila dikatakan “sesungguhnya ada satu perkara dari sejumlah perkara yang tidak memiliki hukum dalam Islam” karena Allah SWT berfirman,

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.(QS. Al Maidah: 3).

Dan firman Allah:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(QS An Nahl: 89).

Apabila kaum muslimin tidak menemukan hukum suatu benda atau perbuatan pada dalil-dalil syara’, maka itu bukan karena kekurangan Islam, melainkan karena kelemahan dan kekurangan mereka dalam usaha menggali hukum (istinbath) (Abdullah, M.H, 2002, Mafahim Islam, Al Izzah, Bangil).

Untuk menyelesaikan problematik manusia, Islam telah memiliki aturan-aturan yang jitu karena memang berasal dari Sang Pencipta. Islam tidak butuh menyerap nilai atau aturan yang lain. Cukup dengan Islam sebagaimana firman Allah:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS Ali Imran: 85).

Dalam Islam, manusia diharuskan untuk mempelajari fakta dan problematik yang terjadi, lantas mencari hukum Allah yang berkaitan dengan itu dengan melakukan penggalian hukum dari dalil-dalil yang muktabar, yakni Alquran, Sunah, dan apa yang disahkan oleh keduanya.

Bukan sebaliknya, berbagai fakta dan problema yang ditemui lantas dijadikan sebagai hukum, yang Islam harus mau menerima dan memasukkan ke dalam ajarannya.

Paradigma Islam dalam mencari solusi atas persoalan manusia ini tidak lantas berarti Islam menolak segala sesuatu dari luar. Namun Islam menjadi standar untuk menilai apakah yang berasal dari luar tersebut bisa diterima atau tidak. Jika sesuai maka bisa diambil namun bila tidak harus kita tinggalkan.

Sains dan teknologi misalnya, ketika tidak kita jumpai dalil yang melarangnya, maka hukumnya menjadi mubah. Namun bila digunakan untuk yang haram, hukumnya juga menjadi haram berdasarkan kaidah “sarana yang mengantarkan kepada suatu yang haram hukumnya adalah haram”. Maka sains dan teknologi bisa diterima oleh muslim dan digunakan untuk membangun kehidupan madaniah (fisik) mereka.

Berbeda halnya dengan kesetaraan gender dan feminisme. Ide ini jelas pertentangannya dengan Islam. Islam memuliakan perempuan, tetapi bukan dengan menjadikannya memiliki kedudukan yang sama persis dengan laki-laki seperti yang dituntut feminisme. Secara fitrah, perempuan berbeda dengan laki-laki sehingga memerlukan aturan-aturan yang berbeda.

Untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, Islam memiliki metode yang khas, yakni ijtihad. Ijtihad adalah mengerahkan segenap daya upaya untuk mengetahui hukum syara’ dari suatu benda atau perbuatan. Bila ijtihad ini berjalan di tengah umat, maka tidak ada problem yang muncul kecuali Islam memiliki solusinya.

Namun yang perlu dipahami, ijtihad ini diambil dari sumber-sumber hukum yang diakui oleh Islam seperti Alquran, hadis dan apa yang dibangun di atas keduanya. Yang bisa melakukan ijtihad adalah orang yang memiliki kapabilitas seperti memahami Alquran, hadis dan ilmu-ilmu yang terkait dengan keduanya, memahami ushul fikih, memahami bahasa Arab, dan ilmu-ilmu penunjang lainnya.

Dengan demikian, tidak boleh seseorang berijtihad hanya semata-mata berdasarkan akal dan logika. Begitu pun memasukkan nilai dan aturan seperti budaya dan hukum lain ke dalam Islam, kecuali bila ijtihad yang dilakukan memang tidak menemukan adanya dalil yang mengharamkan.

Terkait dengan kaidah “al-muhafadhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (melestarikan hal lama yang masih bagus, dan menyerap hal baru yang lebih bagus), hal ini bisa diterapkan pada hal-hal yang mubah hukumnya. Namun apa yang sudah diwajibkan oleh Allah, tentu tidak bisa distandar dengan bagus atau tidak bagus.

Hukum potong tangan bagi pencuri misalnya (QS Al Maidah: 38), tidak bisa dianggap buruk dan yang lebih baik adalah dipenjara sehingga hukum ini ditinggalkan. Apa yang disyariatkan Allah, itulah yang terbaik bagi manusia dan wajib diambil selama kita mengaku sebagai seorang muslim. Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.(QS Al Maidah: 48).

Demikianlah, Islam itu luas tanpa perlu diluas-luaskan dengan muatan dari luar. Islam mampu menyesuaikan diri dengan zaman tanpa perlu memasukkan pemikiran dan aturan baru dari luar.

Tinggal umat Islam mengusahakan untuk terbentuknya generasi mujtahid, yang akan terus menggali hukum Islam dan menjadikannya sebagai solusi bagi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan manusia. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *