; Infeksi Viral Virus Corona di Bawah Negara Impoten – Muslimah News

Infeksi Viral Virus Corona di Bawah Negara Impoten

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Jumlah korban meninggal dunia akibat virus corona tipe baru atau novel coronavirus (2019-nCov) Wuhan atau 2019-nCoV masih terus bertambah. Pihak otoritas Cina mengumumkan pada Kamis (30/1/2020), tidak kurang dari 170 orang meninggal dunia karena terinfeksi virus corona dengan kenaikan sebesar 29 persen dari hari sebelumnya.

Akibat virus ini, akses menuju Wuhan dan 16 kota di sekitarnya telah ditutup, sehingga membuat 50 juta orang terisolasi.

Sementara itu, jumlah korban terjangkit virus yang masih satu keluarga besar dengan SARS dan MERS ini sudah mencapai 7.711 kasus di seluruh dunia telah terinfeksi virus corona, bertambah sebanyak 1.737 kasus baru dalam sehari.

Sebagai perbandingan, ada 8.098 kasus SARS yang dikonfirmasi antara November 2002 hingga Juli 2003 dengan 774 orang meninggal selama wabah tersebut.

Kasus yang dicurigai di Tibet telah dikonfirmasi, yang berarti virus telah seluruhnya menyebar ke 31 provinsi daratan Cina, kota, dan daerah otonom. Otoritas kesehatan mengatakan bahwa selain kasus-kasus yang sudah dikonfirmasi, ada lebih dari 9.000 kasus yang diduga secara nasional.

Sejak pertama kali diumumkan pada 31 Desember 2019, berdasarkan data terakhir yang dilansir dari CNN hari ini Kamis (30/1/2020) penyebaran terus bertambah ke 20 negara dengan 100 kasus yang dikonfirmasi. India dan Filipina untuk kasus terbaru.

Kasus infeksi Corona yang ditemukan di sejumlah negara ASEAN lain, juga Australia, semua merujuk pada turis asal Cina.

Meski Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah virus corona novel kini berstatus gawat darurat dan menjadi perhatian dunia pada Jumat (31/1/2020), akan tetapi WHO menyatakan sampai saat ini belum diperlukan larangan bepergian ke Cina akibat merebaknya wabah virus corona.

Tanpa Gejala yang Jelas

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengatakan Virus Corona menular bahkan dalam masa inkubasinya yang berlangsung hingga 14 hari dengan kemampuan menyebar yang semakin kuat.

Beberapa gejala yang dikeluhkan oleh mereka yang terinfeksi virus corona 2019-nCoV mirip dengan gejala coronavirus yang lain. Umumnya pasien akan mengeluhkan sejumlah gejala seperti suhu tubuh tinggi, batuk kering, napas pendek atau kesulitan bernafas.

Namun, melansir dari South China Morning Post penelitian baru pada virus corona Wuhan menemukan, virus mungkin hidup pada individu tanpa gejala yang jelas (infeksi asimptomatik).

Kasus-kasus samar pneumonia berjalan disebutkan dalam laporan itu, mungkin adalah sumber yang diduga menyebarkan wabah.

Terkait dengan adanya pneumonia berjalan ini, peneliti mengingatkan perlunya pelacakan orang-orang yang sudah melakukan kontak dengan pasien untuk mencegah jumlah kasus yang ada menyamai wabah SARS 2003. Sehingga perlu penelitian lebih lanjut mengenai signifikasi epidemiologis dari kasus-kasus tanpa gejala itu.

Baca juga:  Virus Corona Mengganas, Ekonomi Indonesia Terimbas

Evakuasi Warga

Beberapa negara terus melakukan usaha evakuasi warganya dari Wuhan. Sejauh ini, Jepang, Amerika Serikat, hingga Perancis, telah memulangkan secara massal warganya dengan mengirim pesawat-pesawat sewaan.

Jepang melaporkan, sejauh ini sudah mengevakuasi 206 warganya dari Wuhan. Mereka semua langsung dibawa ke sebuah rumah sakit khusus untuk penyakit infeksi di Tokyo.

Sebuah pesawat AS yang mengangkut 240 penumpang, termasuk kalangan diplomat dan pengusaha, telah mendarat di Alaska dan sedang dalam perjalanan ke sebuah pangkalan militer di California selatan.

Mereka ditangani di lokasi terpencil dan diskrining di terminal Bandara Internasional Anchorage, yang saat ini tidak digunakan oleh pesawat komersial dan tidak diakses oleh publik.

Prancis akan mengirimkan sebuah pesawat ke Wuhan pada Kamis (30/1/2020) untuk memulangkan antara 500 hingga 1.000 warganya. Penerbangan berikutnya sedang direncanakan.

Begitu pula dengan Inggris, sebanyak 200 warganya akan diterbangkan segera dari Wuhan pada Kamis (30/1/2020). Mereka kemudian akan ditempatkan di karantina selama dua pekan, kemungkinan di sebuah pangkalan militer.

Australia saat ini bekerjasama dengan AS, Inggris, dan Selandia Baru untuk melakukan operasi evakuasi gabungan. Kebanyakan negara Asia masih menunggu konfirmasi.

Pemerintah Abai

Sementara itu, pemerintah Indonesia cenderung lamban. Hingga Rabu (29/1/2020), baru memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di Provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang itu. Begitu pula untuk urusan logistik baru akan dicarikan solusi 4-5 hari setelahnya.

Adapun Menteri Kesehatan Terawan Agung Putranto, hanya mengimbau WNI, terutama yang berada di Wuhan tidak stres. Dia menyebut virus corona bersifat swasirna. Artinya, pasien terjangkit corona bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuhnya cukup baik.

Padahal, isolasi corona picu harga naik berlipat dan sejumlah pedagang memilih menutup toko mereka. Walhasil, WNI yang mayoritas mahasiswa juga alami kesulitan dan kekurangan pasokan makanan dengan gizi seimbang dan logistik.

Penyebaran virus corona yang semakin luas tak membuat pemerintah membatasi wisatawan Cina ke Indonesia. Terbukti, pemerintah hanya penutup penerbangan langsung ke Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, kota pertama yang terjangkit virus corona.

Di luar Kota Wuhan, Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan travel advisory. Menurut Wapres Ma’ruf Amin, dari daerah Tiongkok lain itu masih sifatnya lampu kuning, belum lampu merah.

Baca juga:  Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 1/4]

Namun sebenarnya pembatalan tersebut terjadi karena ekses kebijakan isolasi yang ditetapkan oleh pemerintah Cina, selanjutnya diikuti oleh maskapai penerbangan, bukan berawal dari Kementerian Perhubungan sendiri.

Di sisi lain, Wakil Menteri Parekraf Angela Tanoesoedibjo mengatakan, tahun lalu terdapat sebanyak kurang lebih 1,9 juta wisatawan dari Cina. Meski begitu, hingga saat ini pihaknya masih dalam proses perhitungan berapa potensi devisa jika wisatawan dari Cina berkurang.

Di media sosial banyak netizen meminta pemerintah untuk sementara menolak kedatangan warga Cina ke Indonesia karena khawatir penularan virus corona. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Achmad Yurianto, malah meyakinkan bahwa virus bisa dicegah tanpa harus ada penolakan.

Meski sampai saat ini mekanisme penularan yang sesungguhnya belum diketahui, namun Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa pemerintah tetap tidak menutup seluruh produk impor pertanian dari Cina. Pemerintah hanya melakukan pengetatan impor dengan pengawasan di pintu-pintu masuk barang impor seperti bandara dan pelabuhan.

Solusi Islam Atasi Wabah

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai Dien yang lengkap dan alternatif ideologis dari sistem dunia yang impoten dan menindas saat ini. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina. Rasulullah saw. kita tercinta bersabda,

إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا منها

“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad saw. untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi saw. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa.”

Di masa Khalifah Umar bin Khaththab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya.

Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan.

Baca juga:  Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 2/4]

Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Khalifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

“Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu,” ujar sesepuh Quraisy sebagaimana dikutip dalam buku Pesona Akhlak Nabi, (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Namun di antara rombongan, Abu Ubaidah bin Jarrah masih menyangsikan keputusan Khalifah. “Kenapa engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?” ujarnya.

Umar pun menjawab, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah melarikan diri dari ketentuan Allah melainkan untuk menuju ketentuan-Nya yang lain.

Keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan pun semakin yakin saat mendapatkan informasi dari Abdurrahman bin Auf. Bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit.

Begitu pun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya. Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.

Karena itu, jika ada wabah khilafah akan mengarantina tempat itu dan mengirim obat-obatan dan kebutuhan kesehatan, logistik lainnya segera.

Para ilmuwan di bawah khilafah akan didorong untuk menemukan obat dan perawatan baru melalui penelitian dan pengembangan. Inisiatif cepat akan diambil untuk menemukan obat tanpa mencari keuntungan.

Negara Khilafah akan memastikan perawatan kesehatan terbaik dan gratis untuk setiap warga negara terlepas dari kaya dan miskin, ras atau agama, mereka menikmati perawatan kesehatan berstandar tinggi bersama.

Melalui kembalinya khilafah, orang dapat diselamatkan dari wabah seperti wabah virus corona ini, karena dalam sistem ini, khalifah akan mengambil tanggung jawab setiap orang di pundaknya sebagai kewajiban dari syariat demi mencari keridaan Allah Swt.

Dia akan selalu khawatir jika mengabaikan tanggung jawab ini karena takut menghadapi pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah Swt. Rasulullah (saw) bersabda,

مَا مِن أَمِيرٍ يَلِي أُمورَ المُسلِمينَ، ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُم ويَنْصَحُ لهُم؛ إلَّا لَم يَدخُل مَعَهُمُ الجَنَّةَ

“Siapa pun yang bertanggung jawab atas urusan umat Islam, dan menarik diri tanpa menyelesaikan kebutuhan, kemiskinan, dan keinginan mereka, Allah menarik diri-Nya pada Hari Pengadilan dari kebutuhan, keinginan, dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *