Pasar Daging Hewan Liar Pusat Wabah Corona, Mana Suara Pegiat Animal Welfare?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI Kasus wabah corona di Cina menjadi buah bibir global. Sejumlah media memberitakan bahwa wabah tersebut bersumber dari pasar daging hewan liar di Wuhan, Cina. Di pasar tersebut, dijual daging dari berbagai hewan seperti kelelawar, ular, hingga musang dan serigala.

Alur ini tidak akan membahas keharaman daging hewan-hewan tersebut. Akan tetapi, ingin mempertanyakan, ke mana para pegiat animal welfare ketika hewan-hewan tersebut disantap dengan bebas dan nikmat di Cina? Apakah karena Cina adalah negara komunis sehingga animal welfare atau bahkan human welfare, tidak berlaku?

Dan bukankah para pegiat animal welfare itu malah seringkali mencari-cari kesalahan umat Islam saat melaksanakan prosesi penyembelihan hewan kurban karena dianggap melanggar animal welfare?

Padahal menyembelih hewan kurban adalah syariat Allah Swt dan juga dicontohkan oleh Rasulullah saw. Apakah kita hendak menuduh Allah dan Rasul-Nya melakukan penyesatan kepada umat Islam hanya karena kita terjebak dengan konsep animal welfare?

Baiklah, coba kita ulas tentang animal welfare ini.

Animal welfare atau kesejahteraan satwa adalah suatu keadaan fisik dan psikologi hewan sebagai usaha untuk mengatasi lingkungannya. Berdasarkan UU No.18 tahun 2009, Animal Welfare adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Animal welfare memiliki tiga aspek penting yaitu: 1. welfare science, 2. welfare ethics (etika), dan 3. welfare law (hukum). Welfare science mengukur efek pada hewan dalam situasi dan lingkungan berbeda, dari sudut pandang hewan. Welfare ethics mengenai bagaimana manusia sebaiknya memperlakukan hewan. Welfare law mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.

Baca juga:  Perselingkuhan Ekonomi di Balik Pengesahan Perppu Corona

Animal welfare berbicara tentang kepedulian dan perlakuan manusia pada masing-masing satwa, dalam meningkatkan kualitas hidup satwa secara individual.

Sasaran animal welfare adalah semua hewan yang berinteraksi dengan manusia di mana intervensi manusia sangat memengaruhi kelangsungan hidup hewan, bukan yang hidup di alam.

Dalam hal ini adalah hewan liar dalam kurungan (lembaga konservasi, entertainment, laboratorium), hewan ternak dan hewan potong (ternak besar/kecil), hewan kerja dan hewan kesayangan.

Cara untuk menilai kesejahteraan hewan dikenal dengan konsep “Lima Kebebasan” (Five of Freedom) yang dicetuskan oleh Inggris sejak tahun 1992. Lima unsur kebebasan tersebut adalah: 1. Bebas dari rasa lapar dan haus; 2. Bebas dari rasa tidak nyaman; 3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit; 4. Bebas mengekspresikan perilaku normal; 5. Bebas dari rasa stres dan tertekan.

Secara khusus, dalam kaitannya dengan pasar hewan liar di Wuhan ini, ternyata jika terjadi pengabaian lima faktor kebebasan pada hewan liar dalam kurungan akan berdampak buruk pada kesejahteraan hewan dan memicu stres, yang pada akhirnya menjadi penderitaan berkepanjangan bagi hewan tersebut dan tentu kesejahteraannya pun akan semakin buruk.

Pasalnya, pada hewan liar gejala penyakit akan muncul pada saat kondisi sudah parah sehingga treatment lebih susah dilakukan. Bahkan bukan hanya hewan yang akan menderita.

Jika mata rantai penderitaan satwa ini tidak diputus maka tidak terkecuali manusia pun dapat terkena dampaknya. Ini karena kesehatan hewan berpengaruh langsung pada kesehatan manusia. Oleh sebab itu, kesehatan manusia amat erat kaitannya dengan kesejahteraan hewan.

Stres ini menyebabkan hewan akan rentan terhadap penyakit, terutama zoonosis. Zoonosis adalah penyakit menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Zoonosis sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 60 persen penyakit baru yang menyerang manusia selama sepuluh tahun terakhir disebabkan oleh patogen melalui zoonosis ini.

Baca juga:  Waspadai Jeratan Utang IMF Bernama “Corona Loan”

Beberapa contoh penyakit zoonosis antara lain TBC, hepatitis, salmonellosis, anthrax, leptospirosis, toxoplasmosis, flu burung, dan rabies. Zoonosis sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang, dan oleh karena itu pencegahannya perlu mendapat prioritas melalui penegakan upaya nasional untuk menjamin kesehatan hewan dan manusia.

Jadi, berdasarkan uraian ini, tak heran jika virus corona begitu mewabah di Wuhan. Terlebih, karena memang daging hewan yang dipasarkan itu, bukan berasal dari hewan yang disyariatkan halal oleh Allah. Ini tentu berbeda dengan kondisi hewan qurban yang disembelih. Ada syariat Allah yang harus dilakukan sebelum dan saat proses penyembelihan sehingga daging kurban adalah daging terbaik.

Firman Allah Swt:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ⑶.

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya ⑷.” (TQS Al-Maidah [5]: 3-4).

Baca juga:  [Editorial] Khilafah dan Corona, Apa Hubungannya?

Dalil mengenai keharaman memakan daging hewan bertaring, hewan liar, atau hewan buas, juga sudah jelas terperinci dalam sejumlah hadis.

Yang jangan alpa untuk kita kritisi terkait dengan animal welfare, adalah bahwa dalam Islam juga disyariatkan untuk memelihara kesejahteraan hewan. Tapi menyembelih hewan kurban bukanlah termasuk pelanggaran animal welfare, karena perintah Allah SWT tentang kurban juga sudah jelas, tidak ada perdebatan. Jadi tidak perlu juga untuk dicari-cari kesalahannya.

Terkait dengan kisah bahwa Islam mensyariatkan kesejahteraan hewan adalah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. Beliau ra pernah berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’”

Demikianlah ketika Islam berjaya menjadi solusi tuntas bagi permasalahan kehidupan. Tidak setengah-setengah memberikan penyelesaian. Tidak pula berstandar ganda sebagaimana paradigma pegiat animal welfare selama ini.

Bahwa untuk perkara penyembelihan hewan kurban, mereka begitu sibuk mengusik tanpa argumentasi syar’i. Tapi ketika daging hewan liar bebas diperjualbelikan seperti di pasar Wuhan, mereka diam tanpa suara, padahal aktivitas mengonsumsi daging hewan liar jelas diharamkan.

Di samping itu, ternyata daging hewan liar memang potensial menularkan zoonosis kepada manusia. Ini jelas menunjukkan bahwa daging tersebut sudahlah tidak halal (haram), tidak thoyyib pula. Tapi para pegiat itu tak jua keluar suara kritisnya. Sikap mereka mengkritik Islam, sungguh merupakan standar ganda yang picik, bentuk sentimen terhadap syariat Islam. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *