[Editorial] Menakar Kebenaran dengan Tafsir (Kaum) Liberal

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Statement Sinta Nuriyah dan Alissa Wahid soal “jilbab tak wajib” sebetulnya bukan perkara baru. Ibu-anak ini hanya mengulang narasi lama yang dulu sempat dilontarkan Gus Dur, sang Bapak, dan Quraisy Shihab yang bahkan menyebut jilbab hanyalah budaya Arab.

Tak perlu heran. Selama ini mereka memang dikenal sebagai kelompok pemikir liberal. Bangga menyebut diri kaum pluralis. Sekaligus menganut paham relativisme yang tak percaya bahwa kebenaran mutlak itu benar-benar ada.

Pun dalam soal tafsir teks agama. Orang-orang seperti mereka berkeyakinan, teks agama yang ada dalam Alquran itu jenisnya ada dua. Satu, yang ada di Lauhil mahfudz sana. Dua, yang sudah turun ke dunia.

Kata mereka, Alquran yang ada di lauhil mahfudz, itulah yang disebut kalamullah. Posisinya seperti corpus tertutup yang tak bisa diotak-atik dan mutlak benarnya.

Sementara yang sudah turun ke dunia adalah corpus terbuka. Tak steril dari persepsi pembawanya. Bahkan bisa ditafsir bebas merdeka, sesuai apa yang mereka sebut sebagai interpretasi makna alias hermeneutika.

Karenanya, mereka dikenal selalu mengedepankan konteks sosio historis daripada makna teks. Sampai-sampai, nyaris semua nas yang bicara soal hukum ditafsir dengan kacamata “konteks” ini.

Lalu mereka pun membedakan istilah syariah dan fiqhiyyah. Menurut mereka, syariah adalah hukum yang mutlak kebenarannya, tapi (berarti) hanya ada sebagai ilmu belaka. Sementara aspek fiqhiyah bisa berubah, karena menyangkut amal hamba yang hidup di tempat dan masa berbeda-beda dan menuntut kontekstualisasi yang berbeda pula.

Kredo ini pun terepresentasi dalam kaidah fikih ala mereka: Laa yunkaru taghayyurul ahkaam, bi at-taghaayuri az-zaman. ‘Tak bisa diingkari, hukum berubah karena berubahnya zaman.’

Dan untuk mendukungnya, mereka pun mengembangkan metode tafsir dan ijtihad yang berbeda jauh dengan metode tafsir dan ijtihad yang sudah dikenal dalam khazanah ilmu-ilmu Islam.

Istilah qath’i dan dzhanni misalnya, mereka beri pemaknaan baru. Qath’i diartikan sebagai prinsip-prinsip hukum yang pasti. Sementara dzhanni adalah hal-hal yang bersifat teknis operasional dan tidak pasti alias bisa berubah.

Prinsip-prinsip hukum itu, lantas mereka namakan pula dengan maqashid asy-syar’iyah. Yakni tujuan-tujuan tertentu (kemaslahatan) yang ingin diraih melalui penerapan hukum Islam, yang dengannya universalitas Alquran akan terjamin dan Alquran tak terkungkung oleh makna-makna literal oleh teks-teksnya sendiri.

Baca juga:  "Disertasi Sampah" dan Bahaya Logika Mantik dalam Pengambilan Hukum

Masalahnya, apa yang mereka sebut sebagai maqashid syar’iyah ini, mereka tetapkan berdasarkan bacaan akal mereka yang liberal. Hingga muncullah kesimpulan, bahwa intisari ajaran Islam adalah mewujudkan keadilan, kesetaraan, persamaan, kebebasan, dan yang sejenisnya. Dan ini sangat kontekstual.

Maka menurut para pengusung gagasan ini, tujuan-tujuan yang kontekstual inilah yang harus diperhatikan saat memutuskan perkara hukum, bukan fokus pada teksnya. Jika ada teks yang bertentangan dengan prinsip tadi maka teks itu wajib ditinggalkan.

Itulah kenapa banyak hukum syariat yang akhirnya mereka tolak karena dipandang tak maslahat. Bahkan mereka tak sungkan-sungkan menolak produk tafsir klasik karya para ulama salaf, karena menurut mereka tafsir itu hanya cocok di jamannya. Untuk masa kini, sangat miskonteks bahkan sudah out of date. Tak maslahat.

Apalagi jika berurusan dengan isu-isu perempuan. Mereka sebut, tafsir ulama salaf itu cenderung bias gender, bahkan misoginik (benci perempuan). Karena menurut mereka, budaya masyarakat di masa itu memang cenderung patriarkis dan kental budaya tribal.

Wajarlah jika tafsir atas teks-teks Alquran yang lahir di masa itu mereka anggap cenderung mendiskriminasi perempuan dan menempatkan kaum perempuan di posisi nomor dua (sub ordinat). Di antara contohnya adalah, hukum-hukum fikih soal waris, perwalian, dan soal jilbab.

Lantas mereka pun gencar menggagas ide reinterpretasi Alquran. Mereka bilang, peradaban hari ini berbeda dengan dahulu. Perempuan hari ini sudah diberi kebebasan dan hidup dalam keadaan aman. Maka, tak pantas jika fikih yang berasal dari tafsir klasik tadi diterapkan atas kaum perempuan saat ini. Mereka tegas menuntut waris disamakan, perwalian laki-laki dihapuskan dan jilbab tak diwajibkan.

Mereka pun sangat anti terhadap para pendakwah yang dianggap “tafsir klasik-minded”. Dai seperti itu mereka sebut sebagai kaum skriptualis, intoleran, eksklusif, bahkan ekstremis dan radikalis.

Skriptualis, karena mereka terlalu teguh pada makna teksual. Dan kalaupun mereka bicara konteks, hanya terbatas pada asbab an-nuzul dan asbab al-wurudl yang biasa digunakan para mufassirin untuk memperjelas makna teks-teks Alquran dan hadis nabi SAW.

Intoleran dan eksklusif, karena mereka dipandang tak mau kompromi dengan perbedaan-perbedaan termasuk kekufuran. Cenderung kaku, dan tak terbuka pada perubahan zaman.

Baca juga:  Sinyal Kuat Liberalisasi Avtur Indonesia

Adapun penyebutan ekstremis dan radikalis, dipandang layak disematkan, karena mereka cenderung kukuh berpikir bahwa syariat kaffh wajib diterapkan. Bahkan selalu menuntut terwujudnya negara yang berlandaskan akidah Islam.

Maka mereka (liberalis) merasa yakin bahwa tafsir bebas mereka adalah kebenaran. Sementara tafsir di luar mereka, termasuk tafsir para ulama salaf adalah tafsir yang salah dan harus dicampakkan.

Rupanya tanpa sadar, mereka sudah menyalahi kredonya sendiri tentang relativisme kebenaran. Bahkan mereka sudah menjadi kelompok yang intoleran terhadap pihak yang bersebarangan. Sekaligus radikalis ekstremis dalam hal pandangan yang kukuh terhadap sekularisme liberalisme.

Mereka pun tak sadar, bahwa paham liberal yang mereka banggakan inilah yang senyatanya telah merusak Islam. Bahkan kian mengukuhkan penjajahan kapitalisme global. Karena sejatinya paham ini telah menjauhkan umat dari rahasia kebangkitan mereka, yang membuat mereka tetap dalam kondisi lemah, hilang wibawa dan terpecah belah.

Itulah mengapa, pergerakan mereka sangat didukung negara-negara Barat yang adidaya. Kucuran dana dan support media terus mengalir sedemikian terbuka. Bagaimana tidak? Mereka tak perlu lagi bersusah payah melemahkan musuh, karena ada anak-anak umat yang mau menjalankan misinya dengan bayaran murah.

Bahkan jika kita menengok sejarah, kita akan dapati bahwa penyebaran ide-ide liberal yang merusak Islam adalah bagian dari strategi Barat untuk menyerang sistem Islam. Targetnya, umat kehilangan sumber kekuatan utama yang sejatinya telah menjadikan mereka sebagai umat utama, dan negara mereka menjadi negara pertama.

Sumber kekuatan itu tak lain adalah Islam mabda. Yakni Islam sebagai ideologi yang tak hanya mengajarkan aspek ritual semata, tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan berdasarkan hukum-hukum syara.

Islam seperti inilah yang senyatanya telah membuat umat Islam mampu eksis sebagai entitas istimewa. Sebuah entitas yang berperadaban cemerlang dan mampu memimpin dunia. Mengalahkan hegemoni Barat selama berabad-abad, dan tak mampu dilawan dengan perang fisik dan senjata.

Qadarullaah, usaha mereka menyerang umat secara pemikiran akhirnya memang pernah menuai hasil. 1924 menjadi tahun kelam ketika kekuatan sistem Islam berhasil dihancurkan. Tak lain setelah beratus tahun Barat menebar virus pemikiran sekuler liberal di tengah anak-anak umat Islam. Termasuk melalui para agen yang mereka bayar dengan sedikit harta dan janji kekuasaan.

Baca juga:  Ada Megaproyek Moderasi Islam di Balik Terowongan Toleransi

Inilah yang diekspresikan Lord Curzon, Perdana Menteri Inggris, melalui pidatonya yang fenomenal yang disampaikan sesaat setelah institusi politik Islam itu, yakni Khilafah Utsmani, akhirnya berhasil dihancurkan:

“Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, yakni Khilafah dan Islam.”

Hari-hari ini, negara-negara penjajah melihat bahwa geliat kebangkitan umat kian menyebar, sejalan dengan bangkitnya kembali kecintaan mereka kepada Islam kaffah di tengah segala kelemahan dan kehancuran umat setelah meninggalkan Islam dan menenggak racun kekufuran berupa sistem hidup sekuler kapitalisme liberal. Sebuah sistem hidup yang membuat mereka hidup terhina dina di bawah cengkraman penjajahan negara-negara adidaya

Realitas inilah yang ditakutkan para penjajah. Hingga mereka kembali gencar melakukan berbagai ikhtiar agar umat terhalang untuk mengambil Islam mabda sebagai rahasia kebangkitan mereka. Salah satunya dengan men-support berkembangnya ide-ide liberal, yang justru menyerang Islam mabda, dan menawarkan Islam yang longgar dan toleran terhadap kekufuran.

Semoga, umat semakin cerdas, dan paham bahwa kemuliaan mereka hanya ada pada ajaran Islam yang seutuhnya. Bukan ajaran Barat yang disifati dengan label Islam sebagaimana Islam Liberal atau saudara kembarnya, yakni Islam Moderat, yang sejatinya merupakan tipuan-tipuan setan.

Allah swt berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Sungguh, umat harus percaya bahwa usaha dan keyakinan kelompok liberal asuhan penjajah ini sangat lemah dan sia-sia. Selemah rumah laba-laba yang cepat atau lambat akan hancur binasa. Sementara Islam mabda dijanjikan akan kembali tegak dengan sempurna. Dan kita diperintah untuk mengambil bagian dalam usaha memperjuangkannya.

Semoga, Allah SWT berkenan menganugerahkan kemenangan itu melalui tangan-tangan lemah kita. Dan memuliakan kita dengannya. Allaahumma aamiin. [MNews] SNA

Bagaimana menurut Anda?

3 tanggapan untuk “[Editorial] Menakar Kebenaran dengan Tafsir (Kaum) Liberal

  • 7 April 2020 pada 09:57
    Permalink

    Astagfirullah. Tetap semangatt💪

    Balas
  • 7 April 2020 pada 08:59
    Permalink

    innalilahi, manusia memang mahkluk lemah tetapi Allah angkat kita enggunakan akal keudian gunakan alquran, hadist, ijma para sahabat dan qiyas. lah pake perasaan yang gak pake sumber hukum sama aja seperti jin gak mau tunduk dengan aturan sang pencipta

    Balas
  • 3 April 2020 pada 11:04
    Permalink

    Tetap semangat dan terus membongkar kedok narasi tafsir kaum liberal dg Islam yg jernih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *