; Peran Negara dalam Menjaga Ketaatan Warga Negara – Muslimah News

Peran Negara dalam Menjaga Ketaatan Warga Negara

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Negara memiliki peran yang penting bagi masyarakatnya. Kondisi masyarakat dipengaruhi seberapa besar perhatian negara terhadap mereka. Bahkan masalah menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, negara berkewajiban menjamin seluruh penduduk bisa taat secara total. Namun, bagaimana jadinya jika negara tak memiliki peran ini? Masihkah masyarakat mempercayakan tampuk kepengurusan hajatnya kepada mereka?

Baru-baru ini masalah keyakinan kembali terusik. Ketenangan umat Islam dalam menjalankan ibadahnya (menutup aurat) telah terkoyak. Umat dihadapkan pada pertanyaan “Pendapat siapa yang harus saya percaya?”. Polemik menutup aurat bagi kaum hawa ini memang telah berlangsung lama. Pasalnya banyak dari kalangan rakyat jelata, artis, bahkan istri “ulama” yang telah melepas kerudungnya.

Bukan dari kalangan biasa, mereka adalah public figure. Mereka panutan masyarakat. Jadi, jika ada dari kalangan tersebut yang berani melakukan “hal tidak biasa”, langsung menjadi sorotan. Bahkan kadang tidak pandang bulu, bagi yang taklid buta langsung ngikut saja.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Sinta Nuriyah, istri Almarhum Ulama terkemuka di negeri ini, menyatakan bahwa muslimah tidak wajib memakai jilbab. Dalam mempelajari Alquran hendaknya dilakukan secara kontekstual bukan tekstual. Istri presiden RI ke-4 ini pun menambahkan bahwa dalam Alquran sendiri tidak mewajibkan muslimah berjilbab. (tempo.co, 16/01/20)

Senada dengan Sinta, seorang ulama yang dipanggil Gus Miftah asal Sumatera Utara, dalam akun Facebook-nya juga menyampaikan bahwa tidak ada kewajiban muslimah untuk berjilbab. Memakai jilbab adalah tradisi dari arab, jika negeri ini marak ajakan berjilbab maka perlu diwaspadai adanya gerakan arabisasi.

Dan dalam status tersebut disampaikan sudah banyak muslimah yang akhirnya mengikuti langkah istrinya. Tak hanya itu, wacana dejilbabisasi pun digelontorkan untuk melawan arus jilbabisasi di negeri ini.

Menutup aurat bukti taat tanpa tapi

Sebagai seorang muslim bukankah kita diwajibkan untuk taat pada aturan Allah? Atas panggilan keimanan, jika diseru oleh Allah dan Rasul-Nya menjadi kewajiban seorang hamba untuk taat sepenuh hati. Sebagaimana firman Allah, “Demi Rabmu (Allah), mereka belum beriman, sampai mereka menjadikan dirimu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus perkara) dalam setiap perselisihan di antara mereka, sementara mereka tidak mendapatkan adanya kesempitan dalam hati mereka terhadap hal yang engkau putuskan, dan menerima dengan pasrah.” (QS. An-Nisa’:65)

Dalam ayat di atas setidaknya ada beberapa poin yang bisa kita ambil. Pertama, Dia menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim, dengan mengembalikan semua permasalahan kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tidak ada rasa berat dalam menerima hukum tersebut. Ketiga, pasrah sepenuh hati (pasrah bongkoan).

Orang yang seperti disebutkan di atas adalah mereka yang mampu merasakan kelezatan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Akan merasakan kelezatan iman (kesempurnaan iman), orang yang rida Allah subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.” (HR. Muslim)

Salah satu seruan Allah bagi kaum muslimin adalah menutup aurat. Baik bagi laki-laki maupun perempuan, masing-masing ada batasan sendiri dalam menutup aurat. Aurat adalah anggota badan yang tidak boleh ditampakkan oleh laki-laki atau perempuan kepada orang lain.

Bagi laki-laki auratnya dari pusar hingga lutut, sedang perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Maka, sebuah keharaman jika kita memperlihatkannya pada khalayak umum. Allah sendiri telah memerintahkan dalam Alquran Surah An Nur ayat 31,

“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra–putra mereka, atau putra–putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Jelaslah dalam ayat tersebut, diperintahkan bagi kita untuk menutup aurat, serta memakai kerudung (khimar) hingga menutupi dada. Bahkan dalam kitab empat mazhab tidak ada perbedaan mengenai perihal ini. Khusus bagi seorang muslimah ada ayat lain yang berkenaan tata cara berpakaian di luar rumah.

Yaitu QS Al Maidah ayat 59. “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kebutuhan institusi penyokong keimanan

Agama dan politik bagaikan dua saudara kembar yang lahir dari satu ibu, begitu petuah Imam Al-Ghazali (1059-1111). Bahkan, penulis “Kitab Ihya Ulumuddin” itu melihat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.

Sebagaimana kata Imam Ghazali, agama sebagai penyangga dan politik (penguasa) sebagai penjaga. Agama saja tanpa negara tidak akan aman karena tak ada penjaga. Manusia akan sesenaknya sendiri dalam beragama. Mereka akan mudah memutar balikkan perintah agama. Begitu pula negara, tanpa agama akan membuat negara rapuh dan tanpa arah.

Politik di sini adalah mengurusi urusan rakyat. Artinya mereka yang bertugas mengurusi umatlah yang disebut sedang berpolitik. Mereka adalah penguasa. Maka, tugas penguasa dalam hal ini adalah negara untuk menjaga dan menjamin seluruh hak-hak rakyatnya terpenuhi. Termasuk hak dalam beribadah.

Negara memiliki kewajiban menjaga rakyatnya terikat dengan hukum syara’. Sebagai penjagaan iman, negara memiliki kewenangan membuat aturan hingga menetapkan sanksi jika ada rakyat yang melanggar hukum syara’. Karena menjalankan kewajiban syara’ adalah bukti keimanan seseorang.

Negara kapitalis membuat individualis

Namun, hal ini tidak berlaku bagi negara kapitalis. Kapitalis menjadikan sekularisme sebagai landasannya. Prinsip pemisahan antara agama dan dunia menjadi patokannya. Mereka cenderung memberikan kebebasan dalam menjalankan aturan agama.

Saking bebasnya, mereka membebaskan untuk tidak beribadah bahkan tidak beragama. Tidak ada penjagaan khusus mengenai ibadah. Hanya ada penjagaan kepentingan. Urusan yang diatur adalah yang sesuai dengan kepentingan mereka.

Maka, jika ada masyarakat yang menyalahi syariat tidak akan pernah ditindak atau hanya dianggap salah. Karena dalam dunia kapitalis, bukan iman yang menjadi patokan, tapi kepentingan dan materi. Termasuk menutup aurat, dalam dunia kapitalis mau ditutup atau mau dibuka sama saja. Parahnya malah yang ditutup rapat justru dianggap “nyeleneh”. Hal ini dibiarkan karena masuk pada kebebasan berpendapat dan bertingkah laku.

Meskipun di negara yang mayoritas Islam, jika aturan yang dipakai landasannya adalah sekularisme, negara tidak akan menjamin rakyatnya taat syariat. Atas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia mereka membebaskan rakyat untuk beribadah. Mau menutup aurat atau tidak itu sah-sah saja.

Bahkan jika ada yang berdakwah mengajak taat totalitas malah diberantas. Orang pun tak lagi peduli dengan yang lainnya, mereka akan membiarkan yang lain tidak menjalankan syariat, padahal mereka tahu itu kewajiban.

Hanya Islam yang mampu menjadi penopang

Berbeda jika negara tersebut berasas Islam. Islam menjadikan ketakwaan sebagai landasan. Sehingga negara pun perhatian terhadap masalah sekecil apapun. Karena jika yang kecil dibiarkan justru akan membesar. Sebagaimana dicontohkan oleh Khalifah pertama, Abu Bakar Ash Shiddiq.

Dalam tampuk kepemimpinan Beliau yang pertama, setelah Rasulullah wafat kekacauan kaum muslim terjadi di mana-mana. Mereka tak mau membayar zakat. Namun, tetap menjalankan salat. Bagi para sahabat ini adalah kesalahan, karena sudah bertentangan dengan perintah Allah. Maka, Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk menyelesaikannya.

Mereka menasihati orang-orang yang enggan membayar zakat, karena membayar zakat termasuk bukti keimanan terhadap Islam. Tidak mau membayar, berarti menyalahi aturan Islam. Jika dari para muzaki itu masih ada yang belum membayar, khalifah memberikan sanksi bagi mereka. Itulah peran penguasa, menjaga rakyatnya agar senantiasa bertakwa.

Masalah menutup aurat pun akan dijaga oleh negara Islam. Negara akan memberikan sanksi bagi mereka yang tak mau diingatkan dan jelas-jelas melanggar. Hal ini dilakukan untuk menjaga rakyat agar tidak terkena virus pelalaian agama. Serta membuat jera rakyat, sehingga tidak berpikir untuk tidak taat Allah. Sehingga keimanan yang totalitas dapat dipupuk dan dijaga. Maka, masihkah kita berharap pada sistem selain Islam? Wallahu a’lam bishawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *