Kapitalisme “Sukses” Suburkan Masyarakat Stres

Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.

MuslimahNews.com, OPINI – Ramai menjadi perbincangan publik, munculnya sekelompok orang yang mendirikan keraton atau kerajaan baru. Tak tanggung-tanggung, kelompok tersebut mengklaim dirinya sebagai perkumpulan yang mengatur pemerintahan dunia.

Munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, yang mengklaim sebagai keraton penerus Kerajaan Majapahit yang akan menjadi penguasa di dunia. Kemudian, kini muncul kelompok yang mengatasnamakan dirinya Sunda Empire-Earth Empire. Kelompok ini memprediksi pemerintahan dunia akan berakhir pada 15 Agustus 2020 mendatang.

Di tengah frustrasi sosial dan ekonomi masyarakat, fenomena berbagai kerajaan baru muncul bukanlah perkara yang baru di negeri ini. Sebelumnya juga ada Kerajaan Ubur-Ubur dan Kerajaan Eden. Hal ini dibenarkan oleh Ahmad Buchori, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran. Munculnya berbagai kerajaan bukan sesuatu yang baru.

Menurut dia, keberadaan perkumpulan yang mengklaim sebagai sistem pemerintahan dunia yang dikendalikan dari Bandung, Jawa Barat, itu merupakan cerminan dari krisis frustrasi sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Fenomena krisis yang muncul karena kejenuhan atau kebuntuan sebagian warga yang mungkin hilang orientasi ke depan. (liputan6.com, 18/1/2020)

Di Indonesia cukup banyak terjadi gerakan keagamaan yang bersifat milenarianistis. Kecenderungan yang terlihat adalah peranan para pemimpinnya sebagai Ratu Adil yang akan membawa kebahagiaan. Gerakan ini paling banyak terjadi di Pulau Jawa, yang memang menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, misalnya peristiwa Nyi Aciah (1870-1871) di Sumedang, Jawa Barat.

Milenarianisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah ke arah yang positif atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas.

Kelompok-kelompok milenarian biasanya mengklaim bahwa masyarakat masa kini dan para penguasanya korup, tidak adil, atau menyimpang. Karena itu mereka percaya bahwa mereka akan segera dihancurkan oleh suatu kekuatan yang dahsyat.

Bukan fenomena baru sebenarnya, bahkan di dunia ada gerakan ini, yang muncul setiap waktu tertentu. Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman

Lalu, mengapa mitos-mitos raja-raja terdahulu dan konsep ratu adil tersebut tetap ada di masyarakat?

“Karena dipelihara terus oleh masyarakat, dan dijadikan bagian dari keyakinan spiritualitas,” ujar Yusar, Sosiolog dari Universitas Padjajaran.

Baca juga:  “The Sick Man of USA”

Beberapa pengamat juga memandang, munculnya berbagai kerajaan baru dilatarbelakangi berbagai motif, baik motif ekonomi, guna mencari keuntungan dari setiap pengikutnya. Adanya motif politik, guna mengumpulkan basis massa untuk pemilihan umum. Serta mencari alternatif di tengah ketidakpastian hidup.

Lantas, bagaimana sikap penguasa atas munculnya kerajaan baru yang terus ada hingga saat ini? Bisa jadi, kegagalan yang terus ditampakkan oleh penguasa dalam memimpin negeri menjadi cikal bakal lahirnya berbagai kerajaan baru.

Di samping himpitan hidup karena ‘kerakusan’ sistem kapitalisme yang terus menggerus rakyat, hingga menyuburkan masyarakat yang stres dan mencari alternatif lain dengan membangun kerajaan sendiri.

Kapitalisme Gagal Wujudkan Kesejahteraan dan Keadilan

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan kemunculan Sunda Empire juga menunjukkan banyak orang stres saat ini. Menciptakan ilusi-ilusi yang sering kali romantisme-romantisme sejarah ini. Dan, ternyata ada orang yang percaya juga menjadi pengikutnya. (cnnindonesia, 17/1/2020)

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar menyebut kerajaan-kerajaan baru, seperti Keraton Agung Sejagat (KAS) dan Sunda Empire dikelola oleh orang yang tidak waras.

Banyak orang tertarik dan bergabung dalam kerajaan baru karena sedang alami kebuntuan mencari jalan keluar persoalan hidup, yang akhirnya gampang tergiur tawaran tidak rasional. Hingga dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk mencari untung materi dari para pengikutnya.

Tapi publik dibuat bingung dengan sikap pemerintah. Pemerintah tidak mengambil tindakan tegas dan antisipatif meskipun kasusnya berulang hingga meresahkan masyarakat dan sudah banyak korban kerugian harta.

Pemerintah telah ‘jujur’ mengakui bahwa saat ini banyak orang stres dan tidak waras. Seharusnya tidak hanya melakukan penelusuran pada kerajaan ‘abal-abal’ saja. Namun, mengusut sumber penyebab, mengapa masyarakat banyak yang stres dan tidak waras?

Berarti ada yang salah di negeri ini. Pengurusan terhadap rakyat yang tak becus, kemiskinan yang terus meningkat, pengangguran terus bertambah, bahkan pemalakan terhadap rakyat masih berlangsung hingga saat ini lewat berbagai kebijakan yang dibuat.

Baca juga:  Saat Perbankan Terguncang Isu “Rush”

Sebaiknya pemerintah juga harus jujur, bahwa lahirnya masyarakat stres dan tidak waras karena mengambil sistem yang salah untuk mengurus rakyat. Sistem kapitalisme sekuler telah terbukti gagal menyejahterakan rakyat. Setelah ‘berprestasi’ menghisap keuntungan dari rakyat lewat kebijakan yang liberal, sekarang juga ‘sukses’ menyuburkan masyarakat stres.

Ir. Dudy Arfian, M.Si. menyatakan, karena sistem kapitalisme yang diterapkan, banyak penguasa yang ingkar janji, seperti stop utang luar negeri, namun faktanya utang Indonesia per-Agustus 2018 capai Rp4.636 triliun. Lalu janjinya persulit investasi asing, tapi faktanya perizinan dan agresivitas untuk menarik investasi asing di Indonesia semakin bertubi-tubi. Dan yang bohong lagi adalah janji merebut Indosat dari tangan asing, namun hingga kini tidak ada wujudnya. (mediaumat.news, 31/12/2018)

Penguasa yang gagal ini juga tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinan karena tidak memiliki konsep yang kuat dan benar serta berbasis pada asas yang salah dan batil. Ditambah lagi mereka sangat anti-Islam yang bisa dilihat dari berbagai ‘kebijakannya’.

Penerbitan UU Ormas yang berujung pada pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia yang sepihak tanpa melalui proses peradilan, menolak khilafah sebagai ajaran Islam, dan mengkriminalisasi ulama.

Dan sangat disayangkan, selevel Kiai yang sekarang duduk di kursi pemerintahan menyebut bahwa Keraton Agung Sejagat itu seperti khilafah karena melampaui batas-batas negara. “Itu seperti khilafah. Al-khilafatul udzma, ucap Ma’ruf Amin. (nasional.tempo.co, 17/1/2020)

Lagi-lagi ‘nyanyian’ mereka masih sama, mencoba menutupi kegagalan dalam mengurus rakyat dengan mengarahkan kesalahan dan keburukan pada khilafah. Hingga menyamakan Kerajaan ‘abal-abal’ dengan khilafah.

Sementara itu, sikap yang berbeda disampaikan oleh pengamat politik, Rahmat Kurnia. Ia mengatakan, ada tiga alasan mengapa sistem kapitalisme harus diganti dengan khilafah.

Pertama, secara keimanan satu-satunya solusi yang diperintahkan Allah SWT memang hanya penerapan syariat dalam bingkai khilafah sebagai solusi kehidupan ini;

Kedua, kapitalisme yang diterapkan di Indonesia dan komunisme yang diterapkan di negeri Muslim lainnya telah terbukti gagal total;

Ketiga, berdasarkan sejarah, khilafah merupakan peradaban manusia terpanjang yang pernah ada di dunia, terbukti dan teruji. (hidayatullah.com, 23/1/2011)

Baca juga:  Derita Guru Honorer, Bilakah Berakhir?

Khilafah Wujudkan Masyarakat Beriman

Jika telah terbukti sistem sekuler kapitalisme gagal menyejahterakan, memberi keadilan serta mewujudkan masyarakat yang ‘sehat’, lawan dari masyarakat stres dan tidak waras.

Maka sudah seharusnya, mengarahkan solusi pada sistem Islam (Khilafah) yang telah terbukti selama 1.300 tahun menyejahterakan, memberikan keadilan serta mewujudkan masyarakat yang bertakwa dan beriman.

Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan masyarakat di era khilafah jauh dari kehidupan hedonistik, materialistis apalagi penuh mistik.

Karena ketika masyarakat mempunyai masalah, keyakinan mereka kepada Allah, qadha’ dan qadar, rezeki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa. Masalah apa pun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan. Mereka pun jauh dari stres.

Kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat benar-benar bersih. Kehormatan (izzah) pria dan wanita, serta kesucian hati (iffah) mereka pun terjaga. Semuanya itu, selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiyah individunya, juga sistem yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat oleh khilafah.

Berbeda dengan saat ini, ketika kapitalisme diterapkan. Bagaimana mungkin mengharapkan masyarakat yang beriman sementara enggan menerapkan isi Alquran yang merupakan petunjuk bagi kehidupan manusia? Padahal kemaksiatan terbesar adalah keengganan manusia untuk berhukum dengan Alquran.

Inilah juga yang dikeluhkan oleh Rasulullah Saw. Beliau bahkan mengadukan kepada Allah SWT atas umatnya yang mengabaikan Alquran, sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

Berkata Rasul, “Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan: 30).

Menurut mufasir ternama, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (2/631), di antara sikap mengabaikan Alquran adalah tidak mengamalkan isinya dan tidak mau mengambil hukum-hukum yang ada di dalamnya.

Maka, dapat disimpulkan, bahwa “menjamurnya” Kerajaan Baru disebabkan penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menyuburkannya. Mengakhiri sistem ini, berarti mengupayakan terwujudnya masyarakat beriman. Wallahu a’lam bish-shawab. [MNews]


 

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *