; Bahaya Liberalisasi Pakaian Muslimah – Muslimah News

Bahaya Liberalisasi Pakaian Muslimah

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI — Tren hijab syar’i di masa kini makin menampakkan diri. Para muslimah tak lagi anti dengan yang namanya gamis atau jilbab. Mereka bahkan berlomba-lomba bersegera menyempurnakan pelaksanaan kewajiban menutup aurat.

Geliat jilbab syar’i juga diiringi gerakan hijrah. Mereka bahkan rela menanggalkan profesi, jabatan, dan ketenaran demi menunaikan ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu fenomena ini patut disyukuri.

Di saat Islam menjadi bulan-bulanan isu negatif, tren hijrah dan pakaian syar’i mengalami peningkatan pesat. Dari pekerja seni hingga pelaku bisnis. Opini liar tentang Islam tak menyurutkan langkah mereka untuk istikamah mengenakan pakaian yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mengutip dari apa yang ditulis Ustaz Yuana Ryan Tresna yang berjudul ‘Membaca Momentum Masalah Aurat Wanita’, menyatakan bahwa aurat wanita disinggung oleh Imam Nawawi yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. (Al Majmu’, 3: 122). Juga disinggung beliau dalam Minhajuth Tholibin, 1: 188.

Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan salat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat Alquran (An-Nabhani, 1990 : 45)

Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis(Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Baca juga:  Kosmopolitanisme Islam, Satu Lagi Upaya Memoderasi Islam

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum. (An-Nabhani, 1990 : 48). ( Soal jawab ust. Shiddiq Al Jawi)

Secara bahasa, jilbab berasal dari kata al-jalb, Al-Jalb artinya menjulurkan / memaparkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan makna jilbab secara spesifik, “Jilbab (di antara maknanya) adalah gamis. Dan jilbab itu adalah pakaian yang lebih lebar dari khimar, yang selain rida’. Yang dipakai oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya.” (Lisaanul Arab). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disebutkan dalam Al Bayan, jilbab adalah khimar (penutup kepala) dan izar (kain penutup badan).”

Jelas sudah, jilbab adalah pakaian wajib bagi muslimah. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan jUmhur ulama mengenai apa itu jilbab. Dan hal ini membantah siapa pun yang mengatakan jilbab tidak wajib bagi muslimah. Mereka mengatakan menutup aurat itu wajib, namun memakai jilbab itu tidak wajib.

Yang mengatakan jilbab itu wajib adalah pengusaha fashion bukan Alquran, kata mereka. Pernyataan ini makin lucu didengar. Belum lagi pendapat yang mengatakan jilbab tidak wajib lantaran RA Kartini dan istri para kiai terdahulu tidak menutup aurat secara sempurna.

Sontak, pernyataan ini pun viral dan sangat disayangkan. Terlebih keluar dari lisan seorang istri kiai yang semestinya dia yang paling memahami bagaimana pakaian muslimah secara syar’i. Faktanya justru berkebalikan. Pemikiran semacam ini muncul karena terpengaruh gaya berpikir liberal. Main utak atik hukum demi membenarkan nalar ‘konslet’ mereka.

Baca juga:  Kerudung dengan Jilbab, Apa Bedanya?

Bahaya Pemikiran Liberal

Siapa pun yang cermat memahami, paham liberal sejatinya adalah paham antiagama. Sejak awal, paham ini dibuat untuk menentang ajaran Islam. Ada tiga prinsip yang diusung paham liberal, yakni kebebasan, individualisme, dan rasionalisme.

Siapa pun yang mengadopsi paham ini secara pelan tapi pasti akan menjerumuskan ia pada perkara kekafiran. Karena kaum liberalis selalu menampakkan sikap antipati terhadap ajaran Islam. Bahkan terhadap hukum yang sudah diketahui dengan jelas dalilnya, mereka akan menggugatnya.

Kaum liberalis akan senantiasa mengobok-obok dalil Alquran dan Sunah demi memuaskan nalar liarnya. Apa yang diharamkan menurut Allah, mereka perselisihkan. Apa yang dihalalkan menurut Allah, mereka perdebatkan. Apa yang boleh dan tidak boleh menurut syariat, mereka mencoba menafsirkan berdasarkan nafsunya.

Bagi mereka, tidak ada kebenaran mutlak. Alhasil, mereka adalah kelompok paling sombong menerima kebenaran. Merasa paling benar dan merasa paling rasional. Padahal sejatinya mereka lebih mirip iblis yang menyombongkan diri di hadapan Allah. Seolah lebih pintar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada bahaya liberalisasi terhadap pakaian muslimah. Jika paham ini terus diopinikan, maka hal itu akan berpengaruh pada amaliah perempuan muslimah. Muncul keraguan terkait wajibnya berjilbab. Dan bila terus terjadi, tak menutup kemungkinan mereka lebih memilih menutup aurat setengah jadi. Sebagaimana yang ditargetkan kaum liberalis, lebih menyukai perempuan muslimah berpakaian ala nusantara dibanding sesuai syariat Allah yang mulia.

Teringat apa yang disampaikan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil., bahwa liberalisasi pemikiran lebih berbahaya dari membunuh orang. Liberalisasi pemikiran’ adalah dekonstruksi syariat dan dekonstruksi akidah, berarti dia akan membunuh ribuan orang, membunuh dalam arti spiritual, membunuh orang yang selama ini beriman menjadi tidak beriman.

Betapa bahayanya pemikiran impor produk ideologi asing ini. Semestinya umat mewaspadai bahaya terselubung dari konsep berpikir liberal yang dijajakan Barat. Merangsek masuk dalam benak-benak kaum muslim. Dan tanpa sadar mereka yang sudah teracuni pemikiran ini akan berpikir sesuai pola pikir Barat.

Baca juga:  Fenomena Riset Intoleran: Memata-matai dan Memvonis Umat Islam

Jika pola pikir ini terus dipelihara dalam kehidupan mereka, iman pun terkikis bahkan hilang sama sekali. Kaum liberalis ini seperti musuh dalam selimut. Sebagaimana yang pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab bahwa jangan pernah menyematkan Islam dalam kelompok ini. Liberal ya liberal saja. Tidak ada Islam liberal. Sebab, Islam bukan liberal. Liberal juga bukan Islam.

Bagi siapa pun yang memiliki pemikiran liberal, sejatinya kalian tak mewakili Islam. Bahkan tak layak menyandang predikat orang beriman. Bukan untuk menghakimi apalagi mengadili. Sebab, orang beriman tak akan berani menyalahi syariat Allah. Orang beriman hanya tunduk pada Allah dan Rasul-Nya. Bukan tunduk menuruti hawa nafsu dan akal yang terbatas. Berani mengubah hukum Allah, berarti dia telah keluar dari jalan iman.

Dalam menghadapi pemikiran yang menyesatkan semacam ini, maka kaum muslim mau tidak mau harus memurnikan pemikirannya dengan Islam. Meningkatkan keimanannya kepada Allah dengan banyak mengkaji ilmu Islam. Dan tidak lupa bergurulah pada orang yang tepat. Guru yang mampu mengajak kita taat dan tunduk pada aturan Allah.

Selain itu, peran negara haruslah benar-benar berfungsi. Merebaknya pemikiran sekuler dan liberal saat ini tidak terlepas dari abainya negara menjaga kemurnian berpikir kaum muslim. Kaum muslim bahkan ‘dipaksa’ menerima pemikiran ini.

Betapa dahsyatnya orang-orang kafir merusak pemahaman umat. Dengan paham liberal, mereka berupaya menyesatkan umat dari jalan kebenaran. Di sinilah pentingnya negara menerapkan syariat Islam agar umat tak lagi teracuni dengan pemikiran asing yang sesat menyesatkan.

Semua akan terwujud dengan hadirnya perisai hakiki umat, yaitu Khilafah Islamiyah yang tak lama lagi hadir di tengah-tengah kita. Wallahu a’lam. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *