Mewaspadai Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

Oleh: Halima Noer

MuslimahNews.com, FOKUS – Kontroversi pengobatan Ningsih Tinampi sampai saat ini masih terus terjadi. Kontroversi dipicu beredarnya video Ningsih yang mengklaim bisa mengundang nabi dan malaikat. Video itu diunggah di akun YouTube milik Ningsih dengan judul “PENUNJUKKAN ILMU MILIK NINGSIH” pada 9 Januari 2020. Masyarakat pun membincangkannya, dan tak sedikit yang menudingnya sesat.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH. Cholil Nafis, Ph.D. mengatakan bahwa ada indikasi Ningsih melakukan kesesatan karena Rasulullah tak mungkin bisa dipanggil dan manusia biasa tak bisa melihat malaikat. (Tribunnews.com, 21/1/2020).

Setelah menimbulkan polemik, Ningsih Tinampi akhirnya meminta maaf kepada masyarakat atas pernyataan kontroversialnya tersebut di video yang diunggah berikutnya.

Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

Apa yang dilakukan Ningsih Tinampi telah mengecoh banyak orang. Seolah pengobatan Islami, tapi nyatanya adalah kesyirikan. Dalam pengobatannya, ia tak pernah lepas menyebut nama Allah. Tapi apa yang dilakukannya jelas bertentangan dengan Islam. Ia mengaku bisa mendatangkan ruh Nabi, padahal jangankan ruh Nabi, ruh manusia biasa saja tak ada yang bisa memanggilnya.

Alquran menunjukkan bahwa ruh orang yang sudah meninggal dunia akan tetap hidup setelah kematian jasad. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah:

اللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Allah memegang jiwa (ruh seseorang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (seseorang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (ruh orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan lagi jiwa (ruh) yang lain sampai waktu yang ditentukan.” [QS Az-Zumar 42]

Selanjutnya Ibnul Qayyim menukil perkataan Ibnu Abbas ra dalam menafsirkan ayat tersebut:

“Telah sampai kepadaku bahwasanya ruh orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati bisa bertemu di dalam tidur (mimpi), kemudian mereka saling bertanya, lalu Allah menahan ruh orang yang sudah mati dan mengembalikan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya.”

Kemudian Ibnul Qayyim berkata, “Sungguh pertemuan antara ruh orang-orang yang masih hidup dengan ruh orang-orang yang sudah meninggal menunjukkan bahwa orang yang masih hidup bisa melihat orang yang sudah meninggal dalam mimpinya dan menanyainya hingga orang yang sudah mati menceritakan apa yang tidak diketahui oleh yang masih hidup. Atas dasar inilah terkadang berita orang yang hidup (tentang keadaan orang yang sudah mati) bisa pas sesuai dengan kenyataan.” (Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Ar Ruh)

Baca juga:  Pejabat Yakini Klenik: Menolak Berkah, Mengundang Azab

Demikianlah yang dipegang oleh Salafush Shalih, yaitu ruh orang-orang yang sudah mati tetap ada dan bisa mendengar sampai waktu yang dikehendaki Allah. Tetapi tidak benar, kalau ruh-ruh itu bisa berhubungan dengan orang-orang yang masih hidup selain dalam mimpi.

Klaim Ningsih Tinampi bahwa ia bisa memanggil malaikat juga sangat bertentangan dengan keimanan. Malaikat adalah sesuatu yang bersifat gaib, tak semua orang mampu melihatnya.

Allah SWT berfirman,

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّمَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin 26-27)

Jika Ningsih Tinampi tak mungkin melihat apalagi mendatangkan Nabi dan malaikat, maka siapa atau apa yang sebenarnya datang atau didatangkan pada saat pengobatan tersebut?

Ustaz Cholil Nafis menduga sosok tersebut adalah jin yang menjelma menjadi nabi dan malaikat. (Tribunnews.com, 21/1/2020). Ustaz Cholil juga mengatakan bahwa Ningsih terpedaya jin, saat menanggapi video Ningsih yang mengaku mendapat bisikan bahwa ia mendapat tugas dari Allah untuk menyelamatkan Indonesia. (detiknews, 23/1/2020).

Dari berbagai pernyataan Ningsih Tinampi dan dari praktik-praktik yang dipertontonkannya di video-video pengobatannya, maka patut diduga kuat bahwa ia telah melibatkan jin dalam pengobatannya.

Bagaimana Islam memandangnya?

Tentang hal ini Syekh Shalih Alu Syaikh hafizhahullâh mengatakan:

Meminta tolong kepada jin merupakan kesyirikan, karena jin tidak akan menolong manusia kecuali jika dia mendekatkan diri kepada para jin dan memberikan sebagian ibadah kepada para jin itu, dia memberikan kekuasaan kepada para jin sehingga mereka mendapatkan kesenangan dengan manusia. Sebagaimana Allâh SWT berfirman,

Baca juga:  'Teror' Pariwisata Syirik Pengundang Bencana

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6).

Yakni: Jin menambahkan kepada manusia ketakutan, dosa, dan bencana”. [Syarh Thahawiyah, hlm. 704, Syaikh Shâlih Alu Syaikh]

Dan ketika di hari kiamat, mereka dikumpulkan dan saling menyalahkan. Allah memasukkan mereka semua ke dalam neraka, karena melakukan kerja sama yang diawali dengan kesyirikan.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya sebagian daripada Kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan Kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman, “Neraka Itulah tempat tinggal kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS A-An’am: 128).

Pembiaran Kesyirikan Hanya Ada di Sistem Sekuler

Kesyirikan berbalut pengobatan Islami semacam yang dilakukan Ningsih Tinampi sebenarnya cukup banyak di Indonesia, menyebar di berbagai daerah hingga sampai pelosok-pelosok desa. Hanya saja praktik Ningsih cukup menyita perhatian karena ia menyebarluaskan video pengobatannya. Ini artinya ia tidak hanya melakukan perbuatan syirik tapi juga mengajak orang lain untuk melakukan kesyirikan.

Sekalipun banyak tudingan sesat ditujukan kepada Ningsih, dan sangat jelas perbuatannya menyimpang dari ajaran Islam, tapi seolah Negara (Pemerintah) tidak melakukan tindakan apa pun. Polisi baru akan memanggilnya, itu pun bukan karena ia melakukan praktik pengobatan syirik tetapi karena pernyatannya yang meresahkan masyarakat.

Baca juga:  'Teror' Pariwisata Syirik Pengundang Bencana

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut akan meminta Kapolres Pasuruan menggelar langkah persuasif jika sudah meresahkan, dilansir dari Tribunnews.

MUI kab Pasuruan juga belum melakukan tindakan apa pun karena belum menerima laporan dan pengaduan masyarakat terkait Ningsih. Sementara Bakesbangpol Kab Pasuruan menyatakan bahwa pihaknya tak memiliki kewenangan melakukan tindakan. (detiknews, 20/1/2020).

Pembiaran kesyirikan bukanlah hal yang aneh, karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari negara. Sistem ini menempatkan penguasa bukan sebagai penjaga akidah umat. Masalah agama (akidah) dianggap sebagai masalah privat setiap individu di mana negara tak berhak mencampurinya.

Negara juga memberi kebebasan kepada setiap individu rakyat untuk memilih keyakinannya sehingga negara akan membiarkan rakyatnya untuk memilih apakah mau melakukan syirik atau tidak. Kesyirikan bukan dianggap sebuah bahaya, bukan juga sebuah kejahatan tetapi hanya sebuah pilihan dalam keyakinannya.

Tentu ini jauh berbeda dengan Islam. Islam tidak mengakui sekularisme. Agama dalam negara Khilafah tak hanya menjadi dasar keyakinan dan amal perbuatan individu Muslim, tetapi juga menjadi landasan pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Negara Khilafah akan menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani “Akidah Islam adalah dasar negara. Segala sesuatu yang menyangkut institusi negara, perangkat negara dan pengawasan atas tindakan negara harus dibangun berdasarkan akidah Islam. Akidah Islam menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undangan syar’i.” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 5).

Dengan landasan seperti maka negara Khilafah tidak akan membiarkan rakyatnya memilih apakah mau syirik ataukah tidak. Negara Khilafah akan melakukan penjagaan akidah umat Islam sehingga tak akan ada satu pun aktivitas syirik yang dibiarkan. Bahkan negara Khilafah juga akan melakukan berbagai upaya untuk mengukuhkan keimanan semua individu rakyatnya.

Lalu, manakah yang akan kita pilih? Negara sekuler yang membiarkan kesyirikan dan mengancam akidah, ataukah Negara Khilafah yang menghancurkan kesyirikan dan mengukuhkan keimanan? [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Mewaspadai Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *