Tafsir Moderat/Maqashidi Menjauhkan Kaum Muslimin dari Islam Kaffah

Oleh: Ustazah Rohmah Rodhiyah

MuslimahNews.com, TAFSIR – Muktamar Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo menghasilkan beberapa rekomendasi, di antaranya promosi Islam moderat.

Untuk menghasilkan hukum-hukum dan pemikiran-pemikiran yang moderat, maka dibutuhkan metode tafsir moderat/tafsir maqashidi. Yaitu sebuah metodologi untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan hadis secara moderat.

Tafsir maqishidi itu adalah sebuah pendekatan tafsir yang mencoba menengahi dua ketegangan epistimologi tafsir antara yang tekstualis dengan yang liberalis. (Republika.co.id).

Penafsiran Alquran Berdasarkan Alquran Hadis

Menurut Syekh Muhamad Ali al Shabuni, definisi tafsir adalah ilmu untuk mengetahui pemahaman yang terdapat dalam Alquran yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., menjelaskan makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmahnya. (Syekh Muhamad Ali ash Shabuni Al Tibyan fi Ulumi Alquran, hlm. 65).

Tafsir merupakan bagian terpenting dari tsaqofah Islam (ilmu-ilmu Islam), yaitu pengetahuan-pengetahuan yang yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar pembahasannya. Karenanya pembahasan tsaqofah Islam semuanya kembali kepada kepada akidah Islam, yaitu kepada Alquran dan Hadis. (Taqiyyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyah al Islamiyah Juz I, bab “Tsaqofah Islamiyah”).

Karenanya dalam menafsirkan Alquran harus sesuai Alquran-Hadis dan tidak dibenarkan jika berlandaskan selain akidah Islam, seperti berdasarkan kepada moderasi Islam.

Untuk menafsirkan Alquran membutuhkan ilmu tafsir atau metode penafsiran Alquran. Karena Ilmu tafsir merupakan tsaqofah Islam, yaitu salah satu cabang ilmu –ilmu Islam, maka harus bersumber dari akidah Islam. Artinya harus bersumber dari Alquran-Hadis, dan sesuai Alquran-Hadis.

Metode menafsirkan Alquran yang sesuai dengan Alquran dan Hadis meliputi: pertama, tafsir bi al riwayah yaitu penafsiran Alquran dengan Alquran, atau dengan sabda Rasulullah, atau dengan perkataan Sahabat, sebagai penjelasan apa yang dikehendaki Allah dalam Alquran.

Dengan demikian tafsir bir riwayah ini adakalanya menafsirkan Alquran dengan Alquran atau menafsirkan Alquran dengan Hadis atau menafsirkan Alquran dengan atsar dari para shahabat. Tafsir ini disebut juga sebagai tafsir ma’tsur. (Syekh Muhamad Ali ash Shabuni Al Tibyan fi Ulumi al Qur’an, hlm. 67-70).

Kedua, tafsir bi al dirayah yaitu tafsir yang disusun dengan menyandarkan pada bahasa Arab dan berdasarkan pendapat/ijtihad. Yang dimaksud pendapat disini adalah ijtihad yang didasarkan pada kaidah ushul (kaidah penafsiran) yang sahih, kaidah-kaidah yang selamat-lurus, bukan menjadikan penafsiran berdasarkan pendapatnya yang disandarkan pada akal semata, atau sesuai dengan apa saja yang dikehendaki mufassir, atau bahkan berdasarkan hawa nafsu. Tentu tafsir seperti ini membahayakan umat Islam.

Baca juga:  Haram Menafsirkan Alquran sesuai Hawa Nafsunya

Akan tetapi yang dimaksud ijtihad adalah upaya sungguh-sungguh menafsirkan Alquran dengan menggunakan pendekatan bahasa dan bersandarkan pada Alquran. Jadi bukan menafsirkan Alquran berdasarkan pendapatnya semata atau hawa nafsunya semata.

Bahkan banyak sekali hadis yang mengingatkan bahwa kita tidak boleh main-main dalam menafsirkan Alquran. Sekalipun penafsiran yang bersumber dari pendapatnya itu ternyata benar, maka ini tetap dinilai sebagai suatu kesalahan. (Syekh Muhamad Ali ash Shabuni Al Tibyan fi Ulumi al Qur’an, hlm. 155-156).

Rasulullah saw. bersabda,

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Dari Jundab ibn Abdillah berkata, Rasulullah saw. Bersabda,Barang siapa berkata tentang Alquran (menafsirkan Alquran) dengan akalnya, ternyata benar, maka sungguh dia telah berbuat salah.” Abu Musa berkata bahwa hadis ini gharib. (HR. Turmudzi dan Abu Dawud). [Hadis riwayat Turmudzi dari Jundab, kitab tafsir al Qur’an ‘an Rasulillah, bab ma ja’a fi alladzi yufassiru al Qur’ana bi al ra’yi, hadis no. 2876 dan riwayat Abu Dawud hadis no. 2167.]

Berkaitan dengan tafsir maqashidi, yaitu sebuah pendekatan tafsir yang mencoba menengahi dua ketegangan epistimologi tafsir antara yang tekstualis dengan yang liberalis, Tafsir Maqashidi ini sebagai basis dari moderasi Islam.

Kemudian melakukan kontekstualisasi, sehingga kita bisa meraih dimensi moderasi di dalam menerapkan nilai-nilai Alquran dan hadis dalam konteks keindonesiaan yang sangat multi agama, multi etnis. (Republika.co.id).

Dengan mengkaji tafsir maqashidi, terdapat beberapa konsep penafsiran dalam tafsir maqashidi tidak sesuai dengan metode penafsiran Alquran yang berdasarkan Alquran dan Hadis.

Ketidaksesuaian ini terdapat pada beberapa hal:

  1. Dasar penafsiran bukan akidah Islam, tapi moderasi Islam;
  2. Tafsir maqashidi senada dengan tafsir kontekstual, tidak bisa dimasukkan dalam tafsir bi al riwayah, karena tafsir maqashidi tidak menafsirkan Alquran dengan Alquran atau sabda Rasulullah atau perkataan Sahabat.
Baca juga:  Hanya Islam Rahmat bagi Seluruh Alam

Di samping itu tafsir maqashidi juga tidak termasuk tafsir bi al dirayah, karena tafsir maqashidi tidak disusun dengan menyandarkan pada bahasa Arab dan berdasarkan pendapat/ijtihad. Yang dimaksud pendapat di sini adalah ijtihad yang didasarkan pada kaidah ushul (kaidah penafsiran) yang shahih, kaidah-kaidah yang lurus, sesuai dengan Alquran-Hadis.

Misalnya dengan memakai metode penafsiran moderat/tafsir maqashidi, maka penafsiran terhadap QS Al Maidah ayat 47 bahwa penerapan hukum Islam secara kaffah tidak wajib, karena jika diwajibkan, berarti tidak toleran terhadap agama lain padahal Indonesia itu multiagama. Bukan berarti bebas dari hukum Islam sebagaimana paham liberalis.

Pengusung tafsir maqashidi menganggap kedua paham yang ektrem –yaitu Islam kaffah dan Islam liberal– tidak sesuai dengan prinsip Islam moderat. Karenanya yang tepat adalah yang sesuai dengan prinsip moderat.

Hasil penafsiran moderat/tafsir maqashidi adalah hukum Islam wajib diterapkan pada urusan kehidupan akhirat saja. Dengan kata lain sebagian hukum saja yang berkaitan langsung dengan agama, misalnya hukum yang berkaitan dengan salat, puasa, zakat, nikah, mengurus jenazah dan haji.

Mengenai hukum yang mengatur tentang kehidupan dunia, misalnya hukum Islam yang berkaitan dengan ekonomi, politik, dan pemerintahan, maka manusia berhak bersepakat untuk membuatnya atau mengambil hukum warisan Belanda atau yang lain, tanpa memperhatikan lagi apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak.

Dalam menafsirkan Alquran, tidak boleh mengikuti prinsip moderat atau yang lain dan melakukan pengangkangan terhadap agama Allah. Tapi dalam menafsirkan wajib tetap berdasarkan kepada Alquran dan hadis.

Misalnya dalam menafsirkan surah Al-Maidah ayat 47:

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”

Karenanya, dengan pertimbangan tertentu (moderasi Islam), mufassir tidak boleh menafsirkan Al-Maidah ayat 47 bahwa kaum muslimin boleh mengambil dan tunduk kepada hukum kufur dalam urusan kehidupan dunia. (Taqiyyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyah al Islamiyah Juz I, hlm 298).

Hasil tafsir maqashidi QS Al Maidah ayat 47 tersebut bertentangan dengan Alquran surah Al-Baqarah ayat 208 tentang kewajiban menerapkan syariat Islam harus menyeluruh dan tidak boleh memilih-milih yang dinilai dibutuhkan dan relevan.

Baca juga:  Bagaimana Menyikapi Fatwa?

Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menerapkan syariat/aturan/hukum Islam secara menyeluruh (kaffah), yaitu mengambil seluruh pegangan/pedoman Islam dan seluruh syariat, serta menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Firman Allah surah Al-Baqarah ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208) فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (209) }

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah 208).

Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, membenarkan Rasul-Nya: agar mengambil seluruh pegangan Islam dan seluruh syariat, dan menjalankan seluruh perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan kemampuannya. (Ibn Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz I, hlm 565)

Dengan demikian, dalam menafsirkan Alquran harus tetap mengacu kepada dua sumber dalil kaum muslimin yaitu Alquran dan Hadis bukan menjadikan akal/pendapatnya sebagai acuannya, apalagi hawa nafsunya. Terdapat ancaman keras bagi orang-orang yang menafsirkan Alquran dengan pendapatnya/akalnya atau tidak disertai ilmu.

Dari Ibn Abbas Rasulullah saw. Bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Ibn Abbas r.a. Rasulullah saw. Bersabda, ”Barang siapa berbicara tentang Alquran tanpa disertai ilmu, maka hendaklah bersiap-siap mengambil tempat duduknya dari api neraka.” Abu Musa berkata ini hadis hasan-shahih (HR. Turmudzi). Hadis riwayat Turmudzi dari Ibn Abbas, kitab tafsir Alqur’an ‘an Rasulillah, bab ma ja’a fi alladzi yufassiru Al Qur’an bi ar ra’yi, hadits no 2874 dan riwayat Ahmad hadits no 1965.

Dengan demikian, maka dalam menafsirkan Alquran, harus berlandaskan kepada Alquran dan Hadis, tidak boleh menafsirkan Alquran berdasarkan moderasi Islam, karena moderasi Islam akan menjauhkan umat menerapkan Islam secara kaffah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *