; ‘Kebencian’ bukan Milik Islam – Muslimah News

‘Kebencian’ bukan Milik Islam

Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS – Jangan ajarkan Islam toleransi. Jauh sebelum penganut paham liberal berteriak-teriak toleransi, Islam telah menyerukan toleransi pada pemeluknya. Lakum diinukum waliyadiin ‘bagimu agamamu, bagiku agamaku’, mengukuhkan bahwa Islam sangat menjunjung toleransi.

Jadi sungguh aneh saat Islam melarang umatnya mengucapkan selamat Natal, tetiba ada tuduhan Islam mengajarkan kebencian pada umat yang lain. Parahnya lagi, ketika tuduhan tersebut dihujatkan, beberapa kelompok kaum muslimin turut dalam perhelatan Misa dan acara Natal lainnya.

Maksud hati ingin menjawab tuduhan bahwa Islam toleran, namun justru yang demikian menunjukkan kebodohan dalam memahami ajaran Islam. Sama bodohnya dengan pihak yang menuduh Islam intoleran saat melarang pemeluknya mengucapkan selamat Natal.

Kebencian terhadap Islam

Tidak pernah tertoreh dalam sejarah, saat Islam menguasai dunia selama hampir 13 abad lamanya terjadi pembantaian atas umat non-Islam. Mereka diperlakukan sama di saat menjadi warga negara Daulah Islam.

Bebas meyakini akidah dan menjalankan ibadah mereka masing-masing. Mereka pun diperlakukan sama di hadapan pengadilan, dalam urusan ekonomi, dan juga kemasyarakatan.

Sungguh berbeda ketika sebaliknya, ketika kaum muslimin berada di bawah kekuasaan yang bukan Islam. Mereka teraniaya dalam penyiksaaan, menjadi waga negara kelas dua, menjadi kambing hitam, dan stigma lainnya.

Coba tengok bagaimana kebencian dan kebengisan rezim Cina terhadap Muslim Uyghur. Dengan tuduhan melakukan tindak teroris, penyiksaan fisik maupun psikologis mereka alami di kamp-kamp penahanan.

Ribuan orang Rohingya terbunuh dan lebih dari 700.000 orang melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, saat terjadi aksi penumpasan oleh militer di negara yang penduduknya beragama Buddha itu pada 2017 lalu.

Di wilayah lain, meski kebencian terhadap Islam tidak sampai jatuh pada pembantaian, namun undang-undang yang diberlakukan menjadikan kaum muslimin menjadi warga negara kelas dua.

Sebagaimana yang terjadi di wilayah India. Amendemen Undang Undang Kewarganegaraan (Citizenship Amendment Act /CAA) di Uttar Pradesh, salah satu negara bagian termiskin India, merupakan bentuk diskriminasi terhadap kaum muslimin.

Bagi pengunjuk rasa yang menolak akan ditembak. Bentuk diskriminasi ini menuai reaksi keras dari dalam maupun luar negeri. Namun rezim yang ada tetap menjalankan aksinya.

Bentuk kebencian terhadap Islam dan pemeluknya juga tertuang dalam bentuk ujaran kebencian dan coretan. “Slogan anti-Islam” ditemukan terpampang di dinding bangunan Pusat Kebudayaan Islam North Brixton di dekat sebuah masjid di London selatan, Inggris.

Bahkan kebencian itu melahirkan kelompok-kelompok brutal yang bisa memasuki tempat-tempat ibadah untuk menembakkan senjata. (Ingat: penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru).

Pemilik Kebencian: Kapitalisme

Penguasa sistem kehidupan saat ini adalah sistem kapitalisme. Sistem inilah yang menaungi dunia dalam seluruh aspek kehidupannya. Sementara kekuasaan Islam sudah hilang sejak runtuhnya Daulah Khilafah Turki Utsmani tahun 1924.

Oleh karena itu, jika dunia hari ini dipenuhi dengan keresahan, kebencian, pembantaian, perampasan hak, dan sebagainya, tak lain karena diatur dalam sistem kapitalisme. Bukan sistem Islam.

Kapitalisme tak mungkin bersanding dengan Islam. Kebencian Kapitalisme terhadap Islam sudah berurat akar. Dengan Islam tak mungkin mereka bebas mengatur kehidupan dengan liar.

Di saat mereka menguasai dunia, framing tentang islam yang menebar teror, mereka ciptakan. Mereka membuat narasi menyesatkan: “Mengapa agama yang mengajarkan cinta kasih, keadilan, kesetaraan, serta solidaritas kemanusiaan yang terangkum dalam konsep penyelamatan universal, rahmatan lil alamin, justru paling subur melahirkan gerakan fundamentalis serta pelaku teror?”.

Narasi ini tidak pernah disertai bukti. Namun diulang-ulang di berbagai media yang mereka kuasai sehingga seolah menjadi benar.

Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang nyatanya lebih mengikuti hawa nafsu manusia, justru merupakan sebuah ideologi yang mengancam. Bukan sekadar ancaman bagi Islam dan kaum muslimin, namun juga merupakan ancaman bagi dunia.

Bukan hanya ancaman bagi negara di luar AS –yang notabene sebagai pemimpin pengemban ideologi kapitalisme –, namun AS sendiri terancam kolaps saat mengemban ide ini.

Bentuk ancaman bukan sekadar mandulnya sistem ini menyelesaikan problem bangsa dan masyarakat dunia, namun juga mengancam eksistensi manusia.

Di jantung kapitalisme (AS), seruan kebebasan justru menelan korban jiwa dan menimbulkan ketakutan di tengah manusia. Dalam satu wilayah, aksi brutal penembakan bisa terjadi hingga 24 kali dalam setahun.

Tempatnya pun bersifat acak: bisa di toko swalayan, di taman, bahkan di gereja. Kejadian tersebut senantiasa berulang. Bisa dibayangkan bagaimana suasana mencekam di wilayah tersebut.

Kebencian pun Diangkut ke Negara Berkembang

Seiring dengan makin menguatnya kapitalisme di negeri-negei kaum muslimin, kebencian terhadap Islam pun ditumbuhkan. Termasuk di Indonesia di mana rezim pun turut mengikuti arahan tuannya.

Kerusuhan dalam negeri senantiasa dianggap Islamlah pencetusnya. Padahal, kerusuhan itu lahir dari pihak-pihak yang tak mengenal Islam. Bahkan korban terbesar kerusuhan jatuh dari tangan rezim yang berkuasa.

Lihat kondisi di Papua. Sepanjang 2018, terjadi 26 kasus penembakan yang dilakukan oleh KKB (kelompok Kriminal Bersenjata) dan mengakibatkan 29 orang tewas. Mereka berasal dari 22 warga sipil dan tujuh anggota TNI/Polri.

Aparat penegak hukum dan pemerintah Indonesia lebih aktif dan responsif jika ada anggota TNI/Polri yang dibunuh dibandingkan ratusan orang Papua yang dilanggar hak asasinya.

Apakah pelakunya Islam dan kaum muslimin? Bukan. Namun kekerasan yang terjadi bertahun-tahun di sana tidak dianggap sebagai perilaku teror.

Kondisi yang tidak aman di wilayah tersebut justru ditutupi oleh hasil survei indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) 2019 yang dirilis Balitbang Diklat Kemenag yang menumpulkan akal.

Jelas-jelas kekerasan dan sikap intoleran terhadap kaum muslimin tidak pernah sepi di Papua, namun justru papua mendapat poin terbesar indeks kerukunan umat beragama.

Posisi puncak ditempati Papua Barat (82,1), Nusa Tenggara Timur (81,1), dan Bali (80,1). Dalih yang mereka gunakan bahwa di Papua atau NTT yang (skornya) selalu tinggi, telah dianggap biasa dalam satu rumah beda agama.

Mereka pun kerap menyelenggarakan acara lintasagama. Juga jika acara Islam, MC-nya nonmuslim, atau acara MTQ panitianya nonmuslim. Sebaliknya, acara Kristen, MC-nya berjilbab.

Survei tersebut tak beda dengan survei tahunan yang kerap disodorkan Setara Institute, yang pada dasarnya berupaya menghilangkan batas-batas Islam dan kafir. Sinkretisme itulah yang lahir dari kebencian mereka terhadap Islam. Mereka tak akan pernah rela kaum muslimin hidup dengan syariatnya.

Kebencian mereka akan pupus jika kaum muslimin tinggalkan agamanya, atau mengikuti milah-milah mereka. Dengan realitas di atas, masih menuduh kebencian adalah milik Islam?

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah: 120) [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *