; Fenomena Kerajaan Sejagat, Bukti Rakyat Rindu Sistem Baru – Muslimah News

Fenomena Kerajaan Sejagat, Bukti Rakyat Rindu Sistem Baru

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Beberapa hari belakangan, publik Indonesia dikejutkan dengan munculnya sejumlah “kerajaan” baru. Ada Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Sunda Empire-Earth Empire (SE-EE) di Bandung, hingga Kesultanan Selacau Patrakusumah di Tasikmalaya.

Menanggapi hal ini, sejarawan Anhar Gonggong menilai bahwa kemunculan kerajaan baru ini sebagai sebuah kegilaan. Menurut Anhar, satu-satunya kerajaan yang diakui dalam konteks Republik Indonesia saat ini hanya Yogyakarta.

Anhar juga menyatakan bahwa eksistensi kerajaan-kerajaan selain Yogyakarta itu hanya untuk dirinya sendiri. Anhar pun mendukung langkah pihak berwenang untuk menangkap orang-orang yang mengaku sebagai raja dan ratu.

Sementara itu Kepala BIN, Budi Gunawan, menyatakan bahwa pihaknya sudah lama memantau fenomena kerajaan-kerajaan baru ini. Menurut BIN, aparat kepolisian baru akan memprosesnya secara hukum jika terdapat unsur pidana, seperti penipuan di dalamnya.

Terlepas dari semua ini, semestinya kita justru harus lebih mawas diri. Munculnya kerajaan-kerajaan baru ini, yang juga memunculkan sejumlah pengikut yang meski pada akhirnya mereka tertipu oleh pelaku, nampaknya harus kita sikapi dengan seksama.

Bisa jadi sikap mereka –khususnya para pengikutnya ini– bukan sekadar tersebab faktor depresi sosial semisal akibat melambungnya biaya hidup sejak awal 2020 ini, mulai dari BPJS, tarif listrik, tol, dsb. Tapi bisa jadi mereka sedang mencoba mencari alternatif baru jalan hidup dengan mengikuti kerajaan-kerajaan baru tersebut.

Secara logika, kegelisahan publik ini masuk akal. Bagaimana tidak? Coba kita tengok, di satu sisi tarif dan harga berbagai kebutuhan pokok melambung. Tantangan pergaulan bebas makin ganas mengintai generasi muda.

Tapi di sisi lain, kasus bancakan dana rakyat juga kian merajalela. Kasus Jiwasraya, Asabri, Garuda, Pelindo, dll, cukup membuat rakyat ikut pusing. Belum lagi ketika sistem peradilan hanya tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Mengkritik penguasa justru berbuah pidana. Rakyat pun jadi bingung.

Pun ketika sejumlah kepala daerah tertangkap akibat korupsi. Hingga yang terheboh adalah terungkapnya kasus korupsi salah satu komisioner KPU selaku lembaga yang kredibilitasnya selayaknya berada di pihak rakyat. Semua ini benar-benar membuat jengah.

Jangan heran jika diiringi dengan menurunnya kepercayaan publik kepada pemerintah. Dan juga wajar jika akhirnya rakyat rindu sistem baru. Hanya saja, mereka mungkin masih belum paham akan perlunya ide mendasar dan metode pelaksanaan bagi tegaknya sistem dan tata kehidupan yang baru.

Yang oleh karenanya, rakyat jadi lebih cenderung percaya dengan para pendiri kerajaan baru itu. Yang mana bagi pengikutnya, iming-iming harapan baru dari para pendiri kerajaan itu dirasa lebih “realistis” bagi mereka. Kendati pada akhirnya tindakan kerajaan baru itu berujung pidana.

Tapi tak bisa dipungkiri, rakyat benar-benar rindu sistem di mana para penguasanya bekerja keras untuk memikirkan urusan rakyatnya. Rakyat rindu dengan penguasa yang peka kepada mereka.

Rakyat juga rindu penguasa yang punya langkah riil untuk menyejahterakan tanpa pencitraan. Rakyat sudah kecut dengan beragam ketimpangan sosial, bencana alam beruntun akibat ketamakan infrastruktur, juga maraknya korupsi dan pekatnya oligarki.

Bukannya rakyat sudah tidak mampu bersabar terhadap cobaan hidup, tapi mereka sudah lelah dipecundangi. Suara mereka hanya diperah saat tahun politik, namun setelah penguasa terpilih rakyat juga dilupakan, bagai habis manis sepah dibuang.

Dari semua ini, menjadi jelas. Rakyat sedang rapuh, rawan sakit. Mereka membutuhkan obat yang mampu menyembuhkan dan tiada lagi sakit setelahnya. Tak hanya sembuh secara fisik, tapi juga secara jiwa.

Tata kehidupan yang mampu menyembuhkan ini tak lain adalah yang dikembalikan kepada sumbernya, yakni Sang Pemilik jiwa, Allah SWT Sekularisme hidup memang sudah terlalu lama membuat orang jadi sakit, secara fisik dan jiwa. Jangan biarkan sekularisme lebih lama lagi tegak dan membuat wabah yang lebih parah lagi.

Dan sungguh Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa Allah sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.

Allah juga akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Allah akan menukar keadaan mereka, dari ketakutan menjadi aman sentosa. Dan setelahnya, mereka bersyukur dengan tetap menyembah Allah SWT dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya.

Barang siapa yang tetap ingkar sesudah janji Allah ini, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (disarikan dari QS An-Nuur ayat 55). Demikianlah janji Allah yang pasti ditepati-Nya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *