; Konstantinopel dan Khilafah, Menembus Batas Romantika Sejarah – Muslimah News

Konstantinopel dan Khilafah, Menembus Batas Romantika Sejarah

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Penaklukan Konstantinopel adalah kisah sejarah kegemilangan peradaban Islam yang begitu melegenda. Ditutupi oleh beragam sekularisasi di jantung Khilafah Utsmaniyah saat itu, nyatanya tetap tak dapat menyembunyikan sinarnya meski Khilafah telah runtuh.

Ya, jatuhnya Konstantinopel dalam pelukan Khilafah bukan hanya sebatas romantika sejarah. Namun lebih dari itu, peristiwa ini adalah bisyarah Rasulullah saw.. Yang oleh karenanya, patutlah kita sambut dan yakini secara terus-menerus, bahwa bisyarah itu pasti terjadi.

Begitulah, terealisasinya kabar gembira Rasulullah saw. yang ada di dalam hadis beliau dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash, ia berkata, “Sementara kami ada di sekitar Rasulullah saw., kami sedang menulis, ketika Rasulullah saw. ditanya, ‘Kota manakah dari dua kota yang ditaklukkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?’ Maka Rasulullah saw. bersabda, Kotanya Heraklius ditaklukkan lebih dahulu, yakni Konstantinopel.

Diriwayatkan oleh imam Ahmad di Musnad-nya dan al-Hakim di al-Mustadrak ‘alâ Shahîhayn dan ia berkata, “Ini hadis sahih menurut syarat syaikhayn meski keduanya tidak mengeluarkannya.” Adz-Dzahabi mengomentari di at-Talkhish, “Menurut syarat al-Bukhari dan Muslim.”

Demikian juga di dalam hadis yang mulia dari Abdullah bin Bisyri al-Khats’amiy dari bapaknya bahwa dia mendengar Nabi saw. bersabda, “Sungguh Konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”.

Pada hari itu, Sultan Muhammad II (Mehmed II) menyerang dan mengepung Konstantinopel mulai 26 Rabiul Awal sampai bisa ditaklukkan pada fajar hari 20 Jumadil Ula 857 H. Ketika memasuki kota sebagai pemenang, Sultan Muhammad II turun dari kudanya, berjalan kaki dan bersujud kepada Allah Swt. sebagai ungkapan syukur atas kemenangan dan keberhasilan ini. Sultan Muhammad II pun digelari Al-Fatih setelah penaklukan itu.

Kemudian Sultan Muhammad Al-Fatih menuju gereja Aya Shofia. Al-Fatih melaksanakan salat di situ dan menjadi masjid berkat karunia, nikmat, dan anugerah Allah. Di situ pula rakyat Bizantium dan para rahibnya saat itu berkumpul. Al-Fatih memberikan jaminan keamanan kepada mereka. Al-Fatih memerintahkan untuk mengubah gereja Aya Shofia menjadi masjid.

Demikianlah Aya Shofia terus difungsikan sebagai masjid, dimakmurkan oleh orang-orang mukmin sampai penjahat abad tersebut Mustafa Kamal melarang salat di situ, mengotorinya dengan menjadikannya sebagai museum untuk dikunjungi oleh para pelancong!

Selanjutnya, Al-Fatih juga memerintahkan agar didirikan masjid di tempat makam shahabiy yang agung Abu Ayyub al-Anshari yang termasuk dalam barisan gelombang pertama untuk menyerang Konstantinopel dan wafat di sana rahimahullahu wa radhiya ‘anhu.

Al-Fatih pun memutuskan menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota negaranya menggantikan Edirne. Beliau memberikan sebutan kepada Konstantinopel setelah penaklukannya dengan Islam Bul yakni kota Islam “Dâr al-Islâm” dan kemudian terkenal dengan Istanbul.

Sungguh nyata, pujian Rasulullah saw. Al-Fatih adalah sebaik-baik panglima dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Hati mereka dipenuhi oleh iman. Tubuh mereka bertolak melakukan persiapan dan jihad yang benar. Mereka menolong agama Allah maka Allah menolong mereka dengan penaklukan agung ini, maka segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.

Dan sungguh nyata pula janji Allah dalam Surah Muhammad ayat 7, bahwa Allah akan meneguhkan kedudukan orang-orang yang menolong agama-Nya, yang dengan peristiwa penaklukan Konstantinopel ini semakin memperjelas kedudukan Khilafah Islam dalam percaturan politik dunia.

Khilafah yang mengemban ideologi dan qiyadah fikriyah Islam memiliki harga diri yang kuat dan menggentarkan negara lain. Pemerintahannya memiliki kewibawaan, didukung dengan kekuasaan yang kuat, pengaturan pasukan yang sistematis dan disiplin.

Khilafah menempati posisi adidaya di dunia. Kekuasaan Islam di era Utsmaniyah berhasil mengambil alih permerintahan sebagian besar dunia Islam pada abad ke-9 H (abad ke-15 M), tepat pasca penaklukan Konstantinopel. Kemenangan ini adalah kekalahan telak Eropa.

Keberhasilan Khilafah menguasai sebagian tenggara wilayah Balkan, mampu memunculkan ketakutan seluruh negara Eropa dengan persepsi bahwa pasukan Islam tidak bisa dikalahkan. Mereka yakin bahwa tidak ada satu pun pasukan yang mampu menghadapi kaum Muslim.

Jejak jihad Muhammad Al-Fatih dilanjutkan oleh para penerusnya hingga akhir abad ke-11 H di tangan Sulaiman Al-Qanuniy. Bahkan sudah sejak sebelumnya, yakni mulai abad ke-10 H bertepatan dengan abad ke-16 M, kekuasaan Khilafah telah berhasil menggabungkan negeri Arab ke dalam wilayahnya, lalu kekuasaannya meluas dan melebar. Sulaiman Al-Qanuniy berhasil mengokohkan kekuatan hingga pertengahan abad ke-12 H bertepatan dengan abad ke-18 M.

Berangkat dari kisah Sultan Muhammad Al-Fatih ini, hendaklah kita, umat Islam di abad 21 ini menyadari sepenuhnya bahwa keagungan Islam dan kaum Muslim hanya terwujud ketika Islam diterapkan; yang mana ketika itu kekufuran tidak bisa berdiri. Kekufuran yang dimenangkan oleh Barat melalui tangan durjana Mustafa Kemal, hanya tercapai ketika ideologi Islam ditinggalkan oleh umatnya.

Karena itu, hendaknya kita juga senantiasa meyakini kebenaran bisyarah Rasulullah saw yang lainnya sebagaimana meyakini bisyarah penaklukan Konstantinopel. Yakni, ditaklukkannya Roma dalam hadis yang sama, juga bisyarah tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua.

Jangan kalah dengan prediksi orang-orang Barat. Mereka sejak tahun 2004 lalu, melalui Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (United States National Intelligence Council-US NIC), memprediksi bahwa di tahun 2020 sebuah Khilafah baru akan muncul di kancah dunia. Hal ini dipublikasikan dalam laporan berjudul “Mapping The Global Future”.

Prediksi mereka ini berkelindan erat dengan maraknya istilah “radikalisme” di Indonesia belakangan ini. Dalam dokumen laporan yang sama, mereka menyebutkan bahwa penyebaran Islam radikal akan memiliki dampak global yang signifikan menuju tahun 2020.

Disebutkan pula, Islam radikal akan menyatukan kalangan dari berbagai etnis dan bangsa, bahkan sangat berpeluang untuk menciptakan sebuah otoritas yang melampaui batas-batas negara bangsa. Wajarlah jika kemudian umat Islam di-framing dan dilemahkan identitasnya dengan istilah “radikalisme” itu. Semata agar umat merasa takut dan ragu terhadap ajaran agamanya sendiri.

Akibatnya, mereka enggan mengenal apalagi memperjuangkan ajaran Islam. Mereka dijebak dengan istilah “Islam damai” atau “Islam toleran” hanya agar nampak lebih ramah. Padahal ini adalah pembunuhan karakter. Dan semua ini harus diakhiri. Islam adalah tinggi dan tidak ada yang menyamainya. Itulah yang harus diraih.

Demikianlah, tak ada pilihan terbaik selain meyakini bisyarah Rasulullah saw akan tegaknya kembali Khilafah sebagaimana Sultan Muhammad II meyakini tertaklukannya Konstantinopel hingga terealisasilah diri beliau selaku pemimpin terbaik yang telah dipuji oleh Rasulullah saw. berabad sebelumnya.

Rasul saw. tidak berbicara dari hawa nafsunya. Karena beliau saw. dituntun oleh wahyu. Sungguhlah bisyarah ini terwujud dengan izin Allah Swt.. Dan tentu saja hal itu tidak akan datang secara otomatis sebagai hadiah kepada kita. Namun secara sunatullah yakni dengan kita menolong agama Allah, maka Allah menolong kita.

Kita dakwahkan dan terapkan syariat-Nya, kita teladani Rasul-Nya, kita tinggikan perjuangan penegakkan Khilafah, kita upayakan kekuatan yang kita mampu siapkan, dan kita berjihad di jalan-Nya. Mari ingat kembali bisyarah Rasulullah saw tersebut: “… kemudian akan ada Khilafah atas manhaj kenabian.” (HR Ahmad). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *