; Toleransi Kebablasan, Bolehkah dalam Islam? – Muslimah News

Toleransi Kebablasan, Bolehkah dalam Islam?

Oleh: Rohmah Rodhiyah

MuslimahNews.com, FIKIH – Selain meriah, perayaan Natal Desember 2019 lalu makin sarat dengan semangat pluralisme yang berwujud toleransi kebablasan.

Di Jawa tengah misalnya, Natal tak hanya diwarnai pemberian ucapan selamat dari umat Islam, tapi mereka merayakan bersama bahkan turut menyanyikan lagu bersama di gereja.

Tak hanya masyarakat awam, bahkan kelompok anak-anak santri Ponpes Roudlotul Solihin yang tergabung dalam Paswa Anak Gereja Mater Dei  pun turut menyanyikan lagu berjudul “Nandur Rukun” sebelum pelaksanaan ibadah Misa Natal. (Kompas.com).

Toleransi yang tanpa batas ini, nampak tidak lagi mengindahkan aturan agama Islam. Ini menunjukkan bahwasanya pluralisme semakin berkembang pesat di bumi nusantara.

Dari tahun ke tahun perayaan Natal bersama memang semakin ramai saja dilakukan oleh sebagian muslim, karena mereka tidak merasa berdosa. Hal ini akibat ada sebagian orang yang dianggap tokoh umat Islam mengaburkan hukum seputar Natal bersama, berupa pembenaran bahwa apa yang mereka lakukan diperbolehkan dalam Islam.

Antara lain: boleh mengucapkan selamat Natal, menyelenggarakan dan menghadiri perayaannya, mengajak masyarakat untuk turut merayakan dan memakai atribut Natal, bahkan berjualan untuk keperluan Natal.

Mereka mengikuti “fikih lintas agama” yang dinilai ramah nusantara. Mereka mengklaim bahwasanya memang ulama sepakat hukumnya tidak boleh, kecuali dalam kondisi terjadi pertentangan antara risiko menghadirinya dan risiko tidak menghadirinya. Dipilih mana yang lebih besar manfaatnya.

Dari laman santrinews.com, hal itu ternyata didasarkan pada kaidah “irtikabu akhaf ad dharrain li daf’i ‘alahuma” kebolehan mengambil risiko terkecil untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Hukum Seputar Perayaan Natal Bersama

Mengucapkan selamat Natal, menyelenggarakan Natal bersama, menghadiri perayaannya, berpakaian dan memakai atribut-atribut Natal, mengajak masyarakat untuk turut merayakannya, dan berjualan untuk keperluan Natal, semuanya jelas diharamkan dalam ajaran Islam, karena berarti mengakui bahwa hari itu adalah hari kelahiran Tuhan mereka.

Padahal dalam Islam, Nabi Isa AS bukan Tuhan. Memang benar umat Nasrani (dahulu sebelum Nabi Muhammad saw. diutus) yang menauhidkan –mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya, serta mengakui Nabi Isa adalah Rasulullah sebagaimana Nabi Muhammad saw.–, maka mereka termasuk dalam agama yang diridai. Akan tetapi berbeda dengan sekarang, karena mereka tidak lagi demikian. Bahkan mereka menyekutukan Allah.

Dalam beraktivitas, tentu umat Islam wajib mengikuti syariat Islam. Karena aktivitas yang dijalankan tanpa mengikuti syariat Islam tidak akan diridai dan diterima Allah.

Tafsir QS Ali ‘Imran: 19 “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam”, maksudnya adalah syariat/agama yang dibawa oleh para Rasul yang dibangun berdasarkan agama tauhid. (Imam Jalaluddin, Tafsir Jalalain, QS Ali ‘Imran: 19, Surabaya: Syarikah Maktabah wa Mathbaah Ahmad bin Said).

Firman Allah QS Ali ’Imran ayat 85:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Ibn Abbas menafsirkan QS Ali ’Imran ayat 85:

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi, yaitu orang-orang yang tertipu, kehilangan kesempatan masuk surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya. Dan akan tetap di neraka.” (Ibn Abbas, Tanwir Miqbas Min Tafsir Ibn Abbas juz I, QS Ali Imran ayat 85, Beirut – Libanon: Darul Fikr).

Dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah dengan murni mengikuti tuntunan syariat Islam. Terdapat larangan keras mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran agama yang lain.

Karenanya harus menolak ajakan perayaan Natal bersama karena diharamkan oleh Allah. Firman Allah Swt. yang artinya: 1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (TQS Al Kafirun: 1-6).

Bukan rahasia lagi, banyak kaum muslimin yang terlibat dalam perayaan Natal bersama. tidak hanya mengucapkan selamat Natal, tapi menghadiri perayaannya serta berpakaian dan memakai atribut-atributnya.

Padahal Rasulullah saw. melarang kaum muslimin untuk menyerupai kaum kafir. Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Mengenai berjualan untuk keperluan Natal, maka berarti membahas tentang benda-benda yang dipakai dalam kehidupan. Karenanya terkait dengan benda-benda yang dipakai, dikonsumsi, dan dijual pada saat perayaan Natal, maka harus dilihat terlebih dahulu.

Jika benda tersebut bercirikan akidah Nasrani, maka haram memakai, mengonsumsi, dan menjualnya. Misal: pohon Natal, baju khas Natal/biarawati, kue Natal, dll.

Berbeda jika tidak terdapat ciri khas akidah Nasrani, tapi merupakan benda umum yang biasa dipakai orang secara umum, baik muslim maupun nonmuslim, maka dipebolehkan memakai, mengonsumsi, dan menjualnya.

Misal: kue bolu, parcel buah yang tidak ada tulisan Selamat Natalnya, nasi rames, dan lain-lain. Rasulullah saw. melarang suatu amalan yang tidak sesuai tuntunan syariat Islam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim no. 1718; Muhammad Husain, Dirasat fi Al Fikri Al Islamiyah, hlm.186).

Sekalipun jumhur ulama sepakat bahwa perayaan Natal adalah haram, ternyata ada sebagian orang yang dianggap tokoh masyarakat mengklaim bahwa perayaan Natal boleh berdasarkan kaidah “irtikabu akhaf ad dharrain li daf’i ‘alahuma”, kebolehan mengambil risiko terkecil untuk menghindari risiko yang lebih besar

Sebagaimana diketahui, para ulama ushul telah merumuskan kaidah itu senada dengan kaidah:

إذَا تَعَارَضَ شَرَّانِ أَوْ ضَرَرَانِ دَفَعَ أَشَدَّ الضَّرَرَيْنِ وَأَعْظَمَ الشَّرَّيْنِ

“Jika ada dua keburukan atau kemudaratan bertabrakan, maka yang lebih berat mudaratnya dan lebih besar keburukannya harus dihilangkan.”

Kaidah ini dikenal dengan kaidah: “akhaffu ad-dhararayn” (dua di antara kemudaratan yang lebih ringan), atau “ahwan as-syarrayn” (dua di antara keburukan yang lebih rendah).

Mengenai dalil yang dijadikan sandaran, antara lain sabda Nabi saw.:

«إِذَا الْتَقَى ضَرَرَانِ لِلأَصْغَرِ»

“Jika dua bahaya bertemu maka hendaknya dipilih yang paling kecil (bahayanya).”

Beberapa ulama membahas kaidah ini. Misalnya Imam Al-Ghazali yang membahasnya dalam kitab al-Mustashfâ fî’ ‘Ilm al-Ushûl dan Muhamad al-Amidiy dalam kitab Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam.

Menurut ulama ushul, keadaan dikatakan dharûrah jika memenuhi dua hal: pertama, pada saat sesuatu yang dilarang itu tidak diperoleh, maka akan celaka atau binasa, atau nyaris binasa atau celaka. Kedua, keadaan yang sangat memaksa dan dikhawatirkan akan dapat menimbulkan kebinasaan atau kematian.

Dengan mengkaji dugaan keadaan jika kaum muslimin tidak terlibat dalam perayaan Natal akan terjadi bahaya yang besar, maka hal ini tidak ditemukan pada kasus tersebut. Dengan demikian tidak terpenuhi keadaan dharurah yang dimaksud ulama ushul fikih.

Karenanya tidak tepat aplikasi kaidah “irtikabu akhaf ad dharrain li daf’i ‘alahuma” pada kasus perayaan Natal. Dengan demikian, perayaan Natal bersama tetap kepada hukum asalnya, yaitu haram. Penjelasan ini juga berlaku pada perayaan ibadah agama lain selain Natal. [MNews]


 

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *