[Editorial] Ukhuwah Islam Terjegal Konsep “Negara Bangsa” Settingan Kaum Penjajah

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Adalah Perjanjian Sykes-Picot, sebuah perjanjian rahasia yang terjadi di tengah kecamuk Perang Dunia I. Tepatnya terjadi pada 16 Mei 1916 antara pemerintah Britania Raya, Prancis, dan kemudian disetujui Rusia beserta sekutu lainnya semisal Italia.

Saat itu negara-negara besar ini memang begitu yakin, bahwa sekalipun perang belum usai, Khilafah yang sebelumnya merupakan negara super power itu, akan keluar sebagai pihak yang benar-benar kalah.

Maka di perjanjian itulah mereka berbagi calon ghanimah dan mengerat-ngerat wilayah Khilafah yang nyaris meliputi 2/3 dunia dan kaya sumber daya alam serta punya posisi strategis itu, menjadi beberapa wilayah yang terpisah-pisah.

Kala itu mereka sepakat, Prancis kelak akan berhak atas wilayah Suriah, Lebanon, dan Turki Tenggara, termasuk wilayah sekitar Alexandretta. Sementara Inggris akan menguasai Irak, Yordania, Irak, dan Palestina.

Adapun Rusia, akan menerima Armenia dan sebagian wilayah Kurdistan, berikut mewujudkan mimpi lamanya untuk mengendalikan akses ke Laut Tengah dari Laut Hitam melalui Selat Dardanella. Sementara Italia, akan memperoleh Laut Aegea dan Turki Barat di sekitar kota besar Izmir.

Image result for Sykes-Picot

Qadarullah, di akhir peperangan (1919), Khilafah Utsmani bersama sekutunya Jerman memang kalah telak. Dan lantas, perjanjian rahasia soal pembagian kue jajahan itu pun dikukuhkan dengan Perjanjian San Remo 1920, sekaligus dilegalisasi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada 1922 atas nama pembagian “negara-negara di bawah mandat”.

Maka sejak saat itu pula, resmilah wilayah Khilafah Utsmani dikerat-kerat menjadi berbagai wilayah kecil di bawah pengaruh negara penjajah. Padahal jauh sebelumnya, sudah banyak wilayah khilafah di kawasan Afrika dan Asia, yang lebih dulu dikuasai  oleh para penjajah. Salah satunya Indonesia yang sudah lama dikuasai Belanda.

Lalu di tahun 1939, pecahlah perang dunia II yang mulai melibatkan Amerika. Dan setelah perang itu usai pada 1945, muncullah gagasan dekolonialisasi atas nama spirit penjagaan HAM dan perdamaian yang dideklarasikan pascapeperangan.

Untuk kepentingan itulah didirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan dengan dalih mewujudkan kesejahteraan bangsa-bangsa pascaperang, didirikan pula organisasi keuangan dunia World Bank, IMF, WTO, beserta organisasi kerja sama internasional dan regional yang lainnya.

Di momen ini pula dikukuhkan kembali keberadaan berbagai konvensi dan perjanjian internasional yang disepakati melalui konferensi-konferensi internasional sebagai standar perilaku bangsa-bangsa dalam pergaulan internasional. Seolah-olah dunia menuju era baru yang penuh dengan perdamaian, hidup saling berdampingan dan berkemajuan.

Namun sayang, sedikit yang menyadari bahwa ide dekolonialisasi, pendirian organisasi-organisasi internasional, dan keberadaan konvensi serta berbagai konferensi internasional ini sejatinya merupakan strategi penjajahan gaya baru dari para pemain baru, khususnya Amerika dan Rusia (USSR).

Semuanya, nyata-nyata telah menjadi alat penjajahan yang kejahatannya dirasakan hingga sekarang. Bahkan semua aturan yang keluar darinya menjadi pengikat negara-negara bangsa agar berjalan sesuai rancangan para pemimpin baru negara adidaya tersebut.

Faktanya lagi, dua negara inilah yang kelak muncul sebagai pengendali dunia, mendikte bangsa-bangsa yang lemah, merampok kekayaan mereka, seraya menggeser kedudukan negara adidaya sebelumnya, yakni Inggris dan Prancis yang saat itu menjadi negara pesaingnya. Bahkan akhirnya, hingga kini Amerika bermain sendiri sebagai penguasa dunia.

Maka jangan heran, di era dekolonialisasi pasca-PD II itulah, muncul negara-negara “merdeka”. Tepatnya wilayah-wilayah Khilafah yang sebelumnya berada di bawah mandat Inggris dan Prancis, kemudian dikerat-kerat lebih kecil lagi dan “dimerdekakan” dengan berbagai cerita heroik yang melatarbelakanginya.


SEHINGGA, wilayah khilafah yang awalnya sedemikian luas dan selama belasan abad menyatu sebagai satu kesatuan politik, seketika itu berubah wajah. Terbagi menjadi lebih dari 50 negara bangsa yang “merdeka”, dengan batas-batas negara berupa garis imajiner di atas kertas peta yang menerapkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda.

Baca juga:  Nasikh dan Mansukh (Terkait Metode Penegakan Khilafah)

Kemudian penduduk negara bangsa itu pun satu sama lain digiring untuk menjadikan kecintaan pada tanah air dan kebangsaan sebagai segalanya. Mengalahkan spirit ukhuwah di atas iman dan menyingkirkan kebenaran agama Islam sebagai identitas hakiki mereka.

Sejak itu pula, hubungan satu sama lain diatur dengan standar-standar yang fondasinya diletakkan oleh penjajah. Bahkan negeri-negeri muslim yang sudah “merdeka” tadi, diikat sebagai bagian keluarga internasional di bawah naungan PBB, maupun oleh perjanjian-perjanjian lain di luar PBB dengan segala aturan yang dihasilkannya.

Sementara itu, para pemimpinnya rela menjadi perpanjangan tangan kepentingan negara adidaya baru. Yakni dengan menerapkan sistem aturan yang diwariskan dan didiktekan penjajah pada mereka. Berupa sistem hidup sekuler yang mendekatkan kaum muslim pada kepentingan para penjajah, namun justru menjauhkan mereka dari Islam sebagai sumber kemuliaannya.

MAKA sejak itulah, negeri-negeri muslim benar-benar resmi kehilangan kemerdekaan hakiki. Kendali ekonomi dan moneter negara mereka pun beralih ke tangan negara-negara adidaya. Mata uang dolar, perdagangan bebas, dan bantuan utang menjadi alat yang efektif untuk melemahkan kedudukan mereka. Begitu pun dengan kendali politik, semuanya bergantung pada kehendak negara-negara adidaya.

Bahkan kekuatan dan ikatan persatuan mereka pun benar-benar dilumpuhkan dengan berbagai aturan yang tercakup dalam apa yang disebut dengan “hubungan internasional”. Dan semua sikap politik terkekang independensinya oleh prinsip-prinsip diplomatik yang dipaksakan atas dirinya.

Tak heran jika tak satu pun negeri kaum muslimin yang mampu tampil sebagai pengendali dunia sebagaimana saat Khilafah ada. Rata-rata pemimpinnya justru menggantungkan hidup pada restu dan dukungan negara-negara adidaya. Tak peduli jika sikap mereka itu akan menggadai kedaulatan bangsanya.

Bahkan loyalitas mereka pada tuannya sedemikian kuat hingga rela mengorbankan harga diri dan kehormatan rakyatnya. Kekuasaan dengan segala manfaat materi yang menyertai benar-benar telah membutakan mata hati mereka, hingga tak peduli lagi pada tuntunan agama tentang amanah kepemimpinan yang sejatinya berfungsi sebagai pengurus dan penjaga bagi umatnya.

Maka tak heran pula jika mereka dan negaranya kian kehilangan wibawa. Sementara umat Islam yang telah dijanjikan kemuliaan di dunia dan akhirat itu, justru kian terperosok dalam lumpur kehinaan yang tiada tara. Terpecah belah, terjajah, jauh dari predikat khairu ummah.

Bahkan ketika berbagai kezaliman menimpa umat di berbagai penjuru dunia, miliaran kaum muslim lainnya seakan tak berdaya menolong saudaranya. Ukhuwah Islamiyah betul-betul kehilangan powernya. Terjegal garis imajiner bernama “negara bangsa” yang sejatinya merupakan settingan negara-negara adidaya.


SUNGGUH JAUH dengan kondisi saat sistem khilafah ada. Umat Islam saat itu, betul-betul bagaikan satu tubuh dan saling bersaudara. Satu sama lain menjadi pengukuh dan penolong lahir dan batin sesamanya. Hingga umat dan negaranya betul-betul mampu tampil sebagai adidaya yang ditakuti musuh-musuhnya.

Bahkan kala itu, umat dan Negara Khilafah mampu memimpin peradaban dunia. Menyatukan berbagai ras dan bangsa, menebar rahmat ke seluruh alam. Hingga tak hanya manusia, bahkan makhluk lainnya pun terjaga fitrah penciptaan dan kemuliaannya. Begitu pun tak hanya muslim, bahkan nonmuslim di berbagai penjuru dunia merasakan kebaikannya.

Betapa banyak catatan sejarah yang menyebutkan keagungan sistem Khilafah dan kekuatannya yang adidaya. Tak hanya ditulis sejarawan muslim saja, melainkan diakui pula oleh penulis-penulis Barat nonmuslim. Bahkan mereka dengan tulus menyebut, betapa bangsa-bangsa Barat berutang pada Islam dan Khilafah.

Sebutlah Will Durant, sejarawan Barat yang bersama Istrinya Ariel Durant menulis buku Story of Civilization. Dia menuliskan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.

Baca juga:  Adakah Model Baku Negara Khilafah?

Ada pula Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia (1997-2011) yang juga anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru (1984) dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades (1996). Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada 1847 (The Great Famine) yang membuat sejuta penduduknya meninggal dunia, dia berkata,

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Untuk itulah kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

Montgomery Watt juga mengungkapkan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Hal yang sama juga dikatakan Barack Obama, “Peradaban berutang besar pada Islam.” Maksudnya adalah peradaban Barat memiliki utang besar kepada peradaban Islam.


Itulah secuil pengakuan atas kehebatan Khilafah sebagai sistem politik pemersatu dan pelindung umat. Yang keberadaannya sangat dibutuhkan hari ini di saat umat tengah mengalami berbagai penderitaan dan kedzaliman.

Sungguh kita rindu pemimpin seperti Rasulullah saw. dan khalifah Mu’tashim Billah –salah seorang Khalifah dari dinasti Abbasiyah–, yang demi membela seorang muslimah, siap menghadapi musuh dengan kebijakan politik yang luar biasa.

Tak hanya pada pelaku pelecehan, Rasulullah saw. bahkan memutuskan seluruh entitas Yahudi Bani Qainuqa’ harus keluar dari kota Madinah. Karena pelecehan yang dilakukan dipandang sebagai bentuk makar dan pelanggaran terhadap perjanjian.

Begitu pun Al-Mu’tashim Billah. Beliau mengerahkan tentara yang sedemikian kolosal, ‘sekadar’ untuk menyambut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan orang Romawi saat berbelanja di pasar.

Dikisahkan panjangnya barisan tentara yang dikerahkan ini tak putus dari gerbang istana Khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). Bahkan peristiwa inilah yang menjadi penyebab ditaklukkannya kota Ammuriyah.


NAMUN hari ini, tak hanya satu dua muslimah yang dilecehkan. Bahkan jutaan kaum muslim hidup dalam ketakutan di bawah rezim kafir di berbagai negara. Di Palestina, India, Srilanka dan Bangladesh, Xinjiang-Cina, Suriah, Filipina, dan di tempat-tempat lainnya, umat Islam dalam kondisi menderita.

Di Xinjiang, muslim Uighur dimurtadkan, dipaksa makan-minum yang diharamkan, kaum perempuannya dinistakan, anak-anak mereka dengan orang tuanya dipisahkan. Dan sebagian lagi disiksa secara kejam, bahkan organ tubuh mereka dipanen untuk bisnis pengobatan.

Ironisnya, semua ini terjadi di hadapan saudara-saudara muslim yang lainnya. Termasuk di hadapan mata para pemimpin mereka yang juga berstatus muslim.

Namun apa yang mereka lakukan? Kaum muslim yang sadar hanya bisa berteriak di jalanan. Mengumpulkan recehan sekadar menunjukkan rasa persaudaraan. Berharap kelak di akhirat Allah swt. tak mendakwa karena bersikap diam.

Sementara para penguasa muslim justru berupaya menutup mata, dan sebagian malah membela sekutunya. Menyebut bahwa itu adalah urusan internal negara Cina.

Mereka memilih diplomasi lunak sebagai tanda “kepedulian”. Bahkan ada yang tega menyebut perlakuan itu wajar adanya. Karena muslim Uighur yang terjajah memang bersalah ketika hendak memberontak pada negara penjajahnya.

Baca juga:  Makna “Islam Rahmatan lil Alamin” Menurut Penjelasan Para Ulama Mu’tabar

Itulah juga yang dilakukan penguasa di Indonesia. Sebuah negara dengan jumlah kaum muslim terbesar di dunia. Yang sejak lama jatuh dalam jebakan utang negara adidaya khususnya Cina. Sampai-sampai mulut dan tangan mereka kelu untuk mengambil peran politik yang sepantasnya.

Pun halnya negara-negara muslim lainnya. Termasuk Saudi Arabia yang dikaruniai amanah memegang kunci dua kota suci dan dikaruniai berkah sebagai tempat kelahiran Nabi saw. yang mulia. Bahkan secara jelas mereka mendukung kekejaman Cina. Karena rupanya mulut-mulut mereka sudah penuh disumpal utang riba.

Inilah buah konsep negara bangsa buatan penjajah; menghalangi umat Islam mewujudkan ukhuwah sesungguhnya. Yakni ukhuwah yang membuat mereka tak rela berdiam diri melihat saudaranya tersakiti. Ukhuwah yang memberi energi bagi para pemimpin untuk mengerahkan segala daya membebaskan sesamanya hingga kemuliaan umat terjaga.

Nyatalah apa yang disampaikan Rasulullah saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tsauban ra, bahwa kelak umat Islam akan seperti santapan hidangan. Jumlah mereka sangat banyak, tapi ibarat buih di lautan. Tak berarti apa-apa dan tak membuat musuh ketakutan. Itu karena umat Islam telah terjangkiti penyakit al-Wahn. Yakni penyakit cinta dunia dan takut mati.


SUNGGUH, kita tak mungkin bisa berharap pada para penguasa yang hatinya sudah dipenuhi cinta dunia. Yakni penguasa yang berani mencampakkan perintah-perintah Allah demi meraih keridaan penjajah.

Hari ini, umat justru butuh kepemimpinan Islam yang tegak di atas keimanan. Yakni Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara kafah, yang dengannya kemuliaan dan persatuan hakiki umat akan mewujud kembali.

Saat kepemimpinan ini tegak, dipastikan umat Islam akan kembali tampil sebagai entitas yang kuat dan akan ditakuti oleh musuh-musuh mereka. Bahkan negara-negara kafir itu kelak akan tunduk bertekuk lutut, sementara penduduknya akan berbondong-bondong masuk ke dalam cahaya Islam.

Sungguh masa itu telah dinubuwatkan, dan saatnya insya Allah sudah dekat. Namun rupanya Allah masih menunda kehadirannya, untuk memberi kita kesempatan agar masuk dalam kelompok orang yang berjuang. Karena era khilafah Rasyidah yang dijanjikan itu adalah khilafah akhir zaman, yang tak ada lagi era yang sama setelahnya.

Rasulullah saw. bersabda,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَهُعَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَهَعَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيًّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ

“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah Swt. kehendaki. Lalu Allah Swt. mengangkatnya jika Allah Swt. menghendaki.

Lalu akan ada masa khilafah di atas minhaj nubuwwah selama Allah Swt. kehendaki, kemudian Allah Swt. mengangkatnya ketika menghendaki.

Lalu ada masa kerajaan yang menggigit selama yang Allah Swt. kehendaki, kemudian Allah Swt. mengangkatnya bila menghendaki.

Lalu akan ada masa kerajaan yang memaksakan (diktator/tirani) selama yang Allah Swt. kehendaki, kemudian Allah Swt. mengangkatnya bila Dia menghendaki.

Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas minhaj nubuwwah. Kemudian beliau diam.”

(HR. Ahmad, 4/273, dari Hudzaifah ra, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 5)

Semoga kita dicatat oleh Allah swt sebagai orang-orang yang istikamah dalam berjuang. Hingga nyawa ini terpisah dari badan. [Editorial MNews]SNA


 

Bagaimana menurut Anda?

One thought on “[Editorial] Ukhuwah Islam Terjegal Konsep “Negara Bangsa” Settingan Kaum Penjajah

  • 6 April 2020 pada 20:47
    Permalink

    Semoga Khilafah segera tegak untuk mengembalikan persatuan umat muslim secara utuh kembali. Aamiiin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *