Ramai Negara Islam ingin Transaksi pakai Emas. Tanda Kebangkitan Emas?

Perang dagang, sanksi ekonomi, hingga embargo menimbulkan gejolak ekonomi global. Sejumlah negara Islam kini mempertimbangkan bertransaksi menggunakan emas. Apakah ini menandakan era mata uang emas kembali lagi?


MuslimahNews.com, EKONOMI – Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara Islam Dunia, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyarankan perdagangan menggunakan emas sebagai senjata untuk bertahan dari embargo ekonomi yang dilancarkan oleh negara Barat.

“Saya menyarankan… gagasan perdagangan menggunakan dinar emas dan perdagangan sistem barter di antara kita, kami serius melihat ini,” kata Mahathir.

Foto: Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendengarkan Perdana Menteri Cina Li Keqiang pada KTT ASEAN-China di Singapura pada 14 November 2018. REUTERS / Edgar Su

Beberapa negara telah memulai untuk tidak terlalu bergantung pada perekonomian Negeri Paman Sam. Salah satunya Cina. Negeri Panda telah menyuarakan buang dolar atau dedolarisasi. Beberapa upaya yang dilakukan oleh Cina untuk ‘buang’ dolar, antara lain dengan mendiversifikasi cadangannya ke dalam mata uang lain serta membangun cadangan bayangan (shadow reserves).

Sampai saat ini dolar AS memang menjadi salah satu mata uang yang paling banyak digunakan di dunia. Menurut catatan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserves atau The Fed, total mata uang dolar AS yang tersirkulasi di dunia mencapai US$1,74 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 1,7x output perekonomian Indonesia tahun 2018. Sebuah nilai yang fantastis tentunya.

Jauh sebelum adanya fiat money, sistem moneter yang digunakan adalah gold standard. Artinya emas merupakan mata uang yang berlaku, bukan mata uang kertas yang diyakini memiliki nilai intrinsik (fiat money).

Pada sistem gold standard, transaksi akan terjadi antara penjual dan pembeli ketika uang kertas yang mencerminkan kepemilikan akan sejumlah emas ditukarkan dengan suatu barang atau jasa.

Baca juga:  Seruan Transaksi pakai Emas Mengemuka, Pakar: Berlakukan Sistem Moneter Negara Khilafah

Sistem gold standard memang memiliki keuntungan terutama dalam meredam inflasi dan menciptakan efek stabil pada perekonomian. Namun sistem ini juga memiliki keterbatasan dari sisi fleksibilitas penyediaan uang hingga menimbulkan persaingan tak sehat bagi negara-negara yang tak memproduksi emas.

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Lantas kenapa dolar AS menjadi mata uang acuan?

Berawal dari tahun 1944 setelah perang dunia meletup, berbagai negara mengirimkan delegasinya untuk menghadiri konferensi tentang sistem moneter di Bretton Wood New Hampshire pada 1-22 Juni 1944.

Hasil dari konferensi itu adalah Perjanjian Bretton Wood yang melahirkan dua lembaga keuangan global yaitu International Bank for Reconstruction & Development (IBRD) atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Perjanjian Bretton Woods juga menjadi tonggak awal mata uang dolar AS sebagai acuan. Alasannya saat itu, Paman Sam menguasai lebih dari dua pertiga emas dunia. Sehingga jadilah dolar sebagai mata uang acuan dan menggantikan sistem Gold Standard. Saat itu satu dolar setara dengan 1/35 oz emas.

Namun, dampak yang ditimbulkan adalah nilai dolar menjadi dominan dibanding mata uang lain. Permintaan akan greenback pun melonjak meski tidak terjadi perubahan terhadap nilai emas. Ketidaksesuaian inilah yang menjadi cikal bakal runtuhnya perjanjian Bretton Woods.

Baca juga:  Menimbang Mata Uang Emas dalam Sistem Ekonomi Islam

Kala AS dipimpin oleh Richard Nixon pada tahun 1971, ekonomi AS menderita penyakit yang namanya stagflation. Stagflation ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran serta inflasi yang meroket. Hal tersebut diakibatkan karena dolar menjadi mata uang global.

Merespons hal tersebut Nixon mendevaluasi nilai dolar terhadap emas. Awalnya Nixon menetapkan 1 dolar AS setara dengan 1/38 oz, kemudian menjadi 1/42 oz. Namun kebijakan tersebut malah jadi bumerang. Dengan dolar yang semakin murah, maka banyak orang yang mulai menukarkan dolar menjadi emas sehingga jumlah emas semakin menipis

Tak lama berselang Amerika Serikat secara sepihak mengakhiri penukaran dolar dengan emas yang menjadi tanda berakhirnya perjanjian Bretton Woods, sejak saat itu dolar menjadi mata uang fiat dan pada saat yang sama berbagai mata uang menjadi free floating hingga sampai sekarang.

Namun akibat perjanjian tersebut mata uang dolar telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Banyak negara yang mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Apalagi di tengah gejolak ekonomi global seperti sekarang ini. Emas telah naik 15% dalam setahun. Kilau emas bersinar terang hingga menyilaukan mata tak hanya investor dan palu pasar, tapi juga bank sentral.

Baca juga:  Seruan Transaksi pakai Emas Mengemuka, Pakar: Berlakukan Sistem Moneter Negara Khilafah

Pada kuartal I-2019, total pembelian bersih emas mencapai 90 ton. Beberapa bank sentral yang memborong emas tahun ini adalah AS, Jerman, Italia, hingga Cina. Bahkan Cina menargetkan pembelian emas hingga 15 ton setiap bulannya. Hal ini diikuti juga oleh Rusia, Qatar, Kolombia, hingga Filipina.

Jadi apakah era emas naik panggung lagi akan dimulai kembali? Jadi ingat perkataan J.P Morgan: “Gold is money. Everything else is credit,” – J.P Morgan. [MNews]

Sumber: CNBC Indonesia

  • Catatan redaksi: Negara Islam yang dimaksud di berita ini (Sumber CNBC), tentunya bukan Negara Islam Khilafah. Melainkan negara-negara yang pernah tergabung dalam satu kesatuan Khilafah, yang kini tersekat-sekat menjadi lebih dari 50 negara bangsa. Semoga memperjelas maksudnya.
Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *