; Stigma Separatis bagi Uighur: Akal-akalan Negara Islamofobia yang Paranoid akan Kebangkitan Islam – Muslimah News

Stigma Separatis bagi Uighur: Akal-akalan Negara Islamofobia yang Paranoid akan Kebangkitan Islam

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Dewan Negara Republik Rakyat Cina menerbitkan tiga “white paper” atau laporan resmi isu Uighur di Xinjiang. Laporan pertama menyoal terorisme dan separatisme yang berakar di Xinjiang.

Salah satunya disebutkan bahwa sejak 1990-an, terutama setelah serangan 11 September di AS, pasukan Turkistan Timur di dalam dan luar Cina telah berupaya membangun Turkistan Timur melalui konsep jihad.

Di laporan resmi kedua menyoal sejarah multietnik di Xinjiang dan mengungkit kembali separatisme Turkistan Timur. Disebutkan kelompok etnik Uighur terbentuk melalui proses migrasi dan integrasi panjang, seraya menambahkan bahwa Uighur adalah bagian dari bangsa Cina.

Sementara laporan ketiga berisi enam bab, menekankan kebutuhan mendesak untuk pendidikan dan pelatihan melawan ekstremisme. Cina juga membantah keaslian dokumen tentang Xinjiang yang bocor dengan menyebutnya fabrikasi murni dan berita palsu. (Tempo.co)

Bagaimana respons Indonesia?

Mahfud MD selaku Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) mengatakan bahwa Indonesia tidak mau intervensi dan menganggap urusan Uighur adalah urusan internal Cina. Mahfud menyebut Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan Cina sehingga cara menyikapi persoalan Uighur adalah dengan diplomasi lunak.

Meski mengakui sudah bertemu Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xiao Qian, secara tertutup di kantor Menko Polhukam pada 5/12/2019 lalu dan sempat menanyakan situasi terkait Uighur, Mahfud tetap menegaskan pemerintah Indonesia tak ingin ikut campur urusan dalam negeri Cina dan hanya ingin mengetahui permasalahannya.

Senada dengan Mahfud, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan pemerintah Indonesia tak ikut campur urusan dalam negeri Cina terkait masalah Muslim Uighur, di Xinjiang. Moeldoko menyebut masing-masing negara punya cara mengatur urusan dalam negerinya.

“Jadi pemerintah RI tidak ikut campur dalam urusan negara Cina mengatur dalam negeri. Itu prinsip-prinsip dalam standar hubungan internasional,” katanya di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Senin (23/12/2019). (CNN Indonesia)

Akal-akalan Negara Islamofobia

White paper (laporan resmi) yang diterbitkan Dewan Negara RRC tentang kondisi di Xinjiang, sesungguhnya kian menunjukkan bahwa politik Cina ikut “termakan” opini sentral yang dimainkan Amerika Serikat.

Sebagaimana negara-negara pengidap Islamofobia, ajaran Islam dan kaum muslim distigma sebagai ancaman. Maka Muslim Uighur disebut berpotensi menerbitkan terorisme dan ekstremisme, dan itu sebabnya rezim Xi Jinping merasa berkepentingan “menjaga” HAM di Xinjiang.

Begitu pun pendirian “kamp vokasi”, hanyalah akal-akalan Cina untuk merusak bahkan melakukan genosida terhadap Muslim Uighur –yang akar genetiknya adalah etnik Turki–, selain niat busuk melakukan aneksasi (pencaplokan, ed.) dan penjajahan di Xinjiang.

Situasi ini tak berbeda dengan yang terjadi di Palestina ataupun Myanmar. Karena itu, situasi tersebut tak bisa hanya dihadapi dengan diplomasi lunak dengan alasan politik Indonesia tak bisa intervensi urusan dalam negeri bangsa lain. Sekalipun berkali-kali disampaikan bahwa Indonesia tidak pernah toleran pada segala bentuk penindasan dan penjajahan.

Jika Barat merusak para muslimah dengan pemikiran dan perilaku sekuler liberal, maka Cina “merusak” muslimah Uighur. Secara simultan, mereka dipaksa memberhalakan ketua Partai Komunis Cina. Bila jalankan ibadah mahdhah, mereka disiksa, kehormatan mereka dilecehkan.

Para wali dan suami mereka ditahan bahkan tak tahu mati-hidupnya. Mereka dipaksa hidup dengan laki-laki Cina asing yang tinggal bertahun-tahun di rumahnya hingga bisa melakukan apa saja. Hidup dalam rumah tak beda dengan siksaan dalam kamp konsentrasi.

Ancaman “lost generation” turut menimpa Uighur karena para muslimah berusia produktif disterilisasi, sedangkan anak-anak mereka hilang atau mayatnya kembali dengan jahitan di lokasi organ vital. Anak-anak Uighur yang masih hidup pun tak mendapatkan kasih sayang, keluarga mereka direnggut paksa oleh pasukan biadab Xi Jinping.

Semua itu terjadi hanya karena mereka muslim. Paranoid atas potensi kebangkitan Islamlah yang melatarbelakangi kekejian itu. Apalagi bumi Turkistan Timur –nama awalnya Xinjiang– itu dianugerahi Allah dengan minyak dan mineral, serta letak geostrategisnya yang membangkitkan kerakusan penguasa Cina.

Negeri Muslim tak Bertaji tanpa Khilafah

Sesungguhnya, Indonesia sebagaimana negeri muslim lainnya, tak bakal mampu bersikap tegas terhadap Cina. Meskipun Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun depan, tetap saja tak punya gigi bahkan nyali.

Demikian pula Mesir, Arab Saudi, Turki, atau Malaysia yang turut mengamankan kepentingan-kepentingan negeri kufur Cina yang membuat mereka juga tergantung secara ekonomi.

Hal ini semestinya kian menyadarkan muslim di mana pun bahwa Islam itu sungguh berharga untuk diperjuangkan, karena musuh Islam akan berani menyerang Islam dan muslim jika umat tidak mati-matian mempertahankannya.

Perjuangan yang harus dilakukan umat itu adalah dengan menegakkan Khilafah. Hanya Khilafah yang akan muncul sebagai supremasi kekuatan negara penantang semua musuh Islam. Negara-negara agresor dan penjajah macam Cina akan bungkam dengan pengerahan militer Khilafah.

Ingat, sekalipun Afghanistan atau Palestina alutsistanya “rongsokan”, namun hingga saat ini AS atau Israel tak mampu menghabisi mereka. Musuh Islam mana pun dan kapan pun tak bakal sanggup padamkan ruh jihad yang dimiliki para tentara Allah.

Supremasi kekuatan tentara muslim yang tak terkalahkan dengan ruh jihadnya hanya bisa dimobilisasi oleh Khilafah Islamiyah. Khilafah inilah yang akan membebaskan tanah Cina dari penguasa komunis sebagaimana dilakukan Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Atas perintahnya, pasukan kekhilafahan yang dipimpin Panglima Qutaibah bin Muslim pada 705 M bergerak membebaskan Asia Tengah. Hanya dalam waktu singkat, tentara-tentara Allah ini berhasil menggentarkan imperium Cina.

Umat Islam juga akan mampu mengulang sejarah dalam melindungi perempuan, keluarga, dan anak-anaknya. Sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. atas Yahudi Bani Qainuqa’ yang melecehkan kehormatan seorang muslimah, juga pembelaan Khalifah Mu’tashim Billah atas kasus senada.

Hanya Khilafah yang mampu mengembalikan kehormatan muslimah Uighur sekaligus mengusir kafir dari tanah kaum muslimin. Maka, tak mustahil situasi ini akan berulang kembali. Menjadi amal saleh kita semua jika kita semua menyegerakan tegaknya Khilafah Islamiyah ala minhajin nubuwwah yang kedua kalinya. Insya Allah. [MNews]



 

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *