Hukum Salat Gerhana Matahari di Daerah yang Tidak Mengalami Gerhana Matahari

MuslimahNews.com, FIKIH — Pertanyaan: Apakah kita yang tinggal tempat yang tidak melihat gerhana hanya mendengar bahwa di tempat lain terjadi gerhana matahari juga disunahkan salat gerhana? (Nur Hikmah, Bantul); Apakah daerah yang tidak mengalami gerhana, tidak melihat gerhana, juga dituntut untuk melaksanakan salat gerhana? (Aries, Purwokerto).

Jawaban oleh KH.M. Shiddiq Al Jawi

Wa alaikumussalam wr. wb. Muslim yang berada di daerah-daerah yang tidak mengalami gerhana matahari, tidak disunahkan untuk melakukan salat gerhana matahari.

Alasannya, karena tidak terdapat “sebab” bagi pelaksanaan salat gerhana, yaitu terjadinya (teramatinya) gerhana matahari bagi muslim di daerah tersebut. Dengan demikian, hukum syariah yang menjadi akibat hukum (“musabbab”) dari adanya “sebab” itu, yaitu pelaksanaan salat gerhana, juga tidak ada.

Dalam ilmu ushul fiqih, “sebab” adalah apa-apa yang jika ada maka hukum syara’ yang menjadi akibat hukumnya (“musabbab”) akan ada (terwujud/terlaksana). Sebaliknya jika “sebab” tidak ada, maka “musabbab” juga tidak ada.

Contoh-contoh “sebab”, misalnya:
(1) masuknya waktu adalah sebab pelaksanaan salat;
(2) tercapainya nishab adalah sebab pelaksanaan zakat mal;
(3) safar adalah sebab bolehnya meng-qashar atau menjamak salat;
(4) akad nikah adalah sebab bolehnya jima’;
(5) akad syar’i adalah sebab sahnya kepemilikan barang, dst. (Imam Ghazali, Al Mustashfa fi ‘Ilmil Ushul, hlm.75; Imam Syathibi, Al Muwafaqat, 1/187).

Baca juga:  Memahami Gerhana dengan Alquran

Dalam hal ini hadis-hadis sahih telah menunjukkan dengan jelas bahwa yang menjadi “sebab” bagi pelaksanaan salat gerhana, adalah terjadinya gerhana yang dapat diamati atau dilihat di suatu daerah.

Jadi jika gerhana matahari terjadi di suatu negeri muslim yang luas (seperti Indonesia), maka yang disunahkan salat gerhana hanyalah daerah yang penduduknya dapat mengamati terjadinya gerhana dari daerah itu. Adapun daerah yang penduduknya tidak dapat melihat terjadinya gerhana, berarti tidak disunahkan salat gerhana untuk daerah itu.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw.:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat (gerhana) dan bersedekahlah.” (HR Bukhari no. 1044).

Dalam hadis tersebut, terdapat dalil bahwa yang disunahkan salat gerhana hanyalah mereka yang melihat gerhana. Perhatikan sabda Rasulullah saw.:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat (gerhana), dan bersedekahlah.”

Dengan demikian, jelaslah bahwa syariat telah mengaitkan salat gerhana dengan suatu “sebab”, yaitu teramatinya (terlihatnya) gerhana itu oleh penduduk muslim di suatu daerah.

Baca juga:  Memahami Gerhana dengan Alquran

Jadi jika di suatu daerah gerhana matahari tidak dapat teramati, atau terhalang oleh mendung atau hujan, misalnya, maka penduduknya tidak disunnahkan sholat gerhana.

Kaidah fikih yang terkait masalah “sebab” telah menetapkan:

لاَ يَبْقَى الْحُكْمُ بَعْدَ زَوَالِ سَبَبِهِ

“Laa yabqaa al hukmu ba’da zawaali sababihi.” (suatu hukum tidak dapat diamalkan jika tidak ada sebabnya). (Muhammad Shidqi Al Burnu, _Mausuu’ah Al Qawaa’id Al Fiqhiyyah,_ 2/949). Wallahu a’lam. [MNews]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *