; Pindahkan Materi Khilafah dan Jihad dalam Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam = Anti-Islam! – Muslimah News

Pindahkan Materi Khilafah dan Jihad dalam Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam = Anti-Islam!

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Beberapa waktu terakhir ini, muncul wacana untuk memindahkan materi khilafah dan jihad dari materi fikih menjadi materi sejarah. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan pergeseran materi khilafah dari materi fikih menjadi materi sejarah bukan untuk meminimalisir penyebaran radikalisme. Dia mengatakan hal tersebut agar para murid yang mempelajari materi tersebut tidak salah paham.

Ndak. Takutnya nanti anak-anak jadi rancu pemikirannya. Jadi seolah-olah kita mengangkat itu dari aspek fikih. Padahal kita mengangkatnya dari level bawah, ya dari sejarah Islam saja,” kata Menag (detikNew, 10/12/2019).

Sesungguhnya ini merupakan argumentasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Rancunya di sebelah mana? Salah pahamnya di sebelah mana? Jika menyampaikannya dengan benar, tentu tidak akan terjadi kerancuan atau kesalahpahaman.

Sementara itu Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin mengatakan konsep khilafah sudah tidak relevan di Indonesia, karena Indonesia sebuah negara yang memiliki konstitusi.

“Sekarang ini di dunia ini sudah tidak ada lagi negara Islam yang menerapkan khilafah. Negara Islam itu ada yang republik, ada yang kerajaan, ada yang sekuler, ya seperti Turki,” ujar Kamaruddin.

Ia juga menjelaskan bahwa khilafah dan jihad lebih relevan apabila dilihat dalam konteks sejarah Islam, untuk membentuk perspektif generasi muda yang nasionalis namun tetap religius.

“(Materi) khilafah dan juga jihad itu tidak dihapuskan sama sekali dalam pelajaran (buku agama) kita, makanya dipindahkan tempatnya dari pelajaran fikih menjadi pelajaran sejarah. Jadi fakta bahwa pernah ada khilafah dalam sejarah peradaban Islam itu tidak ditutupi,” katanya (IDN Times).


SEKILAS, memang seperti tampak tidak ada masalah, materi khilafah dan jihad akan tetap dipelajari dalam pelajaran di madrasah, tidak dihilangkan sebagaimana yang telah diwacanakan sebelumnya. Akan tetapi jika kita mencermati, tentu saja ada yang penting yang seharusnya disadari oleh kita semua.

Benar bahwa khilafah adalah sebagian dari sejarah Islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah merupakan hal penting, apalagi sejarah Islam. Setiap muslim sudah seharusnya tahu dan paham tentang sejarah Islam yang sesungguhnya, sehingga tidak terperdaya oleh musuh-musuh Islam atau pihak-pihak yang hendak memutarbalikan sejarah Islam.

Akan tetapi, sejarah kadangkala dipengaruhi oleh penulisnya. Sangat berbeda dengan sirah nabawiyyah dan fiqh (fikih). Selain ia merupakan hal penting yang harus dipahami oleh seorang muslim, akan tetapi sirah dan fikih harus diamalkan atau dilaksanakan.

Mengapa? Karena sirah nabawiyyah merupakan perjalanan dakwah Rasulullah saw., bagaimana Rasulullah melaksanakan dakwah Islam di Makkah hingga menegakkan negara Islam di Madinah dan menjalankan aktivitas kenegaraan, semua sarat dengan hukum-hukum yang harus diamalkan oleh kita dalam memperjuangkan Islam ketika saat ini belum tegak khilafah.

Sedangkan fikih berkaitan dengan hukum-hukum Allah yang harus dilaksanakan oleh umat Islam, bahkan seluruh hukumnya bukan sebagian-sebagian. Baik menyangkut masalah individu maupun masalah umat, seluruhnya harus dilaksanakan secara kafah.

Khilafah dan jihad termasuk bagian dari hukum Islam yang wajib ditegakkan oleh umat Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullaah saw..

Jika kita mau mencermati secara mendalam, maka kita bisa simpulkan bahwa mengganti materi khilafah dan jihad dalam pelajaran sejarah kebudayaan Islam (SKI) sesungguhnya hanya akal-akalan saja, untuk menutupi wajah anti-Islam.

Dan yang lebih penting lagi adalah untuk mengalihkan atau menyempitkan pemahaman tentang khilafah dan jihad hanya sebatas pengetahuan, selayaknya sejarah pada umumnya. Padahal khilafah dan jihad adalah bagian dari syariat (hukum) yang wajib diterapkan dalam kehidupan.

Ketika ditempatkan sebagai sejarah semata, maka bisa dianggap sebagai pengetahuan tentang masa lalu saja. Lain halnya jika diakui sebagai bagian dari fikih Islam seperti salat, shaum, dan hukum syara lainnya, maka akan memberikan pencerdasan dan pemahaman pada umat bahwa khilafah dan jihad adalah ajaran Islam yang wajib dilaksanakan dan merupakan sebuah kemaksiatan besar ketika menolak dan tidak memperjuangkannya.

Karenanya, sudah seharusnya umat Islam menolak upaya orang-orang yang hendak memindahkan materi khilafah dan jihad ke dalam pelajaran sejarah. Karena ketika khilafah masuk pada pelajaran sejarah Kebudayaan Islam, tidak masuk pada pelajaran fikih, akan semakin menjauhkan umat dari pemahaman bahwa khilafah adalah bagian dari hukum dan ajaran Islam, yang wajib diyakini dan diamalkan serta diperjuangkan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]


 

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *