Soal Uighur, Cina Mirip Israel: Sama-sama Mencaplok Wilayah Lain!

MuslimahNews.com, UIGHUR — Pernahkah Anda mengamati wajah dan perawakan orang-orang Uighur, baik lewat televisi maupun internet? Sangat berbeda sekali dengan orang-orang Cina. Usut punya usut, bangsa Uighur adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah. Ini seperti yang ditulis politikus serta sejarawan Uighur, Muhemmed Imin Bughra, dalam bukunya A History of East Turkestan.

Berbeda dengan warga Cina pada umumnya yang berbicara bahasa Mandarin, warga Uighur berbahasa lokal Uighur –sefamili dengan bahasa Turki–. Mereka menyebut wilayahnya sebagai Uighuristan atau Turkistan Timur. Menurut sejarah, bangsa Uighur merdeka telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Akan tetapi Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya.

Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tidak berdasar. Wilayah Xinjiang berada di luar Tembok Besar Cina yang dibangun untuk mempertahankan Cina dari invasi, dan sebelah barat gerbang Jade yang oleh kebanyakan sumber sejarah menjadi tanda batas barat negara Cina. Nasib bangsa Uighur ini mirip dengan nasib bangsa Palestina yang dijajah Israel atas dasar klaim sejarah.

Uighuristan merupakan tanah subur berjarak 1.500 mil dari Beijing, dengan luas 1,6 juta km persegi atau hampir 1/6 wilayah Cina. Uighuristan atau yang dikenal sebagai Provinsi Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina.

Pascaruntuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani tahun 1924, rezim Bolshevik Rusia, Joseph Stalin, membagi etnis ini menjadi Uighur, Kazakh, Lyrgyz, Uzbek, Turkmen, Bashkir, dan Tatar dalam konferensi etnik dan pembagian negara di Tashkent, Uzbekistan.

Di awal-awal penjajahan Cina, penduduk asli Uighur mencapai 96 persen. Namun, sensus Cina terakhir menyebutkan kini hanya ada 7,2 juta Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Selain itu ada etnis Kazakh (1 juta), Kyrgyz (150 ribu), dan Tatar (5 ribu).

Baca juga:  Upaya Mutilasi Islam atas Nama Deradikalisasi

Selain itu, di Xinjiang tinggal juga etnis ras Asia: Han-Cina, Manchu, Huis, dan Mongol. Sebelum dicaplok Cina, kawasan Xinjiang dalam sejarah diperintah berbagai kerajaan. Mulai Tocharians, Yuezhi, dan lainnya.

Dinasti Qing Manchu dari Cina masuk ke Uighuristan pada 1759 M setelah Muslim Uighur dan klan-klan Muslim lain di Asia Tengah meminta bantuan untuk menghadapi orang-orang Dzungar-Mongol yang selalu mengganggu.

Setelah orang-orang Mongol Buddha ditumpas, Dinasti Qing mendatangkan suku Han dan Hui untuk menempati kawasan utara (Dzugar Basin). Lalu dinasti ini menggabungkan Dzugar Basin dan Tarim Basin menjadi wilayah baru yang diberi nama “Xinjiang” yang berarti ‘Perbatasan Baru’ atau ‘Daerah Baru’.

Tahun 1933 orang Uighur mendeklarasikan negara merdeka Republik Islam Turkistan Timur, namun tidak berumur panjang. Setahun kemudian diduduki kembali oleh Cina. Usaha untuk kemerdekaan negeri itu tercapai lagi tahun 1944 dengan mendeklarasikan Republik Turkistan Timur yang berhasil mengalahkan Rusia.

Sampai akhirnya mereka dikalahkan kembali oleh Tentara Pembebasan Rakyat Cina yang komunis di tahun 1949. Hingga saat ini mereka berjuang untuk kemerdekaan Turkistan Timur dan mereka dianggap sebagai separatis.

Peradaban Maju dan Kaya

Orang Uighur berbeda ras dengan Cina-Han. Mereka lebih mirip orang Eropa Kaukasus, sedangkan Han mirip orang Asia. Bangsa Uighur memiliki sejarah lebih dari 4.000 tahun. Sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayaan uniknya, sistem masyarakat, dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia.

Di awal abad ke-20, melalui ekspedisi keilmuan dan arkeologis di wilayah Jalur Sutra, di Uighuristan ditemukan peninggalan kuno bangsa Uighur berupa candi-candi, reruntuhan biara, lukisan dinding, dan barang-barang lainnya, juga buku dan dokumen.

Baca juga:  Mengapa Xinjiang Penting bagi Tiongkok?

Penjelajah Eropa, Amerika, bahkan Jepang sangat kagum terhadap kekayaan sejarah di daerah itu. Dan laporan-laporan merekalah yang mengundang kedatangan orang luar ke sana. Saat ini, peninggalan peradaban Uighur banyak tersimpan di museum Berlin, London, Paris, Tokyo, Leningrad, dan Museum Islam di New Delhi, India.

Berabad-abad lalu, Uighur telah menggunakan skrip tulisan. Saat bersatu di bawah Kerajaan Uighur-Kok Turk abad ke-6 dan ke-7, mereka menggunakan tulisan Orkhun, yang lalu diadopsi menjadi tulisan Uighur.

Tulisan ini digunakan hampir 800 tahun, tidak hanya oleh bangsa Uighur tapi juga oleh suku-suku klan Turki lainnya, oleh orang Mongol (saat kekaisaran Geng-his Khan), dan oleh orang Manchu (terutama pada masa awal Manchu mulai menguasai Cina).

Setelah memeluk Islam di abad ke-10, Uighur menyerap alfabet Arab. Jangan heran, sejak dulu, banyak orang Uighur menjadi pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istanbul, bahkan Baghdad.

Kebanyakan karya sastra awal keberadaan Uighur diterjemahkan ke teks agama Buddha dan Manichean. Namun ada juga karya naratif, puisi, dan epik yang telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, Inggris, dan Rusia.

Bangsa Uighur juga dikenal ahli pengobatan. Zaman Dinasti Sung (906-960), seorang ahli obat-obatan Uighur bernama Nanto mengembara ke Cina. Ia membawa berbagai jenis obat yang saat itu belum dikenal di Cina.

Bangsa ini pada masa itu telah mengenal 103 tumbuhan obat –dicatat dalam buku obat-obatan Cina oleh Shi-Zhen Li (1518-1593). Bahkan sebagian ahli Barat percaya akupuntur bukan asli milik orang Cina, tapi awalnya dikembangkan Uighur.

Orang Uighur juga memiliki kemampuan arsitektur, musik, seni, dan lukisan yang tinggi. Mereka bahkan telah bisa mencetak buku berabad-abad sebelum ditemukan mesin cetak oleh Gutenberg. Pada abad pertengahan, karya sastra, teater, musik, dan lukisan sastrawan Cina juga sangat dipengaruhi Uighur. Orang Uighur memeluk Islam sejak tahun 934 M, saat pemerintahan Satuk Bughra Khan, pengusaha Kharanid.

Baca juga:  Merusak Islam dengan Dialog Antaragama

Saat itu, 300 masjid megah dibangun di kota Kashgar. Islam lalu berkembang dan menjadi satu-satunya agama orang Uighur di Uighuristan. Tak heran, dulu, Xinjiang merupakan urat nadi perdagangan dunia, karena berada di Jalur Sutra. Sumber daya alamnya sangat melimpah.

Ungkapan “Di mana ada azan, di situ ada minyak”, terbukti di sini. Cadangan minyak dan gas terbesar Republik Rakyat Cina (RRC) ada di sini, khususnya di Xinjiang bagian selatan (Tarim Basin).

Image result for tarim basin oil
Sumber daya minyak di Xinjiang luar biasa besar dan melimpah ruah.

Caplok Xinjiang Dulu, Baru Tibet

Setelah menduduki wilayah Xinjiang, Cina kemudian mencaplok Tibet –kawasan kaya mineral yang berbatasan langsung dengan Xinjiang- pada 21 Oktober 1950. Padahal Tibet telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Dinasti Qing pada 1913.

Dalam sejarah, wilayah ini pun bukan wilayah Cina. Akibat invasi Cina, Tibet mengalami kekalahan dan terpaksa menandatangani 17 pokok perjanjian yang menyatakan pengakuan Pemerintahan Cina terhadap Tibet.

Dalam perjanjian itu, Cina memperbolehkan adanya administrasi otonomi yang dipimpin oleh Dalai Lama –gelar bagi raja Tibet. Namun, rakyat Tibet tak bisa menerima penjajahan Cina ini.

Orang-orang Tibet (Tibetian) mengatakan bahwa Tibet adalah negara tersendiri yang independen. Sementara Cina mengklaim Tibet adalah bagian dari Negara Cina.

Pada 17 Maret 1959, Dalai Lama berhasil meloloskan diri dari penangkapan tentara Cina ke India oleh usaha pelarian yang dipimpin oleh Gampo Tashi, dan mendirikan semacam pemerintahan pelarian di Dharamsala, India utara sampai sekarang. Kemudian oleh Cina, Dalai Lama disebut sebagai pemberontak. [MNews]

Diolah dari Tabloid Media Umat 234, Subjudul asli: “Klaim Wilayah Lain, Cina Mirip Israel!”

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *