; Khilafah Melahirkan Intelektual Inovatif Pembangun Peradaban Islam – Muslimah News

Khilafah Melahirkan Intelektual Inovatif Pembangun Peradaban Islam

Oleh: Nida Saadah

“… pada masa peradaban agung (kekhilafahan) di Andalus, siapa pun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah ia harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, teknik, dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, di mana beberapa universitas penting berada”. (Oliver Leaman, ahli filsafat dari Universitas Cambridge)

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Demikianlah gambaran kampus di era Peradaban Islam selama lebih dari 1.300 tahun. Berbeda sekali dengan gambaran kampus di era kini, Era Peradaban Sekuler.

Kampus era kini, di negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia, berjalan dalam arah kepentingan pemegang Peradaban Sekuler. Tidak berjalan berbasis kebutuhan umat. Fakta yang sangat berbeda dengan kampus dalam Peradaban Islam yang bahkan bisa membantu menyelesaikan problem masyarakat di luar Negara Khilafah Islam, yang tidak mampu dipecahkan negaranya sendiri. Artinya posisi kampus sebagai problem solver bahkan bisa dinikmati rakyat yang berada di luar Negara Khilafah Islam.

Kunci utamanya adalah Islam itu sendiri. Islam yang memiliki berbagai konsep pemecahan masalah manusia dijadikan sebagai referensi utama bagi intelektual.

Sebuah sikap yang hari ini dimusuhi rezim di negeri ini.

Tulisan ini memaparkan singkat bagaimana Negara Khilafah akan secara praktis mengatur pendidikan tinggi dengan tujuan untuk memenuhi aspirasi masyarakat dalam pendidikan, menghidupkan generasi hebat dengan ketinggian ilmu dan kreativitas, dan memastikan pembangunan dan riset untuk menjaga dan melayani kebutuhan umat.


Pengelolaan Pendidikan Tinggi dalam Khilafah Islam

Pengelolaan pendidikan tinggi dalam Khilafah Islam dirancang untuk mengoptimalkan potensi intelektual untuk kemanfaatan umat. Bukan melayani kepentingan korporasi apalagi menjadi antek negara lain.

Pendidikan tinggi dalam Negara Khilafah dirancang untuk mencapai 3 (tiga) tujuan pokok:

a) Memfokuskan dan memperdalam kepribadian Islam murid pendidikan tinggi, yang telah dibangun dengan sempurna pada level pendidikan sekolah, dan mengangkat kepribadian ini untuk menjadi pemimpin yang menjaga dan melayani persoalan vital umat.

Kultur islam yang melayani persoalan-persoalan vital harus diajarkan secara terus menerus kepada murid-murid pendidikan tinggi –terlepas dari opsi yang mereka pilih– dalam rangka menjaga kevitalan persoalan dan fokus dalam pemikiran dan perasaan umat.

Baca juga:  Kepolisian pada Zaman Khilafah Abasiyah

Diriwayatkan dari Abu Nu’aim ‘al Hulya’, Rasul saw. bersabda, “Dua tipe manusia yang jika keduanya takwa maka rakyatnya akan bertakwa, dan jika mereka fasad maka rakyatnya akan fasad: adalah ilmuwan dan penguasa.”

Rasul saw. bersabda, “Jangan tanyakan kepadaku tentang keburukan, tetapi tanyakan kepadaku tentang kebaikan.” (Diulang hingga tiga kali). Beliau bersabda, “Seburuk- buruknya keburukan adalah ilmuwan yang buruk, dan sebaik-baik kebaikan adalah ilmuwan yang baik.” (Diriwayatkan oleh ad Darimi dalam buku Al Muqoddimah).

b) Membentuk gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat, begitu juga gugus tugas yang mampu menggambarkan rencana jangka pendek dan jangka panjang.

Kepentingan kepentingan vital adalah kepentingan-kepentingan yang kerugiannya akan mengancam kehidupan ummat, seperti militer yang kuat yang mampu melindungi umat, membela kepentingannya, dan terlebih dahulu menyerang orang-orang kafir dalam rangka mengemban pesan-pesan Islam kepada mereka.

Di antara kepentingan vital umat adalah mengamankan kebutuhan esensial seperti air, makanan, akomodasi, keamanan, dan pelayanan kesehatan. Pendidikan tinggi harus mencetak peneliti-peneliti yang mampu, baik secara teori maupun secara praktis untuk memperbarui dan menemukan alat dan cara dalam bidang agrikultur, air dan keamanan, dan kepentingan-kepentingan vital lain.

Sehingga umat terus-menerus memegang kontrol terhadap urusannya sesuai dengan visi nya sendiri dan memiliki swadaya dan swasembada. Hal ini dilakukan untuk mencegah dari jatuh dibawah pengaruh negara kafir karena sebuah kepentingan.

Allah Swt. berfirman (QS An-Nisa 141) yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah Kami (turut berperang) beserta kamu ?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah Kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

Pendidikan tinggi juga harus mencetak ilmuwan dan politikus yang mampu mempersembahkan penelitian dan proposal khusus untuk menjaga kepentingan vital umat, yang khusus menitikberatkan pada merancang rencana strategi yang dibutuhkan bagi Daulah Khilafah untuk melayani kepentingan-kepentingan ini.

c) Mempersiapkan gugus tugas untuk menjaga urusan urusan umat.

Menyiapkan para hakim, yurispruden (ahli hukum/ fukaha), doktor, insinyur, guru, penerjemah, manajer, akuntan, perawat, dsb. Negara Khilafah berkewajiban untuk mengamankan kebutuhan harian ummat berkenaan dengan jalan, rumah sakit, sekolah, dsb.

Baca juga:  Khilafah Ajaran Islam: Bukti Historis Khilafah (3)

Pendidikan tinggi dalam Negara Khilafah untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut di atas, terdiri dari 2 (dua) tipe utama:

Tipe pertama, Study by Teaching (mengajar lebih banyak dibanding penelitian).

Pengajaran diorganisir oleh fakultas dan universitas lewat mata kuliah, dosen dan jadwal pendidikan. Murid mendapatkan sertifikat “degree pertama” dikenal pada saat ini sebagai diploma, jika pendidikan ini teknis atau vokasional; atau sertifikat pendidikan kedua (ijazah) yang sekarang dikenal sebagai gelar sarjana atau bachelor dalam subjek tertentu dalam satu fakultas dari universitas.

Tipe kedua, Study by Research.

Pendidikan ini adalah pendidikan yang riset lebih banyak daripada mengajar. Murid belajar untuk berinovasi riset saintific, dan terspesialisasi sains yang spesifik. Dia menjalani penelitian yang seksama dan terspesialiasi dalam rangka untuk menemukan ide baru atau penemuan baru yang tidak ada sebelumnya. Murid akan menerima “degree internasional pertama (ijazah)” yang sekarang dikenal dengan “master” degree. Kemudian dia menerima “degree internasional kedua, “yang sekarang dikenal dengan “doctoral”, dalam satu bidang penelitian budaya atau sains.


Negara Khilafah akan menyelenggarakan institusi-institusi berikut untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tinggi

Institut Teknik

Fungsi institut ini adalah untuk mempersiapkan gugus tugas teknis yang terspesialisasi dalam teknik modern seperti memperbaiki alat-alat elektronik, contohnya alat telekomunikasi dan komputer. Begitu juga vokasi lain yang memerlukan pengetahuan yang lebih mendalam dan sains daripada yang ditawarkan oleh vokasi sederhana. Di antaranya adalah Institusi Agrikultur, subordinat terhadap Departemen Negara Bidang Agrikultur (dalam koordinasi dengan Departemen Negara Bidang Pendidikan).

Institusi Layanan Sipil

Fungsi institusi ini adalah untuk mempersiapkan gugus kerja yang mampu menjalankan beberapa pekerjaan yang tidak memerlukan murid untuk masuk universitas.

Beberapa dari institusi ini mencetak perawat dan asisten medis seperti teknisi x-ray, teknisi laboratorium, dan teknisi gigi. Ada juga institusi untuk vokasi keuangan sederhana dan administratif.

Dan apa pun yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan kecil dan laporan/perhitungan yang berhubungan dengan perusahaan tanpa dibutuhkan untuk masuk ke universitas, misalnya: pembukuan, buku kas, dan laporan /perhitungan zakat.

Institusi-institusi ini menyebar dan bermacam-macam jenis di seluruh wilayah Negara Khilafah sesuai dengan kebutuhan wilayah. Wilayah pesisir, sebagai contoh, memiliki institusi-institusi untuk vokasi-vokasi kelautan seperti perikanan, perbaikan kapal, dan menjalankan pelabuhan; wilayah yang terkenal dengan agrikulturnya memiliki institusi agrikultur, dsb..

Baca juga:  Istiqamah Dakwah di Era Fitnah

Universitas

Murid yang lulus ujian umum untuk tahap sekolah berhak untuk melamar masuk ke universitas daulah. Universitas menerima murid dua kali setahun. Penerimaan pada spesialisasi spesifik tergantung pada berikut:

1) Nilai rata-rata murid pada ujian umum tahap sekolah;

2) Opsi spesialisasi yang dipilih murid, apakah budaya, sain, atau perdagangan;

3) Nilai murid dalam ujian umum sekolah tahap ke-3 berhubungan dengan opsi yang dia hendak pilih untuk menjadi spesialis di dalamnya. Murid dari Fakultas Ilmu Fiqh dan Shariah, harus mendapatkan nilai yang tinggi dalam mata pelajaran Budaya Islam dan Bahasa Arab. Murid yang memilih engineer harus unggul dalam Matematika dan Fisika, murid Ilmu Medis harus unggul dalam Ilmu Biologi dan Kimia dst. Para ahli yang menentukan mata kuliah yang relevan untuk tiap spesialisasi universitas dan nilai rata rata yang dibutuhkan tiap bidang.

Pusat Riset dan Pengembangan

Fungsi dari pusat ini adalah untuk memproduksi kerja riset yang akurat dan terspesialisasi dalam berbagai bidang budaya dan sain.

Dalam bidang budaya, mereka berpartisipasi dalam mencapai pemikiran mendalam apakah dalam merancang rencana strategis jangka panjang, cara pengembanan dakwah lewat kedutaan besar dan negosiasi, atau dalam fikih atau ijtihad, ilmu bahasa, dsb.

Dalam ilmu sains, mereka berusaha untuk menemukan alat baru dan cara baru dalam berbagai bidang implementasi misalnya industri, ilmu nuklir, ilmu ruang angkasa, dsb yang membutuhkan pendalaman dan keahlian dalam riset.

Beberapa dari pusat-pusat ini adalah subordinat dari universitas-universitas, sedangkan yang lain independen dari universitas dan menjadi subordinat dari Departemen Pendidikan. Ilmuwan, dosen universitas, dan beberapa murid yang unggul -akademisi pendidikan yang melakukan riset, inovasi, dan kemampuan pengembangan– bekerja di pusat-pusat ini.

Pusat Riset dan Akademi Militer

Berfungsi untuk mencetak pemimpin militer, dan untuk mengembangkan sarana dan cara yang merealisasikan (tujuan) menggentarkan musuh Allah Swt. dan kaum muslimin. Pusat dan akademi ini subordinat Amir Jihad.


Demikianlah, Khilafah akan membangun sistem pendidikan tinggi kelas dunia, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta membuat langkah besar dalam pengembangan dan penelitian.

Oleh karena itu, manipulasi yang dilakukan oleh Peradaban Barat terhadap pendidikan tinggi di negeri-negeri muslim harus dihentikan. Sudah saatnya membawa kembali Khilafah untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. [MNews]


 

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “Khilafah Melahirkan Intelektual Inovatif Pembangun Peradaban Islam

  • 23 Desember 2019 pada 21:19
    Permalink

    Tulisan baguss, bermanfaat, nambah pengetahuan jugaa. Titip salam buat yg nulis. Nais info

    Balas
  • 22 Desember 2019 pada 19:59
    Permalink

    Tulisan ini memberi manfaat bagi kita sebagai generasi penerus bangsa,jadilah khilafah yg intelektual yg selalu memberi solusi atas problem yang terjadi.

    Balas
  • 22 Desember 2019 pada 15:24
    Permalink

    Khilafah selalu diperjuangkan fan selalu dinantikan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *