; Kisah Uighur, Pemurtadan Massal ala Rezim Komunis Cina – Muslimah News

Kisah Uighur, Pemurtadan Massal ala Rezim Komunis Cina

Warga Uighur telah kehabisan air mata. Derita yang begitu lama terus mendera. Alih-alih sirna, ancaman lebih besar menganga di hadapan mereka. Kamp-kamp raksasa dibangun bagi mereka. Bukan untuk mendidik, tapi melepaskan identitas agama mereka sebagai Muslim dan keturunan/nasabnya sebagai bangsa Uighur.


MuslimahNews.com, UIGHUR – Sebuah komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang Barat. Di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi’ atau ‘pendidikan ulang’.

Wartawan BBC John Sudworth yang melakukan investigasi ke kawasan itu menemukan fakta yang mencengangkan. Ia datang ke wilayah Kota Dabancheng, sekitar satu jam berkendara dari ibu kota Xinjiang, Urumqi. Ia ingin melihat apa yang terjadi dengan wilayah di Xinjiang. Ia ingin melihat apa yang terjadi di wilayah itu berdasarkan hasil citra satelit.

Tahun 2015, daerah yang terpotret itu kawasan tak berpenghuni. Tapi pada 22 April 2018, tempat itu menunjukkan perbedaan menakjubkan: sebuah kompleks besar dan berkeamanan ketat muncul, lengkap dengan tembok luar sepanjang dua kilometer dan 16 gardu penjaga.

Sejak awal 2018 berbagai laporan santer menyebutkan Cina mengoperasikan sejumlah kamp penahanan bagi warga Muslim Uighur. Tempat itu ditemukan oleh para peneliti yang sedang mencari bukti bahwa kamp-kamp tersebut memang ada dalam perangkat pemetaan global, Google Earth. [2]

Benar adanya. Lokasi kompleks beton tersebut terletak di dekat Kota Dabancheng. Di tempat itu proyek pengembangan sedang berlangsung. Deretan crane dan bangunan abu-abu raksasa setinggi empat lantai seolah mendadak tumbuh di gurun.

“Kami pun langsung mengangkat kamera dan mengambil gambar proyek konstruksi tersebut. Namun, belum lama rekaman berputar, salah satu kendaraan yang menguntit tiba-tiba beraksi. Mobil kami diberhentikan, kami disuruh mematikan kamera dan pergi. Bagaimana pun, kami telah menemukan hal signifikan –aktivitas luar biasa besar yang belum diketahui masyarakat luas,” kata wartawan BBC.

Tak berhenti di situ, wartawan itu menggunakan sumber-sumber lain –seperti data satelit Sentinel milik Badan Antariksa Eropa–yang menyediakan foto-foto yang lebih baru walau resolusinya lebih rendah. Foto satelit Sentinel pada Oktober 2018 menunjukkan betapa luasnya perkembangan lokasi tersebut.

Baca juga:  Andai Saya Muslim Uighur

“Jika semula kami menduga bahwa tempat itu adalah kamp penahanan besar, kini area yang sama telah menjelma menjadi kamp penahanan raksasa,” jelasnya. Kompleks besar mirip penjara itu hanyalah satu dari sekian banyak bangunan serupa yang dibangun di Xinjiang selama beberapa tahun terakhir.

Ia menceritakan, tak ada orang yang berani bicara soal ini. Mereka takut, kemudian tertutup. “Itu adalah sekolah reedukasi,” kata seorang pengurus hotel. “Ya, itu adalah sekolah reedukasi,” ujar penjaga toko. “Ada puluhan ribu orang di sana sekarang. Mereka punya masalah dengan pemikiran mereka,” sambungnya kepada BBC.

Belakangan diketahui bahwa bagi warga Xinjiang, istilah “pergi ke sekolah” punya makna lain. Sekolah berarti penjara!


‘Sekolah’ di Kamp

Warga Uighur yang pernah merasakan ‘sekolah’ ini menceritakan kamp-kamp ini ditujukan bagi warga Uighur yang dianggap melakukan kegiatan keagamaan [baca: Islam], ketidaksetujuan terhadap pemerintah Cina, dan memiliki keterkaitan dengan orang Uighur di luar negeri.

Ablet Tursun Tohti mengisahkan, setiap pagi pria berusia 29 tahun itu bangun satu jam sebelum fajar. Ia dan sesama tahanan punya satu menit untuk beranjak ke lapangan. Setelah berbaris, mereka disuruh berlari.

“Ada ruangan khusus untuk menghukum mereka yang berlari tidak cukup cepat. Di dalam ruangan ada dua pria, seorang memukul dengan sabuk, lainnya menendang,” kisahnya kepada wartawan BBC. Lapangan yang dimaksud Ablet dapat jelas terlihat pada foto kamp melalui satelit. Lokasinya terletak di Kota Hotan, bagian selatan Xinjiang.

“Kami menyanyikan lagu berjudul: Tanpa Partai Komunis Tidak Ada Cina Baru,” kata Ablet. “Dan mereka mengajari kami soal hukum. Jika kami tidak bisa menghapalnya dengan benar, kami dipukuli,” ceritanya. Ablet beruntung hanya ditahan selama sebulan pada akhir 2015. Sebab selama dua tahun terakhir ada sejumlah laporan bahwa tidak ada seorangpun yang dibebaskan dari kamp-kamp tersebut. Ali (bukan nama sebenarnya), pria berusia 25 tahun itu dimasukkan ke dalam kamp setelah polisi menemukan foto perempuan memakai niqab pada ponselnya.

Baca juga:  Investigasi BBC Ungkap Kamp-kamp Rahasia Kelam dan Kekejian Cina Penjarakan Muslim Uighur di Xinjiang

Namun, dia bukan satu-satunya orang yang dijebloskan ke kamp karena alasan remeh. Ada seorang perempuan lanjut usia yang dimasukkan ke sana karena pergi ke Makkah. Lalu ada seorang pria tua yang tidak membayar tagihan airnya tepat waktu,” papar Ali. [4]

Menurut Human Rights Watch, suku Uighur khususnya, dipantau secara sangat ketat. Mereka harus memberikan sampel biometrik dan DNA. Dilaporkan terjadi penangkapan terhadap mereka yang memiliki kerabat di 26 negara yang dianggap ‘sensitif’.

Lebih dari satu juta orang telah ditahan. Kelompok-kelompok HAM mengatakan orang-orang di kamp-kamp itu dipaksa belajar bahasa Mandarin dan diarahkan untuk mengecam bahkan meninggalkan keyakinan iman mereka.

Selama empat tahun terakhir pemerintah Cina mengetatkan keamanan terhadap warga Xinjiang. Langkah itu dipandang sebagai yang paling ketat dari negara kepada warganya sendiri.

Hal ini mencakup penggunaan teknologi berskala besar: memasang kamera pengenal wajah, perangkat pemantauan yang mampu membaca isi ponsel, serta pengumpulan data biometrik secara massal.

Tak hanya itu, seperti laporan BBC, sanksi hukum diterapkan untuk menekan identitas dan praktik keislaman, antara lain melarang hijab, janggut panjang, pengajaran keagamaan untuk anak-anak, hingga melarang nama-nama Islam.

Kebijakan tersebut menandai perubahan fundamental dalam pemikiran para pejabat pemerintah Cina, yaitu separatisme tidak lagi dianggap sebagai masalah individu tertentu, tapi masalah yang inheren pada budaya Uighur dan Islam secara umum.

Hal ini mengemuka manakala pemerintah Cina di bawah Presiden Xi Jinping mengetatkan kendali terhadap masyarakat sehingga kesetiaan terhadap Partai Komunis harus didahulukan ketimbang loyalitas kepada keluarga dan agama.

Kondisi itu membuat identitas komunitas Muslim Uighur menjadi sasaran kecurigaan. Apalagi ada sejumlah laporan kredibel bahwa ratusan orang Uighur telah bertolak ke Suriah untuk bertempur bersama beragam kelompok milisi.

Kini sudah menjadi pemandangan umum ketika warga Uighur digeledah di jalan-jalan dan pos-pos pemeriksaan kendaraan, sementara warga etnis Han kerap lolos dari pengecekan serupa.

Lebih jauh, warga Uighur dikenai pelarangan perjalanan, baik di dalam Xinjiang maupun ke luar wilayah tersebut. Bahkan ada perintah resmi yang memaksa warga Uighur menyerahkan paspor ke polisi untuk “diamankan”.

Baca juga:  Segera Selamatkan Muslim Uyghur

Soal agama, para pejabat pemerintah Uighur dilarang mempraktikkan rukun Islam, baik beribadah di masjid maupun berpuasa saat Ramadan.


Sangat Kejam

Gulnaz Uighur, seorang aktivis Uighur yang berbasis di London merangkum kekejaman yang dialami Muslim Uighur.

Pertama, dicuci otaknya untuk melupakan lslam. Orang-orang yang tinggal di kamp tidak diizinkan untuk menjalankan salat karena dianggap itu berbahaya. Mereka pun didoktrin untuk tidak mengikuti hal-hal yang telah disebutkan dalam Alquran.

Mereka harus menyanyikan lagu-lagu pro-Cina untuk mendapatkan makanan. Pihak berwenang memastikan bahwa mereka belajar propaganda Cina dan melupakan budaya mereka sendiri.

Kedua, dipaksa makan daging babi dan minum alkohol. Para pemimpin partai di Urumqi telah memulai gerakan antihalal. Mereka memerintahkan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk bersumpah “berperang melawan pan-halalisasi.”

Label-label halal telah dihilangkan dari dewan pengurus restoran. Pemerintah Cina mengatakan bahwa kampanye antihalal ini akan membantu mereka menghentikan Islam dalam menembus kehidupan sekuler dan memicu “ekstremisme”.

Ketiga, berbagai bentuk penyiksaan agar orang-orang Uighur mematuhi perintah mereka. Caranya tidak manusiawi. Para korban diikat ke kursi “harimau” di dekat mata kaki mereka; tangan mereka dikunci di belakang kursi.

Para penyiksa dari Partai Komunis Cina itu tidak membolehkan mereka tidur, menggantung mereka selama berjam-jam dan memukuli mereka. Mereka menempatkan tahanan di penjara air yang penuh dengan air kotor dan bau, hingga ke leher, selama lima hari.

Selama penyiksaan itu, para korban Uighur hanya diberi sepotong kecil roti, dan para sipir penjara itu mengatakan, “Supaya [mereka] bertahan hidup.”

Keempat, wanita Muslim diperkosa. Berdasarkan wawancara, beberapa mantan tahanan telah mengungkapkan bahwa para wanita muda Uighur diperkosa setiap hari oleh para pejabat PKC di kamp-kamp dan dibunuh jika mereka menolak. Para wanita Muslim itu juga diberi pil antihamil. [6]

Kelima, alasan aneh di balik pengiriman ke kamp. Jika dulu hanya para penduduk Uighur yang religius yang menjadi sasaran, sekarang tidak ada seorang pun penduduk Uighur yang merasa aman. Mereka ditahan karena alasan-alasan seperti menghubungi teman dan kerabat di luar negeri, bepergian ke negara asing, menumbuhkan jenggot, mendengarkan khotbah agama, dan memotong rambut.

Pemerintah Cina awalnya membantah ada kamp-kamp konsentrasi tersebut. Namun akhirnya, negara komunis itu mengakuinya dengan menyebut itu adalah tempat “pendidikan ulang” bagi mereka yang dianggap telah terpapar ekstremisme menurut versi mereka. [MNews]

Diolah dari Sumber: Media Umat 234


Bagaimana menurut Anda?

Satu tanggapan untuk “Kisah Uighur, Pemurtadan Massal ala Rezim Komunis Cina

  • 18 Desember 2019 pada 15:22
    Permalink

    Solusi tuntas dengan islam kaffah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *