Demonisasi Khilafah, Cara Rezim Menutupi Kegagalan Kapitalisme

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Kegagalan rezim dalam memenuhi janji-janjinya untuk menyejahterakan rakyat sudah kasat mata. Hampir di setiap aspek kehidupan menunjukkan borok-borok kezalimannya yang menyengsarakan rakyat dan menjerumuskan mereka pada belitan krisis yang terus mencengkeram.

Penyebabnya tidak hanya karena kesalahan dan kelemahan orang yang memangku jabatan, namun yang paling mendasar karena sistem yang diterapkan rezim salah.

Rezim Gagal, Sibuk Membuat Kedok

Kondisi ini disadari rezim bukan keadaan yang menguntungkan. Posisi mereka jelas terancam. Kelanggengan kepentingannya baik sebagai personel maupun nasib masa depan partainya dipertaruhkan.

Jika fakta kegagalan ini terus dinampakkan dan ditangkap umat sebagai bukti ketidakbecusannya dalam menjamin kemaslahatan mereka, maka ini bisa menjadi sinyal tercabutnya dukungan rakyat.

Mereka tidak akan lagi memberikan kepercayaannya untuk diurusi rezim pada periode mendatang. Bahkan boleh jadi akan ada pengalihan dukungan sebelum periode sekarang berakhir.

Bukan mustahil, rakyat akan melakukan sikap yang revolusioner dengan mengganti rezim yang sedang berkuasa manakala kepercayaan itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi seperti perlakuannya terhadap rezim orde baru di tahun 1998.

Kerakusan rezim akan kekuasaan yang telah diraih tentu akan mendorongnya untuk melakukan berbagai cara guna mempertahankan posisi empuk tersebut. Mereka akan berusaha menghilangkan ancaman yang menghadang. Sebenarnya bukan ancaman, karena tidak berasal dari luar mereka.

Ancaman tersebut sengaja dibuat-buat mereka untuk mengalihkan penglihatan, pendengaran dan kesadaran rakyat dari fokus terhadap cacat dan cela yang memenuhi tubuh rezim.


Rezim sekarang layaknya orang yang berpenyakit kronis disebabkan berbagai virus sudah menyerang tubuhnya. Ya, virus kapitalisme yang telah melumpuhkan peran Negara sehingga kehilangan fungsinya sebagai pelindung dan pengurus rakyat dan telah membuka celah hadirnya penjajahan gaya baru melalui investasi dan utang.

Virus sekularisme yang sudah menjauhkan manusia dari kehadiran Allah Swt. al-Khaliq dalam kehidupan. Pencipta alam semesta yang berhak mengatur kehidupan dengan syariat-Nya.

Virus ini telah menjadikan syariat Islam sebagai barang tabu yang harus disingkirkan. Rezim sakit, lemah, dan sekarat ini harus berpura-pura sehat supaya tetap mendapat dukungan rakyat.

Sebenarnya solusinya jelas, obat dari segala penyakit tersebut adalah mengganti sekularisme kapitalisme dengan sistem kehidupan yang diturunkan Pencipta manusia, yakni dengan menerapkan Islam secara kafah.

Namun, rezim lebih memilih tetap dalam kesesatan dan memoles kerusakannya dengan berbagai kepalsuan, menutup kegagalan dengan topeng “demonisasi” Islam.

Rezim sebenarnya sadar bahwa keburukan wajah mereka akan nampak nyata ketika berhadapan dengan cermin yang baik, jelas, dan tidak buram. Cermin itu adalah ideologi Islam.

Islam dengan seperangkat aturan syariat kafah yang lengkap dan menyeluruh akan menguliti dan membongkar semua borok mereka tanpa kecuali.

Baca juga:  Kebijakan Khilafah Mengatasi Banjir

Perselingkuhan mereka dengan perusahaan asing dalam merampok harta milik umum seperti tambang dan hutan akan dibabat habis oleh penjelasan sistem ekonomi Islam dalam mengelola kekayaan milik umum.

Pengabaian tanggung jawab mereka karena menyerahkan urusan kesehatan kepada asuransi (BPJS) akan dikatakan sebagai bentuk kezaliman karena kesehatan dalam Islam merupakan kebutuhan asasi rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara.

Inilah yang mereka takutkan. Tersebarnya pemahaman Islam ideologis di tengah umat. Islam yang ada bukan sebagai keyakinan semata namun hadir sebagai solusi setiap masalah manusia melalui penerapan syariat kafah.

Mereka tidak khawatir dengan jumlah umat Islam yang banyak di negeri ini bahkan mayoritas. Yang mereka anggap sebagai bahaya yang mengancam adalah jika muslim yang mayoritas ini ter-sibghah dengan pemahaman Islam yang benar sesuai dengan tujuan diturunkannya risalah ini sebagai rahmatan lil’aalamin (Al-Anbiya: 107).

Karenanya mereka serius dan sungguh-sungguh melakukan berbagai upaya untuk menghalangi umat bersentuhan dengan Islam ideologis.

Mereka pun memahami bahwa tidak mungkin menjauhkan umat dari dakwah Islam. Fenomena berkumpulnya umat 212 yang dilanjutkan reuni berseri setiap tahunnya, menunjukkan ghirah umat yang luar biasa terhadap kehidupan Islam dan sikap pembelaannya manakala Islam dilecehkan.

Dengan demikian mustahil menghalang-halangi umat dekat dengan ajaran Islam. Harus ada cara lain yang lebih halus supaya tidak dipahami sebagai rezim yang anti-Islam dan jangan dirasakan sebagai rezim yang berseberangan dengan umat.


Ibarat buruk muka cermin dibelah, itulah yang dilakukan rezim saat ini. Kesadaran bahwa dirinya gagal dan yang akan membongkar kebusukannya adalah Islam ideologis, maka Islam ideologislah yang harus dihancurkan dengan harapan tidak akan ada lagi yang mengungkit kerusakannya.

Berikutnya dibuatlah berbagai istilah yang dimunculkan seolah-olah demi melindungi umat dari ancaman seperti: deradikalisasi, Islam moderat, perang melawan terorisme dan ekstremisme, dll. Padahal jika didetaili, ternyata berbagai program tersebut sasarannya umat Islam dan ajaran Islam itu sendiri.

Ajaran yang sudah pasti kebenarannya karena bersumber dari wahyu Allah Swt. digambarkan berwajah seram layaknya monster yang harus diwaspadai, bahkan dijauhi dan dimusuhi. Itulah “demonisasi” Islam.

Meminjam istilah yang didefinisikan Noam Choamsky, maka yang mereka lakukan sudah menjurus pada demonisasi, yakni perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.

Baca: https://www.muslimahnews.com/2019/10/31/the-amazing-of-khilafah-antara-tuduhan-ilusi-dan-fakta-solusi-1-2/

Bentuk demonisasi terkini di antaranya revisi 155 buku PAI oleh kemenag disinyalir untuk menghilangkan beberapa konten yang dianggap mengancam. Demikian juga penarikan soal ujian semester akhir di sekolah Kediri karena membahas khilafah, alasannya jelas: tuduhan sebagai ancaman.

Baca juga:  Korporatokrasi yang Bermasalah, Kenapa yang Diusir Pendukung Khilafah?

Seperti pernyataan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama: “Materi yang berpotensi menjadi pintu masuk paham ekstremis dan anti-Pancasila diganti dengan konten yang menguatkan moderasi beragama.”

https://kemenag.go.id/berita/read/512268/kemenag-tarik-soal-ujian-semester-tentang-khilafah

Sebelumnya Menhan kabinet kerja, Ryamizard, diberitakan laman suara.com berpesan kepada penggantinya, Prabowo, supaya melanjutkan “pekerjaan rumah” di Kemenhan untuk memberantas paham khilafah dan kelompok ISIS yang kini menjalar di Indonesia. Dengan tegas dia mengatakan, “Khilafah tuh, ISIS, harus dihancurin.”

Menggandengkan khilafah dengan ISIS bertujuan membangun ketakutan dan kebencian pada khilafah, dikarenakan banyaknya informasi yang selama ini sampai kepada umat terkait kekejaman ISIS. Ini juga yang menjadi alasan munculnya seruan “Jangan Suriahkan Indonesia”.

Siapa yang ingin Negaranya menjadi hancur porak-poranda? Rakyatnya menjadi korban perang saudara, bahkan terusir dari negerinya sendiri dan harus hidup terlunta-lunta menjadi pengungsi yang tidak jelas nasibnya?


Menganggap khilafah berbahaya dan mengancam, sungguh merupakan tuduhan keji dan menyakiti umat Islam. Khilafah adalah ajaran Islam bahkan para ulama menyebutnya sebagai puncak (mahkota) kewajiban (taj-al furudl).

Secara psikologis ketika khilafah digencarkan sebagai sesuatu yang berbahaya, mengancam, apalagi sesat, tentu saja akan muncul reaksi dari umat. Pada kalangan yang memiliki pemahaman yang benar bahwa khilafah ajaran Islam yang dicontohkan Rasulullah saw., para sahabat, juga para khalifah setelahnya, pasti akan melakukan perlawanan.

Mereka tidak rela ajaran Islam dilecehkan. Mereka akan terus istikamah mendakwahkan khilafah adalah kewajiban yang harus diterapkan. Mereka tidak takut dengan ancaman dan siksaan.

Mereka adalah pembela agama Allah, pewaris risalah yang dibawa para Nabi, pelanjut estafet perjuangan para salafuashholeh. Merekalah yang disebut Allah sebagai yang paling baik perkataannya (Fushshilat: 33).

Sebagian umat yang masih ragu akan kebenaran khilafah mungkin akan mengambil sikap tiarap dan menunggu ke mana arah angin bertiup. Mereka enggan mengambil sikap tegas berlawanan dengan rezim dan tidak siap menerima konsekuensi.

Sikap diam dan menjaga jarak dengan pengusung khilafah dianggap pilihan yang aman. Sementara para pembenci Islam akan berada di sisi yang berlawanan. Kebenciannya kepada Islam akan ditunjukkan lewat dukungannya menyukseskan program-program yang dirancang untuk menjegal kembalinya Islam mengatur kehidupan.


Membuka Topeng Demonisasi

Sudah jelas bahwa demonisasi yang mereka arahkan pada Islam ideologis hanyalah topeng penutup kebobrokannya. “Make up” untuk menyembunyikan borok-borok di wajahnya. Kepalsuan itu harus dibongkar supaya umat tidak terkecoh bahwa monster sebenarnya adalah sekularisme dan kapitalisme yang sedang dipakai rezim.

Ancaman nyata bukanlah khilafah dan syari’ah kaffah. Khilafah justru akan menyejahterakan kehidupan manusia di dunia dan mengantarkan pada keselamatan di akhirat. Khilafah adalah salah satu kewajiban yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim (Ali ‘Imran: 104).

Sunnatullah bahwa kebenaran akan berhadapan dengan kebatilan dan para pengusungnya. Mereka tidak akan rela jika kebenaran ajaran Islam menyebar ke tengah-tengah umat dan berjaya sebagai pengatur kehidupan.

Mereka pun melakukan pembunuhan karakter khilafah dan melabelinya dengan julukan-julukan yang memiliki persepsi buruk di benak umat. Allah Swt. telah mengabarkan kepada kita tentang sepak terjang para penentang kebenaran ini, salah satunya dalam firman-Nya:

Baca juga:  Khilafah: Sistem Pemerintahan Islam, Berbeda dengan Seluruh Bentuk Sistem Pemerintahan di Seluruh Dunia

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci. (TQS Ash Shaff [61]: 7-8).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya.

Maka sebagaimana hal ini mustahil, begitu pula memadamkan cahaya (agama) Allah, merupakan hal yang mustahil pula. Dalam ayat tersebut Allah menyampaikan bahwa senjata untuk melawan serangan mereka adalah dengan istikamah menyebarkan risalah Islam yang akan dimenangkan Allah atas semua agama.

Menyebarkan risalah Islam yang dimaksud adalah menyampaikan bagaimana sistem Islam akan menyelesaikan seluruh permasalahan manusia dengan penerapan syariat kafah.

Umat membutuhkan gambaran yang gamblang terkait khilafah, baik tinjauan dalil, fakta sejarah, maupun mekanisme perjuangan untuk menegakkan kembali khilafah. Gambaran yang jelas di benak umat akan menjadikan umat berada di pihak pembela khilafah bukan barisan penghancur Islam.

Kita juga harus gencar membongkar kegagalan rezim dan sistem kapitalisme sekularismenya sehingga umat tidak terkecoh oleh kedok manisnya dan tidak terjebak pada jaring-jaring demonisasi Islam yang masif disebarkan rezim.


Sudah jelas bahwa demonisasi khilafah hanyalah kedok rezim untuk menutupi kegagalannya, juga makar yang sengaja dibuat untuk menjegal Islam ideologis. Upaya keji ini tidak akan pernah berhasil. Sebaliknya kerusakannya akan kembali kepada mereka, mengantarkannya kepada akhir yang menghinakan.

Semoga Allah Swt. melindungi umat Islam dari tipu daya yang dibuat musuh-musuh Nya dan menunjuki kita jalan yang lurus, jalan yang pernah ditempuh Rasulullah saw., sahabat, khalifah, dan para ulama. Dan kita pun istikamah menempuh jalan tersebut sebesar apa pun risiko perjuangan yang akan menghadang. Wallahu A’lam. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *