Di Balik Islamofobia Rezim Penguasa

Tak sulit menyimpulkan bahwa rezim ini tengah mengidap Islamofobia kronis. Semenjak kasus terpelesetnya Ahok menista Al Maidah 51, yang berujung pada aksi damai terbesar dalam sejarah pada 212, pemerintah seolah menyimpan ketakutan luar biasa terhadap pergerakan umat Islam.

Oleh: Arini Retnaningsih

Muslimahnews.com, FOKUS — Tiga tahun berlalu dari 212, alih-alih hilang, ketakutan penguasa bertambah besar. Bahkan begitu dilantik, Menag dan Menko Polhukam kabinet baru langsung menabuh genderang perang terhadap radikalisme Islam.

Berbagai kebijakan langsung dikeluarkan atas nama antiradikalisme. Namun umat Islam melihat dengan gamblang bahwa program-program tersebut menyasar umat dan syariat Islam. Fadli Zon, mantan wakil ketua DPR dari Fraksi Gerindra, menyimpulkan rezim mengalami Islamofobia.1

Gejala-gejala Islamofobia Penguasa

Secara bahasa, Islamofobia berasal dari dua kata, yaitu Islam dan fobia (ketakutan yang berlebihan). Jika ditarik maknanya, istilah tersebut didefinisikan sebagai prasangka atau ketakutan yang tidak wajar terhadap Islam dan kaum Muslimin.

“Dalam arti yang lebih luas, Islamofobia juga menjadi sinonim dari ‘anti-Islam’, yakni segala sikap atau tindakan yang menunjukkan ketidaksukaan terhadap agama Islam,” ungkap peneliti dari Universitas Hamburg, Jerman, Miriam Urbrock dan Marco Claas, dalam karya tulis “Islamophobia: Conceptual Historical Analysis.”2

Islamofobia yang diidap oleh penguasa saat ini, tampak jelas dari berbagai pernyataan, program, maupun kebijakan-kebijakan yang diambilnya. Begitu dilantik sebagai menteri agama, Fachrul Razi langsung mewacanakan pelarangan hijab dan celana cingkrang bagi ASN.3 ASN juga mendapat ancaman diberhentikan bila terbukti terpapar radikalisme, untuk itu telah ditandatangani SKB 11 instansi pemerintah tentang penanganan radikalisme pada aparatur sipil negara (ASN).4

Kemenag juga telah meluncurkan berbagai kebijakan berbau Islamofobia. Dari sertifikasi penceramah, pendaftaran Majelis Taklim, hingga revisi buku-buku agama di sekolah. Kebijakan-kebijakan ini menuai banyak kritik di tengah masyarakat.

Misalnya, Persatuan Islam (Persis) menilai Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 29 tentang Majelis Taklim (MT) pada 13 November lalu bersifat politis yang merupakan justifikasi pemerintah untuk mengawasi forum pengajian.5

Menag membantah sinyalemen-sinyalemen negatif yang dilontarkan masyarakat terkait kebijakan MT ini dengan berdalih hanya memudahkan pemerintah memberi bantuan. Namun, wapres justru menguatkan sinyalemen masyarakat bahwa pendataan MT untuk cegah radikalisme.6

Islamofobia juga kental terasa dalam berbagai penyataan wapres. Wakil Presiden mewacanakan perlunya pengawasan dari polisi dan pemerintah daerah untuk memperingatkan masjid-masjid yang dalam acara dakwahnya mengandung narasi kebencian.7 Tak hanya masjid, bahkan PAUD pun beliau nilai telah terpapar radikalisme.8

Kadang, Islamofobia rezim tampak membabi buta. Hanya karena berfoto dengan bendera tauhid, Enzo Allie hampir tak jadi masuk Akmil setelah Mahfud MD menuduhnya terlibat jaringan organisasi radikal.9 Sementara siswa rohis di MAN 1 Sukabumi harus menjalani interogasi setelah viral foto mereka mengibarkan bendera tauhid.10

Padahal mereka hanya anak-anak yang bersemangat dan bangga dengan Islam, dan mencari simbol untuk mengungkapkan itu kepada publik.

Bila anak-anak saja dikriminalisasi, apalagi para pendakwah yang menyerukan Islam kafah. Dikriminalisasi, dipersekusi, dicekal, dan dicap radikal, menjadi tantangan mereka.

Baca juga:  Penolakan terhadap Demokrasi Menggema di Liqo' Muharram Mubalighoh 1442 H

Habib Rizieq yang sampai sekarang tidak bisa pulang ke tanah air, Ustaz Alfian Tanjung yang baru saja menyelesaikan masa dua tahunnya di penjara, Ustaz Abdul Somad yang dipersekusi dan diboikot ceramah, Gus Nur yang baru divonis 18 bulan penjara, dan ulama-ulama lain yang dilaporkan polisi atas ceramah-ceramah mereka.

Rasanya tidak akan ada yang bisa mengingkari semua gejala Islamofobia rezim. Tinggal pertanyaannya, bagaimana mungkin rezim penguasa yang notabene mayoritas muslim, takut terhadap agamanya sendiri?


Penyakit Baru dalam Sistem Demokrasi

Demokrasi dan Islam adalah dua sistem yang bertolak belakang dan tak mungkin dipertemukan. Demokrasi menjadikan kedaulatan di tangan rakyat melalui sistem perwakilannya, sedang Islam menjadikan kedaulatan di tangan hukum Allah. Dengan asasnya yang berbeda, maka dua sistem ini memiliki aturan-aturan yang berbeda.

Dalam sistem ekonomi, demokrasi menjadi alat dari kapitalisme untuk berkuasa. Para pemilik modal menguasai seluruh aset kekayaan alam dan memberikan remah-remahnya saja kepada rakyat. Sementara dalam Islam, kekayaan alam seperti tambang, hutan, perairan, adalah milik umum yang dikelola negara, hasilnya dikembalikan lagi untuk kemaslahatan umat dan agama.

Dalam sistem politik, demokrasi memungkinkan untuk berkuasanya orang-orang yang memiliki modal, orang yang pandai melakukan pencitraan, para pendusta, dan kalangan kafirin untuk menjadi penguasa. Ini karena penguasa dipilih rakyat berdasarkan suara terbanyak. Penguasa berhak membuat aturan sesuai keinginan dan kepentingan mereka.

Berbeda dengan Islam yang menerapkan syarat-syarat tertentu bagi pemimpin yang tak boleh dilanggar. Syarat tersebut adalah laki-laki, muslim, balig, merdeka, berakal, dan adil. Pemimpin menerapkan aturan-aturan Allah dan bertanggung jawab terhadap Allah Swt. dan umat.

Sekarang bayangkan jika Islam yang berkuasa, menerapkan sistem ekonomi dan politik berdasarkan hukum syariat, apakah akan ada tempat bagi para pemilik modal berkuasa? Apakah ada tempat untuk kaum oportunis yang hanya mengejar kepentingan pribadi untuk berkuasa? Tidak! Bahkan kaum muslimin akan melepaskan diri dari penguasaan para kapitalis dan menolak modal serta campur tangan mereka.

Inilah yang ditakuti oleh negara-negara kapitalis dunia. Mereka akan berusaha dengan segala cara untuk menghalangi kebangkitan Islam dan tegaknya hukum Islam. Salah satunya, dengan menyebarkan virus Islamofobia di tengah umat sehingga umat melihat agamanya sendiri dengan pandangan menakutkan. Mereka akan menjauhi agamanya dan tidak ingin menerapkannya dalam kehidupan.

Kalau sudah terjadi demikian, kapitalisme akan berjaya. Bebas mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri muslim melalui penguasa-penguasa boneka mereka. Dengan tujuan inilah Islamofobia dimunculkan sebagai penyakit baru dalam rezim demokrasi.


Khilafah Sebagai Sasaran Tembak Islamofobia

Khilafah adalah institusi yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan, mengemban dakwah ke seluruh dunia, melindungi kaum muslimin dan mengurus kemaslahatan mereka. Kebangkitan Islam tak mungkin bisa lepas dari kekhilafahan.

Baca juga:  Pemimpin dalam Islam, Demokratis???

Menyadari pentingnya kekhilafahan bagi umat, pihak-pihak yang tak ingin melihat Islam bangkit kembali, berusaha untuk membendung upaya-upaya penegakannya. Mereka mulai menyerang ide khilafah dengan menyerang dalil-dalil wajibnya khilafah.

Namun ketika upaya ini gagal, karena memang jelas khilafah adalah ajaran Islam, mereka ambil cara lain, yaitu menjadikan ide khilafah sebagai sasaran tembak Islamofobia.

Berbagai gejala Islamofobia yang diperlihatkan rezim, mengarah pada ide khilafah. Setelah mencabut BHP HTI, ormas pengusung dakwah khilafah, rezim gencar melakukan persekusi pada ustaz-ustaz yang dicurigai berafiliasi dan mendukung perjuangan HTI. Ustaz Abdul Somad, Felix Siauw, Bachtiar Nasir, Gus Nur, dan seterusnya. Bahkan bendera tauhid ditakuti rezim karena dianggap identik dengan bendera HTI.

Untuk itu, Kemenag menjalankan program penghapusan pemahaman khilafah dan jihad dari pelajaran agama di sekolah. Buku-buku ajar direvisi, Seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti.11

Materi khilafah dan jihad juga dipindahkan dari pembahasan fikih ke pembahasan sejarah. Materi ini hanya ditinjau dari sisi fakta saja, karena fakta khilafah tak bisa ditutupi.12 Namun dihapuskan dari fikih agar siswa tak lagi menganggapnya sebagai bagian dari hukum syariat.

Khilafah juga dianggap sebagai bagian dari ide radikal. Menag menegaskan Pemerintah bakal melarang keberadaan atau penyebaran paham khilafah di Indonesia dan menganggap ide ini adalah bagian dari radikalisme.13

Mahfud MD, menganggap bahwa ide khilafah adalah bagian dari radikalisme ideologi. Karena itu sekalipun ia tak mampu memungkiri bahwa khilafah adalah ajaran Nabi, ia mempropagandakan bahwa khilafah adalah ajaran Nabi yang tak perlu diikuti.14


Menegaskan Sikap Memperkuat Taat

Mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto menganjurkan perlawanan terhadap pelarangan khilafah dengan dua cara, yaitu adu pemikiran dan tetap mempraktikkan agama.15

Langkah ini ditempuh karena keyakinan bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang Allah perintahkan untuk menegakkannya agar hukum-hukum Allah bisa diterapkan dalam kehidupan.

Bagaimana kita nanti akan menjawab pertanyaan Allah di yaumil hisab tentang penerapan ayat-ayat yang jelas menjadi perintah-Nya di dalam Alquran?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan.” (QS Al Baqarah: 208)

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (QS Al Maidah: 38)

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS An Nur: 2)

Baca juga:  India, Lambang Kegagalan Demokrasi Melindungi Minoritas

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS Al Baqarah: 178)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang memuat perintah Allah tentang suatu hukum yang tak mungkin bisa diterapkan tanpa ada institusi khilafah.


Karena itulah, perjuangan untuk mendakwahkan khilafah dan mengajak umat untuk menegakkannya bersama-sama tetap harus dilakukan umat Islam. Sikap kita terhadap perintah Allah bukanlah seperti sikap orang Yahudi yang mengatakan kami dengar dan kami ingkari, atau sikap penguasa yang mengakui ajaran Islam tapi mencampakkannya. Sikap kita adalah seperti apa yang Allah firmankan:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS An Nuur [24]: 51).

Semoga Allah Swt. menolong kita dalam perjuangan ini dan mewujudkan janji-Nya dalam QS An Nuur: 55:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”

Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Cukuplah Allah sebagai penolong kita, dan Dialah sebaik-sebaik penolong. [MNews]


1https://manado.tribunnews.com/2019/12/04/fadli-zon-tuding-rezim-jokowi-terpapar-islamophobia-guntur-romli-bubarkan-fpi-ini-alasannya

2https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/05/27/oqm7rz313-menelusuri-jejak-islamofobia

3https://kumparan.com/kumparannews/gaduh-pernyataan-menag-fachrul-razi-soal-celana-cingkrang-dan-cadar-1sACyq8VT2W

4https://fokus.tempo.co/read/1279015/skb-11-instansi-darurat-radikalisme-asn

5https://nasional.republika.co.id/berita/q1t6z4428/dunia-islam/islam-nusantara/19/12/01/q1t6n7428-persis-pma-majelis-taklim-justifikasi-untuk-awasi-pengajian

6https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191202172642-32-453462/maruf-majelis-taklim-perlu-didata-untuk-cegah-radikalisme

7https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191122171924-20-450699/maruf-minta-polisi-awasi-masjid-penyebar-kebencian

8https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191115162509-20-448730/maruf-ingin-cegah-radikalisme-sejak-tingkat-paud

9https://kumparan.com/tugujogja/mahfud-md-soal-enzo-lolos-seleksi-akmil-tni-kecolongan-1rdFqAFlH2O

10https://news.detik.com/berita/d-4633742/geger-foto-siswa-kibarkan-bendera-tulisan-tauhid

11https://khazanah.republika.co.id/berita/q24zqh320/kemenag-positif-hapus-khilafah-dan-perang-dari-kurikulum

12https://news.detik.com/berita/d-4815761/menag-materi-khilafah-di-sekolah-dipindah-dari-fikih-ke-sejarah?tag_from=news_beritaTerkait

13https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191031072801-20-444351/menag-tegaskan-tak-boleh-ada-khilafah-di-indonesia?

14https://kumparan.com/kumparannews/mahfud-ungkap-alasan-negara-khilafah-nabi-muhammad-tak-boleh-diikuti-1sMsypgnb3b

15https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191101081748-20-444737/menag-tolak-khilafah-eks-hti-singgung-perlakuan-firaun


One thought on “Di Balik Islamofobia Rezim Penguasa

  • 16 Desember 2019 pada 13:01
    Permalink

    Allahu akbar..hukum islam harus ditegakkan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *