; Gaza dan Ukhuwah Sejati – Muslimah News

Gaza dan Ukhuwah Sejati

Masalah Palestina ini muncul karena tidak adanya Khilafah di tengah kaum Muslimin.

Oleh: Rezkiana Rahmayanti (Penulis dan Pemerhati Media)

MuslimahNews.com, OPINI — Pertempuran terbaru di Gaza dipicu serangan Israel ke rumah komandan Jihad Islam Baha Abu Al Ata pada Selasa (12/11/2019) dini hari.

Serangan menggunakan rudal itu menewaskan Ata, istrinya, Asma, serta dua anak mereka. Jihad Islam membalas serangan itu, pertempuran selama dua hari, menewaskan 34 warga Gaza, sampai akhirnya Jihad Islam dan Israel menyepakati gencatan senjata pada Kamis (14/11/2019).

Namun, usia gencatan senjata hanya bertahan sehari, Israel kembali menyerang Gaza. Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza, Palestina, pada Jumat dan Sabtu (15-16/11/2019). Pertempuran ini kembali membawa korban jiwa luka-luka dan terenggut nyawa dari kalangan penduduk soil dan anak-anak yang tak berdosa.


Palestina, negeri yang terjajah secara legal oleh Israel, karena dunia membiarkannya bahkan mendukung penjajahan itu sendiri. Atas arahan AS sang polisi dunia, mengeluarkan solusi Palestina-Israel dengan konsep “two state“. Solusi yang dianggap “win-win solution“, memberi kemerdekaan kepada Palestina dengan syarat berbagi wilayah dengan Israel sang penjajah.

Negeri-negeri muslim pun dihipnotis untuk mendukung solusi ini, termasuk negeri +62. Ironi kaum Muslimin!

Mengapa masalah Palestina, yang diduduki dan diproklamirkan Israel sejak 1948 sampai sekarang tidak kunjung selesai? Karena umat Islam tidak pernah serius menyelesaikannya.

Masalah utama Palestina adalah adanya Israel, bukan batas wilayahnya. Ketika masalah utamanya adalah adanya Israel, mestinya ini harus dijadikan masalah umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya masalah bangsa Arab, apalagi hanya sekadar masalah bangsa Palestina. Karena itu solusinya seharusnya bagaimana melenyapkan Israel.

Tapi nyatanya, penguasa kaum Muslim yang menjadi agen AS dan Inggris mengkhianati Islam dan umatnya. Mereka lebih mengikuti majikannya ketimbang titah Allah dan Rasul-Nya.

Maka perjanjian demi perjanjian tak lain hanya sandiwara untuk melaksanakan titah majikannya. Mulai dari Camp David, Way River, Oslo, Sharm Syaikh, sampai sekarang Istanbul. Semua hanya melegitimasi kebijakan AS untuk menduduki Palestina.

Sehingga jangan pernah berpikir rakyat Palestina mendapatkan haknya selama Israel ada di sana dan para penguasa kaum Muslim mengkhianati mereka. Israel itu sebenarnya nothing! Sangat kecil. Tapi mengapa seolah dunia tidak berdaya? Tak lain karena di-backingi oleh negara adidaya.

Pada saat yang sama, para penguasa kaum Muslim, tangan dan kakinya diikat oleh mereka sehingga tak berkutik. Mengharapkan penguasa kaum Muslim menyelesaikan Palestina itu mustahil. Karena kebijakan mereka bergantung selera majikannya.

Jika mereka menjadi antek Inggris, maka solusinya adalah satu negara. Jika mereka menjadi antek AS, maka solusinya adalah dua negara. Jadi, mereka tidak benar-benar mau menyelesaikan masalah Palestina.

Jika seperti ini, sampai kapan masalah ini akan selesai?

Jawabannya: Tidak akan pernah! Karena itu, umat Islam harus paham masalah utamanya dan apa solusinya, baru berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Jika tidak, akhirnya Palestina tetap merana.

Masalah Palestina ini muncul karena tidak adanya Khilafah di tengah kaum Muslimin. Suatu hal yang masuk akal bila solusi Palestina yang hakiki adalah Khilafah. Karena Khilafahlah yang bisa menjadi backing umat Islam di Palestina, membersihkan Palestina dari Israel, dan mengusir Israel dari tanah yang diberkati.

Khilafah adalah ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam empat sumber Hukum Islam yakni Alquran, As Sunah, Ijmak, dan Qiyas. Di dalam Alquran, Khilafah dijelaskan dalam Surah Al Baqarah ayat 30.

“Imam empat Mahzab sepakat bahwa mengangkat Khalifah itu adalah sebuah kewajiban bagi Kaum Muslimin”.

“Ulama setelah masa Rasulullah tugasnya adalah sama sebagaimana Rasulullah yakni menyampaikan ajaran Islam yang di dalamnya terdapat kewajiban menegakkan Khilafah, meskipun tentu saja terdapat banyak risiko yang menyertai”.

“Palestina adalah tanah kaum muslimin (tanah kharajiah tanah yang diperoleh kaum muslimin dengan peperangan, sehingga sikap yang harus dimiliki kaum mukmin adalah merebut kembali tanah Palestina dengan jihad)”.

Kaum muslimin bersatu, merapatkan barisan untuk mewujudkan Khilafah yang berjalan di atas jalan kenabian, suatu institusi yang akan memimpin jihad.

Dengan inilah Palestina akan dibebaskan dan dikembalikan ke pangkuan Islam. Inilah hakikat Ukhuwah sejati kaum muslimin, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tegas menyatakan: “Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara…” (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semua orang Mukmin adalah saudara dalam agama. Maknanya—menurut Imam al-Baghawi di dalam Ma’âlim at-Tanzîl dan Imam al-Khazin dalam Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’âni at-Tanzîl—adalah bersaudara dalam agama dan al-wilâyah (perwalian)/al-walâyah (pertolongan).

Syaikh Abdurrahman Nashir bin as-Sa’di dalam tafsirnya Taysîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâmi al-Mannân menjelaskan ayat di atas,

“Inilah ikatan yang Allah ikatkan di antara kaum Mukmin, bahwa jika ada pada seseorang di manapun, di timur dan barat bumi, serta ada pada dirinya iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan Hari Akhir, maka sesungguhnya ia adalah saudara untuk kaum Mukmin. Persaudaraan ini mewajibkan kaum Mukmin mencintai untuk dia apa saja yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri dan membenci untuk dia apa saja yang mereka benci untuk diri mereka sendiri.”

Lebih jauh Rasul shallallahu’alaihi wa sallam pun menjelaskan di antara hak-hak sesama Muslim,

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi Muslim yang lain dan tidak boleh menyerahkan dirinya kepada musuh. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya Allah memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang meringankan kesulitan seorang Muslim niscaya Allah meringankan dari dia satu kesulitan di antara banyak kesulitan pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim niscaya Allah menutupi aibnya pada Hari Kiamat.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad). [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *