; Mewujudkan Keimanan secara Totalitas dengan Syariat-Nya – Muslimah News

Mewujudkan Keimanan secara Totalitas dengan Syariat-Nya

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan esok harus lebih baik dari hari ini. Begitulah sebuah idiom yang seringkali kita dengar. Sebuah harapan akhir tahun agar di awal tahun 2020 negeri ini menjadi lebih baik. Namun, akankah cita-cita itu tercapai?


Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Perubahan kondisi tidak hanya bertumpu pada waktu atau personel pemimpinnya. Akan tetapi butuh pendukung lainnya. Sebuah sistem yang mendasari seorang pemimpin mengambil kebijakan. Maka, perubahan pemimpin saja tidak cukup. Perlu perubahan secara total.

Berkaca pada kebijakan rezim saat ini

Negeri ini telah mengarungi bahtera kepemimpinan. 74 tahun sudah usianya. Artinya jika diibaratkan manusia, sudah paruh baya. Semestinya di usia ini telah memiliki kematangan dalam berbagai hal dan mampu menyelesaikan segala masalah yang ada.

Namun, berganti tahun berganti pemimpin telah kita alami, nasib kita bukan malah membaik, justru semakin menurun. Apa yang salah dari negeri ini?

Bila diteliti, riayah suunil ummah ‘mengurusi urusan umat’ tak terlaksana di sini, bahkan cenderung diabaikan. Terbukti dengan banyaknya masalah yang lahir karena tidak bagusnya pengurusan. Sebagai contoh: naiknya iuran BPJS telah memupus asa umat tentang kesehatan. Biaya kesehatan yang ditanggung sendiri orang rakyat menjelaskan ketidakpiawaian negara dalam memenuhi kebutuhan akan kesehatan. Padahal, kesehatan termasuk kebutuhan yang urgen.

Juga ketidakstabilan harga pangan yang membuat risau para pedagang, pengusaha kuliner, dan ibu rumah tangga. Pasalnya, naik turunnya harga pangan berimbas pada daya beli masyarakat. Belum lagi jika ada kelangkaan barang, adanya penimbunan bahan pangan akan membuat harga kian mencekik.

Di bidang pergaulan, masalah seks bebas semakin merambah ke suluruh jenjang masyarakat. Dari anak-anak, remaja, tua-muda, yang sudah menikah/belum, hingga para pejabat turut menikmatinya. Bahkan prostitusi online pun semakin laku. Meskipun telah banyak yang ditangkap, bisnis prostitusi online ini masih dianggap menggiurkan. Walhasil jumlah pengidap HIV/AIDS menurut UNAID di Indonesia per 1 Des 2018 sekitar  640.000 jiwa.

Pencabutan subsidi mulai dari listrik, bahan bakar minyak (BBM), hingga pupuk pertanian pun membuat rakyat semakin menangis. Beban hidup makin berat, di sisi lain pendapatan tak pernah bertambah. Malah banyak yang ter-PHK dengan alasan perampingan karyawan. Setelah itu “luntang-lantung” sulit mendapat pekerjaan.

Hidup bertambah buram manakala negeri ini mulai terlihat fobianya dengan Islam. Berbagai urusan agama mulai diatur sesuai pandangan kepentingan. Islam kafah dinilai Islam radikal. Hingga cadar, cingkrang, mengajari Islam di usia PAUD dianggap menyimpang. Para penista agama muali berani berkoar-koar. Gerak kelompok-kelompok Islam pun mulai dipersempit.

Belum lagi masalah pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang “morat-marit”. Banyak tambang yang justru dikuasai asing. Kita hanya mendapat sekitar 5% saja, padahal hasil tambang tersebut luar biasa. Jika kita kelola maksimal, bisa untuk menutupi utang yang menggunung dan memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat.

Di balik bobroknya kebijakan penguasa

Masalah yang datang bertubi-tubi ini bukan sekadar salah seorang pemimpin. Mereka yang dinilai tak mampu menjalankan tugasnya, tak bisa keluar dari cengkeraman bayang-bayang kapitalis. Sebaik apa pun  kepribadian seorang pemimpin. Tidak akan berkutik manakala berbenturan dengan kepentingan di sistem saat ini.

Demokrasi yang dibangun di atas kapitalisme-sekuler telah mengunci hati setiap pengembannya. Meskipun awalnya mereka berjuang untuk umat, namun kepentingan mengalahkannya. Para penyokong demokrasi (penguasa-pengusaha) akan menghalalkan segala cara agar kepentingannya terealisasikan.

Ini adalah sebuah sistem yang rusak sejak awal. Di mana segala pandangan/keputusan disandarkan pada pikiran manusia. Kedudukan agama hanya pada batas ibadah ritual saja. Standar halal dan haram diubah jadi manfaat. Kebahagiaan tertinggi jika kepentingannya tercapai.

Maka, cocoklah dengan demokrasi. Yang mengatasnamakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan kekuasaan di tangan rakyat, kedaulatan pun di tangan rakyat. Artinya, kekuasaan memilih pemimpin dan membuat aturan diserahkan pada rakyat seutuhnya. Padahal akal manusia terbatas, berbeda satu dengan lainnya. Maka, wajar jika berbagai masalah timbul akibat hanya terpaku pada akal manusia saja.

Meraih keimanan tertinggi

Rusaknya peran riayah suunil ummah telah membuktikan sistem saat ini tidak mampu mensejahterakan. Apalagi sistem yang dibangun berdasarkan pemahaman yang rusak. Bagaikan membangun bangunan di atas fondasi yang rapuh. Tak akan kuat menyangga beban, suatu saat pasti akan rapuh. Meskipun didatangkan seorang tukang yang ahli, jika fondasi tak dibenahi bangunan pun akan tetap runtuh.

Solusinya hanya satu: meruntuhkan bangunan, mengganti fondasi yang baru, dan membangun dengan bangunan yang kukuh.

Semisal dengan sistem saat ini. Karena sistem ini telah rusak dari akarnya, maka kita perlu mencabut akarnya. Mengganti kapitalisme sekuler dengan Islam. Karena hanya Islam satu-satunya sistem kehidupan yang layak dipertahankan.

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Ali ‘Imran: 19)

Menjadikan Islam sebagai landasan adalah kewajiban. Panggilan keimanan pula untuk bertakwa secara totalitas. Melaksanakan seluruh perintah-Nya, dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Menerapkan seluruh aturan meski terasa sangat berat. Pun tak memilih dan memilah aturan, sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami patuh).

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu sementara itu baik bagi kalian, dan bisa jadi, kalian mencintai sesuatu sementara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

Pelaksanaan Islam yang sempurna ini tak akan bisa dilakukan dalam demokrasi. Secara dasar, demokrasi tak sesuai dengan Islam. Dilihat dari kedaulatan membuat aturan. Jika demokrasi diserahkan pada manusia, maka Islam menempatkan kedaulatan tertinggi pada Syara (Allah Swt.). Sehingga pelaksanaan aturan pun sesuai dengan perintah Sang Maha Pencipta. Pelaksanaan aturan total ini hanya bisa dilakukan pada sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah.

Khilafah adalah sarana untuk menyempurnakan keimanan kita. Dengan ini kita mampu menjaga segala hak dan kewajiban negara pada rakyatnya. Khalifah akan membuat kebijakan mengacu pada Alquran dan Sunah. Pelaksanaan hukum hanya dilakukan karena panggilan keimanan, bukan sekadar kepentingan. Wallahu a’lam bishowab.  [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *